Melepasmu

1450 Kata
Seorang pengkhianat tak berhak diberi cinta Seorang pengkhianat tak layak ditangisi Kini, biarlah aku melepasmu Kepada dia yang selalu menunggumu -Dania Larasati- "Mas!" Laras masih menuntut jawaban. Meski perempuan berjilbab itu sudah tahu jawabannya, tapi ia ingin mendengar langsung dari mulut calon mantan suaminya. Setelah menelan salivanya berkali-kali, Laras mulai melihat ada pergerakan di bibir Raihan. Walau netra prajurit itu masih menghadap ke depan. "Linda ... dia pacarku sebelum kita menikah." Singkat, padat, jelas, jawaban Raihan cukup menusukkan ribuan jarum di hati ibu muda itu. Laras pun ikut menyadarkan punggungnya di kursi penumpang, mata lentiknya ikut menyapu hamparan aspal yang tak bergerak. Mobil MPV belum bergeser dari tempatnya terparkir, keduanya kini tenggelam dengan lautan rasa yang berkecamuk di d**a. "Aku udah berjanji dengan Linda dan keluarganya untuk menikahinya, sebelum akhirnya kita menikah," lanjut Raihan. Laras menutup mata rapat-rapat, mencoba menguatkan hati dan telinga mendengar kisah masa lalu ayah dari ketiga anaknya. Sekuat tenaga Laras menahan sesuatu di pelupuk mata, ia sudah bertekad tak mau lagi mengemis cinta dan menangis. Laras sudah siap melepaskan Raihan untuk mereka yang sudah menunggunya. Biarlah esok ia akan menapaki jalan takdirnya, sendiri. "Aku juga sudah menjelaskan tentang perjodohan kita, tapi ... keluarga Linda terus mendesak agar aku menikahi putrinya. Aku dilema waktu itu, Aku nggak mungkin membantah perintah Bapak. Aku juga nggak bisa ninggalin Linda yang ... sudah terlanjur mengandung anakku." Kali ini Laras menoleh, bukan tatapan sendu yang ia perlihatkan seperti sebelumnya, tapi tatapan tajam yang menghunus hati Raihan. Laki-laki berambut cepak itu hanya bisa menunduk. Laras tak menyangka jika ternyata Raihan telah memiliki anak sebelum bersamanya. Perempuan ayu itu masih tak percaya bagaimana Raihan bisa menutupi semuanya dengan rapi dan tak mencurigakan. 'Atau aku yang bodoh dan terlalu percaya padanya?' batin Laras bergejolak. Laras menghela napasnya, berat. Seberat hatinya yang kini kian remuk setelah mengetahui satu fakta yang menyakitkan. Laras masih tak habis pikir, ternyata selama sepuluh tahun ia telah berbagi suami dengan perempuan lain, perempuan yang lebih dicintai oleh suaminya. 'Bodoh!' Laras membodohi diri sendiri yang begitu percaya pada Raihan, Laras memaki dirinya sendiri yang telah menyerahkan jiwa dan raganya sepenuh hati untuk laki-laki yang hati dan cintanya untuk wanita lain. "Jadi, kapan jadwal sidang pertama?" kali ini putusan Laras sudah bulat dan tak bisa diganggu gugat. Ia akan meyakinkan Kakak dan Ibunya bahwa perpisahan adalah jalan terbaik saat ini. "Berkas baru masuk, masih menunggu jadwal sidang. Kalau nggak minggu depan, ya awal bulan depan." Laras hanya mengangguk mendengar menjelasan Raihan. Padahal ia sangat berharap, besok ketuk palu hakim sudah bertalu. Agar dirinya terbebas dari ikatan cinta yang menyakitkan ini. Dering telepon membuyarkan lamunan keduanya, suara berasal dari ponsel Laras. Segera perempuan yang memakai dress motif bunga itu mengusap layar. "Halo, Ras. Assalamualaikum," suara Kak Mia menyapa. "Waalaikumsalam, Kak." "Kamu jadi ke sini, kan?" "Jadi kak, ini lagi di jalan," Laras terpaksa berbohong. "Oh, ya udah kalau gitu ditunggu yah, mumpung ada Mama juga disini." "Oh, ada Mama? Oke deh ini aku jalan ya, Kak." "Iya, hati-hati di jalan." Telepon pun berakhir, dan Laras semakin merasa yakin akan keputusannya. "Jalan, Mas. Udah ditungguin, ada Mama juga di sana, biar sekalian kita selesaikan semuanya," jawan Laras ketus. Raihan hanya mengangguk, kemudian mulai melajukan mobil hitamnya. ***** "Mama ... jangan nangis lagi ya ..." Laras masih memeluk Ibunya yang tak berhenti terisak di kamar setelah mendengar kisah pilu retaknya rumah tangga anak bungsunya. Mau tak mau Laras dan Kak Mia harus kembali menenangkannya. Padahal kondisi beliau sudah membaik setelah hampir satu purnama ditinggal belahan jiwanya. "Kamu yang sabar ya, Nduk," hanya itu yang bisa nenek lima cucu itu pada putri kesayangannya. Laras hanya mengangguk dan mencoba tersenyum, ia tak mau terlihat lemah di mata Ibunya. Iya harus meyakinkan diri dan semuanya bahwa ia baik-baik saja meski hatinya luluh lantak. "Maafin Papa sama Mama yang udah salah jodohin kamu," Laras menggeleng dan mencium takzim tangan wanita yang telah melahirkannya ke dunia. "Nggak ada yang salah, Ma. Maut, jodoh, rezeki semua udah diatur sama Allah. Mama nggak usah khawatir yah ... Insyaallah kami baik-baik aja, kan masih ada Mama, Mas Alvin, Kak Mia, Aska, Marsha yang nemenin Laras dan anak-anak." Tiga wanita beda usia itu lalu saling berpelukan untuk mentransfer kekuatan dan doa. Bagi Laras, keluarga besarnya kini adalah sumber kekuatan yang utama. 'All is well,' gumam Laras dalam hati. Setelah dirasa tenang, ketiga wanita itu kembali ke ruang tamu yang terlihat begitu menegangkan. Dua laki-laki masih saling diam, Raihan menunduk sedangkan Mas Alvin dengan wajah yang menegang dan rahang yang mengetat. Mas Alvin sedang berusaha sekuat tenaga untuk tak melayangkan tinju ke wajah kotak calon mantan adik ipar yang duduk di seberangnya. Laki-laki yang kini menjadi wali Laras itu harus menahan gemuruh di dadanya, karena ada anak-anak di bawah umur yang sedang bermain di ruang tengah. Ia tak mau memberi contoh yang tak baik bagi mereka. "Untuk sementara, Laras bisa tinggal di sini atau di rumah Mama," ucap Mas Alvin tegas. "Emm ... Mas, tapi Laras udah dapet rumah kontrakan deket sekolahnya anak-anak. Kalau tinggal di rumah Mama atau di sini, kasian anak-anak kejauhan sekolahnya," jawab Laras. Mas Alvin mengangguk-angguk, lalu berkata, "apa kamu nggak mikir akibat dari perbuatan kamu Raihan? apa kamu nggak mikirin gimana nasib anak-anak kamu? kamu mikir nggak?! Huh?!" Kak Mia mengelus lengan suaminya, terlihat mata Mas Alvin sudah menyorot tajam ke arah Raihan yang masih menunduk. "Udah, Mas, udah ..." bisik Kak Mia. Mama dan Laras hanya bisa menghela napas. "Sekarang kamu boleh pulang! Biar Laras dan anak-anak masih di sini, nanti aku yang anter pulang!" titah Mas Alvin. "Tapi, Mas ..." protes Raihan. "Apa lagi?" tantang Mas Alvin. "Udah ... pulang sana, kamu! sebelum aku hilang kesabaran!" Akhirnya Raihan pun menurut, setelah berpamitan dengan keluarga Laras, ia pun menghampiri ketiga anaknya. Dipeluknya satu per satu buah hatinya, lama. "Papa ... Papa ... aku dikasih ini sama Kakak Marsha ..." pamer Shifa. "Aku juga dikasih ini ..." tambah Shafa memamerkan bandana motif minie mouse. "Iya, bagus, cantik. Papa pulang dulu yah, nanti kita ketemu lagi." "Jalan-jalan?" tanya si sulung Aidan. Raihan hanya mengangguk pelan. "Beli mainan?" si kembar ikut bertanya, Raihan kembali mengangguk. "Asyiiik ... horee ... yeaay ...." ketiganya berlompatan kegirangan. Pemandangan ini justru membuat tiga orang dewasa yang berdiri di ruang tamu sibuk mengusap bulir bening di pipi. Bahkan Mas Alvin tak berhenti menggeleng dan masih tak percaya dengan apa yang telah terjadi pada kisah rumah tangga adiknya. ***** TIGA BULAN KEMUDIAN Ketok palu hakim sudah bertalu di meja hijau, tanda ikatan janji suci antara Raihan dan Laras terputus sampai disini. Ada perasaan lega yang Laras rasakan setelah resmi menyandang status janda beranak tiga. Meski prosesnya begitu melelahkan dan merepotkan karena harus mengikuti protokol yang ada di kantor Raihan. Kini Laras sudah terbiasa hidup sendiri berteman ketiga permata hatinya di sebuah rumah sederhana yang ia sewa. Perempuan berjilab itu kembali menekuni hobinya berkebun dan memasak. Tak lupa ia selalu membagikan hasil karya tangan terampilnya di dapur melalui media sosial. Dan Windy, selalu setia men-support Laras baik lahir maupun batin. Ibu satu anak itu selalu hadir di setiap sidang dan mendampingi Laras hingga mendapat putusan pengadilan. Tiap weekend, jika tidak ada jadwal lembur, Windy pun selalu berkunjung ke rumah Laras dan mengajak anaknya serta. Seperti akhir pekan ini, mereka sudah berjanji pada anak-anak akan bermain dan belanja di mall. Kali ini suami Windy, Ardhan, ikut serta dan dengan senang hati menjadi supir dadakan. Sebagai sesama teman, Ardhan yang juga mengenal Raihan, sempat terkejut dan menyayangkan keputusan mereka untuk berpisah. Namun, sama seperti Windy, Ardhan hanya bisa mendukung dan mendoakan yang terbaik bagi keduanya. Kini mereka sudah tiba di mall, anak-anak sudah antusias menuju wahana permainan. Bahkan, si kembar sudah berlari mengejar kakaknya yang sudah lebih dulu berjalan cepat di depan. Laras pun kewalahan mengejar ketiganya. Sementara Windy masih berada di parkiran sembari menggendong putrinya yang terlelap dan sengaja menunggu suaminya sampai memarkirkan kendaraan dengan benar. Saat Laras sedang berlari mengejar ketiga anaknya yang sudah di ambang eskalator, tiba-tiba... Bugh! Tubuh rampingnya menabrak tubuh tinggi tegap yang baru saja keluar dari sebuah toko sepatu. Sempat terhuyung ke arah belakang, tapi sebuah tangan kekar langsung sigap memegangi lengan Laras agar tak terjatuh. "M-maaf, Pak. Nggak sengaja." Laras buru-buru meminta maaf dan menarik lengannya. "Hati-hati, Mbak." Keduanya saling bersitatap sekilas. "Mamaaa ...." sebuah teriakan memanggil Laras. "Permisi." Setelah pamit, Laras gegas menghampiri ketiga anaknya yang sudah berada tepat di depan pijakan eskalator. Sedangkan laki-laki tegap itu masih menatap punggung Laras yang kian menjauh, "kayak pernah liat, tapi di mana yah?" Laki-laki tegap yang kini berkacamata itu tampak menautkan alis tebalnya tanda berpikir. Ingatannya seolah mengenali wajah ayu yang baru saja menabraknya, namun hasil screening otaknya masih belum menemukan jawaban siapa sosok perempuan berjilbab yang memiliki tiga anak tersebut. Sungguh hatinya dibuat penasaran.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN