Ternyata kau bukan rumah
Kau hanya tempat singgah
Kau hanya singgah tapi tak pernah sungguh-sungguh
Hanya sementara
Bukan Selamanya
-Dania Larasati-
[Gue udah di depan]
Sebuah pesan masuk di gawai Laras. Ibu muda itu lantas gegas mengambil tas dan berjalan menuju pintu, tak lupa menguncinya sebelum pergi.
"Sorry, gue nggak turun yah." Windy menyambut Laras dengan cium pipi kiri dan kanan.
"Iya, nggak apa-apa. Nih gue bawain pesenan lo." Laras memberikan kotak makanan berisi brownis.
"Asyik!" Pekik Windy kegirangan lalu memakan satu potong.
"Asli ini enak banget, Ras. Kenapa nggak lo coba jual aja. Pasti laris deh ..." Windy sibuk berceloteh dengan mulut masih penuh brownis.
"Duh ... belum kepikiran sampai sana, Win. Satu-satu dulu lah diberesin. Lagian ini juga pas iseng di rumah nggak ada anak-anak. Kalau ada mereka, nggak tau deh kapan keubernya bikin ginian."
Windy manggut-manggut sambil mulai melajukan mobil hatchback warna putih. Sesuai rencana hari ini mereka akan survei lokasi rumah yang akan disewa. Windy sudah mengantongi beberapa rumah yang lokasinya tidak jauh dari sekolah anak-anak Laras.
Setelah sepuluh menit perjalanan, mereka tiba di sebuah komplek perumahan. Windy langsung mengarahkan mobilnya di rumah yang pertama dari daftar yang dibuatnya.
"Yang ini masih standar developer, belum banyak renov. Tipe 36, luas tanah 72 meter persegi, kamar dua." Seorang wanita paruh baya menjelaskan detil rumah bercat putih itu kepada Windy dan Laras.
"Nggak bisa kurang lagi, Bu?"
"Wah ini udah paling murah, Mbak di komplek ini. Rata-rata yang tipe segini udah di atas 15 juta."
"Umh ... gitu ya, Bu. Kalau gitu nanti saya kabarin lagi deh, Bu. Makasih ya."
"Iya, ditunggu kabar baiknya, Mbak." Mereka berdua lalu pamit.
"Kenapa, Ras?" tanya Windy saat mereka sudah berada di mobil.
"Kemahalan deh, Win. Masa 15 juta masih standar banget, dapur nggak ada cuma ada wastafel. Lah aku masak di mana coba? Mau renov bikin dapur kan sayang bukan rumah sendiri."
"Iya juga, sih. Gue juga kemaren cuma liat fotonya doang dari luar. Ya udah kita ke rumah yang kedua yah, tapi beda komplek." Laras hanya menangguk.
Saat perjalanan keluar komplek, netra Laras tak sengaja menangkap mobil MPV hitam yang sangat ia kenal baru memasuki gerbang perumahan dan berlawanan arah dengannya. Matanya menyipit mencoba membaca plat nomor mobil warna hitam itu. Seketika jantungnya terpacu lebih cepat, mata lentiknya membulat sempurna.
"Win ... puter balik bisa nggak?"
"Hah? Ngapain?"
"Ikutin mobil item itu," Laras menunjuk mobil yang sudah melewati mereka.
"Kayak kenal mobil itu? Itu bukannya mobil ... Raihan?" kening Windy berkerut.
"Iya, udah makanya puter balik."
Gegas Windy memutar arah dan mengikuti mobil MPV hitam di depannya. Sengaja mengambil jeda jarak agar tak mencurigakan. Sampai akhirnya mobil hitam itu berhenti di sebuah rumah bercat abu-abu, tepat selisih dua rumah dari rumah yang baru saja mereka survei. Windy berhenti tak jauh dari mobil Raihan. Keduanya begitu terkejut saat melihat Raihan turun dari mobil itu dan menggendong seorang balita perempuan, setelahnya sosok perempuan berambut pendek ikut keluar dari kursi penumpang depan.
"ITU KAN RA—" Laras segera membungkan mulut Windy dan mengkode agar tak membuat gaduh, khawatir terdengar oleh Raihan.
Ketiganya lalu masuk ke dalam rumah bercat abu-abu. Bukannya kembali menjalankan mobilnya, Windy justru bersiap untuk turun.
"Eh ... Eh ... Win, mau kemana?" Laras segera mencekal tangan Windy yang sudah membuka pintu.
"Mau labrak si pelakor lah!"
Tin tin!
Suara klakson menginterupsi keduanya, dengan terpaksa Windy kembali masuk ke dalam mobil. Ia harus menepikan mobilnya yang parkir terlalu ke tengah.
Tin tin!
"Ck! Resek banget sih! Maunya apa lagi tuh mobil, kan gue udah minggir!"
Windy semakin kesal, hampir saja sahabat Laras itu akan memaki si pengendara mobil di belakangnya. Namun, mulutnya terdiam saat melihat sosok laki-laki tegap berkaca mata hitam turun dari mobil. Laras pun sempat tertegun melihat laki-laki itu mendekati mobil Windy.
Jendela kaca Windy diketuk. Windy membuka kaca. Laki-laki berambut pendek dan rapi itu pun melepas kaca matanya.
"Loh ... Pak Dhana?" Windy terkejut, begitu pula laki-laki yang bernama lengkap Dhanandaya Armansyah itu.
"Mbak Windy?"
Rupanya mereka sudah saling mengenal satu sama lain. Dhana adalah nasabah di bank tempat Windy bekerja.
"Pak Dhana lagi ngapain disini?"
"Lah, Mbak Windy juga ngapain di sini? Ngalangin saya lagi mau masuk. Hehehe ..."
"Oh, ini rumah Pak Dhana?" Windy menoleh ke kiri, ternyata mobilnya memang menghalangi pagar rumah dua lantai bercat cokelat.
"Bukan, ini rumah orang tua. Kalau gitu ayo sekalian mampir, Mbak?"
"Oh, rumah orang tua ... Eh ... Eum ... tapi saya sama temen, Pak," Windy menoleh ke arah Laras yang sedari tadi hanya diam menyimak.
Laras tersenyum ramah dan menangkupkan kedua tangan di d**a saat Dhana tersenyum padanya.
"Iya, nggak apa-apa sama temennya juga. Mari mampir, Mbak?"
Windy menoleh lagi ke arah Laras, seolah meminta persetujuan. Namun, Laras justru menggeleng. Wajah Windy sedikit kecewa.
"Lain kali aja deh Pak, terima kasih. Masih ada urusan lain," Windy lalu berpamitan dan meminta maaf karena sebelumnya telah menghalangi jalan Dhana.
Di sepanjang perjalanan menuju rumah berikutnya, Windy begitu antusias menceritakan tentang Dhana.
"Gila yah, nggak nyangka ketemu Dhana tadi. Ras, lo tahu nggak, Dhana itu nasabah gue plafon lima milyar. Udah gitu dia juga nasabah prioritas. Duh ... Pokoknya paket lengkap deh, udah ganteng, tajir, duren lagi ..."
Laras masih diam dengan tatapan kosong ke arah depan.
"Kalau dia dateng ke kantor, itu semua betina pada kegirangan. Senyumnya itu loh ... demage banget!" Windy masih berap-api meceritakan sosok Dhana seperti menceritakan sosok seorang idola dari Korea, bahkan ia sampai lupa jika sudah bersuami.
"Ras! Lo dengerin gue nggak, sih?"
Windy mencolek lengan Laras yang tampak sedikit terlonjak. Terlihat sekali jika Laras baru saja melamun.
"Hmm ... ya, kenapa, Win?"
"Tuh ... kan, dari tadi gue ngomong ama setir dong!" Windy sewot.
"Iya, sorry, Win. Tadi lo ngomong apa?"
"Auk Ah! Basi! madingnya udah terbit!"
Laras justru tertawa melihat ekspresi marah namun lucu dari Windy. Selalu saja, Windy berhasil menghibur Laras. Paling tidak hari ini Laras bisa kembali tertawa, setelah hari-hari sebelumnya dirundung lara.
*****
Minggu sore adalah jadwal Laras akan menjemput anak-anak di rumah Mas Alvin. Sesuai perjanjian, Raihan sudah siap menjemput pukul empat sore.
Laras sempat tertegun dan ragu melangkah, kala melihat mobil MPV hitam itu terparkir di depan rumahnya. Hatinya kembali tersayat mengingat sosok perempuan yang turun dari mobil itu, kemarin.
Namun, Laras beranikan diri melangkah. Demi bertemu dan menjemput lagi tiga permata hatinya. Meski dalam hati, ia begitu muak jika harus berdekatan dengan Raihan.
"Ini apa, Mas?"
Laras mengeluarkan selembar kertas bermaterai dan menunjukan pada Raihan, sesaat sebelum Raihan tancap gas. Sontak Raihan pun urung menurunkan rem tangan.
Wajahnya mendadak pucat pasi, matanya terbelalak. Sempat akan mengambil kertas itu, tapi segera ditahan oleh Laras.
"Jawab, Mas!"
Kali ini Laras sudah tak gentar menghadapi Raihan. Ia bertekad harus mendapat penjelasan tentang maksud surat yang diduga menjadi penyebab karamnya bahtera rumah tangganya.
"Dapat dari mana kamu?"
"Nggak penting! Sekarang tolong jelaskan maksud surat ini? Dan siapa Linda?!"
Raihan hanya terpaku di tempatnya, tak ada kata yang meluncur dari bibirnya. Hanya terlihat jakunnya yang naik turun tanda menelan ludah. Tangannya mencengkram erat setir bundar, netranya menyorot tajam ke arah depan.
"Mas!"
Bisu, mulut Raihan terkunci rapat.