Ternyata Kau Bukan Rumah

1023 Kata
Katanya rumah tempat untuk pulang Tempat untuk melepas lelah dan penat dari luar Lalu bagaimana kalau tempat yang namanya rumah itu sudah tidak lagi memberi kenyamanan? Bagaimana kalau tempat itu hanya memberi kau sesak di d**a? Dan rasanya ingin sekali segera keluar dari sana Jadi apa definisi rumah sebenarnya? Jika kau lebih suka berada di tempat asing daripada di rumah Ternyata ... Kau bukan rumah ~•~ "Kenapa, Raihan?" tanya Mas Alvin, Kakak Laras, saat Raihan mengutarakan niatnya mengembalikan Laras kepada keluarganya. "Mohon maaf, Mas. Saya benar-benar sudah nggak bisa melanjutkan pernikahan ini." Laras hanya menunduk tak bersuara, persis seperti saat dirinya sedang diminta Raihan dari keluarganya, dulu. "Pikirkan dulu mateng-mateng, pasti ada cara lain selain bercerai. Ingat Raihan, pernikahan itu bukan seperti orang pacaran yang ketika bosan bisa putus seenaknya. Kamu sudah berikrar sama Allah, disaksikan ribuan malaikat untuk menjaga dan menerima Laras, sampai maut memisahkan." Kak Mia, istri Mas Alvin sudah sibuk mengusap bulir bening di pipi. Sebagai sesama wanita, hatinya ikut teriris saat mendengar kata talak dari adik iparnya. Sementara Laras sudah mati rasa, air matanya laksana sungai di musim kemarau panjang yang surut dan mengering. Bagi Laras, saat ini ia ingin segera lepas dari laki-laki yang sudah membuangnya layaknya sampah habis pakai itu. Perempuan ayu itu sudah siap menghadapi kenyataan baru sebagai seorang single parent bagi 3 putra putri tercinta. Meski sumber pipa nafkahnya terputus dari Raihan, Laras yakin dengan bekal ilmu dan skill yang ia miliki saat ini pasti akan bisa membuka pintu rezeki yang lain. "Saya nggak setuju perpisahan kalian!" ucap Mas Alvin tegas. "Tapi, Mas ...." protes Raihan. "Saya nggak mau lagi denger alasan apapun dari kamu Raihan. Semua rumah tangga pasti punya masalah, dan setiap masalah pasti ada jalan keluarnya. Kalian hanya terburu-buru mengambil keputusan." "Saya sud-" "Cukup, Raihan! Saya minta kalian pulang dan coba renungkan lagi semua ini. Coba kalian ingat-ingat lagi bagaimana awal kalian ketemu dulu, coba ingat lagi bagaimana dulu indahnya masa pengantin baru. Mas yakin, kalian hanya butuh waktu berdua, dan mengulang bulan madu." Kini Laras yang menggeleng. Bagaimana pun hatinya sudah patah berkeping-keping, rasanya enggan baginya kembali menyerahkan raga dan hatinya untuk laki-laki yang sudah menghempasnya jauh ke dasar bumi. "Mas yakin, kalian masih bisa rujuk dan perbaiki semuanya. Sekarang kalian pulanglah. Kalau memang perlu waktu berdua, biar anak-anak nginep dulu di sini." "Iya, anak-anak biar tidur di sini aja. Mereka juga betah tuh maen sama Aska," bujuk Kak Mia. "Malam ini, kalian pulang saja dulu. Minggu sore baru kesini lagi jemput anak-anak," titah Mas Alvin. Raihan dan Laras terpaksa saling pandang, keduanya sama-sama terlihat enggan. Namun, keputusan Mas Alvin sudah bulat, ia menentang perpisahan Raihan dan Laras. Sebagai kakak tertua sekaligus wali dari Laras, Mas Alvin tak mau begitu saja mengabulkan permintaan Raihan yang dengan mudahnya mengembalikan Laras kepada keluarganya tanpa ada alasan yang jelas dan masuk akal. Bak gayung bersambut, ketiga anaknya justru kegirangan saat diminta menginap di rumah sepupunya. Bahkan si kembar seakan tak peduli bujuk rayu Laras karena terlalu asyik bermain bersama Aska dan Marsha, anak dari Mas Alvin dan Kak Mia. "Udah nggak apa-apa, biarin mereka nginep di sini," Kak Mia meyakinkan Laras. "Tapi mereka nggak bawa baju ganti, Kak." "Ck, nggak apa-apa. Baju Marsha juga banyak kok yang kekecilan. Muat nanti buat si kembar. Baju Aska waktu kecil juga ada buat Aidan." Ragu, akhirnya Laras menuruti permintaan Kakaknya untuk mengizinkan ketiga anaknya menginap. Maka dengan terpaksa Laras harus pulang ke rumah hanya berdua dengan Raihan. Sauasana di mobil pun hening, mereka kini seperti dua orang asing. Seoalah ratusan purnama yang telah dilewati bersama tak pernah membekas. Sesampai di depan rumah, Laras turun dari mobil tapi tidak dengan Raihan. Seolah mengerti dengan kerutan kening Laras, Raihan segera bersuara. "Aku harus pergi, kamu istirahat aja." Tanpa menunggu persetujuan Laras, mobil mpv warna hitam itu sudah melaju meninggalkan rumah bercat hijau. Laras hanya bisa menghela napas, mencoba tetap bersabar menghadapi Raihan. "Sabar Laras, sabar, sebentar lagi semua berakhir," gumam Laras sembari masuk ke dalam rumah yang masih dalam keadaan gelap karena tadi mereka pergi saat masih siang. Keputusan Laras sudah bulat, ia akan menyetujui perpisahan ini. Maka, lusa ia akan berusaha menjelaskan dari hati ke hati pada Kakak dan Ibunya. Laras yakin, keluarganya akan mengerti apalagi jika ini menyangkut kebahagiaan diri dan anak-anaknya. Windy pun sudah memberi kabar tentang beberapa rumah yang bisa disewa dan tak jauh dari sekolah anak-anak Laras. Besok mereka akan survei ke lokasi, mumpung anak-anak lagi menginap di rumah Mas Alvin, pikir Laras. Malam ini perempuan berjilbab itu berencana mulai mengemasi barang-barangnya. Agar besok saat sudah menemukan rumah yang cocok, bisa segera ia bayar dan pindah bertahap. Laras pun memulai dari ruangan gudang yang terletak di dekat dapur. Perempuan ayu itu akan menyortir barang-barang miliknya dan memisahkan barang milik Raihan. Beberapa koper dan folder dokumen yang sedikit berdebu tertata rapi di sudut ruangan. Pilihan pertama Laras jatuh pada tas folder dokumen yang ia ingat sebagai tempatnya menyimpan beberapa ijazah, piagam dan surat berharga lainnya yang masih bercampur dengan milik Raihan. Ibu tiga anak itu pun mulai menyortir dokumen miliknya, lembar demi lembar ia baca kembali kemudian dipisahkan ke tempat lain. Sampai akhirnya tak sengaja sebuah amplop putih yang sudah lusuh terjatuh di lantai. Laras pun mengambil amplop lusuh itu dan membukanya untuk memastikan apakah itu miliknya atau milik Raihan. Laras sedikit terheran karena amplop putih itu tertutup rapat oleh lem, seolah isinya begitu berharga. Dengan penasaran, Laras pun terpaksa merobek amplop tersebut. Saat membaca selembar kertas bermaterai itu, tiba-tiba d**a Laras kembali terasa sesak, jantung dan hatinya seperti ditusuk ribuan jarum dalam waktu bersamaan. Dengan menutup mulut dan mata yang berkaca-kaca, Laras mencoba memahami deretan huruf di surat tersebut. Ia menggeleng tak percaya jika yang membubuhkan tanda tangan di atas materai itu adalah Raihan Adiprana dan ... Linda Puspitasari. Laras pun terduduk lemas di lantai yang berdebu, dengan punggung yang menyandar ke tembok. Ibu tiga anak itu semakin yakin bahwa surat ini lah penyebab dari keretakan rumah tangganya. Walaupun waktu yang tertera dalam surat tersebut adalah sepuluh tahun silam, tepatnya tiga bulan sebelum tanggal pernikahannya dengan Raihan. Namun, Laras yakin jika sosok Linda lah yang selama ini dicintai oleh Raihan, bukan dirinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN