"Dia masih suamiku dan papanya Key, apa aku tidak boleh kawatir?" tanya Diandra sedih.
"Kau mencintainya Di, kembalilah padanya, akan lebih baik seperti itu," ujar Rengga.
"Dan kau?" tanya Di.
"Aku baik-baik saja seperti yang kau lihat," sahut Rengga berusaha tersenyum.
Silmi yang awalnya akan masuk ke ruangan Diandra lagi untuk mengantarkan minuman jadi terhenti di pintu, ia merasakan sakitnya perasaan Rengga.
"Masuk Sil," suara Diandra mengagetkan Silmi, ia masuk dan meletakkan minuman untuk Di dan Rengga.
"Bisa carikan makan Sil, pesankan saja untuk kita bertiga," pinta Di dan Rengga menahan.
"Kita makan di luar saja yok," ajak Rengga sambil meraih minuman kaleng yang di bawa Silmi tadi, lalu memeguknya sampai habis.
****
"Makan Sil, dari tadi makan nggak habis-habis," ujar Rengga dan wajah Silmi jadi merona.
"Eh iii..iya Pak," jawab Silmi dan melanjutkan lagi menyuapkan makanan ke mulutnya.
"Kamu sih Ngga ngeliat Silmi terus, dia grogi," Diandra tersenyum lebar dan Silmi semakin canggung.
"Ah ibu, nggak juga, Silmi masih rada kenyang," sahut Silmi cepat.
"Ck kamu Di, bikin Silmi malu aja, aku cuman lihat itu loh, ada yang belepotan," ujar Rengga.
"Mana?" tanya Di dan reflek Rengga mengusap bibir Silmi sambil meminta maaf.
"Tuh kaaaaan wajah Silmi makin merah, ah kamu Nggaa," Diandra tersenyum lebar sedangkan Silmi menutup wajahnya.
"Maaf sekali lagi, aku reflek aja," ujar Rengga. Silmi melanjutkan makan siangnya.
"Tidak apa-apa Pak, saya saja yang makannya tidak hati-hati," ujar Silmi menghilangkan kecanggungan.
"Kamu kayak anak nggak pernah pacaran saja Sil," ujar Rengga.
"Dia memang nggak pernah pacaran Ngga, Silmi selalu merasa dia tidak ada waktu untuk berpacaran," sahut Diandra dan mata Rengga terbelalak.
"Hah nggak ada waktu, lalu ngapain aja dia sampe nggak ada waktu?" tanya Rengga kaget dan tak percaya.
"Merawat ibunya yang stroke sejak ia berkuliah hingga sekarang," jawab Dia dan Rengga menghela napas menyandarkan punggungnya ke kursi.
Silmi hanya mengangguk.
"Lalu jika kamu bekerja, ibumu dengan siapa Sil?" tanya Rengga dan Silmi tersenyum tipis.
"Ada tetangga yang berbaik hati menjaga ibu, mungkin bermaksud balas budi, dulu, saat ia pertama berada di kota besar ini, bapakku almarhum yang membawa suami istri itu ke rumah, menampungnya di kamar belakang, hingga ia mampu seperti sekarang, punya rumah dan toko, mereka orang-orang urban yang ulet," ujar Silmi.
"Jadi karena itu kau tak ingin dekat dengan siapapun?" tanya Rengga.
"Siapa yang mau menikahi wanita yang sepanjang hidupnya merawat ibunya Pak?" Silmi meraih minumannya dan meneguknya perlahan.
"Kamu pesimis duluan Sil, jika seseorang mencintaimu, ia akan mau menerima apapun keadaanmu, kau mengagumkan, cantik, cerdas dan kasih sayang pada ibumu, itu nilai plusnya," ujar Rengga.
"Ya sudah, kamu sama Silmi saja Ngga," ujar Di menepuk pundak Rengga.
Dan Rengga terbatuk dengan keras.
****
Al baru saja turun dari mobilnya saat krah bajunya ada yang mencengkeram, beberapa pengawalnya mendekat namun Al memberi kode dengan matanya.
"Aku bunuh kau, kau apakan perusahaanku?" suara Saga penuh kemarahan. Al tersenyum miring.
"Kau punya bukti bahwa aku yang melakulan?"
"Aku tak punya musuh, hanya kau satunya-satunya yang mampu berbuat itu padaku," Saga melepaskan cengkeramannya dengan kasar.
"Kau yakin tak punya musuh, setahuku kau selalu menyerang siapa saja yang tak kau suka, lalu mengapa kau hendak menjatuhkan aku dengan gosip murahan, kau tahu masyarakat tak percaya aku melakukan itu, aku bersih Ga, meski banyak wanita disekelilingku karena pekerjaan tapi aku tak pernah membawanya ke tempat tidur, kau tahukan bagaimana keluarga kita bagi para paparazi dan media, mereka menguntit kita, aku melakukannya pertama kali dengan Di, dengan istriku, mungkin terdengar lucu tapi begitu kenyataannya, karena bagiku sejak dulu wanita yang mendekatiku hanya karena uang, hanya Di yang aku percaya, mengapa kau ingin menjatuhkanku dengan cara murahan dan kini kau menuduhku dengan membabi buta?" tanya Al dan Saga menatapnya penuh kebencian.
"Aku membencimu," ujar Saga garang.
"Kau membenciku tanpa alasan, ataupun kalau ada alasan seperti rengekan anak kecil, kau benci padaku karena perhatian mama, mama yang sama-sama bukan mama kita, aku tak pernah memintanya memberi perhatian lebih padaku, namun ia tetap baik padaku, meski aku tetap merasa kesepian, bagiku, mama almarhum tak tergantikan, aku tahu kau membenciku karena mama tak memperhatikanmu, tak mencintaimu, mengapa kau tak membencinya tapi malah membenciku, manusia aneh," Al berlalu membiarkan Saga berjalan dengan pikirannya.
"AKU AKAN MEMBUNUHMU!" teriakan keras Saga kembali terdengar dan Al menoleh.
"Lakukanlah, toh aku tak punya siapa-siapa, takkan ada yang menangisi kematianku," lalu Al melanjutkan langkahnya.
****
Rengga menghela napas setelah Saga menceritakan semuanya, dengan mata memerah ia baru tahu jika ia bukan anak kandung dari wanita yang ia anggap mamanya.
"Sudahlah Ga, lanjutkan hidupmu, semakin kamu bergelut dengan cerita itu, kamu hanya akan semakin merasa sakit dan kecewa, ikut aku, kita makan, bareng Diandra juga," ajak Rengga. Dan mata Saga terlihat sedikit berpendar saat mendengar nama Diandra disebut.
****
"Kaaak, kapan datang?" tanya Diandra dan senyum pelit Saga terlihat.
"Barusan," jawab Saga, lalu mereka bertiga duduk di ruang tamu, terlihat Diandra yang kaget saat Rengga membawa sesuatu di tangannya.
"Apaan nih Ngga?" tanya Diandra.
"Kami mau nunpang makan, tadi sempat beli di rumah makan padang, males makan berdua nggak semangat, mending bawa ke sini aja, minta beberapa piring sama sendok gih," ujar Rengga.
Diandra mengangguk, terlihat masuk dan muncul lagi dengan beberapa piring, mangkuk, sendok dan garpu, lalu masuk lagi dan ke luar dengan beberapa botol air mineral dingin.
Saat mereka makan muncul Keysa dengan boneka di tangannya.
"Hai cantik makan yuk," ajak Saga dan Keysa menggeleng.
"Ayolaaah," ajak Saga lagi.
"Nggak, key pengen makan sama papa Al, dia janji mau pulang," sahut Key dan membuat wajah Saga sedikit berubah.
"Sekarang makan sama om dulu, yuk," ajak Saga lagi dan Key tetap menggeleng.
"Mama suapin yuk, nih ada kesukaan Key, perkedel sama gulai otak," ajak Di dan Key tetap menggeleng.
"Nanti saja Key mau main sama boneka dari papa Al," sahut Key dan melangkah masuk lagi ke dalam.
****
"Apakah dia sering ke sini Di?" tanya Saga terlihat tak suka.
"Yah seminggu sekali bertemu dengan Key," sahut Di.
"Dan kau juga?" tanya Saga.
"Aku kan bersama Key, ya jelas kami bertemu," sahut Di.
"Kau mencintainya Di?" tanya Saga dan Rengga bangkit meraih rokok di meja.
"Ke mana Ngga?" tanya Diandra.
"Ke luar, pengen ngerokok, di sini nggak enak takut tiba-tiba Key muncul, nggak baik bagi dia," jawab Rengga, meski Di tahu bukan itu jawabannya.
"Ya nggak baik juga bagi kamu, berhentilah Ngga," ujar Di dan Rengga tersenyum.
"Aku nggak rutin kok, pas pengen saja," ujar Rengga menghilang di balik pintu.
"Kau mencintainya kan Di?"tanya Saga lagi.
"Dia papanya Key, dia yang membuat Key ada kak," sahut Di dan Saga menggeleng.
"Dia tak pantas untukmu," ujar Saga.
"Lalu siapa yang pantas, kak, semakin lama aku mengkhianati hatiku, wajahnya selalu saja muncul, akuuu...aku sering merindukannya kak," mata Di berkaca-kaca. Saga menggeleng.
"Jangan Di dia tak layak untukmu," sekali lagi Saga menekan kalimatnya.
"Aku mencintainya, aku mohon jangan sakiti dia, jangan apa-apakan dia, jika dia terluka aku juga akan ikut sakit, kak," pinta Di dan kalimat terakhir membuat hati Saga serasa diremas. Perlahan tapi pasti ia juga menyukai wanita di hadapannya ini.
Keinginan melindunginya ternyata sering membuat debaran tak jelas saat mereka berdua san menatap mata lembut dihadapannya.
"Tidakkah kau ingin mengalihkan hatimu pada laki-laki yang lebih pantas untukmu Di?" tanya Saga.
"Dia yang pantas untukku kak, tak ada yang lain, kalaupun ada, siapa laki-laki yang mau menikah dengan wanita yang telah memiliki anak?" tanya Di.
"Aku, Di," sahut Saga dan mulut Diandra terbuka lebar dengan wajah kaget.
****