12

1037 Kata
Rengga menghentikan langkahnya dan kaget saat mengetahui jika Saga juga menyukai Diandra. Ia tak menyangka sama sekali karena selama ini yang ia tahu Saga sangat menghindari membawa perasaan dalam berhubungan dengan semua wanita, Saga adalah laki-laki yang tak percaya pada pernikahan, ia berpendapat sangat bodoh orang berkomitmen seumur hidup hanya gara-gara surat nikah. Saga terbiasa berhubungan ons, dan tak pernah mengulang dengan wanita yang sama, selalu bermain aman dan selalu terlihat dingin pada wanita, hanya pada Diandralah, ia bisa lembut dan berbicara pelan. Rengga menghembuskan napas, mematikan rokoknya, membalikkan badannya lagi, menghempaskan bokongnya di kursi teras. Mungkin memang takkan pernah ada jalan kita untuk kembali Di, saat mengetahui sahabatku juga mencintaimu, selesai sudah aku berharap, aku akan mencoba mencintai yang lain Di, semoga bisa... **** "Kapan kau mulai mencintainya Ga?" tanya Rengga saat mereka telah berada di apartemennya lagi. Saga kaget dan menatap wajah sahabatnya. "Kau mendengar pembicaraan kami?" tanya Saga merasa tak enak. "Tak sengaja, saat akan kembali setelah merokok," Rengga menatap tayangan televisi yang ia sendiri tak tahu tayangan apa itu. Saga diam saja "Setahuku, kau tak akan pernah menyukai apalagi mencintai wanita, kau lebih menyukai hubungan satu kali, selesai dan tak akan mengulang lagi, tanpa cinta, tanpa perasaan," ujar Rengga lagi. "Aku juga tidak tahu Ngga, kapan pastinya, yang aku tahu, tiap aku berhubungan dengan wanita manapun, seolah melihat wajahnya, desahnya dan selalu saja aku mengerang menyebut namanya, hingga lama-lama, aku tak ingin melakukan hal seperti itu lagi, karena aku seolah jadi b******k menidurinya, dan mimpi erotiskupun selalu dengannya, ah aku baru sadar perlahan-lahan aku mencintainya Ngga," ujar Saga pelan, memejamkan matanya. Rengga menoleh memandang wajah sahabatnya dan tersenyum miring saat menyadari pangkal paha sahabatnya mengembang sempurna, terlihat tonjolan di celananya. "Heh laki-laki m***m, rusak, kayak kamu nggak ada tempat untuknya, aku laki-laki yang tak pernah menyentuh wanita dia abaikan, apalagi kamu, bangun Ga, sana ke kamar mandi, berendam, dinginkan kepalamu, punyamu terhimpit, kasihan minta dibebaskan," Rengga meninju lengan sahabatnya. Saga membuka mata, bangkit dan membuka seluruh pakaiannya, menyisakan bokser dan melangkah ke kamar mandi. "Heh jangan lama-lamaaa, aku juga mau mandi Gaaa, kamu mau ngapain?" tanya Rengga. "Main solo," Jawaban Saga membuat Rengga terbahak. Rengga tak mengira jika sahabatnya bisa berhenti bermain-main dengan wanita karena perasaan yang mulai tumbuh pada Diandra. **** "Papaaaa," Keysa berteriak nyaring dan ia seolah terbangsaat Al menggendongnya. "Papa yang lama yaaa, Key kangen," ujar Keysa. "Baiklah, mama mana?" tanya Al, ia melangkahkan kakinya masuk ke ruang keluarga. "Itu mama baru selesai mandi," sahut Key. Dan Al terkesiap saat melihat Diandra yang menggunakan kimono tidur sepaha dengan rambut basah, Diandra juga kaget dan segera masuk ke kamarnya dan menutup pintu. Diandra memegang dadanya, tatapan Al, mengingatkannya pada masa lalu saat Al ingin b******a dan menyeretnya, merebahkannya ke kasur lalu bergerak cepat di atas tubuhnya. Tak ada sentuhan manis, namun lama-lama Di menikmati cara yang aneh itu. **** "Kapan datang?" tanya Diandra dan Al tersenyum, Diandra selalu saja kaget melihat senyum Al. "Barusan, langsung ke sini, aku sudah punya rumah di sini juga Di, anak buahku sudah mengurusnya, membeli pada salah seorang pengusaha yang butuh dana segar karena perusahaannya bermasalah," ujar Al. "Oh yaa, pasti rumah besar di pinggir jalan utama di kota ini kan, tidak ada rumah indah dan besar lagi di kota ini," ujar Diandra. "Ya, dan aku membelikannya untukmu dan Keysa," ujar Al kalem, tanpa senyum dan menatap mata Diandra dengan tatapan yang selalu membuat Diandra gugup. "Ah tidak, terlalu besar rumah itu Al, kami hanya berdua, ditambah seorang pembantu. "Nanti kan ada aku juga Di," ujar Al dan Diandra menjadi bingung harus berkata apa lagi. "Kita menikah ya Di, aku sudah menemukan pamanmu, ia sudah mulai sehat, sudah bisa duduk di kursi roda, bibimu kaget saat aku menceritakanmu, aku tak lama di sana, karena aku juga sibuk, mereka bersedia hadir jika sewaktu-waktu kita akan menikah lagi Di," bibir Al tertarik sedikit ke samping saat mata Diandra bersinar waktu ia mengatakan keadaan pamannya. "Besok pagi aku kembali Di, bersiaplah, semuanya akan di urus oleh anak buahku, kita pindah, aku, kau dan Key, akan bersama, lalu seletelah kita menikah kau harus kembali ke sisiku, ke rumah yang sudah aku siapkan," ujar Al meraih tangan Di, mengusap lembut dan menciumnya pelan. "Lalu buat apa rumah besar itu jika akhirnya aku ikut kamu nantinya Al?" tanya Diandra. "Aku yakin sewaktu-waktu kau akan ke sini, memantau butikmu, maka rumah itu akan jadi tempat peristirahatan kita," Diandra akhirnya mengangguk, dan mengalihkan tatapannya saat mata Al semakin dalam menatapnya. Diandra selalu saja gugup jika berhadapan dengan Al. **** Pagi-pagi semuanya sudah siap, semalam anak buah Al membantu memasukkan barang yang akan di bawa, tak banyak, hanya baju Di, dan Keysa, juga pembantu mereka. Serta beberapa perlengkapan yang dianggap perlu. **** "Betul ini rumah Keysa papa?" tanya Key dengan mata berbinar, berjalan berkeliling lalu berlari menyusuri rumah besar itu. "Yah ini rumah Key, ayo papa tunjukkan kolam renangnya, Key kan pingin rumah yang ada kolam renangnya?" ajak Al Mereka berjalan bergandengan tangan, Diandra mengawasi keduanya dari belakang. Matanya berkaca-kaca melihat, Key yang terlihat bahagia. **** Keesokan harinya... "Kok sepi sih, Diandra ke mana, tumben sabtu kayak gini dia nggak ada di rumah?" tanya Saga dan Rengga mengedikkan bahunya. Tak lama terlihat mama Dice dari rumah sebelah. Ia melangkah menuju tempat Saga dan rengga berdiri. "Mencari Diandra?" tanya mama Dice. "Iya ibu, tahu ke mana?" tanya Rengga ramah. "Kemarin pindah rumah ikut suaminya, sempat pamit pada saya," ujar mama Dice. Rengga dan Saga kaget, wajah Saga tampak menahan marah seketika. "Oh iya ibu terima kasih, kami permisi," Rengga pamit mengajak Saga dengan menggerakkan alisnya. "b******k itu mengambilnya Ngga," ujar Saga dengan wajah memerah menahan marah. "Sagaaa, dia suaminya, dia berhak, kita siapanya, kita yang harusnya tahu diri," ujar Rengga lagi, sambil menepuk pundak Saga. Tak lama terdengar notifikasi di ponsel Rengga, Rengga merogoh ponselnya di saku jakenya, lalu membacanya dan menghela napas. "Diandra Ngga?" tanya Saga dan Rengga mengangguk. "Dia memberitahu telah pindah ke rumah besar, di pinggir jalan utama kota ini, ah sudahlah Ga, kita masih bisa menemuinya di kantornya Ga, ayolah kita pulang,"ajak Rengga dan Saga menghembuskan napas dengan kuat. Kau mengambilnya, aku akan membunuhmu, aku pastikan itu..entah kapan tapi kau harus tahu bahwa menderita karena cinta itu sakit dan perih ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN