“Gatal aja terus, Yan!” sindir Denta, membuat Aryan menoleh kaget dan terkekeh pelan begitu saja. “Cakep-cakep ya, Nta, anak sekolahan sini,” katanya sambil cengengesan. Denta mendelik. “Ingat, Yan. Pawang lo tuh lebih galak dan lebih ganas daripada gue. Mau lo diarak bundaran HI sama Ivon pakai kostum ondel-ondel kalau dia tau lo ganjen begini?” omelnya jadi sewot, membuat senyum di wajah Aryan luntur begitu saja, malah jadi meringis kecil, dan menciut takut. Sampai suara langkah mendekat, membuat Denta dan Aryan kompak tersentak kaget dan menoleh cepat begitu saja. Mata teduh Denta jadi melebar, melihat sosok familiar mendekat dan tersenyum kaku. “Hai Denta!” sapa gadis mungil berambut bob itu, canggung. Dia Lavina, berdiri tidak jauh dari posisi keduanya. Di sebelah Lavina, ada Dant

