Chapter 1: Hot Games

1688 Kata
Happy Reading ----- New York-USA. 10.00 PM "Apakah kau tahu, mengapa aku melakukan ini padamu?" bisik Gwen dari arah belakang dengan suara sensualnya, tepat di depan daun telinga sang mangsa. Pria matang nan tampan yang lebih pantas menjadi pamannya itu tengah berlutut di lantai tanpa mengenakan pakaian. Kedua tangannya terborgol ke belakang. Ia menyeringai senang sekaligus berdebar. "To please you?" bisiknya serak, tak kalah panas seraya menolehkan wajah hingga membuat bibir berlipstik merah Gwen menempel di pipinya. Rambut brunette Gwen yang panjang bergelombang dan beraroma mengikat, membelai punggung pria itu dan memerangkap penciumannya. Namun, wanita itu kemudian segera menarik diri. PLAAK! Gwen mencambuk bok*ng terbuka pria itu menggunakan tongkat pecut kuda berujung berbentuk lipatan bahan tebal dari kulit sintetis. Pria tersebut mengerang suka dan menciptakan kesenangan di d*da Gwen. Mata hijau pria setengah baya itu kemudian mengikuti pergerakan Gwen yang berjalan ke arah depannya dengan langkah yang begitu anggun, khas profesi Gwen yang memang seorang supermodel, tetapi kali ini begitu penuh d*minasi. Sepatu stiletto berhak tinggi milik wanita berusia dua puluh sembilan tahun itu menciptakan ketukan-ketukan di lantai yang dingin dan membuat suasana kamar khusus milik wanita itu kian menguarkan adrenalin hasrat. Terlebih dengan lingerie berbahan lateks hitam beserta garter yang menjepit stoking hitam, membungkus tubuh berlekuk sempurna milik Gwen. Bagian atas wajah Gwen tertutupi topeng kelinci berwarna senada. Sementara seragam berpangkat perwira tinggi milik pria itu tampak tergeletak di bahu sofa, di dekat ranjang bertiang yang didesain khusus untuk kesenangan bercinta ala Gwen yang liar dan berbahaya. Gwen tiba di depan pria itu. Ia menunduk, mengusapkan ujung tongkatnya ke perut bidang sang pria dengan gerakan perlahan sampai pada dagu dan menekannya, membuat pria itu mendongak, menatapnya. Gurat garis wajah yang menampakkan usia matang begitu jelas di wajah orang yang biasa memimpin penuh rasa hormat dan martabat itu. Namun, segala kepemimpinan dan martabat itu dibiarkan runtuh untuk malam ini. "To please us," koreksi Gwen seraya tersenyum menggoda. Jari-jari Gwen menyusuri rambut gelap pria itu, lalu menjambaknya. Wajah sang perwira tinggi seketika mengeras terkejut, tetapi kemudian kembali melunak saat suara seksi menggoda Gwen kembali mengalun. "Namun, sekarang ... apakah kau mau merasakan ini terlebih dahulu di bibirmu?" tanya Gwen dengan suara diseret-seret nakal tanpa mengikis aura perintahnya. Jemari lentik bercat merah milik Gwen mengusap pusat dirinya sendiri dari balik lingerie, tepat di depan wajah pria itu. Ia semakin menggoda pada mata sang mangsa yang sudah terbakar. Saliva perwira tinggi tersebut tertelan kasar tak kuasa. Pria itu mendekatkan wajahnya tak sabar, tetapi Gwen menarik ke belakang rambut pria tersebut dengan kasar. Gwen menyapukan ujung tongkat cambuk itu ke pipi sang pria. "Memohonlah." Mata cokelat Gwen kini memanah tajam, penuh perintah d*minasi. Rahang perwira tinggi itu kembali mengeras. Tak ada orang yang berani memerintah dan memperlakukannya seperti ini, terlebih wanita. Mendiang istrinya pun tak pernah berani berbuat seperti ini padanya, tetapi wanita satu ini benar-benar membuat egonya berantakan. Namun, permainan ini telah mereka sepakati dan ia benar-benar berga*rah untuk merasakan sensasi bercinta dari seorang Gwen Carola yang muda dan seksi. Segala daya tarik wanita berwajah campuran Amerika dan Italia itu membuat ia tak lagi peduli apa pun dan gila menanti. Terlebih aroma pusat diri wanita itu yang berada tepat di depan wajahnya kian membuat tubuh bawahnya berdenyut keras. "Kumohon. Biarkan aku merasakannya di dalam mulutku. Aku mohon," pintanya mengiba yang sangat jauh dari kesan tegas dan otoriternya selama ini di militer. "Good boy," puji Gwen berbisik halus dengan bibir melengkung. Tangannya yang mengusap rambut pria itu, serupa gerakan mengusap kepala anjing, terlebih dengan adanya neck collar berantai yang sang mangsa kenakan. Wanita yang sebenarnya memiliki nama asli Gwen Arvezio itu membuka pengait bagian bawah lingerie-nya, lalu menarik rantai di leher pria itu dengan kasar sehingga bibir pria paruh baya tersebut menempel pada dirinya di sana. Lidah pria itu dengan cepat menyusup masuk, membelainya dengan penuh gelora dan rasa lapar. "Ah ya ...." Gwen menengadah, merasakan kenikmatan yang menerjang. Namun, sesaat kemudian Gwen menegakkan pandangan dengan mata mengarah pada pintu kamar. Di sana, seorang pria tampan yang sangat Gwen kenali, baru saja masuk dan menatapnya tanpa berniat bergabung. Hal itu semakin membuat Gwen berga*rah. Ia tersenyum dan disambut seringai dengan mata berkilat hasrat dari pria yang memiliki selisih usia lima tahun lebih tua darinya itu. Sementara di tempat yang jauh berbeda, di Manhattan, di sebuah ruang kamar penthouse yang mewah, sepasang pria dan wanita sebaya baru saja melepaskan pakaian mereka dengan tergesah-gesah. Suara cecap pertemuan bibir mereka seakan berusaha mengimbangi dentuman musik pesta yang berada di luar kamar. "Gray, kumohon tiduri aku segera," desah wanita berambut blonde itu seraya terpejam. Seluruh tubuhnya terasa telah lunglai berkat serbuan bibir sang pembalap rally itu yang luar biasa. "Kau yakin? Tidakkan ini saja cukup?" goda Grayden di kulit leher wanita itu sebelum ia menjatuhkan diri mereka di ranjangnya. Sementara tangan pria berusia dua puluh empat tahun itu dengan tangkas berlari menjejaki tubuh indah di bawahnya. "Oh, please!" Wanita itu mengerang saat merasakan tubuh bagian bawah mereka yang saling merapat. Grayden menggerakkan pinggulnya, seolah mereka telah bercinta, kian menggoda. "Grayden!" rintih wanita itu memohon. Grayden menyeringai. Ia merangkak menuruni tubuh yang bergerak gelisah tersebut. Lidahnya menyapu milik wanita itu dan semakin membuat tubuh indah di sana tak kuasa. "Kumohon, Gray." Diri wanita bersurai blonde itu kian tersiksa hasrat atas kepiawaian seorang Grayden dalam memberikan kenikmatan. "Kau bisa membuatku mendapatkan pelepasan dengan cepat. Aku ingin merasakanmu. Sangat!" Alas ranjang yang sebelumnya rapi itu kini perlahan mulai kusut berkat remasan tangan wanita tersebut. Di dalam hati, Grayden tergelak puas. Ia telah mengincar sejak awal kedatangan wanita dingin nan ketus itu di pestanya. Sepertinya seorang kawan telah memaksa wanita tersebut untuk datang. Namun, bukan itu yang menjadi perhatian Grayden. Ia tertuju pada bagaimana wanita cantik itu memandang jijik padanya ketika para wanita di sofa memeluknya di kanan kiri. Namun, kini semua telah berbeda. Tak ada pandangan jijik, tak ada tatapan dingin dan kata-kata ketus. Hanya ada desahan dan rintihan memohon untuk bercinta dengannya setelah ia berhasil mendekati kurang dari setengah jam tadi. Memang bukanlah seorang Grayden Ryver jika ia tak bisa menaklukkan para wanita untuk jatuh ke ranjangnya. Tak ada kata bosan di kepala Grayden atas kebutuhan dan keinginan terdasarnya itu. Wanita dan bercinta serupa bayangan panas yang menjanjikan pelepasan penat dan suntikan energi di kehidupan arena balapnya yang keras. Grayden kemudian menjatuhkan telapak kakinya di lantai karpet. Ia tersenyum begitu tampan dan menggoda, membiarkan wanita itu terperangah mengagumi miliknya yang telah mengeras dan kokoh. Wanita bersurai blonde tersebut kemudian merangkak di ranjang mendekati dan menyentuhnya dengan tangan bergetar gugup dan terpesona. Grayden mengubah tatapannya lebih melunak, jemarinya pun terulur membelai pipi wanita itu. Menunjukkan seakan ia benar-benar mengagumi wajah cantik wanita itu dan mencintainya. Seperti biasanya, tatapan itu berhasil membuat para wanita merona, termasuk wanita tersebut. Bibir berwarna peach itu pun segera menenggelamkan milik Grayden dan memanjakannya. "Ssshh ... ya," desis Grayden seraya terpejam. Namun, di tengah itu, isi kepala Grayden justru tiba-tiba terbayang pada kekasih saudara kembarnya. Grayden menggeram. Menepis segala rasa cinta terlarang yang ia pendam selama ini. Sementara di waktu yang bersamaan, Gwen dan mangsanya telah berada di atas ranjang. Pria itu terbaring dengan kedua tangan terborgol di kepala ranjang, sedang matanya tertutupi kain sutra hitam. Gwen duduk di atas tubuh bidang itu dengan posisi membelakangi. Mata cokelat Gwen terus mengarah pada pria tampan yang kini sudah duduk dengan kedua tangan di bahu sofa panjang, tepat menghadap Gwen dan si mangsa. Berkat hal itu, pinggul Gwen kian bergerak cepat seiring rasa terbakar hasrat yang mendidihkan arus nadinya. "Kau menyukainya? Kau menikmatinya? Oh! Rasa ini benar-benar nikmat, Sayang," racau Gwen mengarah pada pria itu. Lorong diri terdalamnya semakin berdenyut gairah karena diperhatikan seperti ini. Tak ada yang bisa membuat ia semakin berhasrat selain diperhatikan oleh pria itu setiap kali ia bercinta dengan mangsanya di rumah ini. Gwen tak lama kemudian pun mendapatkan pelepasannya yang hebat seperti biasa, setelah sang mangsa memberikan diri terdalam pada miliknya. Keduanya terengah puas dan Gwen membiarkan pria paruh baya itu beristirahat di ranjang, sementara ia bangkit keluar, menuju lantai bawah setelah membersihkan diri. Senyum Gwen pun kembali mengembang nakal pada pria yang menyaksikannya sedari tadi. Pria itu bersandar pada bingkai pintu taman belakang, menyeringai ke arahnya. Dengan hanya mengenakan pakaian dalam, Gwen duduk di single sofa menghadap pria itu sebelum ia meletakkan ponsel di meja rendah. Gwen menyalakan rokok seraya menumpukan kaki jenjang di salah satu paha. Ia mengisapnya penuh nikmat dan mengembuskan dengan ringan. "Apakah kau menyukai percintaan tadi seperti aku menyukainya, Sayang? Aku sangat berga*rah saat mencambuknya dan dia benar-benar nikmat saat aku masuki. Kau seharusnya tadi bergabung bersama kami, Oliver." Gwen tertawa kecil sembari menyibak bagian rambut brunette ikalnya ke belakang pundak. Namun, sebelum pria itu merespon, ponsel Gwen bergetar, memunculkan notifikasi pesan. Dengan sedikit malas, Gwen meraih ponsel dan membuka pesan yang sudah ia ketahui dari managernya, berkat notifikasi khusus yang ia pasang. Di waktu yang bersamaan pun, Grayden yang tengah menghunjamkan diri ke dalam teman tidurnya harus sedikit terusik oleh dering ponsel. Ia meraih ponselnya di atas nakas, tak memedulikan wanita berambut blonde itu yang tampak kesal. Sebuah pesan dari sang sekretaris memenuhi layar. Bukan hal yang aneh bagi Grayden yang seorang pembalap untuk memiliki sekretaris, mengingat satu tahun ini ia telah merangkap sebagai CEO di Glow's Internasional, sebuah perusahaan fashion milik saudara bungsunya. Atas sebuah konspirasi yang menyangkut sang adik, membuat ia terpaksa menggantikan posisi adik perempuannya di perusahaan itu. [Selamat malam, Sir. Maaf menganggu, saya hanya ingin mengingatkan bahwa esok pukul sepuluh pagi, Anda memiliki jadwal photoshoot bersama Gwen Carola terkait kerjasama Glow's dan brand mobil balap Anda.] Grayden seketika menyeringai senang. Ia sebagai brand ambassador mobil balapnya sekaligus CEO Glow's jelas sangat mengingat tentang kontrak kerja ini, terlebih ia sudah lama ingin berkenalan dengan model bertubuh seksi dengan aura kecantikan yang sensual tersebut. Berbeda dengan Grayden, Gwen justru mengembuskan napas malas. Ia tahu siapa Grayden Ryver, meski belum mengenalnya, tetapi mendengar desas-desus tentang bocah playboy itu membuat ia sedikit tak berselera kerja. "Besok akan menjadi hari yang membosankan," keluh Gwen. ...To Be Continued... Haloo, selamat datang di karya Mely. Lapak khusus Gwen-Grayden. Makasi banyak udah baca chapter ini. Semoga enjoy baca sampai ending yaaa. Visual dan segala info bisa cek di IG @saltercaramely_
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN