bc

Remarry My Bodyguard

book_age18+
2
IKUTI
1K
BACA
revenge
HE
pregnant
arranged marriage
confident
heir/heiress
drama
bxg
loser
city
musclebear
addiction
bodyguard
like
intro-logo
Uraian

Zelena Spencer menyimpan banyak rahasia. Pada ibunya, suaminya, mertuanya, dan pada dunia.

Meski hidup dalam topeng kebohongan, Jae, bodyguard suruhan ayahnya, mengetahui seluruh kebenaran Zelena. Melihat sisi paling rapuh yang tak pernah dilihat orang lain.

Saat kebohongannya runtuh, seluruh dunia meninggalkan Zelena. Memperlakukannya lebih buruk daripada sampah. Zelena dibuang. Kehormatannya diambil, dan putranya dirampas oleh mantan suaminya.

Satu-satunya yang mencarinya dan menawarkan pertolongan adalah Jae. Namun, dia tidak datang sebagai Jae. Melainkan Marcus J. Morgan, sang pebisnis dengan kuasa tidak terukur dan kekayaan tidak terhitung.

“Izinkan aku membantu dan melindungimu, Zelena. Menikahlah denganku.”

“Jika kau mau membantu, maka menikah kontrak saja cukup. Tanpa cinta, tanpa saling mengganggu. Jika anakku sudah kembali, maka kita selesai.”

“… jika itu maumu. Kalau nanti kau menemukan hidup dan kebahagiaan yang lebih baik, kau boleh pergi.”

Zelenalah yang menawarkan perjanjian, namun kenapa setelah semua berakhir, hatinya tak bisa melepaskan Marcus?

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1 Calon Suami Pilihan Ayah
“Setelah ini temui aku di ruang kerja.” Di seberang meja makan, kaki Zelena mendingin, ia mendongak menatap ayahnya. “Baik.” Hampir pukul sembilan malam itu, Zelena masuk ke ruang kerja sang ayah. “Besok pukul tiga sore, datang ke Velvet Amber. Keluarga Gibson yang memilih tempatnya.” Zelena menenggak ludah. “Ayah, kumohon. Apakah tidak ada jalan lain? Apa pun, asalkan jangan menikah.” “ZELENA SPENCER!” Teriakan ayahnya mengentak Zelena. Tak terhitung telah berapa kali ia mendengar teriakan serupa, tapi setiap mendengarnya lagi membuatnya selalu berakhir ketakutan. “Apakah kau pikir aku memberimu nama keluargaku karena aku menginginkanmu?! Aku adalah orang pertama yang meminta ibumu melenyapkanmu sejak kau ada di dalam perutnya!” Zelena berjengit, memandangi ujung kakinya dengan air mata nyaris jatuh. “Hal paling kecil yang bisa kau lakukan adalah mematuhiku. Sudah dua bulan kami membicarakan perjodohan ini. Kau pikir ini lelucon?! Seharusnya kau bersyukur aku menjualmu dengan harga tinggi. Gibson menerimamu meski tahu kau hanya anak haram!” Paul mengambil berkas di atas mejanya, melempar ke wajah Zelena sebelum kertas itu jatuh berserakan ke lantai. “Bawa berkas itu dan pelajari calon suamimu. Jika kau menolak putra Gibson, maka aku akan melemparmu kepada keluarga Robert!” Kelopak matanya basah, tapi Zelena menggigit bibirnya tanpa suara. Kemarahan, sakit hati, dan putus asa. Ia mengabaikan luka goresan di pipinya dan menunduk mengambil kertas di kakinya. “Sekarang keluar dari sini. Melihat wajahmu lebih lama membuatku muak.” Zelena meremas lembaran kertas di tangan dan berbalik menuju pintu. Namun suara dingin Paul menyela lagi. “Ingat, Zelena. Jangan sampai aku menghentikan kemoterapi ibumu. Jika kau mengabaikan perintahku lagi, aku benar-benar akan membiarkan wanita itu mati di rumah sakit tanpa perawatan sedikit pun.” Jantung Zelena seolah baru dihancurkan lagi. Ia menelan ludahnya pahit. Memaksa tenggorokannya bicara meski terdengar tercekik. “Baik, Ayah. Maaf.” Zelena membanting berkas itu di kasurnya. Menggosok sudut matanya keras-keras untuk mengusap air mata. Ia mengambil ponsel, membaca pesan dari perawat rumah sakit yang mengabarkan kondisi ibunya. Masih dalam pengobatan, sudah menunjukkan respons positif. Yang bisa saja berhenti jika sampai pengobatannya dihentikan. Zelena mengambil berkas itu dengan kasar. Peringatan ayahnya terus mengulang di telinganya. Robert Walton adalah seburuk-buruknya laki-laki. Dia adalah putra pebisnis tersohor. Namun, meskipun orang tuanya terhormat, tapi Robert adalah iblis. Dia sudah berusia tiga puluh dua. Gemar mabuk, penjudi, bermain wanita, serta kasar pada perempuan. Jika menikah dengannya, Zelena praktis hanya akan dijadikan pemuas birahi dan samsak tinju, yang akan dikembalikan ke keluarga ini tiga bulan kemudian dalam bungkusan kantong mayat. Jika ia harus menikah, maka siapa pun itu akan lebih bagus, asalkan bukan Robert. Zelena membaca isi berkas. Reivan Gibson. Laki-laki yang harus jadi suaminya. Putra tunggal keluarga Gibson. Berusia dua puluh enam—oke, dua tahun lebih tua darinya, masih tidak masalah. Direktur perusahaan utama Gibson Group. Zelena membaca sekilas prestasi dan pencapaian laki-laki itu. Lanjut pada profil anggota keluarganya—para calon mertuanya. Akhirnya sambil menarik napas dalam, sore keesokan harinya, ia melangkah masuk ke dalam Velvet Amber. Menemui keluarga Gibson sebagai calon menantu yang baru dibeli. *** Di ruang private restoran, seorang laki-laki menunggu Zelena. Setelan armani gelap yang ia kenakan memberi kesan mendalam soal status sosialnya. Zelena duduk di kursi depannya. Reivan Gibson meliriknya sekilas sebelum kembali pada layar ponsel. “Tampaknya kau benar-benar tidak punya malu hingga bersedia datang ke sini.” Suara berat itu terdengar datar. Keduanya akhirnya bertatapan. “Setidaknya penampilanmu cukup bagus untuk ukuran anak haram.” Reivan menyesap minumannya tak acuh. “Tidak perlu basa-basi. Kau tahu bahwa ayahmu adalah parasit bagi keluargaku, kan? Spencer seharusnya bersyukur masih punya hal yang bisa dimanfaatkan untuk bisnis ini, sehingga ayahku menyetujui kerja sama kita.” Reivan tersenyum dingin. “Yah, meskipun nilai manfaatnya tidak cukup sehingga harus ikut menjual putrinya. Kudengar ayahmu bersedia memungutmu agar bisa menjualmu saat dibutuhkan. Melihat kondisi ini, sepertinya itu benar.” Zelena masih diam. Tak peduli seberapa menyakitkan kata-kata itu baginya, ia tidak ingin terlihat lebih menyedihkan lagi. “Yang perlu kau lakukan hanya satu, turuti perintahku. Tak peduli aku menyuruhmu menjadi boneka, bersujud, atau diam di kamarmu, maka lakukan.” Zelena masih diam. Reivan mengangkat tangan untuk melihat jam. “Sebentar lagi orangtuaku datang. Diam dan turuti saja mereka.” Benar saja, tak lama itu, Tuan dan Nyonya Gibson masuk. Albert Gibson duduk di hadapan Zelena bersama istrinya, Lydia. Zelena berdiri dan membungkuk sekilas demi kesopanan. “Zelena Spencer? Ternyata kau secantik yang diceritakan Rebecca.” Pujian wanita itu terasa sangat asing di telinga Zelena. Tidak menyangka akan menerima kehangatan. Ia spontan memaksa senyum. “Sebelumnya selamat atas kelulusannya. Kudengar kau baru saja wisuda akhir tahun lalu. Tidak mudah untuk lulus dengan nilai sebaik itu.” Albert Gibson menimpali, menatap Zelena dengan tenang dan senyum formal. Zelena belum bisa mencerna situasi. Ia sudah bersiap dimaki seperti saat bersama ayahnya, tapi orangtua Reivan ternyata cukup hangat. Tatapan tajam Reivan menyadarkan Zelena. “Ah, ya. Terima kasih … Paman.” Albert tertawa kecil. “Yah, pasti canggung jika harus memanggil ‘ayah’ dan ‘ibu’ di pertemuan pertama, tapi sebaiknya kau berlatih dari sekarang.” Albert Gibson menatap putranya lalu pada Zelena. “Pernikahannya akan digelar minggu depan. Asisten keluarga kami sudah menyiapkan semuanya.” Zelena melirik Reivan yang hanya diam. Jadi, ia mengangguk samar. “Baik.” “Aku tidak peduli tentang hubunganmu dengan Paul. Aku hanya ingin Reivan mendapatkan istri, seorang wanita baik-baik dan berpendidikan. Aku tidak peduli dengan yang lain.” Albert Gibson berkata tenang sambil menatap Zelena, seolah tahu apa yang dipikirkannya. “Kau hanya perlu pastikan dirimu sehat. Kita akan agak sibuk beberapa hari ke depan.” Lydia tersenyum sambil menyinggung soal dekorasi dan gaun pengantin. “Baik, Ibu.” Zelena tersenyum lagi, seperti yang sudah ia latih. Harapan mulai memenuhi hatinya. Mungkin ini pilihan yang lebih baik dibanding menikahi Robert. Reivan begitu dingin, tapi setidaknya orangtuanya baik. Ia tidak bisa meminta lebih dari ini. Zelena kira hidupnya akan membaik, tapi keesokan harinya, kekacauan tiba. Ayahnya memanggil pelayan, menyuruh mereka menyeret Zelena ke kamar di dekat dapur, dan mengurungnya rapat-rapat. Zelena menggedor sekuat tenaga, memohon berulang kali, tapi Paul tidak melunak. “Ayah! Ada apa ini? Kenapa aku dibawa ke sini?!” “DIAM! Kau akan tetap di sana sampai waktu pernikahannya tiba!” Suara Rebecca ikut terdengar. “Bagus. Siapa tahu nanti dia berencana kabur. Setidaknya kita harus mengikatnya tetap di rumah.” Tubuh Zelena mendingin. Kepanikan dan kemarah seketika memenuhi tubuhnya. “Ayah! Aku bersumpah tidak akan kabur. Tolong keluarkan aku dari sini. AYAH! KUMOHON KELUARKAN AKU DARI SINI! Setidaknya biarkan aku bertemu Ibu! Tolong buka pintunya!” Zelena masih memanggil puluhan kali, tapi ayahnya tidak menjawab. Seperti yang telah ia lakukan sepanjang hidupnya, ia tidak mendengarkannya. Dan tidak sedikit pun peduli.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Unscentable

read
2.0M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
768.7K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.9M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
994.8K
bc

A Warrior's Second Chance

read
368.6K
bc

Not just, the Beta

read
353.3K
bc

The Broken Wolf

read
1.2M

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook