Shin mengambil posisi duduk di samping Rei, si ketua kelas. Viola masih dengan sangat jelas bisa melihat ke arah laki-laki yang sudah tak dilihatnya selama sepuluh tahun.
"Bukankah dulu lo deket sama Shin?" bisik Adisty kepada Viola.
Viola kaget, matanya mengarah pada Braga yang mungkin mendengar.
"Kalian dulu deket, kan?" desak Adisty lagi.
"Hentikan, nggak semua acara reuni membahas masa SMA!!" ucap Braga tegas.
"Ih, apaan sih, gue kan cuma nanya Ga," protes Adisty kesal.
Viola tersenyum.
Acara reuni berjalan dengan lancar. Dilihat dari ekspresi mereka yang datang dengan wajah penuh kegembiraan, saling melepas rindu.
Rei mengatakan tujuan dirinya mengadakan acara ini. Si ketua kelas juga akan mengadakan reuni setiap tiga bulan sekali.
Semua menikmati acaranya. Mata Viola tiba-tiba bertemu dengan mata Shin. Membuat jantung Viola berdegup kencang, bahkan salah tingkah, ketika Shin menyunggingkan sedikit senyum untuknya.
Viola mengatur napasnya. Sesekali menutupi rasa gugup dengan meminum, minuman yang diberikan oleh Braga.
Viola mengobrol dan tertawa dengan Braga. Laki-laki itu meledek Viola, dan membuat sahabatnya kesal, lalu dengan cepat dia meminta maaf.
"Viola," panggil Gerry, membuat Viola langsung menoleh. Dan secara otomatis mata Viola bertemu dengan mata Shin. Karena Shin memang duduk tepat di samping Gerry.
"Kenapa?" tanya Viola ragu.
"Lupa sama kita?" tanya Gerry, membuat Viola kaget.
"Heh." Viola salah tingkah.
Braga mengikuti pandangan mata Viola, menatap datar Shin dan juga Gerry.
Viola tersenyum simpul, lalu menjawab pertanyaan Gerry, "Nggak lah, mana mungkin gue lupa," jawab Viola kembali tersenyum.
Viola salah tingkah, memilih menurunkan pandangannya, karena dia tahu mata Shin kini tengah menatapnya.
Setelah acara selesai, satu-persatu anggota yang hadir meninggalkan cafe. Braga dan Viola berpamitan untuk pulang.
"Gue balik duluan ya," ucap Braga menepuk pundak Rei.
"Kok buru-buru, nanti aja sih, belum ngobrol banyak juga," timpal Gerry yang masih duduk di tempatnya.
Braga tersenyum. "Lain kali, kita bisa ketemu lagi," jawab Braga.
Seperti ada yang aneh dalam pandangan Shin, entah ekspresi apa yang dikeluakan oleh wajahnya .
Mata Shin dengan jelas melihat Braga menggandeng tangan Viola.
Viola berjalan dengan Braga, keluar dari cafe yang cukup luas.
Tepat setelah keduanya keluar dari pintu, langkahnya terhenti saat mendengar seseorang memanggil nama Viola. Suaranya membuat jantung Viola kembali berdegup sangat kencang. Dia menghentikan langkahnya, sehingga tangan Braga terlepas dari genggamannya.
"Apa kabar?" tanya orang itu yang ternyata adalah Shin Heraldyne. Pertanyaan yang ingin sekali Viola dengar dari orang yang dulu paling dia kagumi dan sejak keduanya hilang kontak.
Dengan kompak Braga dan Viola menoleh. Mendapati Shin telah berdiri di belakangnya.
Shin tersenyum simpul, saat matanya bertemu dengan mata Viola. Senyum itu, senyum yang dulu pernah Viola puja saat berdua dengan Shin.
"Baik," jawab Viola singkat.
"Syukurlah," jawab Shin lalu kembali masuk ke dalam cafe.
Viola menoleh ke arah Braga setelah bayangan Shin benar-benar menghilang dari pandangannya.
Braga mengangkat bahu tak mengerti.
Viola tersenyum simpul dan kembali melangkah.
Di dalam mobil Braga hanya terdiam. Viola pun menghargainya, dia tak menampakkan keantusiasannya setelah bertemu Shin.
"Bagaimana?" tanya Braga tiba-tiba.
"Apa?"
"Setelah bertemu dengan Shin?"
Viola tersenyum. "Biasa aja," jawab Viola.
"Dia bakal kerja di Star Group," lanjut Braga tegas.
"Heh," Viola sedikit kaget, "Star Group perusahaan Ayahnya, wajar sih kalo dia mau kerja di sana." Viola berpendapat.
°°
Ketukan sepatu heels Viola sepeti biasa, berpadu serasi dengan lantai pualam mencipta alunan ringan nan teratur.
Viola masuk ke dalam elevator, melirik arloji di tangan kirinya, menghela napas. Hari senin pagi ini ada rapat pemegang saham. Viola bergegas menuju mejanya untuk mempersiapkan semua yang dibutuhkan bosnya.
Tak lama Kiar datang, tersenyum pada Viola yang menyapanya pagi itu.
"Ah, nanti malam ada pesta penyambutan Adikku, persiapkan semua bajuku, karena nanti sore kita harus bertemu klien, siang kau bisa mengambilnya di apartemenku!" perintah Kiar.
"Baik Pak," jawab Viola sopan.
Kiar melanjutkan langkahnya.
"Ah, kau juga harus datang bersamaku, mengerti?" ucap Kiar.
"Iya Pak," jawab Viola lagi.
Selama dua tahun bekerja sebagai sekretaris pribadi. Viola merasa sangat nyaman memiliki atasan seperti Kiar, dia orang yang baik. Semua pekerjaan di percayakan pada Viola. Kiar orang yang sangat sibuk, bahkan dia sering menghabiskan malam di kantornya.
Siang itu, Viola mengambil semua yang diperintahkan Kiar. Menuju apartemen yang jaraknya tidak terlalu jauh, hanya memakan waktu lima belas menit untuk sampai di sana dengan menggunakan taxi. Viola dengan cepat sampai di kantor tepat pada saat jam makan siang.
Viola membawa setelan jas Kiar yang telah diambil dari apartementnya. Berjalan cepat menuju elevator.
Saat akan masuk ke dalam elevator, Viola mematung, melihat sosok yang ingin sekali dilihatnya lagi setelah pertemuan kemarin.
Shin menekan tombol, agar pintu elevator yang hampir tertutup kembali terbuka.
"Nggak masuk?" tanyanya, menyadarkan Viola.
"Oh." Viola bingung harus menjawab apa.
"Masuklah," perintah Shin lalu tersenyum.
Di dalam elevator, Shin dan Viola hanya terdiam. Mereka menutupi kegugupannya masing-masing.
"Ehemm." Shin berdehem. Membuat Viola lebih gugup.
"Kamu apa kabar?" tanya Shin ragu.
"Baik," jawab Viola singkat.
"Ah, hubungan kamu sama Braga?"
Pintu elevator terbuka tepat di lantai tujuh, di mana lantai itu adalah kantor Kiar.
"Maaf, saya duluan." Viola membungkukan badannnya tanpa menatap Shin. Berjalan cepat menuju ruangan Kiar. Mengatur napasnya yang sedikit memburu.
°°
Suasana ruangan bernuansa barat, bahkan instrumen musik yang dimainkan menggunakan lagu klasik barat. Di meja yang berlapiskan kain putih sudah penuh dengan makanan, tanpa ada kursi, para tamu mengobrol sembari berdiri. Tangannya memegang gelas berisikan minuman.
Malam ini adalah malam penyambutan Shin di perusahaan Star Group. Pesta yang dihadiri oleh petinggi Star Group dan semua karyawan dari Star Group.
Viola berjalan di belakang Kiar, yang sesekali berhenti menyapa tamu yang sudah hadir. Viola juga menyapa tamu-tamu itu dengan sangat sopan.
Kiar menyalami Shin yang tengah mengobrol dengan tamunya yang lain.
Viola terlihat gugup, hanya saja dia menyembunyikan rasa gugupnya, dia menyapa Shin begitu Kiar memperkenalkannya.
"Kenalin, ini Adik saya. Dia baru kembali dari Korsel." Kiar memperkenalkan.
Viola tersenyum, dan sedikit membungkukkan badannya tanda salam.
Shin tersenyum melihat Viola, matanya fokus pada wajah yang kini dirias tipis, juga tatanan rambut layaknya orang dewasa.
"Hei!!" Kiar menyadarkan pandangan Shin dari Viola.
Shin tersadar dan tersenyum.
"Ah, Kak Velove mana?" tanya Shin.
"Dia masih di Kanada, makanya aku bawa sekretarisku,"
Shin mengangguk mengerti.
Sejak pertemuan pertamanya dengan Viola di kantor, Shin memang tidak begitu terkejut. Karena memang Gerry memberi tahu bahwa Viola adalah sekretaris kakaknya.
Shin harus berkeliling menyapa para tamunya. Sedangkan, Viola sendiri masih mengekor di belakang Kiar, saat Kiar masih mengobrol dengan mitra kantornya.
"Pak, Ibu Velove menelpon," bisik Viola kepada Kiar.
Kiar menoleh, dan mengambil ponsel yang diulurkan Viola. Kiar berpamitan untuk menerima telepon itu.
Viola dengan bebas mengelilingi tempat pesta, dengan jalannya yang anggun. Matanya melihat-lihat lukisan yang memang sengaja dipasang pada ruangan pesta itu. Sepasang mata tengah memperhatikannya, bibirnya tersenyum, kakinya melangkah ragu menuju Viola. Dialah Shin, yang akhirnya berani melangkah dengan pasti menuju Viola.
Viola menatap satu lukisan yang hanya bergambar bunga.
"Suka? sama lukisannya?" Suara Shin membuat Viola menoleh.
"Oh." Viola kaget dan sedikit gugup.
Shin tersenyum. "Kalo suka, kamu bisa bawa pulang," ucap Shin. Entah kenapa jantung Viola berdegup sangat kencang.
Viola tersenyum.
Tiba-tiba, Kiar datang.
"Sorry, kayaknya aku harus balik duluan," ucap Kiar pada Shin.
"Ada masalah?" Shin cukup khawatir dengan kakaknya.
"Velove balik, aku harus jemput di bandara," jelas Kiar.
"Serius?" tanya Shin. Kiar mengangguk sebagai jawaban.
"Viola, saya harus pergi. Kau bisa menikmati pesta ini sampai selesai, biar nanti aku suruh supirku menjemputmu, mengerti?" jelas Kiar.
"Baik Pak," jawab Viola.
"Tidak, nanti aku yang akan mengantarnya." Shin menawarkan diri.
"Heh." Kiar cukup kaget dengan pernyataan Shin.
"Iya, kita saling kenal," jawab Shin pasti.
"Ah, benarkah? ok."
Karena Kiar terburu-buru, jadi dia tidak mengindahkan ucapan Shin dan berlalu meninggalkan gedung itu.
Setelah tamu berangsur meninggalkan tempat pesta, Shin mengucapkan terima kasih kepada para tamu yang hadir, dia berdiri didekat pintu keluar. Dan Viola berada di belakangnya.
Shin benar-benar mengantar Viola dengan mobilnya. Viola terlihat gugup, bibirnya seperti terkunci tak mengatakan sepatah kata pun.
"Ehemm ..." Shin berdehem untuk mengusir kecanggungan.
"Kalian masih dekat? atau kalian___"
tanya Shin membuat Viola langsung gugup.
"Siapa?"
"Kamu sama Braga," jawab Shin, matanya fokus pada jalanan di depan nya.
"Kita__" jawab Viola ragu.
Shin tersenyum. "Baiklah, kau tak perlu menjawab."
Shin mempercepat laju mobilnya.
Setelah hampir tiga puluh menit dalam keheningan, akhirnya sampai di rumah Viola. Shin menghentikan mobilnya.
"Sebentar," ucap Shin, lalu keluar dari mobil terlebih dahulu. Mengitari mobil bagian depan dan membukakan pintu mobil untuk Viola.
Viola keluar, lalu berkata, "Terima kasih," ucap Viola tersenyum.
Sepasang mata melihat keduanya dengan tatapan cemburu. Dia adalah Braga, saat keluar dari gerbang rumah Viola.
Tak lama Viola menyadari keberadaan Braga.
"Braga," ucap Viola lirih.
Membuat Shin menoleh pada objek yang dilihat oleh Viola.