ENAM

1051 Kata
Lagi-lagi Viola membuang napas. Dengan tujuan hanya untuk mengurangi kegugupannya. Pendingin ruangan itu seperti tidak memiliki efek apa-apa untuk tubuh Viola, keringat terlihat di antara rambut dan keningnya. Tangan Viola masih memainkan ujung stop map berwarna pink yang sudah berada di pangkuannya. Viola sudah mengikuti beberapa tes seleksi di Star Group. Kini dirinya dan peserta seleksi yang lain menunggu di sebuah ruangan yang tak terlalu besar, tetapi cukup untuk dua puluh orang bahkan lebih. Tak lama pintu ruangan itu terbuka, seorang wanita berkaca mata, dan mengenakan setelan jas juga celana berwarna senada. Gaya wanita dewasa ala-ala pekerja kantor, sudah berdiri penuh dalam pandangan Viola. "Andreas Albert, Sheila Anindyta dan Viola Melodyna," ucapnya lantang. Suaranya terdengar sangat jernih. "Ikut saya!" perintahnya. Ketiga orang yang disebutkan namanya pun mengikuti wanita itu dengan cepat Viola masih terlihat gelisah, entah dirinya diterima atau tidak, yang jelas tugasnya saat ini hanyalah mengikuti langkah wanita dengan ketukan heels terdengar seirama dan konsisten. Viola dan dua teman lainnya sampai di sebuah ruang meeting, dilihat dari tatanan meja besar dengan dikelilingi sekitar dua puluh kursi secara berhadapan. Viola melihat-lihat ruangan itu, tampak kosong, tetapi terlihat nyaman dan mewah. "Duduk!" perintah wanita itu tegas. Ketiganya duduk berdampingan. Setelah wanita itu duduk di depan mereka bertiga, dia mulai berbicara dengan membolak-balikan kertas yang sudah dibawanya. "Andreas Albert dan Sheila Anindyta, bagian marketing," ucapnya dengan suara tegas. Andreas  dan Sheila mengangguk bersamaan dan mengangkat tangannya. "Saya," ucap Andreas tegas, begitu juga Sheila yang ikut mengangkat tangannya, tetap tak lama kembali diturunkannya. "Kalian bisa mulai bekerja lusa, jangan sampai telat pada hari pertama. Mengerti?" ucap wanita itu tegas. "Baik Bu," jawab Andreas tegas, kebahagiaan terpancar dari raut wajahnya. "Baik Bu," sahut Sheila, memegang lengan Viola seakan tak percaya. "Viola Melodyna, melamar sebagai Sekretraris," ucap wanita itu mulai melihat lembaran di depannya, "Kamu bisa mulai bekerja besok," Viola seperti tak percaya bahwa dirinya diterima di perusahaan impiannya. "Wahh!!! serius Bu?" Viola tak percaya. Wanita yang terlihat garang, yang sedari tadi enggan tersenyum di depan ketiga karyawan baru itu, kini perlahan melengkungkan senyumnya. "Selamat bergabung di Star Group," ucapnya lalu kembali tersenyum. "Siap Bu!!" jawab Andreas tegas. "Oke, kalian bisa pulang dan beristirahat. Untuk Viola besok temui saya di lobby utama, mengerti?" wanita itu mulai bergegas pergi. "Baik Bu," jawab Viola sopan. °° Braga mengetuk papan tulis dengan spidol hitam di tangannya. Suansana kelas yang sedari tadi ramai, kini hening seketika. Braga menghela napas. "Kalian kalo diberi tugas itu dikerjakan pake tangan, bukan pake mulut," ucap Braga datar namun nada suaranya tegas. Siswa yang hadir di kelas langsung terdiam dan menghela napas menyerah. "Mister, Susah banget tugasnya, gimana nggak rame coba," protes seorang murid laki-laki yang duduk di bangku paling belakang dan pojok. Braga tersenyum. "Makanya belajar kalo di rumah! jangan keluyuran mulu, sama main hape," jawab Braga lalu tersenyum. Braga dikenal oleh murid-muridnya, seorang guru yang baik, tetapi sangat tegas dalam hal pelajaran. Bahkan Braga sangat tegas dalam kedisiplinan dan menangani siswa yang bermasalah. Tak heran Braga dipercaya sebagai guru kesiswaan di sekolah itu. Ponsel Braga bergetar, tangannya mengambil sesuatu berbentuk kotak, flat dan berwarna hitam. Braga tersenyum melihat siapa nama pemanggil yang menghubunginya. "Kerjakan tugasnya sekarang!" Pesan Braga pada murid-muridnya, sebelum Ia keluar kelas. "Gaaaaaaa!!! gue diterima di Star Group!!!" seru Viola dengan kencang, membuat Braga menjauhkan ponsel dari telinganya, Braga tersenyum. "Serius?" tanya Braga memastikan. "Serius, besok udah mulai kerja," jawab Viola bersemangat. "Selamat," ucap Braga kembali tersenyum. "Oke, nanti pulang ngajar, lo ke rumah gue, gue masakin masakan paling enak," ucap Viola, "Oke?" "Iya," jawaban Braga yang singkat selalu membuat Viola percaya. __ Viola di rumah berbicara banyak kepada Nada, Ia terlihat sangat bahagia mengatakan bahwa dirinya diterima di perusahaan impiannya. Viola terus tersenyum, begitu pula Nada, tersenyum melihat anaknya sangat bahagia.   "Kak, kalo Kakak udah jadi bos, Kakak beliin aku sepatu baru kan?" tanya Cello dengan polos, Viola tersenyun dan mengangguk.   "Ah." Viola teringat sesuatu, "Aku harus masak buat Braga, dia mau dateng katanya," ucap Viola bersemangat. Nada mengangguk mendengarnya.   °° Viola, Braga, Nada dan Cello tengah menikmati makan malam. Viola memasak lebih dari empat lauk dihidangkan di meja. Braga terlihat sangat lahap memakannya.   "Lo laper? lahap banget," ucap Viola melihat Braga makan dengan lahapnya.   "Enggak sih, cuma nggak tau kenapa kalo makan hasil masakan lo, gue lahap banget," jawab Braga sekenanya.   "Bun, dia lagi gombal kan?" ledek Viola, Braga langsung melirik tajam kearahnya, lirikan itu disambut dengan tawa renyah Viola.   Braga duduk di teras depan rumah, dengan ditemani Viola. Viola membicarakan proses seleksi di Star Group. Braga mendengarkan cerita Viola sesekali menanggapinya dan bertanya jika dia penasaran atau tak mengerti ucapan Viola. Viola terlihat sangat bersemangat.   "Semoga lo betah di Star Group," ucap Braga, setelah Viola selesai bercerita.   "Harus dong, itu impian gue masuk sana, bukan karena perusahaan milik Shin, lho ya," ucap Viola membernarkan.   Braga telah mengatakan, bahwa Shin adalah anak dari pemilik Star Group. Awalnya  memang Viola kaget mendengarnya. Namun, keinginannya begabung dengan Star Group sangat besar.   "Kak!!! Bunda!!!" teriak Cello dari dalam. Viola dan Braga langsung berlari ke dalam rumah. Mendapati Nada tergeletak di depan pintu kamarnya. Suhu badannya sangat tinggi, wajahnya sangat pucat.   "Ga, langsung ke rumah sakit aja," ucap Viola panik.   Braga mengangguk cepat, lalu membopong Nada menuju mobilnya.   °°   Rumah Sakit Medical Center.   Nada langsung masuk lewat jalur UGD. Hampir satu jam dokter memeriksanya, Viola tak berhenti menggerakkan kaki, untuk mengurangi rasa khawatirannya. Viola juga menghubungi bibinya agar menemani Cello di rumah. Braga memegang tangan Viola yang sedikit bergetar.   "Tante nggak apa-apa, nggak perlu khawatir." Braga menenangkan Viola. Wanita itu hanya mengangguk.   Setelah Nada dipindahkan ke kamar inap, barulah Braga dan Viola bisa menemuinya. Viola menghela napas lega setelah melihat semuanya kembali normal, hanya suhu tubuh Nada masih sedikit panas.   "Lo pulang aja, biar gue yang jagain Tante Nada," ucap Braga. Viola menggelangkan kepala pelan.   "Gue mau tetep di sini Ga, sama Bunda."   "Tapi besok hari pertama lo kerja Vi," sela Braga lirih.   "Ga, makasih ya, lo udah selalu ada buat gue," ucap Viola datar, "Gue nggak tau kalo nggak ada lo di hidup gue, jadinya seperti apa," lanjut Viola, matanya menatap Nada yang terbaring lemah di atas tempat tidurnya. Braga tersenyum. Mengusap punggung Viola yang tepat berada di sampingnya.   ' Karena gue sayang sama lo Vi, sampai kapanpun gue bakal selalu ada buat lo,' batin Braga.   Matanya menatap lembut ke arah Viola.        
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN