Tiko mendengus malas, kemudian mengalihkan pandangan ke arah lain. "Jadi... gimana? Udah ada yang jatuh cinta belum hari ini sama kakak kelasnya? Pasti udah dooong? Ciyeeeeeee!"
Mendengar itu, lagi-lagi para adik kelasnya bersorak. Sebagian ada yang tertawa karena merasa terhibur, sebagian lagi ada yang kesal karena panas-panas gini malah disuguhi pemandangan tak sedap.
"Oke. Perkenalkan, nama Abang Tiko. Manusia. Jadi, jangan ada yang nanya lagi abang ini setan atau tapir," tambahnya, membuat gelak tawa kembali terdengar riuh.
"Jadi gini ya, adik-adikku yang manis, tapi bohong. Sebelum pulang, kita ada games, nih." Tiko memberi jeda sebentar untuk berbicara dengan seorang cewek yang berdiri di belakangnya. Setelah itu, dia kembali mengangkat toa dan berkata, "Di SMA Kalang Kabut ini, ada tiga orang senior yang populer.
Jadiiii, siapa yang bisa dapat tanda tangan mereka, bakal diizinkan pulang lebih awal. Daaaan... dapat voucher makan gratis selama satu minggu di kantin sekolah!"
Diiming-imingi seperti itu, terang saja membuat para calon murid baru jadi bersemangat. Mereka mengangguk berkali-kali tanda setuju. Tak terkecuali Alodia. Cewek satu itu paling doyan makan gratisan. Makanya nggak heran kalau sekarang dia kelihatan sumringah.
"Nah, nama senior yang pertama adalah...," Tiko sengaja menggantung ucapannya, sehingga menciptakan keheningan.
"Arizky Dinata!"
Arizky Dinata. Alodia menyebut nama itu dalam hati sebanyak tiga kali supaya nanti dia tidak lupa.
"Yang keduaaaa... Adriana Pitaloka! Nah, kakak yang ini cantik orangnya. Mantan Abang, hehehe."
"Mana mau Adriana sama tapir," tukas cewek yang masih berdiri di belakang Tiko tadi. Bukannya tersinggung, cowok itu justru cekikikan.
"Yang terakhir... namanya... Danola Yudhistira!"
"Apa?!" seru Alodia kaget.
"Ciyeeee, ada yang bapeeeer!" celetuk Atika tiba-tiba dari belakang sana.
Plis, ya, bukannya baper. Tapi, Alodia malas aja harus ketemu sama cowok itu sekarang. Lagipula, kenapa harus dia sih orangnya? Kayak nggak ada pilihan lain aja.
Gimana dong? Alodia kan pengen voucher makan gratis itu. Lumayan, bisa hemat uang jajan satu minggu. Kalau hemat kan, uangnya bisa buat beli novel baru.
Huff. Ujung-ujung nya jadi bawa perasaan juga.
"Waktunya cuma tiga puluh menit dan dimulai dari... sekarang! GO!"
Dalam sepersekian detik, semua murid baru langsung membubarkan barisan untuk mencari tiga orang senior yang namanya disebutkan tadi. Agak sulit sih, karena mereka hanya diberitahu namanya saja. Tapi, ada juga sebagian yang tahu seperti apa rupa ketiga senior itu lantaran katanya mereka berteman di media sosial.
"Ayo, Nyuk, kita cari Kak Danola!" ajak Atika mengebu-gebu.
"Duluan deh. Gue mau cari yang lain aja," tolak Alodia tanpa pikir panjang.
"Kenapa? Takut?"
"Takut kenapa, ya?"
"Takut CLBK, hahaha!"
"Ih, najis tralala."
"Ya udah kalo nggak mau. Ayo, Kar!" Atika menatap Kara yang kemudian menggeleng sambil cengengesan.
"Gue nggak ikutan. Capek, hehehe."
Atika mendengus sebal dan menggerutu. "Oke, bye!" katanya sewot, dan menyusul Nina yang sudah lebih dulu pergi untuk mencari Danola.
"Ya udah, kalo gitu gue mau coba cari yang lain deh. Siapa tahu beruntung, hehehe. Lo nggak ikut nih?" tanya Alodia pada Kara.
"Enggak deh, males. Lagian gue juga nggak tahu orangnya, selain Kak Danola, hehe."
"Oke." Alodia beranjak, meninggalkan Kara yang tak lama kemudian juga pergi menuju lapangan basket untuk mencari tempat duduk.
Senior pertama yang Alodia cari adalah Adriana Pitaloka. Kebetulan, tadi Alodia melihat fotonya di mading sekolah, di sebuah artikel tentang remaja muda berbakat. Orangnya cantik dan wajahnya mudah dikenali, maka dari itu Alodia langsung bergegas untuk mencarinya. Siapa tahu hari ini adalah hari keberuntungannya.
Seerr… pssssssst.
Langkah Alodia berhenti saat mendengar suara air mengalir dari sebuah arah, tepatnya dari balik pohon besar yang ada di depan ruang UKS. Apa di sekolah ini ada kolam air mancurnya, ya?
Karena penasaran, Alodia pun melanjutkan langkahnya. Tapi, tiba-tiba, Alodia menjerit kaget karena melihat ada seorang cowok yang sedang buang air kecil sambil bernyanyi di balik pohon itu.
“Astagfirullahalazim!” seru Alodia dan menutup matanya dengan telapak tangan.
Cowok itu berbalik dan terlonjak kaget sewaktu melihat Alodia berdiri tak jauh darinya.
“Astagfirullahalazim!" katanya, tak kalah kaget.
Alodia menurunkan tangannya lalu mengambil batu kecil yang kebetulan ada di dekatnya dan melemparkannya ke arah cowok itu.
“Aduh! Apaan, nih?"
“Nggak sopan banget, sih, Kak?! Kalo mau kencing jangan di sini dong!”
Cowok itu menaikkan resleting celananya. “Lo tuh yang nggak sopan, ngintipin orang pipis!"
“Enak aja! Orang nggak sengaja lihat juga!" seru Alodia ketus sambil mengamati wajah cowok berambut cokelat madu itu dengan seksama.
Ya ampun, itu kan senior yang tadi membantunya masuk!
“Ya udah terus ngapain masih di sini?"
"Ini juga mau pergi kok!" Alodia membalikkan badan, hendak beranjak. Tapi, tiba-tiba gerakannya terhenti karena mendengar suara teriakan seseorang.
"Ta! Nata! Mending lo ngumpet deh sekarang. Soalnya, si Tiko nyuruh anak-anak baru minta tanda tangan lo."
Alodia tak jadi angkat kaki, dia justru jalan di tempat tanpa dia sadari.
Jadi, itu yang namanya Arizky Dinata? Hmmp!
“Serius?" Nata melirik Alodia dan menyeringai.
"Iya, makanya mending lo ngumpet ke mana, kek. Adriana juga udah ngumpet tuh di toilet."
Cowok bernama Arizky Dinata itu mengangguk berkali-kali sambil tersenyum simpul.
Sementara itu, Alodia sedang dalam masa konflik batin, antara ingin berbalik atau pergi. Masalahnya, apa setelah tadi dia marah-marah, senior itu akan memberikan tanda tangannya?
Hmmm. Alodia menggigit bibir, bingung. Ini masalah harga diri sih sebenarnya...
Setelah berpikir panjang, akhirnya Alodia memutuskan untuk meminta tanda tangan senior itu. Apa salahnya? Lagian, cuma tanda tangan doang ini. Alodia pun berbalik, seraya tersenyum lebar.
“Loh? Kok nggak ada? Ke mana tuh orang?” ujarnya, terheran-heran, karena tidak melihat siapapun di depannya.
Dengan sebal, Alodia melangkah lebar menuju lorong kelas. Kali aja cowok itu bersembunyi di sana. Dan dia juga pastinya sengaja kabur sebelum Alodia balik badan!
Ih, menyebalkan banget sih orang itu?
Alodia memelankan langkah saat menginjak lantai koridor, dengan sabar ia berkata, “Kakak … kamu di manaaaa?”
“Kakak … minta tanda tangannya dooong?”
Alodia melongokkan kepala ke dalam ruang kelas. Kosong. Di kolong meja juga tidak ada. Ke mana dong?
"Cepat banget hilangnya, kayak setan, " kata Alodia, bete maksimal.
**********