Kara mulai bosan. Ini sudah hampir sepuluh menit dan teman-temannya belum juga kembali. Bahkan, ponsel pintar miliknya ini juga tidak membantu sama sekali untuk menghilangkan bosannya. Akhirnya, dia menyesal karena tidak menerima ajakan Atika dan Alodia tadi.
Kara mengalihkan fokusnya dari layar ponsel begitu mendengar suara dari belakangnya. Dia menengok ke sana dan mendapati lima orang senior menghampirinya. Dua di antaranya, perempuan.
Perasaan Kara mulai tak enak, apalagi ketika mendengar salah satu dari mereka bilang, "Ini? Yang ini, kan?" sambil menunjuk-nunjuk dirinya.
"Eh, lihat deh, ada anak baru yang males," kata senior cewek setelah mereka berdiri tepat di hadapan Kara. Mata bulatnya meneliti penampilan Kara dengan pandangan menilai.
Kara berdiri dan menunjukkan rasa hormat dengan cara tersenyum. Namun, rupanya, tindakannya itu salah.
"Kenapa senyum-senyum? Ada yang nyuruh?" tanya cewek itu lagi dengan aksen judes.
"Enggak, Kak." Kara menjawab pelan.
"Ngapain kamu di sini? Bukannya tadi disuruh minta tanda tangan kakak kelas?" ujar cewek satu lagi. Tubuhnya tinggi dan wajahnya tipikal cewek jutek.
"Bukannya tadi itu games, ya, Kak?"
"Terus, kalo games, kenapa? Semua anak baru, wajib ikutin games itu, kaliii! Tapi kamu malah enak-enakan di sini sambil main HP!"
Kara tidak berani menjawab. Jangankan itu, untuk menengok wajah mereka saja Kara takut.
"Beneran ini orangnya? Kok nggak kayak abangnya?"
"Iya, tanya aja," ucap seorang cowok berambut cepak.
"Kamu adiknya Bobby, kan?"
Kara mengangguk. "Iya, Kak."
"Sini HP-nya!"
Kara mengangkat wajahnya yang tampak bingung. "Apa?"
Cewek itu merampas HP milik Kara dan berkata dengan santai, "HP ini kita ambil sebagai hukuman karena kamu nggak mau ikutan games."
"Tapi, Kak..."
"Tapi, apaaa? Siapa suruh males-malesin di sini?"
Kara menatap wajah senior cewek di depannya itu dengan rasa takut. Dalam hati dia berharap ada seseorang yang datang membantunya. Alodia misalnya. Karena cuma cewek itu yang paling berani di antara yang lainnya.
"Oh iya, kita semua pada aus. Tolong beliin kita minum, ya! Sekalian, sama jajan yang banyak. Awas kalo nggak!"
Mendengar seruan itu, Kara hanya bisa mengangguk pasrah dan kemudian pergi.
Sepeninggal Kara, salah satu di antara lima senior tadi bertanya," Nggak apa-apa nih kita kerjain dia?"
"Biarin aja. Dulu juga kita diginiin sama abangnya!"
"Ngumpet di mana sih dia?" Alodia mengerutu sambil menelusuri lorong kelas.
Alodia sudah mencari cowok bernama Arizky Dinata itu ke mana-mana, tapi batang hidungnya nggak juga kelihatan. Alodia juga sudah pergi ke toilet untuk mencari senior cewek yang katanya tadi ngumpet di sana. Tapi sama aja, orangnya nggak ada.
"Sumpah ya dari tadi gue nggak ada lihat Kak Danola. Capek gue, sumpah!"
Begitu mendengar suara yang amat dikenalinya itu, Alodia menengok ke dalam ruang kelas yang dilewatinya. Dan benar saja perkiraannya, kalau suara macam Mak Lampir itu milik Atika.
"Mereka pasti pada sembunyi, tapi nggak tau di mana," kata Alodia dari muka pintu. Kedatangannya membuat Atika dan Nina menoleh.
"Iya, nih. Padahal kan gue pengen banget pulang cepat. Bentar lagi drama Korea kesukaan gue mulaaai," timpal Nina dengan nada merengek.
Selain monyet, Nina juga paling demen sama yang namanya drama Korea, loh. Apalagi sama pemerannya yang menurutnya imut-imut gimanaaa gitu. Makanya nggak heran kalau tadi Nina yang paling cepat lari untuk mencari ketiga senior itu. Dia berharap bisa pulang cepat hari ini.
"Itu sih derita lo, ya. Gue sih pengen makan gratis seminggu di kantin."
"Nggak heran kalo badan lu kayak badak. Makaaaan terus yang dipikirin."
"Daripada mikirin gebetan yang nggak peka, mending mikirin makan. Enak, kenyang. Hahaha!" kata Atika, tiba-tiba baper.
Mendengar itu, Nina memutar bola matanya dan mencibir.
"Si Kara mana?" tanya cewek berambut pendek sebahu itu.
Alodia menggeleng. "Tadi sih gue sama dia pisah di lapangan. Sekarang nggak tahu dia di mana."
"Ya udah yuk, cari minum. Haus gue, capek." Atika beranjak yang kemudian diikuti Alodia dan Nina.
"Ada apa, nih?"
Ruang kelas yang berada di lantai tiga itu mendadak hening ketika seorang cewek dengan rambut ikal sebatas bahu datang bersama dua orang cowok.
"Adek ini kenapa bisa ada di sini?" tanyanya, menunjuk Kara yang tengah menangis.
"Dia ke sini nyariin Adriana. Terus kita bilang nggak ada, eh dianya malah nangis," jawab cewek yang berambut panjang dengan santai.
Padahal, bukan begitu kebenarannya.
Kara di-bully.
"Kamu kenapa nangis, Dek?" Seolah tidak percaya dengan perkataan temannya, cewek itu bertanya pada Kara.
"Udah deh, Rani, nggak usah ikut campur. Mending lu urusin yang lain sana!"
Cewek yang dipanggil Rani itu mendengus. Ditatapnya lawan bicaranya itu dengan sinis. "Dengar ya, Kiran, gue nggak suka ada penindasan di sekolah ini."
Kiran tertawa, yang juga membuat teman-temannya ikut tertawa.
"Iya gue denger Kak Rani yang baik hatiiiii," ucapnya, dengan aksen jengkel.
Rani menoleh pada Kara, kemudian berkata,"Kamu boleh pergi."
"Anjrit," maki Kiran pelan, namun masih bisa di dengar oleh Rani.
Kara mengangguk dan bergegas angkat kaki. Yang terjadi di dalam kelas selanjutnya, Kara tidak mau tau. Dia butuh teman-temannya sekarang juga!
Tapi, sayang, sewaktu Kara hendak menghampiri ketiga sahabatnya itu, tiba-tiba terdengar seruan dari lapangan sana yang meminta semua murid baru untuk kembali ke lapangan. Mau tak mau, Kara pun bergegas menuju ke sana.
"Jadi, gimana? Ada yang berhasil nggak dapat tanda tangannya?" tanya Tiko, gembira.
Semua murid baru menjawab, "Enggak," hampir secara bersamaan.
"Ini berapa?" Tiko mengacungkan jari telunjuknya tinggi-tinggi.
"Satuuuu," jawab adik kelasnya, tak semangat.
Tiko kemudian menurunkan telunjuknya dengan cara menyebalkan sambil berseru, "Kasihaaaan deeeeh luuuu! Hahahaha."
"Sumpah ya Kakak yang itu udah jelek, norak lagi! Perasaan dari tadi dia aja yang ngomong. Mana panas lagi nih hari. Kesel gue!" Suara itu berasal dari seorang cewek di barisan belakang sana. Entah siapa, yang jelas mereka yang mendengarnya mengangguk setuju.
Selama hampir setengah jam, Tiko bercuap-cuap di depan sana. Bahkan, cowok itu juga sempat curhat soal masa lalunya yang kelam. Pokoknya, boring banget, sampai-sampai bikin kepala pusing tujuh keliling.
Tapi, syukurlah penderitaan mereka berakhir karena setelahnya, barisan dibubarkan dan mereka diizinkan pulang. Ya walaupun banyak dari mereka yang kecewa karena nggak berhasil mendapatkan voucher makan gratis itu.
Tempat pertama yang Alodia datangi setelah masuk ke dalam rumah adalah dapur. Cepat-cepat dia membuka tudung saji untuk melihat apa yang dimasak bundanya hari ini.
"Hah? Kok nggak ada?" katanya, kaget. "Bunda nggak masak, ya? Kok, tumben...."
"Udah pulang lo, Dek?" Niki muncul di ambang pintu. Sebelum Alodia sempat menjawab, dia menambahi, "Kata Bunda, kalo lo laper, masak mi instan aja dulu. Bunda hari ini nggak masak. Seharian sibuk di rumah Pak RT."
Alodia menutup tudung saji, berjalan ke lemari es dan membukanya. Diambilnya botol air minum berwarna merah, lalu bertanya," Ngapain Bunda di rumah Pak RT?"
"Ituuuu, adek lo yang nggak waras itu nangis-nangis minta si Mumun di pulangin ke sini lagi. Tapi, si Mumun nggak mau ikut. Kayaknya Mumun naksir si Atun deh," jelas Niki panjang lebar. Meski sudah begitu, Alodia masih nggak ngerti maksudnya.
"Atun itu, siapa lagi? Monyet baru Pak RT? Ceritanya, si Mumun naksir sama dia?"
"Apaan sih lo, Dek. Atun itu anaknya Pak RT yang paling kecil, tau! Hahaha, lucu lo!"
"Ha?
"Hahaha." Niki malah ngakak sambil memegangi perutnya.
"Hihihi, Odi nggak tau kalo Pak RT punya anak lagi."
"Iya, itu anaknya dari istri yang kelima."
"Buset. Padahal muka Pak RT kan aneh gitu ya, kok banyak yang mau?"
"Hahah, s****n lu, Dek! Gue juga mikir gitu sih."
Malam ini hujan, dan Edgar kesepian. Dia galau, karena Mumun nggak mau pulang. Padahal, Edgar udah terlanjur sayang sama tuh monyet. Menjijikan memang, tapi itulah kenyataannya.
Bunda udah berusaha untuk bawa Mumun pulang. Tapi Atun, bocah berusia empat tahun itu, nangis-nangis karena nggak izin Mumun dibawa. Mumun juga nggak mau pulang. Itulah kenapa Edgar galau sekarang. Dia nggak nyangka ternyata Mumun lebih milih Atun ketimbang dirinya.
Dan di sinilah Edgar sekarang. Di teras rumah, duduk menopang dagu, memandangi kandang Mumun yang diguyur hujan lebat.
"Udahlah, Gar, monyet kudisan gitu aja lo baperin," kata Niki yang datang bersama Dika dan Alodia. Niatnya sih pengen menghibur Edgar.
Dika menambahkan, "Iya, Dek. Mending besok kamu piara kucing aja. Lebih imut."
"Betul, betul, betul. Ketimbang si Mumun yang amit-amit." Alodia ikut nimbrung.
Edgar bangkit dari posisi duduknya, lalu berlari masuk ke rumah. Samar-samar, mereka bisa mendengar teriakan Edgar di dalam sana.
"Kalian jahat! Kalian nggak ngerti perasaan Edgar!"
"Apa sih, lebay!" komentar Niki, tak habis pikir kalau Edgar bisa depresi cuma gara-gara seekor monyet.
~~~~~~~~~