Hari ini, Alodia pergi ke sekolah diantar Dika karena Kara tidak datang menjemputnya. Agak mengherankan sih, soalnya sejak semalam Kara tidak ada kabar. Alodia sudah menghubunginya melalui bbm, line, juga wa, namun semuanya tidak aktif. Bukan Alodia saja yang heran, Atika dan Nina pun sama. Keduanya bilang kalau Kara juga tidak bisa dihubungi.
Dan begitu melihat Kara turun dari mobil di depan gerbang, Alodia dkk langsung cepat-cepat menghampirinya. Mereka khawatir karena sahabatnya itu nggak ada kabar kemarin.
"HP lo mana, Kar? Kok gue hubungi nggak aktif?"
"Iya, ke mana sih lo semalam? Sampe nggak ada kabar."
Menanggapi pertanyaan itu, Kara tersenyum, lalu mengajak ketiga sahabatnya itu ke pohon besar yang ada di dekat sana.
"Kalian tau nggak sih, kemarin gue... "
Lalu, mengalirlah cerita Kara mengenai kejadian kemarin, tentang bagaimana HP-nya diambil oleh seorang senior dengan alasan sepele, juga tentang dirinya yang disuruh melakukan sesuatu hal yang menjijikan dan disaksikan banyak senior lain-yang untungnya hal itu nggak sempat terjadi.
"Kok lo baru cerita sih? Kenapa pas kita pulang semalam lo nggak ada cerita-cerita?" protes Atika, agak emosi mendengar Kara diperlakukan seperti itu.
"Sori, ya. Tapi, masalah itu udah gue lupain kok, hehehe."
"Terus, HP lo gimana? Lo biarin gitu aja?" tanya Nina.
Kara mengangguk. "Nggak apa-apa, entar gue beli yang baru aja. Lagian, gue nggak mau berurusan sama mereka lagi. Takut gue."
"Tapi kan, HP lo itu harganya mahal, Kar. Masa lo kasih gitu aja? Itu tuh namanya perampasan. Terus menurut gue, lo itu termasuk di-bully. Ini nggak bisa dibiarin!" Alodia hendak beranjak, namun Kara lebih dulu menahan tangannya.
"Eh, Nyuk, Nyuk! Lo mau ke mana? Gue nggak mau ya kalian dapat masalah gara-gara gue. Sumpah, jadi nyesel gue cerita."
"Ya biarinlah. Gue nggak suka temen gue digituin. Perasaan kemarin banyak kok yang nggak ikut games itu, tapi kenapa cuma lo yang diperlakukan kayak gitu?!"
"Lagian ya, Kar, dari pada HP itu lo kasih ke mereka, mending lo sedekah nih ke gue yang lebih membutuhkan," ujar Atika yang dari zaman dulu pengen banget punya ponsel pintar seperti milik Kara.
Kara ini, mentang-mentang anak orang kaya, HP diambil orang malah dibiarin gitu aja. Kalau Atika jadi dia, mungkin kemarin itu udah jadi perang dunia ketiga.
"Ya udah, kalo lo mau, minta aja. Itu juga kalo lo berani."
Atika mendadak berseri-seri mendengar perkataan Kara barusan. "Ciyuuus?"
Kara mengangguk. "Iya, kalo lo berani."
"Lo ikut, biar gue yang minta!" kata Alodia sambil menunjuk Kara. Nada bicaranya tegas dan penuh emosi. Kara jadi takut.
"Kakak yang itu, yang kemarin ngambil HP gue. Kalo nggak salah, namanya Kiran," bisik Kara pada Alodia setibanya mereka di depan salah satu ruang kelas yang pada pagi hari itu cukup ramai orang. Entah ada apa di dalam sana. Kara mulai berpikir kalau ini bukan waktu yang tepat untuk datang.
Alodia menengok senior cewek yang ditunjuk Kara, kemudian mengangguk. "Oke, biar gue yang ngomong."
Di saat genting seperti itu, Atika sempat-sempatnya berujar, "Tapi nanti HP-nya buat gue, ya, gaes? Hehe."
Alodia mencibir lalu melangkah masuk ke dalam kelas diikuti Kara dan Atika. Atika yang menyadari Nina tidak ada, langsung bersumpah serapah. Dia tahu kalau Nina pasti sengaja kabur. Cewek satu itu kan penakut.
Dasar, nggak setia kawan banget, sih!
Ruangan itu masih penuh gelak tawa ketika mereka masuk. Meski begitu, beberapa orang sadar dengan kedatangan mereka. Termasuk Arizky Dinata, yang duduk di belakang bersama dua orang temannya.
"Nyari siapa?" tanya seorang cowok berjaket putih pada ketiganya.
Alodia menunjukan seulas senyum. "Mau cari Kak Kiran."
Cowok itu menoleh melalui bahu pada cewek di belakangnya. "Ran, lo dicariin, nih!"
"Siapa?" Kiran beranjak dari duduknya dan melangkah lebih dekat ke hadapan Alodia.
"Maaf, Kak. Saya ke sini mau minta HP temen saya yang kemarin Kakak ambil," tutur Alodia tanpa tedeng aling-aling, tapi berusaha tetap sopan.
"Hah?!" Kiran berteriak, sengaja supaya semua fokus orang di dalam kelas tertuju padanya. Dan benar saja, sekarang ruangan itu menjadi hening.
Ini menarik banget. Kiran suka nakut-nakutin adik kelas.
Alodia bisa merasakan tangannya di cubit Atika. Sepertinya temannya itu sedang berusaha ngasih kode. Mungkin seperti, udah nggak usah, mending kita pergi aja.
Tapi sayang, Alodia nggak peduli.
"Apa sih tadi nggak denger," ucap Kiran, berbohong. Jelas-jelas dia mendengar apa yang Alodia katakan.
Alodia tersenyum dan tetap bersikap santai. "Temen saya cerita, kemarin katanya HP-nya Kakak ambil cuman gara-gara dia nggak ikutan games. Terus, Kakak juga minta dia buat beli jajanan sampe duitnya abis. Menurut saya, itu nggak adil.
Soalnya, setahu saya, banyak kok yang nggak ikutan games itu. Tapi, kenapa cuma temen saya yang dihukum?"
"Mampus lo, Ran. Ada yang berani nyari ribut sama lo!" celetuk cowok berkepala botak di belakang sana.
Kiran tertawa geli. "Temen lo yang ini?" Dia menunjuk Kara.
Alodia mengangguk. "Iya."
Tak disangka-sangka, Kiran menoyor kepala Kara dan mulai memarahinya, "Ngadu lo? Berani lo sama gue? Ngomong apa aja lo, hah?"
Melihat itu, Alodia langsung naik darah. "Apa-apaan nih, Kak? Saya nggak suka ya kalo temen saya diginiin!"
Suara Alodia yang cukup keras dan sikapnya yang berani, memaksa Nata untuk bangkit. Dia berjalan dan berhenti di belakang Kiran.
Dia mau melihat keberanian cewek itu dari dekat. Entah mengapa.
" O? Terus kenapa? Maunya apa?"
"Jangan main kasar jugalah! Sekarang gini aja, saya minta HP temen saya dikembalikan. Kalo enggak, saya akan laporkan Kakak ke orangtuanya," kata Alodia lagi, pantang mundur.
"Mampus lo, Ran!"
"Haha, hajar, Ran!"
"Gue takut nih, Nyuk. Pergi aja, yuk!" Atika berbisik di kupingnya.
Masalahnya, sekarang semua orang di ruangan ini sudah berdiri mengerumuni mereka. Mana tampangnya pada serem lagi!
"Iya, Nyuk, gue bilang juga apa tadi."
Bukannya mendengarkan perkataan kedua temannya, Alodia justru maju dan menjulurkan tangan kanannya ke hadapan Kiran.
"Soalnya, HP itu dibeli pake duit, bukan pake daun."
"Ya ampuuun!" Kiran tidak habis pikir dengan sikap adik kelasnya yang satu ini. Sumpah, ngeselin abis.
"Oh iya, saya juga akan laporkan Kakak dan teman-teman Kakak semua ke Kepala Sekolah karena masalah ini, juga soal temen saya yang disuruh...," Alodia berhenti sejenak, merasa malas untuk meneruskan, "nyium salah satu senior cowok kalo mau HP-nya dibalikin."
"Haaaa?" Kiran berseru lagi, dan kali ini dia kelihatan mulai khawatir.
Kalau masalah ini sampai ke telinga para guru apalagi Kepala Sekolah, bisa makin panjang urusannya. Dan Kiran nggak mau jadi orang yang paling disalahkan. Karena kan sebenarnya dia cuma menuruti perintah orang aja.
"Kasih, Ran. Gue nggak mau ya dibawa-bawa!"
"Iya gue juga."
Kiran mendengus jengkel mendengar komentar teman-temannya itu. "Gimana nih, Nat?" tanyanya pada Nata.
Alodia mengangkat pandangannya ke cowok yang dipanggil "Nat" itu, dan agak kaget melihat penampakannya, begitu juga Kara.
Itukan Kakak yang kemarin, batin Kara.
Alodia juga kaget pas Kiran malah bertanya padanya. Alodia jadi berpikir kalau cowok bernama Arizky Dinata itu pastilah ketua di sini. Kalau tidak, kenapa dari semua cowok yang ada di sini, senior cewek itu malah bertanya padanya? Kenapa bukan pada yang lain? Iya nggak, sih?
"Kenapa?" Nata balik bertanya. Cara bicaranya acuh tak acuh. Kesan kedua yang menyebalkan-setidaknya di mata Alodia.
"Plis, deh, Nat, cewek bule ini adeknya Bobby." Kiran memutar bola mata saking dangkolnya.
Nata melirik Kara yang juga meliriknya. Entah mengapa Kara berharap kalau cowok itu mau menolongnya sekali lagi.
Belum sempat Nata merespon, seorang cowok bertubuh jangkung tiba-tiba masuk ke kelas dan mencuri perhatian semua orang, khususnya Alodia.
As-ta-ga!
"Ada apa, nih?" Cowok dengan rambut hitam yang ditata rapi itu masih belum sadar kalau Alodia tengah terkejut melihatnya.
Danola?
Dan sialnya, sewaktu Alodia nyaris membuang muka, cowok yang Alodia kenal sebagai Danola Yudhistira itu menoleh menatapnya.
"Eh!" Danola memiringkan kepalanya ke satu sisi, namun menghadap Alodia. "Kamu?"
"Kak Danola?" Atika yang juga menyadari itu langsung bertanya memastikan.
Danola mengangguk. "Kalian ngapain di sini?"
Alodia tidak menjawab, begitu pun dengan Atika dan Kara. Mereka sudah cukup lama berada di sini. Dan lagian sekarang bukan waktunya untuk curcol.
"Kenapa dengan Dede Gemas ini?" Danola menunjuk Alodia ketika bertanya pada Kiran.
"Tolong kembalikan HP-nya, Kak!" Alodia kembali menjulurkan tangannya.
Nata melirik Kiran yang dengan ogah-ogahan mengeluarkan sebuah ponsel berukuran telapak tangan dari saku roknya. "Nih! Sebenarnya gue tuh nggak punya urusan ya sama lo! Urusan kita itu sama temen lo yang itu tuh!" Kiran menunjuk-nunjuk Kara tak sopan.
Alodia menunjukkan senyum penuh kemenangan. Sebelum dia mengambil benda petak itu, Atika sudah lebih dulu menyosornya.
"Makasih, Kak," katanya, tak tahu malu.
Sementara itu, Danola masih keheranan dengan apa yang terjadi. Oleh sebab itu dia sengaja menahan tangan Alodia yang hendak pergi. "Kenapa? Lo diapain sama monyet-monyet ini?"
"Kurang ajar lo, Dan! Memangnya kita mirip monyet!" seloroh seseorang di pojok sana.
Alodia melihat tangannya yang ditahan Danola. Sebentar saja, karena pada detik keempat Alodia langsung menepisnya.
"Kepo," ucapnya sambil lalu.
"Kita pergi dulu, ya, Kak," pamit Atika dan Kara.
Danola tidak membalas karena tiba-tiba saja dia jadi kepikiran Alodia. Cewek itu... belum berubah juga. Masih aja jutek.
"Siapa lo sih, Dan?" tanya Kiran penasaran plus dengan ekspresi tak suka. Di sampingnya, Nata diam-diam menyimak. Dia pengen tahu juga rupanya.
Danola tahu-tahu tersenyum. "Ada deh, mau tahu aja, hehehe."
"Iss, siapa sih? Kesel gue sama dia!"
Bukannya menjawab, Danola justru tergelak. Bahkan bertanya balik, "Oiya, ada masalah apa sih lo sama mereka?"
Kiran capek harus menjelaskannya, tapi karena yang bertanya Danola, okelah... tidak masalah.
"Gue cerita di kantin, yuk? Sekalian makan, hehehe."
Danola mengangguk. "Oke."
~~~~~~~••••~~~~~~~