"Nyuk, yang tadi itu beneran Kak Danola kan, ya? Ya ampun, kok dia jadi ganteng banget gitu yaaa. Omegaaaat. Iya kan, Kar?" celetuk Atika sambil mereka berjalan menuju lapangan yang sudah banyak orang.
"Biasa aja tuh." Alodia menjawab acuh tak acuh.
Sedangkan Kara, hanya tersenyum mendengarkan.
"Yeeee, ditanya gitu aja baper."
"Apa sih! Dikit-dikit, baper."
Err... bukan apa-apa sih, tapi Alodia nggak nyangka aja bisa ketemu sama dia. Meskipun dari awal Alodia tahu kalau mereka pasti bakal ketemu lagi, tapi kan nggak secepat ini juga. Maksudnya gini loh, Alodia itu belum siap ketemu Danola. Okelah kalau memang dia lebay, labil, atau semacamnya. Tapi kenyataannya, dia memang belum mau ketemu sama cowok itu.
Lagian, nih, kenapa ketemunya pagi- pagi sih? Kan jadi merusak mood-nya.
Tada!
Alodia tiba-tiba punya ide. Saat seorang senior mulai berbicara melalui toa, Alodia tiba-tiba menjatuhkan dirinya secara perlahan sehingga mencuri perhatian banyak orang.
"Eh, itu ada yang pingsan! Bantuin, bantuin! Bawa ke UKS!" seru senior di depan sana sambil menunjuk-nunjuk Alodia.
"Loh?! Si Unyuk kenapa, tuh? Kok pingsan?!"
"Ikut, yuk! ikut!" Atika hendak beranjak, namun seorang senior cewek berwajah jutek menghalangi jalannya.
"Eh, eh, mau ngapain?” katanya, ketus.
"Bentar, Kak, mau lihat temen kita doang," balas Nina sambil pasang muka cemas.
"Ya udah, sana cepetan! GPL!"
Nina, Atika, dan Kara mengangguk bersamaan lalu berlari menuju UKS.
"Nyuk? Nyuk? Sadar, Nyuk!" Atika memukul-mukul pelan pipi Alodia setibanya di ruang UKS.
"Kok bisa pingsan ya nih anak? Perasaan, dia tadi sehat-sehat aja kok!" seru Nina keheranan.
"Hahahaha!"
"Eh, monyet! Kaget gue! Pura-pura pingsan ya lo?! a***y, pengen ngomong kasar gue," Atika melompat kaget sewaktu sahabatnya itu tiba-tiba bangun dan tertawa terbahak-bahak.
"Ya elah, Nyuk, bikin kuatir aja sih lo. Kirain pingsan beneran nggak taunya drama. Dasar alay," cibir Nina.
"Pssssst! Udah pergi?"
"Siapa?"
"Kakak kelas yang bawa gue ke sini?"
"Eh, dia datang tuh! Pingsan lagi buruan!"
Mendengar instruksi tersebut, Alodia kembali pura-pura tak sadarkan diri. Tak lama kemudian, seorang cowok bertubuh kurus masuk dan berseru, "Kalian temennya?"
"Iya, Kak! Kami bespren getoh," sahut Atika dengan cara yang menyebalkan.
"Oh, terus dia kenapa, kok bisa pingsan gitu? Laper?"
"Bukan, Kak, baper." Nina menjawab asal.
"Baper? Kok sama. Emang sakit sih. Aku juga lagi baper. Sedih aku tuh." Cowok itu menunjukkan ekspresi seakan-akan dia habis diputusin pas lagi sayang-sayangnya. Air hidungnya menetes sedikit dan dengan cepat dia menjilatnya.
"Ya udah, pokoknya kalo dia udah sadar kalian balik ke lapangan!"
"Oke, Kak!" Sahut ketiga remaja di depannya sambil pasang muka jijik.
Setelah senior tersebut pergi, Alodia langsung bangun dan cekikikan.
"Ada-ada aja sih lo, Nyuk. Untung gak ada yang tau kalo lo cuma pura-pura."
"Bodo amat gue lagi nggak mood."
"Nggak mood?"
"Iya, males banget gue baris di lapangan. Panas tau, hihihihi."
"Ihhh, curang ya lo!"
"Hahahah."
"Ya udah deh kita balik ke sana lagi ya."
"Oke!"
Sepeninggal teman-temannya, Alodia bangkit untuk mengunci ruang UKS dan sengaja menutup tirai jendela supaya tidak ada yang bisa melihatnya dari luar. Ia kembali merebahkan tubuhnya ke tempat tidur setelah melepas sepatu dan kaus kakinya, tanpa peduli dengan tirai pembatas yang sejak tadi tertutup.
"Hmm, ngapain ya enaknya?" Gadis itu mengeluarkan ponsel pintarnya kemudian mengambil headset dan menyumbat kedua telinganya dengan benda itu. Sambil berbaring ke kanan, ia menyanyi mengikuti irama musik yang didengarnya.
Tiba-tiba, Alodia merasa ada yang mencolek-colek bahunya. Parno karena merasa sendirian, gadis itupun menoleh ke belakang dan betapa terkejutnya dia ketika melihat seorang cowok bertubuh jangkung tengah berdiri di belakangnya sambil memegang kemoceng.
Mati gue! Kok bisa ada dia sih? Pura-pura pingsan lagi aja kali ya?
“Aduh, kepalaku sakit banget!” Serta merta Alodia pura-pura pingsan lagi dengan menjatuhkan punggungnya ke kasur dengan cepat.
Cowok di depannya mendengus, lalu membungkuk sebentar, mengambil sesuatu di bawah kakinya dan mengarahkannya tepat ke hidung Alodia.
"Uweeeeekkk!" Alodia bangun dan melompat turun, “Apaan sih, Kak! Bau tau! Kayak udah setahun nggak dicuci!” serunya, saat tahu kalau bau itu berasal dari kaus kaki yang menurutnya ngalah-ngalahin bau ikan asin. Hampir aja Alodia mau muntah karenanya.
Cowok itu tersenyum, sedikit dan menurut Alodia menyebalkan sih. Siapa ya namanya? Ooh, iya! Arizky Dinata. Sejak kapan coba dia ada di dalam sini? Atau jangan-jangan, dari tadi dia ada di balik tirai itu? Kalau iya, berarti dia tahu dong kalau Alodia pura-pura pingsan tadi. Waduh!
“Jadi ini udah setahun nggak dicuci? Pantesan.” Nata membuang kaus itu ke belakang.
Jangan bilang itu kaus kaki gue yang emang belum ada kesentuh air sejak SMP kemarin?
Alodia akhirnya sadar kalau bau busuk tadi berasal dari kaus kakinya, bukan milik cowok di depannya ini. Aduh, kok bisa malu-maluin gini sih?!
Melihat Alodia melongo di hadapannya, Nata bergerak mendekat. Sebelum bicara, ia melirik tulisan di seragam SMP cewek itu yang menyebutkan namanya.
“Jadi gini, cara lo lari dari kegiatan MOS?” ucapnya, terdengar agak horor gitu.
“Sori, Kak! Saya cabut deh kalo gitu, permisi!” Secepat kilat Alodia bergegas, ia mengambil sepatunya dan membuka pintu lalu menghilang dalam sekejap mata.
Nata menggeleng, tidak habis pikir dengan kelakuan cewek itu. Lucu, sih. Mukanya imut, tapi sayang...tukang ngintip sama tukang bohong, dan alay pastinya.
Saat hendak kembali naik ke tempat tidur, pandangannya tertuju pada kaus kaki yang ada di atas bantal. Baunya yang busuk menyergap hidungnya lagi. Tiba-tiba, satu ide muncul di kepalanya.
“Panas banget sih, ya Allah gue haus,” seru Atika sambil mengipasi wajahnya dengan tangan.
“Iya, nih, kapan bubarnya sih? Udah waktunya pulang, kan?” Nina menimpali.
“Kaus kaki lo mana, Nyuk?” tanya Atika yang nggak sengaja melihat tepat ke kaki Alodia.
Alodia mendengus malas, tiba-tiba teringat kejadian tadi. “Nanti deh gue cerita.”
“Dicari! Alodia Denisa! Yang punya kaus kaki di depan ini, harap maju!”
Suara salah satu senior cowok yang berbicara melalui mikrofon terdengar hingga ke seluruh penjuru sekolah. Alodia, yang merasa namanya disebut otomatis mengangkat kepala, kaget bukan main.
“Sumvah, ya, ini kaus apa bunga bangkai? Bau banget!”
“Ya ampuuuun, ini kaus punya siapa siiih, baunya minta ampun. Nggak kuat aku tuh!”
“Jorok banget sih yang punya! Yang mana sih orangnya? Itu kaus apa limbah pabrik?”
Hujatan mulai terdengar dari kalangan senior cewek yang berbaris di depan. Sebagian lagi mundur sambil menutup hidung, begitupun dengan para murid yang berbaris di bagian depan.
Omegat. Ini aib banget, gaes.
“Nyuk! Itu kaus kali lo, kan?” Suara cempreng milik Nina tentu saja membuat semua mata kini tertuju pada Alodia yang terpelongo.
“Yang merasa namanya Alodia Denisa harap ke depan sekarang juga!”
“Itu yang dipanggil lo juga, kan?” tambah Nina lagi. Nih anak tahu nggak sih kalau sahabatnya udah kepalang malu, pake acara diperjelas pula.
“Ayo, buru deh yang namanya Alodia ke sini sekarang juga!”
Disebut namanya sekali lagi, Alodia maju sambil menahan malu. Bahkan, sejauh ini, bau tuh kaus busuk masih juga bisa kecium. Emang luar biasa!
“Bang, sumpah gue nggak kuat. Gue mau mati, Bang!” kata seorang cowok bertubuh gemuk yang diberi tugas untuk mengamankan kaus kaki tersebut dengan cara memasukkan bagian dalam kaus ke gagang sapu dan mengacungkannya tinggi-tinggi supaya bisa dilihat banyak orang. Tapi tetap aja, baunya nggak nahan, gaes!
“Nat, mau mati tuh anak orang!” Cowok di samping Nata berseru.
Nata tertawa mendengus. “Yaudah gantian lo yang pegang!” serunya.
“Enak aja, ogah gue. Kalau mau lo aja.”
“Sini.” Anehnya Nata sama sekali tidak menolak. Dengan santai, ia mengambil alih gagang sapu dan menunggu pemilik kaus tersebut maju. Di sekitarnya, cewek-cewek mulai bergerak menjauh karena kebauan.
“Ya ampun, Nat, plis deh ya, unfaedah banget sih kerjaan lo!”
Bodo amat. Dia cuma lagi butuh hiburan doang.
Beberapa radius meter di depannya, tampak seorang gadis berperawakan kecil namun cukup berisi berjalan dengan mimik mengerikan. Seakan-akan ia hendak menerkam Nata hidup-hidup. Tatapannya penuh emosi. Tapi, yang ditatap biasa aja tuh. Senyum malah.
“Ooooh, itu yang punya? Ya ampun jorok banget sih, Dek? Nyucinya di mana sih? Dicomberan, ya? Hahaha!”
“Nyucinya pake limbah pabrik kali!”
Dan blah blah blah...
Tenang. Alodia bukan orang yang gampang terpancing. Bahkan, di rumah dia sering mendapat hujatan kayak begitu dari ketiga sodara alay-nya. Lebih parah malah. Kalau dia nggak kuat mungkin sudah lama mati. Jadi yang beginian mah, udah biasa.
Tapi, untuk dipermalukan di depan semua orang, baru kali Alodia mengalaminya. Dan dia nggak terima dong! Maksudnya si Nata-Nata ini apa coba bikin Alodia malu?
Setibanya di hadapan cowok itu, Alodia masih memasang ekspresi tak bersahabat. “Ini maksudnya apa ya?” tanyanya, ketus.
“Hukuman.” Sesingkat itu Nata menjawabnya.
“Tapi nggak bikin malu juga kali, Kak.”
“Tahu malu juga?”
Mau nge-gas rasanya. Alodia janji pulang dari sini dia bakal bakar tuh kaus!
“Ya udah deh, Kak. Kan udah bikin saya malu nih ya, terus maunya apa sekarang? Saya minta maaf deh soal yang pura-pura tadi.”
“Ada apa nih?”
Tanpa menoleh pun, Alodia bisa tahu kalau yang datang itu Danola. Bukan cuma masih ingat suaranya, wangi parfumnya ternyata masih seperti yang dulu. Kayak ada aroma buah nanas gitu.
“Ini ada kucing mati ya? Kok bau bangke gini?” Senior yang Alodia kenal bernama Tiko nongol di samping Danola dengan ekspresinya yang nggak banget.
“Bau itu tuh, kaus kaki!” celetuk seseorang di ujung sana.
“Hah? Serius?”
Nata mengarahkan kaus itu ke Tiko, dan cowok itu langsung juling seketika, bahkan nyaris pingsan.
“a***y! Apaan nih? Nemu dimana sih? Mau muntah gue. Serius.”
Danola menengok kaus itu dengan seksama lalu berkata, “Ini beneran punya kamu? Kok bisa ada di sini?”
Bukannya menjawab, Alodia malah melemparkan pandangan ke Nata yang pasang muka tak berdosa.
“Nat, ini maksudnya apaan sih?” Akhirnya Danola memilih bertanya pada Nata.
Nata mengangkat bahu acuh tak acuh seraya melemparkan sapu ditangannya ke sembarang arah hingga mengenai seorang cowok yang kemudian jatuh pingsan.
“Nggak ada, cuma iseng doang,” katanya, sama sekali tidak peduli dengan air muka Alodia yang masam.
“Jangan gitu lah, kasihan kan dia jadi viral.”
“Viral apaan ! Udah deh nggak usah lebay!“ Alodia mendelik sebal kepada Danola. Cowok itu malah cengengesan.
“Kayaknya Abang pernah lihat Adek ini, deh. Tapi, di mana, ya?” Tiko nongol lagi, sambil mengamati wajah Alodia lekat-lekat. Seketika Alodia merinding ditatap seperti itu.
“Kamu punya kembaran?”
“Enggak.”
“Kakak cewek punya nggak?”
“Ada, sih.”
“Jangan-jangan kamu adalah...adik perempuan dari pacar perempuanku.”
“Jadi, lo juga punya pacar laki-laki, Ko?”
“Dulu ada. Tapi sekarang dia udah sadar.”
“Hahaha, lucu lo.”
“Maacih.”
Dih, apaan sih ini? Kenapa juga dia harus meladeni dua orang aneh ini. Tiga deh, sama si Nata-Nata itu. Mendingan sekarang Alodia pergi aja.
“Mau ke mana?”
Ditanya Nata begitu, dengan sebal Alodia menjawab, “Maaf ya Kak tapi ini benar-benar nggak bermanfaat. Permisi. Wassalam.”
“Walaikumsalam. Lucu juga tuh Dede Gemas,” ucap Tiko sambil merangkul pundak Danola.
“Mantan gue. Cakep, kan?”
Nata menengok punggung Alodia yang semakin menjauh kemudian tanpa sadar menyahut, “Biasa aja.”
Danola mengernyitkan dahi, keheranan. Yang ditanya siapa, yang jawab siapa.
“Bang Nat, ini kaus kaki mau diapain?”
“Terserah.”
“Bakar!”
“Tenggelamkan!”
“Apaan sih kalian? Ya harus dibalikinlah. Yang namanya kaus kaki itu kan sepasang, sakit tahu, kalau dipisah.” Perkataan Tiko barusan membuat cewek-cewek disekitarnya berteriak 'Huuu' dengan kompak.
“Apa sih, pada baper, ya?”
“Berisik lu, Tapir.”
~~~~•••••~~~~`