When Love Grew up in My Heart Bawalah aku ke dalam… ke dalam hangat dirimu… Bawalah aku ke sana... menari dalam pelukanmu… Nata mengangguk-angguk kecil mengikuti petikan gitarnya. Juminten duduk di sebelahnya sambil m******t-jilat tubuh. Mereka sedang duduk di atap rumah, seperti biasa, menyapa para penghuni langit yang terlihat bersinar lebih terang dari biasanya. “Satu… kau begitu indah,“ Nata membasahi bibirnya lalu melanjutkan lagi, ”Dua kau memang menggoda. Tiga… kau beri harapan, aku jadi tak sabar.” Nata terkekeh sendiri tanpa berhenti memetik senar gitar. Ia menengadah, senyumnya membentuk bulan sabit. Kapan terakhir kali ia merasa sebahagia ini? Entahlah, ia sendiri lupa. Tapi yang jelas, perasaan itu sudah membuatnya resah, gelisah, tapi juga senang dalam waktu yang bersamaa

