23. Treated Lonely Ting-tong! Kara menggigit bibir bawahnya sembari menunggu pintu di depannya terbuka. Gelisah, ragu, dan takut tidak berhenti menyerangnya. Tangannya yang memegang kantung plastik hitam pun gemetaran. Nggak jadi aja kali, ya? batinnya. Huft, keputusan untuk bertamu ke rumah Nata merupakan keputusan terberat yang pernah diambilnya selama ia hidup. Masalahnya, ia harus siap menguatkan kaki setiap kali sepasang mata Nata melihatnya. Dan ia harus tetap menjaga detak jantungnya setiap mendengar suara cowok itu. Cinta membuat hampir semua organ dalam tubuhnya berkhianat. Kriek. Kara tersentak waktu pintu tiba-tiba terbuka dan Nata muncul sambil menggaruk-garuk pipi kanannya. Seperti biasa, Nata nggak pernah senyum setiap kali beradu pandang dengannya. Tapi, meskipun begitu,

