28. Against the Pain it Alone “Sweetie cebol, mau nggak jadi pacar gue?” Alodia bisa merasakan hangatnya genggaman tangan Nata di kulitnya. Jari mereka saling bertautan dan Nata memegangnya erat seolah tak ingin dipisahkan. Lalu, ia menatap sepasang mata Nata yang menyiratkan sejuta harapan. “Boleh gue minta waktu?” Kata-kata itu terucap setelah ia berpikir beberapa saat. Nata menarik napas lega dan merenggangkan genggamannya. “Gue pikir lo bakal nolak gue malam ini juga,” katanya setengah tertawa. Alodia melihat kekecewaan di sana. Tapi, ia tahu Nata pasti mengerti. Bukannya hal biasa kalau cewek butuh mempertimbangkan keputusannya? Lagipula, ia masih baru mengenal Nata. Nggak baru-baru amat sih. Sudah beberapa bulan, tapi nggak ada salahnya dong, ia mempertimbangkan? Dan sebenarnya

