"Kakak, besok orang tuaku harus kesekolah ada pertemuan rapat membahas masalah kegiatan belajar mengajar," Nick kemudian menyerahkan undangan POMG pada Rara.
"Kenapa kau tidak serahkan ke Daddymu?" Tanya Rara heran.
"Aku rasa Daddy tidak akan datang dia hanya akan mengirim assitennya atau sekertarisnya yang genit dan mengaku-ngaku calon mamaku. Aku ingin Kakak yang datang kesekolah," Pinta Nick memelas. Rara menarik nafas panjang.
"Kakak ingat tidak waktu diacara kemarin perempuan yang selalu mengikuti Daddy, yang matanya besar seperti mas koki dan hampir keluar dari tempatnya," Rara mencoba mengingatnya memang ada perempuan yang mengikuti kemana pun Max pergi tapi dia juga melihat tatapan tak suka pada dirinya, namun tersenyum senang dan licik ketika perempuan bernama Nathalie yang terkena tumpahan minum itu pergi meninggalkan acara.
"Memang kau tidak ingin memiliki Mommy baru?" Tanyaku memandangnya.
"Aku mau tapi bukan si mata belo aku mau ibu seperti dirimu, yang selalu membelaku dan menasehatiku jika aku salah bukan malah membentakku," Nick tertunduk kepalanya.
"Aku masih sangat muda Nick umurku juga terpaut jauh dengan Daddymu, mungkin setengahnya jadi mana mungkin aku jadi Mommymu lagi pula Daddymu bukan seleraku." Nick menatap sedih pada Rara.
"Ya sudah kalau kau tidak mau jadi mommyku dan tak suka padaku, kau tidak usah perduli padaku, aku mau tidur," Nick naik ketempat tidurnya sambil menelungkupkan wajahnya padahal PRnya masih ada separuh lagi yang belum dikerjakan
'Ya Tuhan kenapa dengan bocah ini, mana mungkin aku jadi Mommynya lagi pula melihat ayahnya yang bertampang dingin dan selalu melakukan tindakan seenaknya sendiri membuatku tidak berminat padanya walaupin sebenarnya dia sangat tampan,' Rara hanya bisa menghela nafas.
"Baiklah itu kita bicarakan nanti sekarang kita kerjakan dulu prnya," Nick duduk kemudian memandang Rara sambil tersenyum.
"Benarkah?" Nick bertanya kembali seolah dia tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Rara.
"Ayo kerjakan dulu prnya," Rara menarik tangan Nick.
"Tapi kakak janji dulu," Nick memberikan jari kelingkingnya dengan berat hati Rara memberikan kelingkingnya.
"Yesss terima kasih Ka," Nick memeluk Rara tiba-tiba yang membuat dia nyaris terjatuh.
Sementara dibalik pintu kamar Nick, seorang tampak tersenyum senang.
***
Rara turun dari kamar setelah ia selesai mandi dilihatnya Max dan Nick sudah berada di meja makan untuk sarapan.
"Pagi Semua." Nick tersenyum lalu menyuruh Rara duduk disampingnya sudah dua hari ini Nick selalu mandi dan dipersiapkan keperluarnya untuk kesekolah oleh Rara.
"Pagi," Max menjawab sapaan Rara lalu melanjutkan sarapannya.
"Kakak tidak kekampus? Kok tidak siap-siap sih?" Nick memandang kearah Rara yang menggunakan celana pendek kargo dan kaos rumah.
"Hari ini aku kuliah siang jadi berangkatnya nanti," Rara lalu duduk disamping Nick.
"Lebih baik kau ikut kekantorku?" Max membuka suaranya.
"Untuk Apa?" Rara bertanya heran
"Untuk belajar mengenai administrasi perkantoran bukannya sebentar lagi kau harus cari tempat magang dan kebetulan aku butuh Asisten, kerja sekretarisku tidak beres aku ingin memecatnya tapi belum dapat gantinya," Max menjelaskan.
'Dari mana dia tahu aku sebentar lagi harus magang.' Rara menatap Max seperti tak percaya dia memang sedang cari tempat magang tapi belum ada yang memberi jawaban.
"Kok Om tahu aku lagi cari tempat magang?" Rara bertanya untuk menjawab perasaan penasarannya.
"Mama kamu yang bilang sebelum acara kemarin," Rara terdiam.
"Memang boleh aku magang di kantor Om? kalau boleh aku harus buat surat permohon dulu dari kampus kalau sudah disetujui oleh pihak perusahaan baru aku bisa magang," Rara menjelaskan prosedurnya.
"Ya sudah nyusul saja suratnya," Max memandang Rara dan dianggukan oleh Rara. ia takut jika banyak alasan justru Max akan membatalkannya.
"Dad aku berangkat dulu sudah siang, nanti terlambat," Nick mencium tangan ayahnya padahal sebelumnya, jika hendak dia akan pergi begitu saja setelah pamit.
"Aku berangkat Ka," hal yang sama dia lakukan lalu membisikan sesuatu ditelinga Rara,'jangan lupa janjinya,'bisiknya, kemudian berangkat meninggalkan ruangan makan yang hanya tinggal Rara dan Max.
"Ra aku bisa minta tolong," Max menghentikan sarapannya.
"Minta tolong apa Om?" tanya Rara was was.
"Besok sabtu kau ada kuliah tidak?" Rara mengelengkan kepalanya.
"Tolong kesekolah Nick untuk rapat orang tua murid dan guru aku ada kerjaan yang harus aku selesaikan pulangnya nanti aku jemput dan temani aku main golf, Bisa?" tanya Max penuh harap.
"Kalau buat rapat disekolah Nick bisa, tapi kalau menemani main golf aku gak ngerti, megang sticknya aja gak pernah," Max malah terkekeh.
"Nanti aku ajari bermain golf, itu sih hal mudah, gimana bisa kah?" merasa tidak enak ditatap seperti itu akhirnya dengan ragu Rara menganggukan kepalanya.
"Ya sudah cepat sana ganti baju buat kekantor," perintah Max lagi.
"Tapi Om saya gak bawa baju untuk magang kerja," Rara sebenarnya sengaja memberi alasan toh sebetulnya dia ada kemeja dan celana panjang kain yang bisa dia pakai.
"kan baru lihat-lihat belum magang jadi ya gpp pake baju yang ada juga yang penting rapih," Max mematahkan alasan Rara.
"Ya sudah aku ganti pakaian dulu," Rara berdiri lalu masuk kedalam kamarnya. 15 menit kemudian dia sudah berpakaian rapi dengan membawa tas kuliah serta menjinjing laptopnya.
"Pelajaran pertama sebagai Asisten, pakaikan dulu dasiku," Max memberikan dasinya pada Rara.
Rara menaruh tas laptop dan tas kuliahnya di bangku lalu dia mengambil dasi yang diberikan padanya oleh Max.
"Kamu Diri diatas tangga itu agar kamu tidak terlalu jinjit dan aku tidak terlalu membungkuk.
Rara melakukan apa yang Max minta, ia lalu memasangkan dasinya, tidak membutuhkan waktu lama Dasi sudah terpasang dileher Max dengan rapi.
"Ehhhhmmm boleh juga kerjamu," Max mengacak-acak rambut Rara," Rara sempat tertegung namun langsung tersadar dan mengambil tas dan tas laptopnya sebelum dia diteriaki oleh mahluk tinggi besar didepannya.
30 menit perjalan mereka sampai di Kantor Max, Rara sengaja tidak terlalu banyak bertanya agar dia tidak membuat Max menjadi badmode.
"Ini ruangan aku, mulai besok aku akan meminta orang untuk menarih meja untuk mu disana karena sekarang belum ada kamu duduk di meja rapat kecil dulu ya," Max berkata setelah mereka sampai di ruang kerjanya.
Pintu ruangan Max diketuk seorang perempuan masuk kedalam sambil membawa map untuk di periksa dan dilanjutkan oleh Max.
"Nadia kemana? kok kamu yang antarkan langsung?" Max bertanya karena berkas seperti ini akan ditaruh di meja sekertarisnya, baru nanti diserahkan padanya walaupun langsung atau tidak langsung fungsinya sama, karena memang sekertarisnya tidak punya wewenang apa-apa.
"Oya. Mulai besok dia yang akan memeriksa kelengkapan dokumen untuk perusahaan ini, jadi nanti berkas kasihkan kedia langsung, biar dia memeriksa mana yang sudah lengkap mana yang belum?: Perintahnya yang dijawab dengan anggukan kepalanya.
"Ra sini," Max mengambil kursi yang lebih kecil dari yang ia duduki lalu menepuk-nepuk kursi tersebut agar Rara duduk dekat dengannya.
"Ada apa Om?" Tanya Rara polos sambil duduk dikursi yang sudah Max sediakan.
"Aku akan memeriksa surat ini dan kau perhatikan kalau aku sudah jelaskan dan jika kau tidak mengerti boleh kamu bertanya," Rara menganggukan kepalanya Max mulai menjelaskan secara rinci dan Rara sekali-Kali menulis dinote book. kemudian tanya jawab tentang pekerjaan tersebut dilakukan olehnya dan Rara.
"Jadi paham kan sekarang?" Rara menganggukan kepala dan mulai memeriksa pekerjaan yang diberikan padanya.
Setelah cukup mengerti Rara lalu mengambil tugasnya dan mengerjakannya dengan sangat teliti.
"Kamu kekampus jam berapa?" Tanya Max ketika Rara telah menyelesaikan pekerjaannya
"Jam 2 Om," Lalu Rara merapikan isi tasnya dan memasukan laptop kedalam tasnya.
"Bareng aku keluarnya, aku lapar belum makan tapi kamu temenin aku dulu makan dirumah makan padang, tidak terlalu jauh dari kantor," Pinta Max sambil merapikan berkas pekerjaannya.