Hadiah Dari Om

1459 Kata
"Kenapa harus pakai mobil Om, bukannya warung padang bisa ditempuh dengan berjalan kaki?" Rara Heran ketika melihat Max justru meminta security mengambilkan mobilnya. "Setelah ini aku ada meeting jadi setelah makan tidak perlu kembali ke kantor," Jawabnya sambil kemudian menyuruh Rara masuk kedalam mobilnya, sementara beberapa orang memandang ke arah mereka, tapi Max seperti tidak peduli sementara Rara tidak menyadari itu. "Bukankan Bapak sedang dekat dengan model bernama Natalie?" Tanya seorang Resepsionis yang sedang bertugas berkata pada temannya yang juga sama-sama sedang bertugas. "Aku tidak tahu, tapi aku tidak suka dengan Natalie, dan kelihatannya perempuan itu jauh lebih ramah dan sopan walaupun dia berdandan sederhana tanpa polesan tebal tapi wajah cantiknya tetap terlihat," Jawab temannya tidak hanya itu. Tidak hanya mereka yang bergosip masih banyak lagi bisik-bisik lainnya dari mereka yang kebetulan ada di lobi kantor. "Om, hari ini aku sudah mengemail ke kampus untuk permohonan aku magang di perusahaan Om dan ini sudah mendapat jawaban. Apakah perusahaan Om membutuhkan Surat yang asli atau cukup aku kirim ke pihak HRD Om?" Tanya Rara ketika mereka sudah sampai ke restoran padang. Max menggulung lengan bajunya hingga sebatas siku lalu dia berdiri menuju wastafel untuk mencuci tangannya, Rara hanya menarik nafas panjang Karena Max tidak menjawab pertanyaan. tiba-tiba kepalanya seperti diusap oleh sebuah tangan besar dari belakang, Rara melihat kebelakang dilihatnya Max sedang berdiri di belakangnya. "Kau tidak ingin mencuci tanganmu," dengan gugup Rara berdiri. 'Apa maksudnya dia membelai kepalaku' sambil mencuci tangan Rara berfikir. "Silahkan dinikmati Tuan...Nyonya" pelayan itu lalu meninggalkan meja mereka setelah semua menu dia hidangkan. "Kau kirim saja ke alamat emailku sudah aku kirim ke WA mu," Max melap mulutnya dengan tisu setelah selesai makan dan mencuci tangannya. Rara buru-buru membuka ponsel dan melihat sebuah nomor yang belum di Save di ponselnya. "Itu nomerku, kamu save jangan sampai hilang?" Perintahnya sambil memanggil pelayan untung menghitung makanan yang dia dan Rara makan, lalu membayarnya. "Yah hujan." Rara seperti bingung karena dia tidak membawa payung, hujan yang turun lumayan deras secara tiba-tiba membasahi bumi membuat Rara hanya bisa memandangnya. Max yang melihat itu segera memanggil petugas Parkir untuk meminjamkan payungnya. "Ayo," Max merangkul pundak Rara yang sempat terkejut namun sudah ditarik Max untuk masuk kedalam mobilnya. kemudian Max memanggil tukang parkir untuk mengembalikan payung serta memberikan sejumlah uang padanya. "Aku mau panggil taxi Online saja Om," namun perkataan Rara tidak didengar oleh Max. "Pakai safe belt," perintah ya, menjalankan mobilnya menuju kampus. Didalam mobil mereka sempat terdiam beberapa saat. Akhirnya Rara membuka suara, karena diam membuatnya merasa tidak nyaman "Om bisa terlambat jika mengantar aku ke kampus," Rara melihat Max yang sedang menyetir kendaraannya. "Meetingnya tidak terlalu penting, lebih penting mengantar kamu ke kampus," Max berkata tanpa merubah pandangannya tetap kearah depan karena dia sedang menyetir. " Kalau tidak penting mengapa Om harus datang, kan bisa menyuruh orang datang menggantikan Om," Rara kembali memandang Max. "Kamu mau kuliah atau mau ngomong terus?" Max sudah menghentikan mobilnya dan mendekatkan wajahnya ke arah Rara yang tadi sedang memandangnya wajahnya, kontan membuat Rara memundurkan wajahnya. Namun hembusan nafasnya terasa di wajah Rara membuat kulit tubuh Rara merinding, dengan Cepat Rara membuka seat beltnya, dan berlari keluar dari mobil. "Rara!" Wike bersama Lila memanggilnya Rara yang baru turun dari mobil Max, tentu saja dia terkejut. "Sayang nanti aku jemput jadi jangan pulang duluan okey," Max membuka kaca mobilnya sambil berteriak ke arah Rara. "Bye sayang," Max tersenyum manis ke arah Rara. perkataan Max membuat nya Rara mengerucutkan mulutnya kesal, selalu saja menjengkelkan namun Rara tidak bisa berkata apa-apa dia tidak mungkin meneriaki Max didepan umum. Sementara teman-temannya malah menggodanya yang membuat Rara semakin kesal. * Ponsel Rara berbunyi ketika dia baru saja keluar kelas, dia memelototkan matanya ketika seorang pria berdiri menggunakan kemeja putih dan celana kain biru melambaikan tangannya. 'Dia beneran jemput gue' Rara terdiam sambil memegang ponselnya. "Ra laki lu jemput tuh?" Jessi mencolek Rara. "Ganteng amat tuh cowok," Seorang yang lewat di dekat Rara berkata yang membuat Rara mendelikan matanya. mahasiswa yang lain juga berkomentar aneka ragam. Rara berlari mendekat Max dan menarik tangannya hingga sampai ke halaman kampus yang membuat Rara menjadi perhatian orang sekitarnya. "Om kok pake masuk sih? Kan bisa telepon aku dari mobil," Rara menghentakan kakinya bagaimana tidak apa kata orang-orang di kampus. Dia paling anti Sisil, yang selalu diantar mobil mewah oleh kekasihnya yang notaben suami orang, karena Sisil adalah perempuan simpanan dari pria beristri dan ditempatkan di sebuah apartemen yang lumayan mewah. Dan sekarang, tiba-tiba dia malah dijemput oleh om-om, ganteng sih gak buncit seperti Daddy sugarnya Sisil tapi tetap saja dia sama, Rara paling malas jadi omongan orang-orang. "Salah sendiri WA gak dibaca," Max tanpa dosa berdiri didepan Rara, sementara Kedua tangannya masuk kedalam saku celananya membuat dadanya bidang semakin terlihat. Dengan buru-buru Rara membuka ponselnya dan terlihat pesan masuk ke wa nya hampir satu jam lalu. "Aku kan lagi kuliah jadi gak buka-buka ponsel," Rara mengerucutkan kan mulutnya. "Kan bisa dibuka pas keluar Ra," Max malah mencolek mulut Rara yang sedang manyun. "Iiih om, ayo cepetan pulang," Rara kembali menarik tangan Max. "Cepertan ih," Rara kembali menghentakan kakinya. Max hanya tersenyum lalu membuka pintu mobil dan menyuruhnya Rara masuk kedalam mobil dengan wajah yang masih cemberut. Didalam mobil Rara membuang wajahnya keluar mobil, dIa masih sangat kesal dan malu. "Kamu masih marah sama Aku?" Max membelai rambut Rara. "Ya sudah, karena aku dah bikin kesel gimana kalau aku traktir makan, mau gak atau kamu mau tas Gucci aku beliin deh," Rara langsung melihat kearah Max "Apa Om bilang, tas Gucci?" Rara ingin Meyakinkan kupingnya dengan kata-kata Max tadi. "Iya tas Gucci atau mau prada atau mau Elle terserah deh semua juga boleh?" Pancingannya sepertinya berhasil karena dia melihat semua barang yang dipakai Rara rata-rata keluaran Gucci. "Gak usah, Gucci saja sudah cukup," wajah Rara langsung berubah senang. Max tersenyum senang, menurut mamanya, Rara akan dengan suka rela mengeluarkan uang berapa saja asalkan bisa membeli barang bermerk gucci, sedangkan untuk barang yang lain dia akan berpikir seribu kali untuk membelinya. Tak beberapa lama Mereka lalu tiba di pusat perbelanjaan. Max mengajak Rara untuk makan terlebih dahulu, baru nanti kekonter Gucci. "Santai Baby, toko guccinya gak akan kabur kok." Rara mencibirkan bibirnya. "Kamu kalau gitu bikin aku jadi gemes,"Goda Max lagi. "Ihhh apaan sih Om," Rara menendang kaki Max yang berada di meja, Max meringis tulang keringnya ditendang sepatu kets Rara. "Kamu gak malu panggil aku Om tar disangkanya kamu piaraan om-om lho," tanya Max serius. "Terus aku mesti panggil apa, Daddy gitu kaya, Nick?" Max memandang Rara yang sedang melakukan suapan terakhir makananya. "Boleh, Aku suka kalau kamu panggil itu, panggil Daddy yah kalau kita lagi berdua atau lagi jalan-jalan kaya gini?" Rara Berdiri langsung memegang kening Max. "Gak panas kok, Om waras?" Rara memegang kening nya sendiri. "Rara! kamu pikir aku gak waras? aku gak jadi beliin tas Gucci nih," ancam Max kesal. "Iiih Om curang katanya tadi mau beliin aku tas Gucci," Rara merenggut kembali. "Iya panggil Daddy dulu donk baru kita beli," Max mengedipkan matanya sebelah dengan genit. "Iya Daddy, Daddy nyebelin," Rara mengerucutkan mulutnya kembali. "Untung diluar kalau dirumah udah aku sosor tuh mulut?" Max terkekeh. "Om nyebelin," Rara berdiri meninggalkan Max. Max menuju kasir dan membayarnya sementara Rara menunggu di depan restoran. "Come on baby kita cari tas Gucci yang keren untuk sayangnya Daddy dan Nickolas," godanya sambil merangkul pundak Rara. setelah bertanya pada security akhirnya mereka menemukan juga counter Gucci lalu mereka memasuki toko tersebut. Tampak tas, sepatu, baju terpampang di sana pengunjung yang didalam pun bisa terhitung jari. Mata Rara terbelalak ketika melihat tas yang sangat cantik yang dia inginkan, tidak terlalu besar namun tidak terlalu kecil tetapi Rara bukanlah seorang perampok yang akan mengambil harta orang lain terlalu banyak. Karena bukan waktunya Sale, tentu saja harga yang terpasang pun adalah harga normal. "ini saja Om," Namun Max pura-pura tidak dengar. Rara menarik nafas panjang dia lupa tadi memanggilnya Om. "Daddy dengar tidak, aku mau yang ini," pada Max. "Kenapa gak yang ini saja." Max menunjuk tas yang membuat mata Rara membulat besar karena melihat harganya. "Tapi Dad itu," Max tersenyum lalu mengelus kepala Rara dengan lembut dan menaruh tas yang tadi Rara pegang. "Mba saya lihat yang ini bisa?" Tanya Max lagi. "Boleh tuan ini model baru dari gucci dan Baru dimunculkan sekitar satu minggu yang lalu," jelasnya sambil membuka lemari kaca yang terkunci tadi, tas seharga 110 juta itu tampak memang cantik jika dipakai. Setelah melihat dalamnya Max lalu memberikan kembali tas tersebut pada petugas counter. "Saya ambil yang itu." Rara sempat memandang Pada Max namum Max hanya tersenyum sambil memegang kepala Rara. "Nich buat kamu? karena tadi Daddy udah bikin kamu kesal," Max menggandeng Rara keluar counter setelah membayar tas yang tadi dia pilih. Sementara Rara justru lebih peduli dengan isi paper bagnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN