"Bantu aku pilih kaos untuk besok aku main golf dan kamu juga," Max menuntun tangan Rara, tak sekalipun Max melepaskan genggaman tangannya.
"Aghh Daddy ngapain sih aku pake topi gede kaya gini, aku gak suka," Rara membuka topi yang digunakan oleh Max ke kepala.
"Lagi musim tau beb, coba aja besok kamu lihat pasti bakal banyak yang pakai disana," Max lalu mengambil topi yang lain.
"Kalau ini bagaimana?" Tanyanya sambil membawa Rara kedepan kaca besar, Max yang bertubuh tinggi tampak terlihat oleh Rara, mereka bak ayah dan anaknya.
"Bagaimana kalau yang itu," bukannya memperhatikan topi, Rara malah memandangi wajah Max.
"Baby," Coleknya pada hidung Rara yang mancung membuat Rara terkejut.
"Eh iya ini lebih baik dari topi noni-noni Belanda tadi," Celetuknya asal.
"Kamu emang kaya noni-noni, cantik," perkataan Max membuat Rara terdiam sudah sejak pagi tadi Max seperti mem-PhP Rara terus.
'Jangan GR Ra dia mungkin lagi kesambet setan baik buktinya dia beliin lu tas Gucci' Rara berusaha menahan gejolak hatinya.
"Tapi bohong kan?"Rara meneruskan kalimat Max.
"Itu kamu yang ngomong," kembali Max mencolek hidung Rara. lalu beralih mencari kaos untuk dia gunakan esok.
"Kita samaan ya Baby?" Max menujukan kaos yang dia maksud.
"Iih kok warnanya gak banget, ini aja bagus," Rara menunjukan warna yang lebih lebih netral.
"Ini kan bagus ada warna pinknya Beb?" Max memberi alasan.
"Daddy aja yang pakai, aku sih gak mau," Perkataan Rara membuat Max semangkin gemas.
"Jadi mau pilih yang mana," Max merangkul pinggang Rara dengan posesif. Rara berusaha melepaskan diri karena tidak enak dilihat orang-orang, beberapa yang melihat malah ada yang berani mulai berbisik.
"Dad lepasin ih malu," Dengan nada berbisik Rara berusaha melepaskan pelukannya.
"Biarin aja. Biar pada sirik emang kamu gak liat pria dengan botak di depan itu, dari tadi mandangin kamu, kaya pengen nelanjangin kamu," Max berbisik sambil tangan kanannya terus memeluk Rara. Rara melihat ke kaca, benar saja lelaki dengan rambut ala profesor itu tak henti menatapnya membuat Rara membalas pelukan Max belum lagi pria dengan kacamata tebal yang tidak jauh berada darinya.
"Kamu pake baju begini aja udah diliatin, apa lagi kalau pake bikini." Rara hanya tersenyum ternyata Max sangat kah posesif. Max mendengus kesal, biasanya dulu jika perempuan yang mengaku kekasihnya minta ditemani belanja, Max membiarkan berkeliaran memilih barang kesukaannya. Namun sekarang, sejak masuk ke counter Gucci Max sangat kesal, karena tidak hanya pria muda saja yang melihat Rara, tapi p****************g pun melihatnya seperti singa lapar siap menerjang Rara.
"Itukan bukan salah aku mereka aja yang emang gak tahu diri," Sungut Rara kesal membuat Max terkekeh.
"Makanya jangan jauh-jauh sama Daddy," Mak kembali memeluk Rara, Max kemudian menyetujui kaos yang dipilih Rara.
"Kamu gak mau nyoba dulu celana panjangnya?" Rara lalu mencoba celana panjangnya yang tadi ia pilih. Sementara Max berdiri depan ruangan fitting baju, seperti sekuriti menjaga majikannya.
"Dad bagus gak?" Celana panjang dengan rok mini diluarnya membuat Rara semakin imut, tadinya dia berniat membeli rok mini, tapi Max dengan tegas menolak.
"Kamu mau pamer paha di depan Om-om memangnya," suara Max terdengar sangat posesif, yang membuat Rara urung membelinya.
"Dad kok tumben Nick gak nyariin aku. Biasanya aku pulang telat dikit aja sudah berkali-kali di telepon, ini gak tuh?" Rara bertanya ketika dia sedang mengantri untuk membayar. Menjelang Weekend mall besar ini memang lumayan ramai dibandingkan hari biasa.
"Sudah Daddy kasih tau kalau mommynya dipinjam dulu sama Daddynya," perkataan Max lumayan terdengar oleh orang banyak, orang yang dari tadi berbisik dan menuduh Rara sebagai pengganggu rumah tangga orang atau peliharaan om-om, membuat yang mendengar tadinya sibuk menggibahi Rara dan dirinya hingga terdiam. Sebenarnya maksud Rara memang benar, dari tadi Nick sama sekali tidak meneleponnya membuat Rara Heran, namun sepertinya Max memakai kesempatan buat membungkam mulut cabe pengunjung yang seperti netizen di media sosial agar terdiam.
"Kamu sogok apa Dad kok Nick nurut," Tanya Rara sambil menengadahkan kepalanya untuk melihat wajah Max. Max hanya tersenyum penuh arti.
"Ih apaan sih ditanya malah senyum-Senyum gak jelas," Rara menyikut perut Max.
"Aw sakit beb. Untung gak salah sikut, kalau yang bawah kesikut kamu mesti tanggung jawab," bisik Max sambil tersenyum m***m.
"Iiih apaan sih," Rara hendak mencubit Max malah memegang tangan Rara dan memeluknya.
"Jalan cepat," Max membawa Rara kedepan kasir, setelah menghitung dan membayar mereka lalu meninggal tempat tersebut.
"Kok kesini Om," Max tidak memperdulikan pertanyaan Rara. Dia malah masuk ke konter baju perancang terkenal, Max meminta dicarikan beberapa potong pakaian untuk kepesta.
"Kita coba tiga ini dulu yah tuan," Jawab petugas counter sambil berjalan menuju counter. Rara terkejut dengan harga yang tertera namun petugas itu hanya tersenyum. Silahkan di coba Nona nanti kalau sudah silahkan berdiri disana," ketika wanita itu hendak meninggalkan Rara, menahan tangannya.
"Mba, Kakak saya Sering kesini ya? Sama perempuan selain saya gitu?" Rara bertanya penuh curiga, Kalau max sering membelanjakan perempuan ke tempat-tempat seperti ini.
"Tidak pernah Nona,Tuan malah seringnya sendiri kesini untuk membeli jas, karena katanya beliau, cocok dengan jahitan kami tapi baru kali ini dia membawa perempuan kesini yaitu, Nona," jawab wanita berumur 40 tahunan itu, sepertinya dia sangat profesional menangani pelanggannya.
"Serius mba?" Tanya Rara meyakinkan.
"Serius, sepertinya Nona sangat istimewa buat Tuan," Rara terdiam.
"Sudah non dicoba dulu pakaiannya kasihan tuan kelamaan nunggu. Rara lalu masuk ke ruang fitting baju dan keluar dengan warna ungu muda yang sangat cantik.
Max berdiri, warna yang bagus untuk kulit tubuh dia yang putih bersih. Max menyuruh Rara untuk berputar tampak bagian punggung yang cukup terbuka membuat Max menggelengkan kepalanya. Setelah mencoba baju sampai 5 kali akhirnya Max memutuskan 3 baju yang dia ambil. Setelah membayar Max mengajak Rara ke toko sepatu untuk memilih beberapa pasang hill. Dengan telaten Max memasangkan pada kaki Rara.
"Berdiri Baby, kayanya ini cocok untuk mu," Guman Max sambil melihat ke arah Rara.
"Daddy emang buat siapa sih Daddy beli baju dan sepatu sebanyak itu?" tanya Rara bingung karena foto model Natalie jelas tidak memakai ukuran itu.
"Buat mommy barunya Nick," jawab Max sambil menggandeng Rara setelah ia menyuruh mengganti sepatunya dengan hill 7 cm, membuatnya lebih nyaman menggandeng Rara. Rara memandang Max bingung.
"Kok aku gak dikenalin?" tanya Rara sedikit tidak suka. dia paling sebal kalau sudah DiPHP in kaum pria. Itulah kenapa dia malas pacaran.
"Beneran mau kenal?" Rara menganggukan kepalanya.
Di toko sepatu terdapat cermin seluruh tubuh Max lalu menarik tangan Rara kedepan cermin.
"Kenalin itu Maminya Nick istrinya Daddy," Rara merasa Max sedang menggodanya berniat pergi namun malah dipeluk oleh Max.
"Serius kenalin namanya Rara Arianty Dewi," Rara terdiam sebenarnya dia sudah menduga karena setiap menatapnya dirinya, Max seperti memiliki tatapan berbeda dan dia tahu sejak di pesta peresmian perusahaan baru Max. Dia menatap setiap gerak gerik yang Rara lakukan.
"Maukan jadi Mommynya Nick dan kesayangannya Daddy, Daddy bawa ke penghulu biar halal," Bisiknya, seolah terhipnotis oleh ketampanan Max Rara menganggukan kepalanya. Spontan Max memeluknya.
"Dad," Rara memanggilnya.
"Ya Baby?" Max masih memeluknya.
"Diliatin sama orang-orang tuh," Max melihat semua orang memandang ke arah mereka termasuk pelayan disana.
"Mba saya mau yang tadi sudah dicoba oleh istri saya, sama yang marun dan coklat jangan salah ukurannya 38." seperti halnya tadi, Max mencoba menutup mulut Netizen yang berada di On the spot.