Rasanya Alexa baru tidur sebentar saat dering ponsel memekakkan telinganya. Gara-gara kedatangan Marco ke apartemennya, hampir semalaman Alexa terjaga hanya karena memikirkan Marco. Entah bagaimana, Alexa merasa mencintai sekaligus membenci pria angkuh satu itu. Saat akhirnya Alexa berhasil tidur, belum-belum sudah ada yang mengganggu tidurnya. Mulanya, Alexa ingin membiarkan ponsel itu terus berdering, tapi karena bunyinya begitu keras, Alexa menyerah. Alexa meraba ponselnya dengan menggerutu.
“Hallo?” tanya Alexa sambil setengah memejamkan mata kembali.
“Hallo… Alexa, ini Tante. Kamu baru bangun ya?”
Alexa butuh waktu beberapa saat untuk mengenali suara lawan bicaranya. Si penelepon pun tidak memberitahu namanya dengan jelas. Tante, tante, memangnya dia pikir, hanya dia yang dipanggil Tante oleh Alexa?
Alexa menggerutu dalam hati. Tapi ketika ‘nyawa’ nya mulai terkumpul, Alexa membelalak tak percaya.
“Tante Rosa?” tanya Alexa setengah tak percaya.
Tawa ibu Philip langsung terdengar dari seberang. “Iya, ini calon ibu mertuamu!”
Alexa cepat-cepat bangkit dari tempat tidurnya. Diliriknya weker yang berada tepat di sebelah ranjangnya. Baru pukul enam pagi. Tapi ada apa ibu Philip menghubunginya sepagi ini?
“Eh, Tante, ada apa ya, Tante? Kok tumben menelepon?” tanya Alexa manis.
“Tante mau minta tolong nih, Lex. Kamu bisa nggak ke rumah Tante hari ini? Tante butuh bantuan.”
Alexa mengerutkan kening. Ke rumah Philip? Tapi untuk apa?
“Hmm, jam berapa ya, Tante? Soalnya hari ini Alexa kan harus kerja dulu.”
“Oh, kalau tentang itu, tenang saja. Nanti biar Tante yang ngomong sama Philip. Soalnya Tante benar-benar butuh bantuan nih. Mau ya?”
Alexa meringis pasrah. Apa lagi yang harus dia lakukan selain mengiyakan permintaan wanita yang satu ini. “Iya deh, Tante. Alexa mandi dulu, terus Alexa langsung ke sana.”
Suara Tante Rosa tampak gembira. “Makasih ya, Sayang. Tante tunggu lho. Sampai nanti, Alexa.”
Sebelum sempat bertanya apa-apa, Tante Rosa sudah menutup sambungan telepon mereka. Begitu Alexa menutup ponselnya, Alexa cepat-cepat melangkah ke apartemen Philip. Berulang kali Alexa menekan tak sabar bel apartemen Philip hingga akhirnya Philip muncul, dengan wajah baru bangun tidur dan u*****n-u*****n yang bergantian diucapkannya.
“Lo apa-apaan sih, Lex? Kayak ada kebakaran aja lo. Heboh banget,” omel Philip kesal sembari membuka lebar pintunya agar Alexa bisa masuk.
“Nyokap lo minta gue ke rumah lo sekarang juga!” sentakku frustasi. “Lo bilang gue cuma butuh ketemu sekali sama nyokap lo, tapi coba apa kenyataannya?”
Mata Philip membulat kaget. Sepertinya dia sama kagetnya dengan Alexa soal keagresifan ibunya. “Mau ngapain nyokap nyuruh lo ke rumah gue?”
“Ya mana gue tahu, Lip. Nyokap lo cuma bilang dia butuh bantuan gue. Gue nggak sempat nanya-nanya, nyokap lo sudah matiin sambungan teleponnya. Sekarang tanggung jawab, Lip. Gue nggak peduli gimana caranya, yang penting lo bisa bujuk nyokap lo supaya gue nggak perlu ke rumah lo lagi.”
Philip menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Otaknya mulai berpikir cepat tentang bagaimana caranya membuat ibunya membatalkan niatnya mengundang Alexa.
“Lo urus ya, Lip. Gue mau mandi sama sarapan dulu. Kabari gue aja nanti kalau sudah ada info.”
Alexa beranjak dari sofa Philip dan kembali ke unit apartemennya. Tepat setelah Alexa beranjak, Philip buru-buru menghubungi ibunya.
*
“Sori, Lex, gue gagal,” kata Philip lesu begitu Alexa membukakan pintu apartemen Alexa. “Gue sudah bilang kita ada meeting dan mau ketemu klien setelahnya, tapi mama tetep minta kamu dateng buat bantuin dia. Malah, gue juga diminta ke rumah sehabis pulang kerja nanti.”
Alexa menghembuskan nafas panjang. Dilihat dari kedominanan Tante Rosa, Alexa sudah bisa menebak kegagalan Philip. Hanya saja, Alexa tetap berharap dirinya salah.
“Ya sudahlah, Lip, gue akan ke rumah lo bentar lagi, tapi lain kali, tolong cariin alasan yang nggak bisa ditolak ya. Ini pertama dan terakhir ya.”
Philip mengangguk cepat. Alexa mengusir Philip dari apartemenya sementara wanita itu kembali bersiap untuk ke rumah Tante Rosa.
Rumah Tante Rosa tampak begitu lengang saat Alexa tiba di sana. Alexa mencoba menelepon Tante Rosa, tapi yang bersangkutan hanya menyuruh Alexa langsung masuk ke rumah yang tak dikunci dan menunggu di sana. Alexa menurut.
Alexa memandang sekelilingnya. Rumah itu kosong. Seperti tak berpenghuni. Entah ke mana Tante Rosa atau Bik Inah sekarang. Baru saja Alexa akan duduk, terdengar langkah kaki di belakangnya. Reflek Alexa menoleh. Dan apa yang dilihatnya membuat Alexa sempat terkejut selama beberapa detik. Beberapa detik kemudian, Alexa menunduk malu.
Dengan santai, Marco berjalan sambil memegang ponselnya. Tidak seperti Marco yang biasa Alexa lihat, Marco yang ini hanya mengenakan celana pendek. Marco bertelanjang d**a. Sejenak, Marco tidak menyadari kehadiran Alexa. Saat akhirnya sadar bahwa dia tak sendirian di ruangan itu, Marco langsung mengumpat pelan.
“Astaga, Alexa, kamu bikin kaget saja!” omel Marco terkejut.
“Sori…. Aku nunggu Tante Rosa,” jawab Alexa sambil menghindari menatap Marco.
Dalam hati, Alexa memaki hatinya. Herannya, sekalipun sudah sakit hati karena pria itu, Alexa sama sekali tidak kebal akan pesona Marco. Bahkan sewaktu baru bangun tidur pun Marco masih terlihat tampan. Rambutnya yang berantakan dan gaya malas-malasannya malah membuat Marco semakin menarik di mata Alexa.
“Kamu ngapain? Memangnya ada yang menarik ya di lantai itu?” tanya Marco heran.
Alexa gelagapan, bingung harus menjawab apa. Untung saja Tante Rosa tiba-tiba masuk ke ruang tamu dan menyapa Alexa.
“Wah, Alexa.. Makasih ya mau bantu Tante. Tante bener-bener kerepotan sekarang. Gini, kebetulan besok pagi Tante mau ajak temen-temen Tante ke sini. Mau arisan. Jadi sekarang, Tante butuh bantuan kamu buat ngerapiin kebun,” kata Tante Rosa bersemangat. “Kebetulan tukang kebun Tante sakit, jadi rencananya, Tante mau kita-kita aja yang beresin sedikit. Nggak keberatan kan bantu Tante?” lanjut Tante Rosa sambil tersenyum.
Alexa setengah melongo. Berkebun????? Jadi Tante Rosa menyuruhnya membolos hanya agar Alexa bisa membantunya berkebun? Hebatttt…
Marco menyeringai mendengar perkataan ibunya. Ibunya memang ada-ada saja. Kalau memang butuh tukang kebun, ya dicari dong. Masa malah menyuruh pacar adiknya sih? Mana bisa wanita seperti Alexa melakukan hal semacam itu?
“Mama, Mama, apa nggak salah? Masa Alexa disuruh bolos kerja cuma gara-gara ini? Lama-lama bisa dipecat dia, Ma!” kata Marco heran.
Tante Rosa memandang Marco dengan tatapan memerintah. “Mana mungkin Philip berani memecatnya? Lagipula Mama sudah bilang ke Philip kok.”
Marco menggumam pelan. Untuk sesaat, dia benar-benar lupa kalau Alexa dan Philip bekerja di kantor yang sama.
“Apa kerjaan kamu di kantornya Philip?” tanya Marco tak ramah.
Alexa baru akan menjawab ketika Tante Rosa terlebih dahulu menjawab pertanyaan putra sulungnya.
“Alexa ini asisten pribadinya Philip. Jadi bos nya ya Philip. Makanya, kamu ini nggak tahu tapi sok tahu saja!” gerutu Tante Rosa. “Dan kamu, cepat pakai baju sana. Sebentar lagi susul kami ke kebun. Semakin banyak orang, semakin baik!”
Alexa kontan memandang Tante Rosa saat Tante Rosa mengatakan hal buruk itu. Marco akan ikut berkebun dengan mereka? Astaga. Ini sama saja dengan melakukan penyiksaan terhadap hatinya!
"Marco nggak usah ikut, Tante," reflek Alexa cepat.
Tante Rosa reflek memandang Alexa bingung sementara Marco mengernyit tak suka menatapnya.
"Maksud Alexa, kalau Marco sibuk, biarin aja, Tante. Alexa bisa bantuin Tante sendiri kok," ralat Alexa sambil tersenyum salah tingkah.
"Aku nggak sibuk kok. Aku juga mau bantuin Mama. Ada masalah?" tukas Marco sinis.
"Iya, Lex, Marco nggak sibuk kok. Kalau dia sedang di Jakarta seperti ini, dia pengangguran. Kerjaannya hanya ngikutin Tante aja. Kamu tenang aja. Lagipula, Tante memang butuh banyak tenaga," tambah Tante Rosa.
Merasa tidak ada alasan lagi untuk mengelak, Alexa terpaksa mengangguk mengerti.
“Alexa, kamu ganti baju gih. Nanti baju kamu ini kotor lagi. Baju dan celananya sudah Tante siapkan di kamar mandi,” kata Tante Rosa tiba-tiba.
Lagi-lagi, Alexa terpaksa hanya bisa mengangguk dan tersenyum. Tak lama kemudian, Alexa sudah ikut sibuk dengan tanah dan bermacam-macam dedaunan.
*
“Kenapa kamu ingin menyingkirkan aku dari kegiatan di rumahku sendiri?"
Alexa baru akan memangkas daun yang berbentuk hewan itu saat suara Marco terdengar di belakangnya. Reflek, Alexa menoleh ke sumber suara. Kali itu, Marco telah mengenakan kaos yang hampir serupa dengan kaos yang dipakainya.
Alexa langsung kembali memalingkan wajahnya ke dedaunan yang sedang dipangkasnya. Sambil berusaha terdengar sesantai mungkin, Alexa membalas tanpa menatap Marco sedikitpun.
"Bukankah seharusnya kamu berterima kasih? Dengan begitu, kamu nggak perlu melihatku dan merasa jijik sendiri kan?"
Marco bergeming mendengar jawaban ketus Alexa. Namun tak lama, Marco mendadak melangkah mendekatinya dan berakhir tepat di samping Alexa.
"Bukan begitu caranya memangkas daun!” kata Marco tiba-tiba.
Andrea mengerjap kaget.
“Sini aku ajari!” lanjut Marco seraya mengambil gunting tanaman dari tangan Alexa.
Saat tangan mereka bersentuhan, Alexa sempat merasakan debar jantungnya menjadi sedikit lebih cepat. Cepat-cepat Alexa menyerahkan guntingnya.
Marco tampaknya tidak terlalu terpengaruh dengan kejadian barusan. Dengan santai, Marco mengambil gunting dan mulai mengajari Alexa.
“Cara pegang guntingmu saja salah, bagaimana hasilnya bisa bener?”
Alexa mencibir. “Aku lulusan ekonomi, jadi wajar donk kalau nggak bisa yang beginian?”
“Aku juga, tapi aku tetap bisa,” kata Marco pendek.
Tangan Marco bergerak cekatan mengunting tanaman tersebut dan membuat bentuk tanaman itu seperti sebelumnya. Tanaman berbentuk rusa yang semula mulai tidak rapi, kini mulai terlihat enak dilihat. Dalam hati, Alexa menggagumi Marco. Dia tak menyangka Marco bisa juga melakukan hal seperti itu.
“Kapan kamu pertama kali bertemu dengan Philip?” tanya Marco tiba-tiba.
Alexa menoleh ke arah Marco. Dengan pandangan tidak suka, ditatapnya Marco dengan tatapan tertajam yang dimiliki Alexa. “Kenapa kamu ingin tahu?” tanya Alexa jengkel.
“Dan kenapa tidak?”
“Aku rasa, itu bukan urusanmu. Lagipula, bukankah kamu berambisi memisahkan kami. Bukankah seharusnya kamu berpikir tentang bagaimana caranya memisahkan kami alih-alih tentang pertemuan pertama kami?”
Marco kembali terdiam. Dia mulai serius kembali dengan pekerjaannya yang hampir selesai. Ketika selesai, Marco memandang bangga pada hasil karyanya.
“Gimana, bagus kan?” kata Marco sambil kagum pada hasil guntingannya sendiri.
Karena sepertinya Marco tidak butuh jawaban, Alexa hanya tersenyum sejenak lalu berjalan mengambil sapu dan serok untuk membersikan daun-daun hasil guntingan Marco.
Baru saja menemukan apa yang dicarinya, tiba-tiba Marco sudah muncul di hadapan Alexa. “Ikut denganku. Ada sesuatu yang lebih menantang yang bisa kamu kerjakan.”
Tanpa menunggu respon Alexa, Marco sudah mengambil sapu dan serok yang dipegang Alexa. Bukan itu saja, Marco juga menarik tangan Alexa dan baru melepaskan gadis itu saat mereka tiba di satu sisi taman yang penuh pot, bibit tanaman dan tanah.
“Mau apa kita?” tanya Alexa heran.
Marco tersenyum lebar. “Hari ini, aku akan mengajarimu satu hal baru. Berkebun. Ini baru yang dinamakan berkebun. Kita akan menanam beberapa bunga. Sekarang, tolong kamu ambilkan beberapa pot dan taruh di dekat sana.”
Sebenarnya, Alexa sedikit heran dengan perubahan sikap Marco hari ini. Kemarin malam, pria yang satu ini baru saja menghina dan mengancamnya, tapi hari ini, Marco kelihatan lebih bersahabat. Seakan tidak ada yang terjadi dengan mereka kemarin. Alexa tak habis pikir, namun jauh di lubuk hatinya, Alexa bahagia bisa kembali dekat dengan Marco seperti pertama kali mereka bertemu.
Alexa mengikuti permintaan Marco tanpa membantah. Untuk kali itu, Alexa memilih melupakan bahwa Marco bukan seseorang yang cocok untuknya. Dalam waktu beberapa menit, keduanya sudah berlumuran tanah dan mulai akrab satu sama lain.
***