Chapter 1
Dia pasti sudah gila!
Mata Alexa reflek terbuka saat kesadaran itu tiba-tiba menyerangnya. Dengan ngeri, Alexa membelalak melihat Marco yang sedang mencium ceruk lehernya dan perlahan mulai menciumi bagian tubuhnya yang lain.
Panik, Alexa mendorong keras tubuh Marco hingga pria itu terbaring di sisi lain ranjang berukuran king size itu. Saat tubuhnya terbebas dari tindihan Marco, Alexa buru-buru menggenakan bra dan blousenya yang tergeletak tak beraturan di bawah ranjang.
“Apa yang terjadi?” tanya Marco bingung.
“Ini tidak benar. Maafkan aku, tapi aku harus pergi,” kata Alexa cepat tanpa berani menatap Marco.
“Tidak benar? Apanya yang tidak benar?”
Dari nada suaranya yang mendadak berubah dingin, Alexa tahu Marco tidak terima dengan apa yang baru saja terjadi. Tapi dia tidak punya waktu untuk mengurusi perasaan Marco. Sebelum mengurusi Marco, dia harus menyadarkan dirinya sendiri.
Demi Tuhan!
Bisa-bisanya dia nyaris melakukan one stand night dengan pria asing yang bahkan baru dikenalnya selama beberapa jam? Gila. Dia pasti sudah gila. Dan sebelum kegilaannya semakin parah, dia harus segera keluar dari kamar penuh godaan ini.
Alexa menyambar clutchnya dan melangkah cepat ke pintu. Sebelum membuka pintu kamar hotel bintang lima itu, Alexa memberanikan diri untuk berbalik dan menatap Marco.
Hanya dua detik setelah menatap Marco, Alexa langsung menyesali keputusannya. Rambut Marco yang berantakan, sprei ranjang yang kusut maupun pemandangan d**a bidang Marco langsung memutar kembali tingkah memalukannya beberapa menit yang lalu. Alexa memejamkan matanya, mencoba menghilangkan kejadian tadi dan mencoba fokus pada wajah Marco yang kini tampak menggelap dan jelas-jelas menahan marah.
“Thank buat makan malamnya. Dan maafkan aku soal ini,” kata Alexa sungguh-sungguh sebelum menghilang di balik pintu.
*
Beberapa jam sebelumnya….
Pyurr….
Cairan orange pekat itu dengan cepat m*****i kemeja putih milik seseorang yang baru saja melewati meja Alexa. Dengan ngeri, Alexa mendongakkan kepalanya dan seketika bertatapan dengan pria tinggi rupawan yang kini mengernyit menatapnya.
“Maafkan saya, saya sungguh tidak sengaja,” reflek Alexa sambil berdiri dan menyodorkan beberapa helai tissue pada pria di hadapannya.
Dengan kening berkerut, pria itu melirik Alexa dan kemejanya secara bergantian sebelum mengambil tissue yang disodorkan Alexa padanya.
Pria itu mencoba mengeringkan noda di kemejanya dalam diam. Saat memperhatikan pria berwajah blasteran itu, mendadak Alexa menyadari sesuatu. Dengan wajah percampuran oriental dan kauskasia itu, bisa jadi pria ini sama sekali tidak mengerti ucapan maafnya tadi.
“Sorry, I didn’t mean it. I’m so sorry,” ralat Alexa penuh penyesalan.
Pria itu melirik Alexa sekilas setelah wanita itu meralat permintaan maafnya. Merasa tidak bisa berbuat banyak pada kemejanya, pria itu meletakkan bekas tissuenya di mangkuk kosong yang tersedia di meja Alexa.
“Lain kali tolong hati-hati,” kata pria itu dingin.
Alexa tertegun selama beberapa detik. Dari gaya bicaranya, pria itu ternyata orang Indonesia sama seperti dirinya. Bisa jadi, pria itu juga sedang mempunyai urusan bisnis di Kuala Lumpur, sama seperti dirinya kini.
Alexa mengangguk cepat begitu sadar dari lamunannya. “Kemeja Anda, biar saya yang laundry kan. Saya menginap di hotel ini kok. Jika Anda berkenan, saya bisa mengirimkannya langsung pada Anda begitu baju itu selesai di laundry. Berikan saja pada saya sekarang,” tawar Alexa cepat.
Tanpa diduga, pria itu tertawa pelan. “Jadi saya harus melepaskan baju ini sekarang? Lalu apa yang harus saya kenakan?” tanya pria itu geli.
Wajah pria itu saat tertawa membuat Alexa terpana. Alexa sadar kalau pria ini punya ketampanan di atas rata-rata. Wajah ovalnya yang dihiasi dengan alis mata yang cenderung lurus dan hidung yang mancung itu seolah dipahat dengan proporsional. Tinggi badan menjulang dari pria itu menambah kesempurnaan fisiknya. Bahkan saat diam dan bersikap dingin seperti tadi, Alexa menyadari pesona pria itu. Tapi saat pria itu tertawa, ketampanannya mendadak meningkat drastis. Pria itu jelas tampak jauh lebih menarik sekarang. Rasa bersalah Alexa bahkan tidak bisa menghalanginya untuk mengagumi pria asing itu.
Tak ingin tampak seperti orang bodoh, Alexa buru-buru menfokuskan pikirannya kembali. “Ah iya, maaf. Hmm, atau bagaimana kalau Anda kirim saja tagihan laundrynya ke saya. Titipkan saja di resepsionis hotel. Bilang saja untuk Alexandra Mardiwiyono di kamar 815,” kata Alexa lagi.
Kali ini, pria itu tersenyum. “Ah, sudahlah, ini hanya masalah kecil. Mungkin lain kali, akan saya pertimbangkan tawaran tadi,” kata pria itu ramah. “Saya harus pergi sekarang. Senang berjumpa dengan Anda,” lanjut pria itu.
Tanpa menunggu jawaban Alexa, pria itu melangkah melewati meja Alexa. Setengah linglung, Alexa hanya mampu menatap pria itu hingga akhirnya pria itu lenyap di balik pintu restoran. Saat punggung pria itu lenyap sepenuhnya dari pandangannya, baru Alexa menghela nafas panjang dan kembali duduk di kursinya. Baru duduk kurang dari tiga detik, Alexa nyaris melompat berdiri. Sial, sekarang dia jelas akan terlambat!
Buru-buru, Alexa menyambar tasnya dan bergegas melanjutkan kegiatan terpentingnya hari itu. Ya, kegiatan terpentingnya. Setelah tiga hari bolak balik mempresentasikan produk ke sebuah perusahaan lokal, akhirnya hari ini Mr. Diego setuju melakukan kerjasama dan menandatangi kontrak. Sialnya, seharusnya pertemuan ini diadakan tiga jam lagi, bukan setengah jam lagi dengan pemberitahuan yang mendadak seperti saat ini. Tak punya pilihan, Alexa terpaksa menghentikan makan siang yang baru tersentuh setengahnya. Itu juga yang membuatnya ceroboh hingga menumpahkan minumannya ke kemeja pria asing tadi.
Sambil berdoa dalam hati agar dia tidak terlalu terlambat menghadiri pertemuan, Alexa Alexa memanggil taksi pertama yang dilihatnya siang itu.
*
Akhirnya semua pekerjaannya selesai.
Alexa melempar stilettonya ke sudut kamar sebelum merebahkan dirinya di ranjang. Setelah memejamkan matanya beberapa saat, Alexa bangkit dari ranjangnya dan berjalan menuju balkon kamarnya. Baru setengah jalan, dering ponselnya menggema di seluruh ruangan. Reflek, Alexa berbalik menyambar tasnya sebelum merogoh ponsel yang tersimpan rapi di dalamnya.
Nama Philip berkedip-kedip di layar ponselnya. Sambil kembali melangkah ke balkon, Alexa mengangkat telepon dari sahabat sekaligus bosnya itu.
“Semua beres, Lex?”
Alexa merengut mendengar sapaan pertama Philip. “Ya, hallo juga, Lip.”
Philip tertawa renyah. “Basa-basinya nanti aja. Intinya, proyek kita beres kan?”
Alexa menarik kursi santai di balkon dan merebahkan dirinya santai sebelum menjawab pertanyaan Philip. “Ya bereslah. Pak Diego sudah tandatangan kerjasama. Semua sesuai rencana. Ada beberapa dokumen yang harus gue kasik ke Pak Diego besok, tapi bisa diatur. Besok gue balik dengan pesawat paling pagi kok.”
“Gue tahu lo paling bisa gue andalin untuk masalah-masalah gini, Lex,” kata Philip lega. “Tapi tadi lo nggak telat kan?”
Alexa menghembuskan nafas lelah mendengar pertanyaan Philip. Tentu saja akhirnya dia telat. Setelah duduk tenang di taksi, Alexa baru menyadari bahwa semua dokumen yang dibutuhkannya untuk pertemuan masih tersimpan rapi di kamarnya. Seperti kesetanan, Alexa terpaksa kembali ke hotel dan berlari secepat yang dia bisa ke kamarnya. Untung saja Mr. Diego yang mendadak harus pergi ke Penang hari itu juga, mau menunggunya sejenak sehingga urusan mereka bisa benar-benar selesai hari ini.
“Gue telatlah. Tapi sudahlah, yang penting semuanya sudah kelar sekarang. Lo siapin bonus yang besar aja buat gue.”
Philip terkekeh. “Bonus lo cair malam ini juga. Gue reimburse semua pengeluaran lo di sana. Lo boleh pergi ke mana aja dan beli apa aja sebelum lo balik ke Jakarta besok. Itung-itung, sekalian lo cari jodoh di sana.”
Alexa mendengus kesal. “Pinter lo ya, Lip. Bisa ke mana dan beli apaan gue kalau sekarang sudah jam 7 malam dan besok gue harus berangkat pakai pesawat paling pagi?” omel Alexa. “Lagian jauh amat nyari jodoh di sini. Kalau gue niat nyari jodoh, nggak usah jauh-jauh di Malaysia juga kali.”
“Ah, buktinya lo nggak dapet-dapet jodoh di Indo. Mana tahu lo jodohnya di luar. Bulan depan kita tandatangan kontrak sama Mr. Vins di Singapore. Kayaknya gue ngutus lo lagi aja ke sana. Itung-itung bantuin lo buat nemu jodoh juga kan?”
“Nggak ada faedahnya ngomong sama lo lama-lama. Kalau nggak ada hal penting yang mau lo omongin lagi, gue tutup. Gue kelaperan. Gue bahkan nggak nuntasin makan siang gue tadi.”
Philip kembali terkekeh sebelum mengakhiri panggilan. Baru menutup ponselnya, bel kamar Alexa mendadak berbunyi. Agak heran, Alexa meletakkan ponselnya di nakas samping tempat tidurnya sebelum melangkah ke pintu.
Berhati-hati, Alexa membuka pintu dan membiarkan pintu terbuka hanya sebatas rantai pintu. Namun saat melihat siapa tamunya, Alexa buru-buru membuka pintunya lebar-lebar.
***