Chapter 2

1762 Kata
“Apa saya mengganggu?” tanya tamu tak diundang Alexa.     Alexa tak langsung menjawab. Dia hanya memandang pria di hadapannya dengan pandangan bingung sekaligus penasaran. Pria itu adalah pria yang sama dengan pria yang ditumpahinya orange juice beberapa jam yang lalu. Bedanya hanya pada pakaian yang dipakai pria itu. Jika tadi siang pria itu mengenakan setelan formal, malam ini pria ini tampak lebih santai dan casual dengan menggenakan sweater cream dan jeans biru gelap.      “Er, tidak juga,” jawab Alexa. “Apa Anda mau mengantarkan pakaian Anda tadi?” lanjut Alexa linglung.     Pria itu tersenyum hangat. Namun bukannya menjawab pertanyaannya, tiba-tiba pria itu mengulurkan tangannya pada Alexa.     “Seingat saya, kita belum berkenalan tadi,” kata pria itu ramah.     Tak punya pilihan, Alexa membalas uluran tangan pria itu. “Alexandra Mardiwiyono.”     “Marco Arinata,” jawab pria itu sambil masih mempertahankan senyumannya.     “Anda mau meminta saya untuk mengganti biaya laundry Anda?” tanya Alexa masih bingung.     Kali ini Marco tersenyum lebar. “Bukankah untuk itu Anda memberikan nomor kamar Anda tadi?”     Alexa mengerjap t***l sebelum berbalik masuk ke kamarnya dan kembali dalam waktu kurang dari semenit sambil membawa dompetnya. Entah kenapa, mendadak Alexa merasa agak tersinggung. Kenapa pria ini sampai repot ke kamarnya? Apa pria ini tidak percaya kalau dia akan benar-benar mengganti biaya laundrynya? Yang benar saja!     “Berapa ringgit?” tanya Alexa cepat. “Seharusnya Anda tidak perlu repot menagih sendiri ke sini. Anda bisa menitipkan tagihannya di resepsionis,” sambung Alexa mulai kesal.     Marco memperhatikan Alexa dengan serius sebelum akhirnya tersenyum sambil menggeleng tak percaya. “Anda tidak bisa diajak bercanda rupanya. Simpan saja dompet Anda. Saya ke sini bukan untuk menagih apa-apa.”     “Maksud Anda?”     “Dan bisakah kita bersikap santai? Sepertinya ‘saya’ dan ‘anda’ terlalu formal untuk suasana santai seperti sekarang,” pinta Marco. “Lalu menjawab pertanyaan kamu tadi, aku ke sini hanya untuk berkenalan denganmu. Jarang-jarang kan bisa disiram orange juice oleh orang sebangsa di negara tetangga?” lanjut Marco sambil kembali memamerkan senyumnya.     Sekali lagi, jantung Alexa mendadak berdebar lebih cepat. Bukan karena sindiran halus Marco, tapi lebih karena senyuman yang membuat wajah Marco jauh lebih menarik daripada sebelumnya.     “Kamu dari Indonesia kan?”     Berusaha tidak mengacuhkan jantungnya yang bertingkah, Alexa mengangguk pelan.     “Ke Malaysia untuk keperluan bisnis?”     “Yah, begitulah.”     “Sama. Kebetulan aku juga berada di sini untuk urusan bisnis. Keberatan jika aku mengajak kamu makan malam?”     Alexa menatap Marco dengan tatapan tidak percaya. Marco barusan mengajaknya makan malam? Padahal mereka baru kenal tidak lebih dari lima menit?     “Alexandra, tolong jangan curiga dulu. Aku tidak ada maksud apa-apa. Aku hanya ingin mengajakmu makan malam. Itupun hanya di restoran hotel. Ada beberapa menu yang harus kamu coba sebelum kembali ke Indonesia.”     Dalam keadaan normal, Alexa pasti akan langsung menolak ajakan Marco. Kenal beberapa hari saja belum tentu akan diladeni oleh Alexa, apalagi yang baru beberapa menit seperti ini. Tapi entah karena euforianya atas keberhasilan proyeknya hari ini, rasa bersalah tadi siang, perutnya yang memang mulai keroncongan, atau mungkin juga karena tak tega dengan wajah Marco yang sepertinya berharap, tanpa sadar Alexa mengangguk setuju. Lagipula, Marco tidak tampak seperti orang jahat di mata Alexa.     “Alexa. Panggil saja Alexa. Dan kalau memang kamu mau kutemani, tunggu aku lima belas menit lagi di lobi hotel. Aku mau mandi dan berganti pakaian dulu,” kata Alexa setengah ragu.     Marco tersenyum lega dan mengangguk setuju begitu mendengar jawaban Alexa. Dan begitu melihat ekspresi Marco, entah kenapa keraguan Alexa lenyap tak berbekas. Malah Alexa setengah berdebar karena akan berjalan bersama pria seperti Marco.   *       Restoran hotel ternyata telah disewa untuk acara CSR salah satu perusahaan besar di Malaysia malam itu. Agak kecewa, Marco berniat menggantinya dengan mengajak Alexa mencari makan di sekitar hotel. Sayangnya, rencana itu lagi-lagi batal karena derasnya hujan yang mendadak turun malam itu.     “It’s okay, Marco. Kurasa aku akan memesan room service saja malam ini,” hiburku pada Marco yang menatap kecewa pada hujan yang terlihat dari kaca lobi hotel.     Marco mendadak menoleh padaku. Wajahnya yang semula lesu kembali terlihat semringah. “Kamu benar, Alexa. Kurasa kita bisa memesan room service saja malam ini. Keberatan jika kita dinner di kamarku? Kebetulan aku tinggal di kamar suite. Ada private pool dengan pemandangan luar biasa di sana. Sayang jika aku menikmatinya seorang diri.”     Alexa menganga mendengar saran Marco. Demi kesopanan dan keamanan dirinya sendiri, Alexa tahu seharusnya dia menolak. Tapi entah kenapa, begitu melihat wajah Marco yang sepenuhnya berharap, Alexa malah mengangguk setuju.         Marco memimpin jalan ke suitenya sementara Alexa mengikuti dengan ragu. Ini jelas melanggar prinsipnya, tapi ada bagian dari dirinya yang percaya bahwa Marco adalah pria baik-baik yang tidak mungkin mengambil kesempatan darinya.     Keraguan Alexa sempat memuncak saat dirinya tiba di depan pintu kamar hotel Marco. Dia sempat bergeming saat Marco membukakan pintu untuknya dan mempersilahkannya masuk ke dalam ruangan terbesar di hotel itu.     “Tenanglah, Alexa, kita hanya akan makan malam,” kata Marco geli.     Alexa merona mendengar perkataan Marco. Tanpa merespon, Alexa mulai melangkah ke dalam kamar Marco. Marco sengaja mengganjal pintu kamarnya dengan kaitan pintu agar Alexa merasa lebih tenang. Semua pikiran buruk Alexa mulai terkikis saat wanita itu melihat tindakan Marco. Saat Marco mengajaknya ke balkon kamar pria itu, keraguan Alexa lenyap tak berbekas.         Marco tidak bicara omong kosong saat memuji pemandangan area private pool di kamarnya. Sekalipun tempatnya tidak besar, ada nuansa nyaman dan asri yang bisa langsung dirasakan Alexa begitu dia tiba di sana.     Marco memberinya menu room service dan memesankan makan malam untuk mereka berdua. Setelah Alexa menghabiskan makanannya kurang lebih satu jam kemudian, sedikit banyak Alexa mulai menyesal telah menerima undangan dari Marco malam ini. Bukan, bukan karena Marco bersikap kurang ajar atau ingin mengambil kesempatan darinya, melainkan karena Alexa mulai merasa menyesal karena kemungkinan besar dia tidak akan bertemu dengan Marco lagi.              Ternyata Marco adalah orang Indonesia yang tinggal di Malaysia sejak lima belas tahun silam. Itu artinya, Alexa tidak mungkin bisa menjalin hubungan dengan Marco sekalipun mereka punya ketertarikan tertentu. Alexa pernah menjalani hubungan jarak jauh dan hanya dalam waktu sebulan, hubungan itu kandas. Itu hanya hubungan LDR antar dua kota, apalagi antar negara. Karena itu, Alexa tidak pernah berniat untuk menjalani hubungan LDR dengan siapapun.          “Sayang sekali kamu harus pulang besok,” kata Marco pelan. “Apa boleh buat. Kalau kamu ke Malaysia lagi, kabari aku saja. Dan kalau aku ke Indonesia, aku pasti akan mengabari kamu. Bagaimanapun juga, adik dan ibuku kan tinggal di Jakarta, aku pasti akan sering ke Jakarta.”     Alexa mengangguk lalu tersenyum lemah. Ini terdengar agak gila, tapi Alexa benar-benar agak patah hati saat sadar dalam beberapa jam ke depan, dia harus berpisah dengan pria ini. Tak ingin menunjukkan perasaannya, Alexa berdiri dari kursinya lalu melangkah mendekati kolam. Perlahan Alexa duduk di tepi kolam sambil memasukkan kakinya di dalam air. Tak lama, Marco sudah mengikuti jejaknya.     “Kamu bisa berenang?” tanya Marco sambil melirik Alexa.     Alexa mencibir. “Tentu saja bisa. Memangnya kamu nggak bisa?”     “Sembarangan! Kamu pikir kenapa aku bisa mempunyai tinggi 180 cm seperti ini?”     Alexa tersenyum. Tiba-tiba, timbul niat usil dalam dirinya. Dengan sengaja, Alexa mengambil air kolam dengan kedua telapak tangannya, lalu mencipratkannya pada Marco. Marco hanya butuh sekian detik untuk membalas perbuatan Alexa.     Berusaha menghindari serangan Marco, Alexa bermaksud berdiri dan berjalan menjauhi Marco. Tapi Marco lebih cepat darinya. Sebelum Alexa sempat melaksanakan niatnya, Marco telah menahan tangannya. Marco kembali menyerang dirinya dengan air.     “Ok, Marco, aku kalah,” kata Alexa sambil menghindari serangan air dari Marco.     Marco baru menghentikan serangannya setelah mendengar pengakuan Alexa. Marco tersenyum melihat kemenangannya. Bisa dibilang, Alexa hampir basah kuyup. Baju Marco sendiri basah, tapi tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Alexa.     Alexa masih tertawa saat serangan dari Marco berhenti. Namun saat Alexa memandang Marco, tawanya berhenti seketika. Marco juga tampak sedang memandangnya, tapi sama-sama tidak tersenyum seperti sebelumnya. Mereka berpandangan selama beberapa detik, sebelum secara perlahan Marco mendekatkan wajahnya ke wajah Alexa.     Dalam hitungan detik, bibir Marco sudah mendarat di bibir Alexa. Marco mengulum bibirnya lembut, menggoda Alexa untuk membalas ciumannya. Jantung Alexa menderu. Perlahan, Alexa mulai membalas ciuman Marco. Marco mulai meningkatkan intensitas ciumannya. Mereka berdua hanya berhenti sejenak saat keduanya mulai kehabisan nafas.     Alexa menatap Marco dengan wajah bersemu. Marco balas memandangnya lembut sambil tersenyum padanya. Namun Marco tidak memberikan kesempatan berpikir bagi Andrea. Tanpa aba-aba, Marco kembali mendaratkan bibirnya di bibir Alexa. Kali ini, Alexa tidak membutuhkan waktu untuk membalas ciuman Marco. Begitu bibir Marco mengulumnya, Alexa membalas dengan sama berhasratnya.     Tanggapan positif dari Alexa membuat Marco semakin berani. Perlahan, tangannya menyusup ke balik blouse Alexa dan mulai memainkan sesuatu yang terlindung di balik bra wanita itu. Alexa mendesah pelan saat Marco memainkan area tubuhnya. Desahan Alexa membuat Marco mulai tak sabar. Dengan cepat, digendongnya Alexa kembali ke kamar sebelum merebahkan wanita itu di ranjang king sizenya.     Alexa tidak pernah ingat bagaimana akhirnya dia bisa berakhir di ranjang Marco. Saat kesadaran itu tiba-tiba menohoknya, Alexa sudah dalam keadaan setengah telanjang dengan Marco yang masih menggodanya dengan memainkan bagian atas tubuhnya.     Alexa mengumpulkan tekad, keberanian dan akal sehatnya. Sekalipun Alexa masih tergoda dengan apa yang tengah dilakukan Marco, Alexa memaksa dirinya untuk menghentikan semua ini.     Marco memandangnya seolah dia sudah gila karena mendadak berhenti di tengah permainan mereka. Pria itu bahkan tampak tersinggung. Tapi Alexa tahu, dia akan merasa luar biasa menyesal jika dia melanjutkan apa yang baru saja dirinya dan Marco lakukan.     “Thank buat makan malamnya. Dan maafkan aku soal ini,” kata Alexa pelan sebelum menghambur keluar dari kamar Marco.  * Apa-apaan ini?     Apa yang baru saja wanita itu lakukan?     Marco menatap nanar pada pintu kamar suitenya yang baru saja tertutup. Alexa baru saja keluar dari pintu itu tanpa sedikitpun menoleh padanya atau minimal menjelaskan kenapa wanita itu mendadak menghentikan permainan mereka!     Tangan Marco mengepal kuat. Wanita itu jelas telah melukai harga dirinya. Apa yang sebenarnya terjadi?     Sambil berusaha meredakan hasratnya yang sudah di puncak, Marco kembali mengingat ciuman-ciumannya pada Alexa. Wanita itu tertarik padanya. Wanita itu juga terlihat sangat menikmati cumbuan-cumbuannya. Wanita itu bahkan membalas semua ciumannya dengan hasrat membara yang sama seperti dirinya. Tidak, jelas tidak ada yang salah dengan dirinya. Yang salah adalah wanita itu. Entah apa yang dipikirkan wanita itu hingga tiba-tiba dia berubah pikiran.     Gusar, Marco melangkahkan kakinya ke kamar mandi. Dia perlu menenangkan hati, pikiran sekaligus area sensitif di tubuhnya setelah Alexa mempermainkannya seperti ini.     Marco menghabiskan waktu setengah jam di kamar mandinya. Saat dia keluar dari kamar mandi dan hanya mengenakan jubah mandinya, pria itu sudah kehilangan selera untuk melakukan apapun. Alexa masih menguasai pikirannya.     Marco merebahkan tubuhnya di ranjangnya. Bau samar parfum yang dikenakan Alexa masih tertinggal di ranjangnya. Sialnya, begitu hidungnya mengenali bau itu, mendadak hasrat yang telah berhasil diredakannya kembali bergejolak. Marco reflek mengumpat. Wanita itu benar-benar merusak moodnya!     Marco beranjak dari tempat tidurnya. Kakinya melangkah ke private pool di belakang kamarnya, tapi belum setengah jalan, Marco menghentikan langkahnya. Sial. Tempat itu bahkan merupakan tempat dimulainya semua ini! Marco mengutuki dirinya sendiri. Seharusnya dia tidak pernah mengajak Alexa makan malam di kamarnya.     Tangan Marco menutup pintu yang memisahkan antara kamar dan private poolnya. Tidak, dia tidak boleh menginjakkan kaki ke tempat-tempat yang akan mengingatkannya pada Alexa. Tidak, terutama karena wanita itu akan segera pergi dari hidupnya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN