Chapter 3

1634 Kata
“Alexandra Mardiwiyono, sekali lagi lo nggak ngedengerin gue, gue pecat lo sekarang juga!”    Alexa tersentak dari lamunannya. Setengah linglung, dicarinya sosok yang sudah mengganggu lamunannya. Saat melihat Philip tengah menatapnya kesal, Alexa mengambil bantal sofanya dan melemparkannya pada Philip.    “Lo apa-apaan sih? Gangguin orang aja,” omel Alexa kesal.    Philip mengambil bantal yang dilemparkan Alexa dan balas melemparnya pada Alexa. “Lo kenapa sih? Kayaknya sejak pulang dari Malaysia, lo jadi sering banget ngelamun.”     Alexa menggeleng cepat, namun otomatis pikirannya kembali melayang ke kejadian minggu lalu. Sekalipun sudah berlalu seminggu, ingatan tentang malam terakhirnya di Malaysia masih teringat jelas di benak Alexa.     Marco….     Alexa penasaran dengan keadaan pria itu. Mungkin pria itu telah melupakannya. Tapi mengapa dia sangat kesulitan untuk melupakan pria itu?     Reflek, Alexa mendesah sambil menggeleng pelan. Dia sungguh perlu belajar melupakan pria itu. Selain karena kemungkinan besar dirinya tidak akan bertemu dengan Marco kembali, pria itu sepertinya tidak tertarik padanya. Buktinya, Marco bahkan tidak berusaha mengejarnya ke kamarnya. Marco juga tidak berusaha meminta penjelasan darinya. Mungkin Marco hanya tertarik dengan tubuhnya. Mungkin Marco hanyalah salah satu dari p****************g yang harus dihindarinya.     “Nah kan, ngelamun lagi. Pasti ada sesuatu yang lo sembunyiin dari gue.”     Suara Philip menyentak Alexa dari lamunannya. Alexa melirik Philip sekilas lalu kembali menggeleng cepat untuk meyakinkan Philip.     “Lo sekarang main rahasia-rahasiaan ya. Lain kali gue juga nggak mau cerita apa-apa ke elo,” ancam Philip manyun.              Alexa tersenyum pada Philip. Pria ini sudah dianggap kakak oleh Alexa sendiri. Mereka bertemu saat keduanya kuliah. Philip yang dua tahun lebih tua darinya menjadi ketua OSPEK mahasiwa saat Alexa menjadi mahasiswa baru. Sejak awal pertemuan mereka, Philip selalu saja berusaha ‘menyiksa’nya. Bukan siksaan tugas, hanya menggoda tak karuan saat mereka sedang berdua. Sekalipun menyebalkan bagi Alexa, Alexa setengah berterima kasih juga pada Philip. Jika tidak ada Philip, Alexa mungkin akan lebih tersiksa. Lantaran menjadi salah satu mahasiswa baru yang cukup populer, Alexa sering menjadi sasaran empuk mahasiswa senior utamanya yang berjenis kelamin wanita. Untung ada Philip yang selalu melindunginya dari siksaan mahasiswa senior yang lain.     Sejak itu, Philip selalu berusaha mendekatinya. Pertamanya Alexa malas berdekatan dengan Philip, namun karena Philip adalah pribadi yang menyenangkan, ditambah lagi Philip sering membantu Alexa dalam tugas-tugasnya, mereka berdua akhirnya akrab. Sekalipun satu kampus menganggap keduanya pacaran, mereka berdua sama-sama tahu mereka tidak mungkin bisa mencapai tahap itu. Mereka terlanjur saling menyayangi sebagai sahabat. Bahkan bisa dibilang rasa sayang sebagai saudara. Philip yang memang hanya mempunyai kakak pria merasa senang bisa mempunyai adik perempuan seperti Alexa. Sebaliknya, Alexa yang merupakan anak tunggal pun mudah menerima Philip sebagai kakak yang selalu diinginkannya.     Setelah Philip lulus kuliah, mereka berdua masih terus berkomunikasi. Bisa dibilang, Philip selalu ada untuknya. Dan saat keluarga Alexa mengalami kesulitan ekonomi sementara Alexa baru lulus kuliah, Philip tak ragu untuk menawari Alexa jabatan penting di perusahaan yang sedang dirintis Philip. Sampai sekarang, persahabatan mereka tetap terjaga bahkan setelah mencapai hampir satu dekade.     “Bagus kalau lo nggak cerita lagi ke gue. Gue juga bosen dengerin cerita lo. Topiknya pasti sama. Jenny melulu,” kilah Alexa cepat.     Philip menyipit curiga. “Gue serius nih, Lex. Kalau ada masalah, jangan dipendam sendiri. Siapa tahu malah gue yang bisa bantu masalah lo.”             Alexa tersenyum tipis. Masalahnya kali ini jelas tidak bisa dibantu oleh Philip. “Gue nggak papa, Lip. Serius. Lagian gue kan memang selalu minta bantuan lo kalau lagi butuh bantuan. Lo tenang aja, kalau memang gue butuh, gue pasti minta tolong elo.”     Philip tahu betapa keras kepalanya Alexa. Karena Alexa sudah mengatakan tidak ada yang terjadi padanya, Philip tak lagi memaksa. Setelah terdiam beberapa saat, mendadak Philip mulai duduk gelisah. Dalam hening, Philip berulang kali melirik Alexa seolah ragu karena sesuatu.     “Kayaknya lo yang lagi butuh bantuan gue. Ada apaan?” tebak Alexa yang mulai tak sabar melihat Philip yang terus-terusan melirik ke arahnya.     Philip tersenyum tipis sebelum mengangguk pelan. “Iya, gue yang butuh bantuan lo sekarang.”     “Bantuan apaan?”     “Pura-pura jadi pacar gue.”         Aku mengernyit bingung mendengar permintaan Philip. “Ngapain gue harus pura-pura jadi pacar lo?”     Philip mengacak rambutnya tak sabar. “Gue stress, Lex. Ini sudah ketiga kalinya gue dipaksa ketemuan sama anak temen nyokap gue. Gue capek. Kalau lo mau pura-pura jadi pacar gue, gue bisa kenalin lo ke mama supaya mama berhenti nyariin jodoh buat gue. Lo mau kan?”     “Sebentar, sebentar. Gue paham sih kenapa lo mau ngenalin pacar lo ke nyokap lo. Tapi yang gue nggak paham, lo kan punya pacar beneran, dodol. Kenapa lo harus nyuruh gue pura-pura jadi pacar lo?”     “Masalahnya Jenny itu anak SMA, Lex. Kalau lo lupa, umurnya 13 tahun lebih muda dari gue. Buat nyokap gue, anak SMA itu masih anak kecil, Lex. Salah-salah nyokap gue mikir gue ini p*****l lagi.”     Ah, iya. Untuk sesaat, Alexa benar-benar melupakan fakta kalau Jenny hanyalah anak SMA. Sekalipun sikap Jenny termasuk dewasa untuk ukuran anak SMA, ketakutan Philip akan reaksi ibunya cukup beralasan.     “Lo ngerti posisi gue kan, Lex? Lo mau bantuin gue kan? Please. Cuma sekali pertemuan, Lex. Cuma untuk menunjukkan ke Mama kalau kita pacaran dan serius,” pinta Philip memelas.     “Lo yakin nyokap lo bakal nolak Jenny?”     “100%. Nyokap gue itu rada kolot, Lex. Gue kan sudah pernah cerita ke elo, nyokap gue aja baru ngijinin gue pacaran pas kuliah. Lo lupa?”     “Nggak ada cara lain ya?”     “Misalnya apaan?”     “Pura-pura sibuk dan nggak ada waktu untuk ketemu tuh cewek?” saran Alexa.     “Sudah gue lakuin puluhan kali. Mama terus-terusan nelepon gue setiap satu jam sekali sampai akhirnya gue nyerah dan nurutin kemauan Mama.”     “Bertemu sekali dan bilang tidak cocok?”     “Lo pikir teman Mama cuma satu? Pertama kali gue terperangkap sama jerat setan ini juga karena gue mikir hal yang sama kayak lo. Gue pikir, gue cuma perlu nampang sekali dan beres. Ternyata enggak. Begitu gue bilang nggak cocok, kurang dari tiga hari, Mama sudah punya calon potensial lain.”     “Kalau gitu bilang aja kalau lo nggak suka cewek. Beres.”     Timpukan bantal sofa langsung mengenai kepala Alexa.     “Yang bener dong kalau kasik saran, Lex. Gue bisa-bisa langsung dikeluarkan dari Kartu Keluarga!”     Alexa terkekeh. “Lo sendiri rese, gue capek-capek kasik saran, lo tolak semua.”     “Karena nggak ada saran yang bermutu dari lo, rese.”     Alexa terkekeh sebelum mengernyit kesal. “Tapi omong-omong, kenapa ya gue jadi agak tersinggung. Lo berani minta gue buat nipu nyokap lo, berarti lo yakin nyokap lo bakal percaya kalau kita beneran pacaran. Memangnya selama sepuluh tahunan lo temenan sama gue, lo sama sekali nggak pernah nyebut nama gue di depan nyokap lo ya?”     Kini giliran Philip yang terkekeh. “Gue nggak sedeket itu sama nyokap gue. Lagian, Jenny aja nggak gue kenalin, apalagi lo!”     Alexa mengambil bantal yang tadi mengenai kepalanya dan melemparnya sekuat tenaga pada Philip. “Sialan lo, Lip. Fixed gue nggak mau bantuin lo sekarang.”     Philip kembali terkekeh sebelum berdiri dari kursinya dan mendekati Alexa yang merengut. “Gue serius, Lex, bantuin gue ya. Cuma lo yang bisa bantuin gue.”     “Lo nggak takut kualat, Lip? Pake ngajak-ngajak gue lagi.”     “Lo mau lihat sahabat lo stress sampe botak trus bunuh diri? Rambut gue sudah banyak yang rontok ini. Serius.”     Alexa menyipit kesal. “Sumpah gue heran kenapa si Jenny mau-maunya pacaran sama om tua garing kayak lo.”     “Sialan lo, Lex!” maki Philip sebelum meraih bantal dan kembali melemparkan benda tersebut ke arah Alexa.     Alexa menangkap bantal itu sebelum mengenai kepalanya untuk yang kedua kalinya. Sambil mendekap benda berukuran 20x20cm itu, Alexa menatap serius pada Philip.     “Lo tahu kan lo nggak bisa boongin nyokap lo selamanya.”     “Gue tahu, Lex. Gue juga nggak bermaksud bohongin nyokap selamanya kok. Setelah Jenny lulus SMA, gue akan kenalin dia ke nyokap.”     Alexa mendesah pelan. “Kalau gitu masih lama, dodol. Masih setahun lagi. Lo yakin gue cuma perlu ketemu sekali sama nyokap lo?”     “Iya, cuma perlu sekali. Next time kalau nyokap gue minta ketemu lo, gue yang bakal karangin alasan buat lo.”     “Kalau nyokap lo nyuruh kita buat buru-buru nikah? Umur lo sudah kepala tiga lho.”     “Gue juga yang bakal karangin alasan. Lagian, lo tenang aja. Kalau nyokap gue pingin anaknya nikah, yang harus nikah duluan itu kakak gue, bukan gue.”     “Ah iya, gue lupa kalau lo masih punya kakak. Dia nggak dijodohin juga?”     “Kakak gue itu anak ilang. Sudah hampir 15 tahun dia tinggal di Malaysia dan nggak mau balik ke Indo. Hoki dia. Kalau dia di sini, nyokap gue pasti sibuk jodohin dia, bukan gue.”     Alexa merenung. Otaknya berpikir keras. Dengan semua kebaikan Philip padanya, juga memandang persahabatan mereka selama sepuluh tahun, rasanya tidak sulit untuk membantu Philip dalam hal ini. Satu-satunya yang membuatnya tidak enak hati hanyalah karena perlu membohongi ibu Philip.     “Atau gini deh, Lex, kalau lo nolongin gue, gue yang bakal bayarin honeymoon lo ke Maldives. Bukan cuma tiket pesawat, sewa resort atau akomodasi lainnya di sana, tapi semua pengeluaran kecil termasuk biaya makan kalian. Semuanya gue yang tanggung.”     Alexa melirik Philip dan tersenyum samar. Honeymoon ke Maldives. Alexa tidak menyangka Philip masih mengingat ocehan asal yang diucapkannya beberapa tahun silam. Bukti kecil bahwa Philip selalu mendengarkan dan peduli padanya membuatnya semakin sulit menolak permintaan Philip, sekalipun permintaannya kali ini cukup konyol dan di luar akal sehat.     “Ok, deal,” kata Alexa penuh senyum. “Lo sendiri ya yang bilang. Padahal aslinya gue sudah mau bantuin lo tanpa pamrih.”     Philip tersenyum kecut mendengar jawaban Alexa. “Sialan lo, Lex, nggak ngomong dari tadi juga. Eh, tapi omong-omong, gue juga belum selesai ngomong tadi. Perjanjiannya berlaku kalau lo married lebih dulu dari gue ya. Soalnya begitu gue married, keuangan gue akan diatur sama istri gue. Nggak lucu kan kalau nggak ada angin nggak ada hujan, gue malah bayarin honeymoon lo.”     “Gue tahu lo licik, Lip. Tapi lo tenang aja, lo juga masih lama nikahnya. Minimal lo nikah lima tahun lagi, setelah Jenny lulus kuliah. Itupun kalau dia mau langsung nikah. Dan ngeliat modelan dia, kayaknya lo harus nunggu lebih lama dari itu.”     “Mendingan gue lah masih punya calon, daripada lo, jomblo abadi. Gue aja nggak inget kapan terakhir lo punya cowok.”     “Gue masih bisa batalin niat gue ya, Lip.”     Sepertinya Philip baru ingat kalau dirinyalah yang membutuhkan Alexa. Wajahnya yang semula berekspresi tak mau kalah, mendadak berganti dengan wajah pasrah penuh senyum.     “Ah, ya, sori. Gua salah, lo yang bener. Jadi kita tetep pada rencana awal ya.”     Alexa tersenyum menang. Bagus, sepertinya dia bisa sedikit memanfaatkan Philip selama beberapa hari ke depan.   ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN