Pagi sekali suara gemuruh membangunkan Aninda dari alam mimpi yang sangat syahdu, didalam mimpinya Aninda bertemu dengan seorang pangeran yang akan melunasi hutang-hutang orang tuanya.
Bukan main, pangeran itu datang untuk menyelamatkan hidup Aninda dari segala cobaan yang di alaminya.
Bak seperti kisah dongeng di kerajaan, Aninda sangat diperlakukan dengan baik oleh pangeran
Pangeran itu sangat tampan, dengan menunggangi kuda berwarna putih, dan sebuah pedang maha dahsyatnya yang bergelantung di pinggangnya.
Bukan hanya tampan dan gagah, setiap hari ia akan datang, perlahan turun dari kudanya untuk menghampiri Aninda yang malang. Aninda sangat setress memikirkan permasalahannya kali ini sampai terbawa mimpi.
Namun mimpi itu tiba-tiba lenyap bersambung ditengah jalan lantaran suara keras seseorang menusuk kendang telinganya.
Seketika ia menajamkan pendengarannya, dengan perlahan Aninda mulai menguasai dirinya yang berusaha sadar sepenuhnya.
"Apakah ada banjir, atau kebakaran! Mengapa ramai sekali diluar? Atau jangan-jangan itu pangeran…" Sangka nya dalam hati.
"Saya kesini hanya mau mengingatkan, ini hari terakhir anda melunasi hutang, jika sampai jam 8 malam nanti uang itu tidak berada dalam genggaman saya. Silahkan anda sekeluarga pergi dari rumah ini!"
Mendengar samar-samar kata hutang, membuat Aninda terbangun melompat dari tempat tidurnya.
"Bagaimana ini Tuhan, apakah aku harus menjual ginjal ku kepada direktur itu, tak khayal mereka mendekatiku hanya untuk mengincar organ dalam di tubuhku, entah itu untuk kakek, nenek atau orang tuanya!" Gumamnya lagi.
Setelah beberapa lama berpikir, ia memutuskan untuk menghubungi dulu CEO muda tersebut, namun aninda bingung mulai dari mana. Ia masih menimbang-nimbang untuk sekedar kirim pesan atau langsung menghubunginya dengan panggilan.
"Pesan saja lah, mana mungkin ia akan menjawab panggilan dari rakyat jelata seperti aku ini."
Aninda mulai mengambil ponselnya dari atas nangkas sebelah tempat tidurnya, kemudian ia melihat dengan seksama nomer telepon dari sepotong kertas kartu nama yang ia pegang.
"Apakah Tuhan sedang mengujiku, atau Tuhan sedang mengabulkan permintaanku, dengan menurunkan pangeran dari kayangan turun ke bumi untuk menyelamatkan aku dari penderitaan dunia fana ini!" Khayalnya lagi.
Ia berjalan ke arah kaca, dengan kedua tangan memegangi pipinya kanan dan kiri. Ia merasa tak begitu cantik, malah tak cantik sama sekali. Bahkan bau air liur masih menempel di bajunya, membuat Ia tersadar, pangeran yang datang dalam mimpinya itu tidak ada.
"Aku memang Miss drama, yang berharap bahagia. Aku tidak ingin harta yang berlimpah, tahta yang tinggi, bahkan aku juga tidak menginginkan berlian! Aku hanya ingin tenang Tuhan, meskipun hidup sederhana aku sudahlah amat bahagia." Tuturnya frustasi.
"Iya pak, saya pastikan sebelum jam 8 malam, hutang saya sudah saya lunasi!" Terdengar suara pak Suparno mantab penuh percaya diri.
"Saya tidak butuh janji pak Suparno, cepat anda lunasi hari ini." Kekeh renternir itu.
Renternir itu tetap memberi 2 pilihan kepada keluarga pak Suparno, untuk meninggalkan rumah tersebut atau memberikan Aninda sebagai gantinya.
Melihat Aninda beberapa waktu yang lalu, renternir tersebut ingin menawarkan kesepakatan untuk menguntungkan kedua belah pihak. Ia sangat tertarik dengan kecantikan alami yang dimiliki putri pak Suparno tersebut. Dengan melunaskan hutang-hutang pak Suparno, renternir itu bermaksud untuk menjadikan Aninda sebagai istri ke tiganya.
Bahkan ia juga sudah mendapat izin dari kedua istrinya untuk bisa menikah lagi, bagaimana tidak semua istrinya disogok dengan perhiasan berlian demi mendapatkan izin dari Meraka.
"Saya punya penawaran lagi untuk anda, jika anda tidak dapat melunasi hutang anda, sebagai ganti putri anda akan ku persunting Menjadi istri," tawaran yang mematikan dari renternir tersebut.
Pak Suparno adalah ayah yang bertanggung jawab sekaligus sebagai sosok ayah yang penyayang terhadap putrinya. Mendengar tawaran tersebut ia malah merasa geram dengan renternir itu. Tidak mau mengambil keputusan gegabah pak Suparno sangat menahan rasa emosinya.
Aninda yang mendengarnya dari dalam kamar, merasa dadanya tambah sesak, matanya berkunang-kunang ingin rasanya ia pingsan saat itu juga. Namun tubuhnya masih kuat, hanya pikirannya yang sedikit sakit.
"Bagaimana ini pak, ibu tidak mau anak kita dijadikan tumbal!" Ibu Ratna panik tak ingin mempunyai menantu yang usianya tidak jauh beda dari sang ayah.
"Apa maksut anda Bu Ratna, tumbal! Anda menghina saya?" Kata renternir dengan mata yang melotot hampir keluar dari tempatnya.
"Dasar orang miskin, beraninya menghina saya!" Imbuhnya lagi.
Aninda bergegas keluar untuk mendinginkan suasana yang semakin lama semakin panas, antara orang tuanya dan renternir itu.
"Maafkan orang tua saya pak, saya janji sebelum jam 8 uang bapak sudah berada dalam genggaman!" Ujar Aninda meyakinkan sekaligus melerai perdebatan.
"Oke jam 8 malam saya akan kesini lagi, pikirkan kembali tawaranku anak manis. jadilah anak yang berbakti kepada ibu dan ayahmu. jangan biarkan mereka tidur di jalanan. bukan hanya itu aku juga akan membahagiakanmu dengan kemampuanku kamu bisa meminta segala sesuatu kepadaku, mobil, rumah atau berlian semua akan aku berikan jika kau mau menjadi istriku!" Dengan langkah yang sergap renternir itu berjalan melewati pintu dan berlalu menghilang dari pandangan Aninda sekeluarga nya.
"Jangan harap bisa memiliki putriku satu-satunya, ibu rela tidur dibawah kolong jembatan, dari pada harus menikahkan putri ibu dengan dia!" ibu Ratna terlihat sangat kebingungan, raut wajahnya semakin terlihat pucat. ia juga hampir saja terjatuh lantaran mendengar ucapan renternir.
ingin sekali ibu Ratna berteriak, memaki-maki laki-laki hidung belang tersebut. lantas semua itu tidak akan menyelesaikan masalah, hanya malah menambah permasalahan. jadi ia hanya bisa diam menahan rasa yang bercampur dihatinya.
"Ibu tenang, mana mungkin Aninda menikah dengan laki-laki yang sudah berkeluarga, Aninda juga tidak mau Bu," tutur Aninda menenangkan sang ibu.
"Maafkan kami ya nak, kamu harus terbangun di tidurmu yang seharusnya jam segini masih terlelap dan bermimpi indah."
"Tak mengapa ayah, nanti Aninda usahakan secepatnya mendapatkan uang itu."
Ibu Ratna hanya terdiam, ia tak mampu berbuat apa-apa, dan hanya bisa mengandalkan suami dan ayahnya.
"Sudah ibu akan memasak di dapur dulu, ibu takut terlambat menyiapkan sarapan dan bekal kalian!"
Aninda pun kembali ke kamarnya, ia masih mondar-mandir memikirkan cara untuk melunasi hutangnya.
Ia mulai mengetik pesan entah akan dikirim kemana.
"Selamat pagi bapak, maaf mengganggu, apakah tawaran bapak hari lalu masih berlaku?" Isi pesan teks tersebut yang siap terbang melayang kepada tujuan.
"Saya butuh bantuan, sebagai ganti saya akan mendonorkan organ tubuh saya, akan tetapi bapak harus menjamin kesehatan saya sampai benar-benar pulih sediakala." Isi pesan teks kedua.
Terlihat sudah dikirim dan dibaca, namun belum ada respon dari sana.
Didalam mobil Dhaneo sudah bersiap, ia tampak lebih segar pagi ini. Ketika mobil perlahan berlaju ia meraba celananya dan mengambil sebuah hp di sakunya.
Dhaneo membaca dengan teliti, tampak ia membacanya berulang kali.
"Dasar kampungan!" Umpatnya, lalu ia tertawa terbahak-bahak.
Azka yang melihatnya dari spion penasaran, apa yang tengah terjadi pada Tuannya tersebut.
"Dasar bodoh!" Dhaneo masih cengengesan melihat layar di ponselnya.
"Azka, nanti sore jemput seseorang dan bawa dia di hadapanku!"
"Siapa Tuan, apakah klien kita?"
"Kamu akan tahu sendiri nanti!"
Jawaban dari Dhaneo membuat Azka mati penasaran, ia masih menduga-duga siapa yang akan dijemputnya.
"Apakah nyonya muda Vella? Kemaren Tuan terlihat berantakan, mengapa hari ini bisa cerah kembali." Tanyanya dalam hati.
Dikamar Aninda masih menunggu balasan Dhaneo, namun tak kunjung ada panggilan atau pesan yang masuk. Akhirnya Aninda memberanikan diri untuk menghubungi Dhaneo.
Baru saja akan memencet tombol panggilan, namun sudah ada panggilan masuk dari Tuan Dhaneo.
"Jika kamu ingin bantuan ku, datanglah ke kantorku hari ini!"
"Iya Tuan, sepulang bekerja, saya akan ke kekantor Tuan!" Jawab Aninda lirih dan sedikit ragu.
"kamu akan dijemput asisten ku , jadi jangan buat ia menunggu!" Gertakan Dhaneo membuat ia terdengar seram.
"Baik Tuan, Terimakasih banyak Tuan," kata kata Aninda yang dibuat selembut dan semanis mungkin.
Suar telepon terputus membuat Aninda membuang nafas panjangnya dan merasa lega.
Dimeja makan tercium wangi nasi goreng yang khas,ibu Ratna sudah membuatkan nasi goreng, salah satu makanan favorit putrinya, Aninda.
Setelah mandi dan berdandan sederhana, Aninda tak langsung keluar dari kamarnya, ia kembali meletakkan kepalanya sebentar bersandar di tempat tidur.
5 menit kemudian Aninda bergabung dengan ayah dan ibunya untuk sarapan. Namun kali ini ada yang berbeda, Aninda tampak muram tak seceria seperti biasanya.
Tak ada angin, tak ada hujan tiba-tiba ia juga meminta maaf kepada ibu dan ayahnya, karena belum bisa membuat mereka berdua bahagia.
Ia bertingkah seolah-olah besok adalah hari terakhirnya hidup di Dunia.