Sepulangnya Sinta, Aninda masih saja belum tenang.
Ia masih saja merenung mencari jalan keluar.
"Andai aku menemukan lampu ajaib Aladin, meskipun diberi tiga permintaan, aku rela hanya meminta satu permintaan. Yaitu uang Dua ratus juta rupiah saat ini juga!" Khayalannya.
Kakinya berjalan mondar-mandir memutari kamarnya dengan seragam kerja yang masih melekat ditubuhnya.
"Ya Tuhan turunkan malaikat untuk membantuku, jika ia laki-laki aku akan menikahinya, jika ia perempuan akan ku jadikan ia saudara Perempuanku!, Aninda masih dalam ke haluannya.
"ehh kok suami, mana mungkin laki-laki yang banyak uang mau menikah dengan janda sepertiku."
"Ya ampun Aninda, jangan bercanda, ini masalah serius, kamu sudah berani menjanjikan uang dua ratus juta rupiah hanya dalam waktu tiga hari kepada renternir itu, kamu harus cari cara bagaimana mendapatkannya. Bukan malah berhalusinasi tidak jelas!" Dengan gusar mengusap wajahnya dengan kedua tanganya, ia terus berbicara dengan dirinya sendiri.
"Falcao Dhaneo Abraham, Direktur utama
PT. ABRAHAM JAYA MANDIRI," Aninda membaca kartu nama yang ia ambil didalam saku rok span pendeknya, sontak mata dan mulutnya terbuka lebar-lebar.
"Ya Tuhan, jadi aku berdebat dengan orang penting di restauran tadi!" Ujarnya tak percaya.
"Kenapa ia memberikan kartu nama ini, bahkan tadi anak buahnya berkata menawarkan bantuan, jika aku dalam kesulitan bisa menghubungi orang yang berada didalam kartu nama tersebut." Aninda bertanya-tanya dalam hati.
"Apakah aku harus meminta bantuan kepadanya, lantas apakah ia bersedia membantuku, memberikan uang yang nilainya cukup fantastis dengan percuma? Bagaimana ini Tuhan." Tuturnya lagi.
Suara pesan masuk di ponsel Aninda menghentikan rasa penasarannya terhadap Dhaneo.
"Apakah kau sedang memikirkan ku?" Sebuah pesan misterius dari nomer yang tak dikenal, Aninda masih memperhatikan dengan teliti nomer tersebut.
"Jika kau butuh bantuan ku, jangan sungkan-sungkan memohon kepadaku," isi teks pesan ke dua.
Aninda belum membalasnya, ia semakin merasa pusing dengan keadaanya saat ini. Masalah yang terus berdatangan membuatnya semakin susah untuk berfikir secara jernih.
"Siapa orang-orang ini kenapa mereka datang di kehidupanku, sedangkan aku saja tak mengenalnya!"
Ditempat lain, Dhaneo merasa kesal lantaran baru kali ini pesannya di abaikan, apa lagi dia hanya seorang waiters di restauran kakaknya itu.
"Awas saja, aku akan membuatmu memohon untukku nikahi!" ancamnya dalam hati.
Tiba-tiba suara panggilan masuk berbunyi, belum melihat siapa yang menghubunginya, Dhaneo sudah terlalu percaya diri bahwa yang menghubunginya itu adalah Aninda.
Dhaneo sengaja belum mengangkat panggilan masuk di ponselnya, ia masih berpikir itu adalah Aninda . Tak beberapa lama kemudian dengan malas ia menekan tombol jawab. Dhaneo dikagetkan dengan suara yang tidak asing di telinganya, manja, dan pintar merayu.
Dhaneo melihat kembali layar hpnya, dan mendengarkan setiap ocehan dari seseorang yang berada diseberang sana.
"Sayang, akhirnya kamu mau menjawab telepon dariku, aku minta maaf sayang, telah mengecewakanmu. Aku sudah memikirkannya, aku sudah siap mengandung anak kita!" Rayuan perempuan tersebut, iya benar itu adalah istrinya Dhaneo, Vella Claurin.
"Kamu masih punya nyali untuk menghubungiku, bahkan membicarakan anak kepadaku!" Jawab Dhaneo dengan dingin.
Hal itu membuat Vella menjadi panik, ia takut kejadian yang tak disengaja itu sudah diketahui oleh suaminya, Dhaneo.
Namun ia berusaha tetap tenang, dan merayu suaminya lagi. Ia sangat percaya Dhaneo masih sangat mencintainya dan akan menerima ia kembali.
Vella beranggapan posisinya aman sebagai orang yang paling dicintai Dhaneo, namun ia terlalu percaya diri akan hal tersebut.
"Sayang, aku tau kamu masih marah kepadaku, apakah kau tidak rindu kepadaku? Aku sangat merindukanmu, Dhaneo!"
Dhaneo tetap menjawab pertanyaan Vella dengan dingin, meskipun didalam hatinya saat ini sedang hancur Lantaran rindu dan benci sedang berperang didalam hatinya.
"Aku berjanji, sepulangnya dari Swiss, aku akan mewujudkan mimpimu sayang." Tutur Vella sangat meyakinkan.
Dhaneo tidak lagi menjawab, dengan cepat menutup teleponnya.
Ia mengingat kembali penghianatan istri yang sangat dicintainya, disaat ia ingin melepaskan wanita pujaan hatinya tersebut, hatinya terasa tersentuh dengan rayuan istrinya tadi.
Namun penghianatan yang dilakukan istrinya, tak mungkin bisa dimaafkan.
"Ah, sial!" teriak Dhaneo frustasi.
"Azka," disusul teriakan Dhaneo memanggil asistennya.
"Antar aku pulang, kepalaku rasanya mau meledak!" Perintah Dhaneo.
"Baik Tuan, apakah tuan baik-baik saja? perlukah saya membopong Tuan!"
"Kamu jangan menambah rasa sakit kepalaku Azka, cepat kita segera pulang!"
Dengan cepat Azka membukakan pintu ruangan Dhaneo, dan mengikuti Dhaneo dari belakang.
Mobil sport Ferarri Roma berwarna hitam itu melaju dengan cepat, membelah jalanan. Dhaneo ingin pulang, ia ingin segera tidur agar puing-puing yang bertebaran di kepalanya segera musnah.
Mobil mewah itu berhenti tepat di depan pintu utama Rumah Dhaneo, wajahnya yang merah padam membuat ia tampak mengerikan, seperti seekor singa yang kelaparan dan siap menerkam mangsanya.
Dhaneo Bahkan tidak menggubris, sapa para pelayan, bahkan ia meninggalkan Azka tanpa sepatah katapun dan menghilang begitu saja.
"Dhaneo," panggil sang mama.
"Mama belum tidur? Kepalaku pusing, Dhaneo ingin segera tidur ma!" Dengan wajah yang pucat pasi menaiki tangga dengan cepat berlalu tak terlihat dibalik pintu kamarnya.
Mama Belia yang merasa cemas, segera membuatkan s**u panas dan membawakan obat untuk Dhaneo.
Dhaneo terbujur lemas tak berdaya, merebahkan badanya dengan posisi tengkurap, masih menggunakan Jaz dan sepatu.
Pak ujang mengetuk pintu, dan memasuki kamar Dhaneo.
"Segera lepaskan sepatu dan pakaian tuan muda!" perintahnya kepada beberapa pelayan bawahannya.
Dhaneo sendiri sudah lemas terkulai di atas tempat tidurnya, dengan pakaian dinas lengkapnya. Ia hanya ingin cepat memejamkan mata agar terbawa ke alam mimpi dan lari dari realita kehidupan nyata.
"Kenapa lagi Tuan muda?" Tanya pak Ujang kepada Azka.
"Saya juga tidak menahu pak Ujang, tadi sepertinya tuan muda berbicara dengan seseorang ditelepon. Dalam sekejap tuan muda mengeluh sakit kepala dan ingin pulang!" Penjelasan Azka.
"Atau mungkin yang berbicara ditelepon tadi nyonya muda, Vella? tutur ya lagi.
"Bisa jadi begitu, lantas apa yang harus kita lakukan!" Tanya pak Ujang.
"Biarkan tuan muda beristirahat pak Ujang, mari kita keluar," ajak Azka untuk meninggalkan kamar Tuan Dhaneo.
"Kenapa kalian seperti netigen yang suka ghibah!" Suara Dhaneo menghentikan langkah mereka, Azka dan pak Ujang.
"Maaf Tuan, saya pikir Tuan sudah tidur dengan pulas." Jawab Azka gelagapan.
"Keluarlah kalian, jangan ghibah didalam kamarku! Ah kalian menambah rasa sakit di kepalaku saja. Azka ambilkan wiski untukku, dan temani aku minum malam ini." Perintahnya.
"Kamu tak perlu khawatir, temani saja aku sebentar, mana mungkin aku menyuruhmu minum, sedangkan istri dan anakmu menunggumu dirumah!"
"Baik Tuan, segera saya kembali." Balas Azka yang buru-buru keluar karena malu.
Diluar, mama belia sudah berdiri tegap dan siap untuk masuk kamar Dhaneo, ia ingin segera mengetahui keadaan Dhaneo, putranya.
"Apakah putraku baik-baik saja pak Ujang?"
"Jangan khawatir nyonya, tuan muda hanya kecapekan dan ingin segera beristirahat,"
"Syukurlah, biarkan ia tidur."
"Andai Vella dirumah, ia pasti akan merawat suaminya dengan baik." Batin mama belia, yang tidak menahu adanya putranya dalam keadaan seperti ini adalah akibat dari perbuatan si menantunya.
Mama belia menuruni anak tangga dengan hati-hati, ia merasa lega putranya dalam keadaan baik-baik saja.
Ia selalu berdoa agar Vella cepat kembali kerumahnya.
Lalu Azka muncul dengan membawa sebotol minuman beralkohol ditangannya, ia segera masuk ke kamar Dhaneo.
Dhaneo yang semula bersandar ditepi tempat tidurnya, seketika bangun setelah melihat Azka masuk kamarnya. Perlahan ia berjalan menuju balkon kamarnya. Langkah yang lemas, tatapan yang kosong, sudah seperti orang yang frustasi.
"Segera tuangkan untukku!"
"Baik Tuan."
"Azka, bukankah aku sudah bilang, jika sudah diluar jam kerja panggil saja aku dengan nama!"
"Maaf Tuan, em maaf Dhaneo sebenarnya aku takut denganmu, kau seperti singa yang tengah kelaparan!"
"Entahlah AZ, tuangkan lagi untukku," Dhaneo enggan memberi tahu perasaannya kepada Azka.
"Jangan terlalu banyak minum Dhan! Ingat besok pagi buta kita ada perjalanan keluar kota, untuk menghadiri peresmian pembukaan Hotel bintang lima Pak Alex." Tutur Azka menjelaskan dan hanya di tanggapi Dhaneo dengan sekali anggukan kepala.
Diruang tamu terlihat mama belia dengan gelisah memegang ponsel ditangannya seakan mau menghubungi seseorang namun ia masih ragu melakukannya.
Akhirnya mama belia memutuskan untuk menghubungi seseorang diseberang sana.
"Sayang ini mama, sudah lama kau tak pulang rumah, sebenarnya apa yang tengah terjadi di antara kalian?"
"Mama tenang saja, mama jaga diri baik-baik, Vella masih di Swiss ma. Kalau kerjaan Vella sudah selesai pasti aku pulang ma!" Ternyata mama belia sedang menghubungi menantunya, ia sangat gelisah memikirkan pernikahan putra dan menantunya tersebut.
"Kenapa tidak pernah mengabari mama nak, mama sangat khawatir."
"Maaf ma, Vella terlalu sibuk hingga lupa mengabari mama,"
"Baiklah sayang, juga jaga dirimu baik-baik disana dan segeralah pulang pasti suamimu sangat rindu!"
Suara telepon terputus menandakan obrolan mereka sudah berakhir, mama belia sedikit merasa lega mendengar suara Vella.
Bagaimanapun ia akan tetap membantu Dhaneo dan Vella untuk kembali bersama. Vella adalah mantu idaman baginya, derajatnya yang seimbang dengan keluarganya ditambah Vella merupakan perempuan yang cukup berprestasi.
"Mang Ujang," panggil mama belia.
"Iya nyonya, ada yang bisa saya bantu," Jawab mang Ujang.
"Azka masih di atas, atau ia sudah pulang?"
"Mas Azka masih di atas nyonya, masih menemani tuan Dhaneo. Saya dengar mereka sedang mengobrol bersama di balkon kamar Tuan Dhaneo.
"Bawakan mereka makanan ringan mang Ujang, sekalian berikan beberapa buah apel dan pisang untuk mereka,"
"Mang saya tolong lebih perhatikan Tuan Dhaneo lagi, apapun yang diperlukan layani ia dengan baik!" Imbuh mama belia lagi.
"Baik nyonya!" Jawab mang Ujang mantab.
Malam semakin larut, membuat suasana rumah yang sudah sepi menjadi lebih hening. Mama belia menjadi semakin merasa kesepian, ia selalu membayangkan betapa bahagianya jika rumah ini di isi dengan tangisan anak Dhaneo.
Saat merasa dirinya hidup sendirian, ia sampai meminta kepada almarhum suaminya agar segera menjemputnya. Ia ingin hidup abadi dengan sang suami, rasa kesepian yang kerap kali melanda membuat mama belia sering berbicara melantur, pikirannya kemana-mana.
Ponsel Dhaneo tiba-tiba berbunyi, ada pesan masuk dari Aninda. Disitu ia menanyakan maksud dan tujuan Tuan Dhaneo memberikan kartu nama untuknya.
Dan ia juga bertanya, siapakah Tuan Dhaneo hingga Sudi menawarkan bantuan kepada Aninda, ia masih belum bisa tidur dengan nyenyak. Bukan hanya karena masalah hutang piutang tersebut, namun juga dengan Tuan Dhaneo.
Tuan Dhaneo sendiri yang masih asik menikmati segelas wiski Yanga berada ditangannya enggan untuk membaca pesan Aninda, ia ingin menikmati ketenangan yang baru ia dapat dengan meminum minuman beralkohol tersebut.
Sekilas Azka melirik nama yang tertera di ponsel tuan Dhaneo, ia tahu batal hancurnya perasaan Tuan Dhaneo saat ini. Mungkin dengan mendatangkan wanita baru itu akan sedikit membantu menyembuhkan lukanya.
Namun Azka masih meragukan kehadiran Aninda, kenapa harus Aninda yang dipilih tuan Dhaneo. Masih banyak perempuan yang lain, yang seimbang dengannya dan mampu menyaingi Vella kelak.
Akan tetapi ia kembali berfikir, Tuan Dhaneo pasti sudah memikirkannya dengan matang-matang. Tidak diragukan lagi setiap sesuatu yang sudah menjadi keputusan tuan Dhaneo akan berbuah manis.