Dhaneo tidak ingin membicarakan maksut perkataan nya tadi sekarang, karena ia sudah sangat lapar dan ingin melahap habis hidangan didepannya.
"Pergilah, suatu saat aku yakin kamu akan datang sendiri kepadaku!"Ujar Dhaneo lirih, ia merasa iba terhadap Aninda yang berubah memelas wajahnya.
"Tuan berbicara sangat pelan, kupingku tidak dapat menjangkaunya."
"Pergilah!" Bentak Dhaneo tak sengaja, yang membuat nyali Aninda untuk berbicara lagi menciut.
"Kenapa ia marah-marah kepadaku!" Psikopat, kadang baik, kadang dingin, kadang nyebelin huh," umpat Aninda kesal menghadapi Dhaneo.
"Siapa sih dia, restoran besar bukan hanya ditempat ini! Kenapa ia harus memilih makan di restoran ini lagi? Eemm tau ah kenapa aku jadi pusing memikirkan nya. Mau makan disini kek, di planet luar angkasa atau di dasar laut, bukan urusanku!" Aninda Ngomel-ngomel sendiri sedangkan kakinya melangkah meninggalkan Dhaneo.
Sinta yang juga sedang sibuk melayani pelanggan matanya tidak berkedip melihat ketampanan Dhaneo dari kejauhan, ia adalah gadis pecinta opa - opa Korea.
"Beruntung sekali Aninda, bisa melayani pria tampan mirip salah opa korea!" Serunya.
Melihat Aninda mengobrol dengan Dhaneo, membuat Sinta semakin kepo, ia sangat berantusias untuk mencari tahu apa yang sedang di inginkan laki - laki tampan tersebut. Sehingga lama sekali Aninda dan Dhaneo berbicara.
sinta menghampiri Aninda, ia menanyakan apa yang tengah terjadi kepada Aninda dengan seorang tamu yang ketampanannya melebihi batas normal itu.
"Siapa yang kamu maksut? pria stress itu!" Jawab Aninda kesal.
"Jangan ngawur deh Nin, laki-laki gagah, tampan dan terlihat sangat berwibawa seperti itu mana mungkin sakit jiwa?"
"Coba saja kamu dekati, pasti ia akan menggigit lenganmu!"
Kedua mata Sinta terbelalak mendengar ucapan Aninda, ia pun tidak bertanya lagi.
"Sayang sekali jika memng benar ia mengalami gangguan jiwa, mungkinkah aku bisa membuatnya sembuh seperti film-film yang ada di tv, kemudian di jatuh cinta kepadaku dan kami menikah," Sint terus berkhayal, membayangkan halusinasinya sendiri membuat ia cengengesan sendiri.
"Azka, tak lama lagi aku ingin menikahinya, buat dia datang sendiri memohon kepadaku!" Suara Dhaneo di meja ujung yang sedang menyusun rencana.
"Tapi Tuan kenapa ha…"
"Jangan membantahku Azka, lakukan saja apa yang aku perintahkan!"
Azka terdiam, ia mengingat kembali saat Dhaneo memerintahkan untuk mencari tau asal-usulnya gadis yang ingin dinikahinya itu.
Azka terkekeh, karena mengingat status Aninda yang bukan gadis lagi. Ia bertanya - tanya didalam hatinya kenapa Dhaneo memilih janda untuk menjadi istri mudanya.
Diputar kembali otaknya untuk mencari cara membawa wanita itu bersedia menjadi istri ke 2 Dhaneo.
Di rumah Aninda saat ini, orang tuanya masih berdiskusi tentang pekerjaan baru yang didapat ayah Aninda. Perasaan lega dan bahagia meski penghasilan tak seberapa.
Ayah Aninda, pak Suparno. Mendapatkan pekerjaan baru, meskipun bukan menjadi karyawan di perusahaan seperti pekerjaannya dulu, kali ini ia diterima bekerja hanya menjadi tukang kebun disalah satu kantor pemerintah di kota tersebut.
Ibu Ratna senang sekali mendengarnya, meskipun tidak bekerja di perusahaan besar lagi, namun sudah bisa sedikit mengurangi beban Aninda, putrinya.
"Maafkan ayah Bu, ayah sudah berusaha keras untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dari ini," ujar pak Suparno.
"Tidak mengapa ayah, masih bersyukur masih mendapatkan pekerjaan yang halal! ketika anak kita pulang nanti, pasti Aninda akan senang mendengarnya," balas ibu Ratna.
"Iya Bu, besok ayah sudah mulai bekerja, do'akan ayah, semoga suatu saat nanti ayah bisa membahagiakan ibu dan putri kita, Aninda."
"Aamiin yarobbal alamiin, tentu saja doa ibu selalu menyertai ayah dan putri kita."
Ibu Ratna akhirnya bisa tersenyum lebar, lalu ia beranjak pergi meninggalkan suaminya untuk ke dapur menyiapkan cemilan buat Aninda, karena hari ini Aninda akan pulang lebih cepat.
Kembali ditempat kerja Aninda, hari ini restauran lebih ramai pengunjung dari biasanya. Membuat betis Aninda terasa berat dan panas, pinggangnya juga terasa nyeri, hari ini adalah hari yang melelahkan bagi Aninda.
Hari semakin sore, sunset perlahan tenggelam tanpa meninggalkan jejaknya, Aninda dan Sinta bersiap-siap untuk pulang.
Ditengah perjalanan Aninda menuju halte bis, sebuah mobil Ferarri Roma berwarna hitam berplat D N 3 O mengikutinya dari belakang.
"Ngerasa nggak sih sin, ada yang mengikuti kita?"
"Jangan nakut-nakutin aku nin, gimana kalau kita diculik lalu dimutilasi, dan mayat kita akan dibuang di jurang?"
Pertanyaan bertubi-tubi Sinta terhadap Aninda, yang saat itu merasakan ketakutan yang luar biasa.
Aninda memilih lebih tenang, ia memberanikan diri memutar tubuhnya untuk melihat siapa yang sedang mengikutinya saat ini.
Seketika mobil itu berhenti, bersamaan mengikuti langkah kaki Aninda yang terhenti, Aninda bertanya - tanya didalam hatinya, siapakah orang yang berada didalam mobil mewah itu.
Tadinya Aninda mengira, orang yang mengikutinya tersebut adalah renternir yang menagih hutang orangtuanya, namun perkiraan Aninda salah ketika tak lama kemudian Azka keluar dari dalam mobil menghampirinya.
"Maaf nona, saya ingin memberi penawaran yang baik untukmu,"
"Siapa kamu! lantas apa mau mu?"
"Eh, Bukan kah dia adalah teman dari orang gila tadi," batin Aninda didalam hati.
Azka lalu mengeluarkan kartu nama didalam saku jaz nya dan memberikan kartu nama tersebut kepada Aninda.
"Apa ini?" Aninda bertanya kembali, meskipun pertanyaan yang sebelumnya belum juga dijawab oleh laki-laki yang berdiri tegak didepannya.
"Ini adalah kartu nama Tuan saya, jika nona sedang dalam kesulitan anda bisa menghubungi nya!" Tutur Azka dengan jelas.
Aninda masih tak mengerti dengan perkataan Azka, belum sempat ia bertanya kembali, Azka sudah pergi meninggalkan Aninda dengan beribu pertanyaan dalam benaknya.
"Maksutnya apa coba,"dengan memutar ke kanan dan ke kiri kartu nama yang ia pegang tanpa ia baca.
Aninda kembali menghampiri sinta mengajak Sinta untuk segera pulang, bukan Sinta namanya jika ia tidak mengebom pertanyaan kepada sahabatnya tersebut, lantaran ia masih kepo atas kejadian barusan tadi.
"Kamu kenal sama orang tadi?" Tanya Sinta singkat.
"Kita hampir setiap hari bersama dari kecil hingga kita dewasa, kenapa masih bertanya sin. Mana mungkin aku mengenal orang kaya seperti itu, kamu tidak melihat, mobilnya saja terlihat mewah, pasti harganya mahal!"
"Terus, siapa orang tadi nin, apakah mereka komplotan mafia perdagangan organ manusia?"
Aninda mencubit lengan Sinta dengan gemas.
"Terlalu banyak nonton film jadinya gini nih, halu banget!" Pekik Aninda.
Sesampainya di depan halaman rumah, Aninda dikejutkan dengan suara teriakan ibunya, Ratna.
Ia mulai panik dan bergegas masuk kedalam rumah, mencari tahu apa yang sedang terjadi sehingga membuat ibu Ratna berteriak dan menangis. Betis yang terasa berat seketika tidak berasa apa - apa mendengar teriakan ibunya.
Sinta yang juga mendengar suara teriakan ibu Aninda membuat ia berlari menyusul Aninda, ia hanya bisa berdiri di ambang pintu menyaksikan tragedi menyedihkan yang sedang di alami sahabat kentalnya.
"Keluarkan semua baju - baju mereka, segera usir mereka dari sini!" suara bentakan keras seorang laki-laki kepada bodyguard - bodyguardnya, untuk mengusir keluarga Aninda dari rumahnya sendiri.
"Berikan saya waktu pak, saya berjanji akan segera melunasinya," pinta ayah Aninda memelas, ia berlutut di kaki renternir tersebut, memohon agar diberi waktu lagi untuk melunasi hutangnya.
"Ibu, ayah apa yang sudah terjadi?" Tanya Aninda panik.
"Ayahmu tidak dapat melunasi hutang-hutangnya, dan rumah ini akan segera saya sita untuk membayar hutang ayahmu!" Sahut renternir jahat itu.
"Saya mohon tuan, beri saya waktu tiga hari untuk melunasi semua hutang orang tua saya," Tutur Aninda dengan lembut meyakinkan si renternir untuk memberikannya waktu selama tiga hari. Dengan memasang wajah melas, dan suara yang lembut untuk mencuri hati seorang renternir tersebut.
"Jika dalam waktu tiga kali dua puluh empat jam kamu tidak melunasi hutang ayahmu, kalian segera angkat kaki dari sini!" bentak renternir tersebut lalu menghilang begitu saja meninggalkan kediaman rumah pak Suparno.
Aninda dan ibu Ratna yang juga dibantu Sinta, segera membereskan semua pakaian dan barang barang yang sudah diacak - acak oleh anak buah renternir, pakaian yang berserakan keluar dari dalam tempatnya, barang - barang seperti perabotan dapur, dan beberapa perabotan rumah yang lain.
Sebenarnya Aninda sangat lelah, kakinya tadi sering kram namun keadaan membuat tubuhnya kembali kuat, untungnya ada Sinta yang membantunya membereskan semua barang - barang kembali rapi ketempat semula.
"Maafkan orang tuamu nak, menyuguhkan pemandangan buruk kepadamu," ujar ayah Aninda frustasi, selama ini pak Suparno tidak pernah menitihkan air mata di depan istri dan anaknya, namun kali ini dengan perasaan bersalah ia tak bisa membendung lagi air mata kesedihannya.
"Ayah tidak perlu meminta maaf, ini semua salah Aninda. Aninda yang menyebabkan ayah berhutang kepada renternir tadi," ucap Aninda menyalahkan dirinya.
"Tidak nak, itu bukan salahmu! Sudah menjadi kewajiban kami sebagai orang tuamu untuk merawatnya, membesarkan mu dan menikahkan mu juga salah satu kewajiban kami," sahut ibu Ratna.
"Sin, terimakasih telah membantuku, pasti kamu sangat lelah, pulanglah beristirahat dan maafkan aku selalu merepotkan mu."
"Eh apa ini, kenapa kamu berfikiran seperti itu. Aku tidak pernah merasa direpotkan olehmu," Sinta sngat perhatian kepada Aninda, ia menggenggam eram tangan Aninda memberi transfusi
Kekuatan melalui support yang diberikan.
Aninda dengan lemas berjalan masuk ke kamarnya, ia terlihat gusar, matanya sudah tak mampu mengeluarkan air mata, sangking bingungnya ia juga tidak nafsu makan.
Sinta berusaha menguatkan Aninda, ia juga akan membantu Aninda semampunya.
"Aku harus apa sin, dari mana aku mendapatkannya, siapa yang sudi pinjaman uang kepadaku?" Matanya hanya berkaca - kaca tanpa mengeluarkan air mata, tubuhnya merasa lemas memikirkan perihal hutang piutang dengan renternir tersebut.
"Pasti ada jalan Aninda, setiap permasalahan pasti ada jalan keluar," Sinta sebisa mungkin berusha menenangkan Aninda.
Aninda merasa pusing, ia sudah tidak bisa menemukan jalan keluar saat ini, tidak ada yang bisa ia lakukan kali ini selain berdoa mendapatkan mukjizat. Tuhan memang memberi ujian berat hanya teruntuk orang hebat, namun mampukah Aninda menyelesaikan permasalahan keluarganya.
"Dalam waktu tiga hari harus kemana aku mencari uang sebanyak itu, Ya Tuhan bagaimana ini." Keluh Aninda.