Dhaneo memberikan kado spesial untuk Azka, melihat kedua buah hati azka ia membayangkan bagaimana mereka akan bermain kelak, jika rumahnya sempit. Untuk mengajari mereka berdua berjalan butuh ruang yang lapang bukan.
Kecintaannya dengan anak kecil selalu membuat hati Dhaneo luluh, tak banyak yang tahu Dhaneo juga memiliki yayasan untuk menampung para anak yatim piatu, jumlahnya sudah mencapai seratus lebih.
Disana Dhaneo bukan hanya memberi tempat tinggal dan makanan gratis, ia juga membangun mesjid dan sekolah untuk anak - anak yang tidak mampu. Bersekolah dan mengaji dengan gratis, namun beberapa bulan terakhir ia jarang kesana untuk mengunjungi mereka, lantaran kesibukannya yang sangat luar biasa. Dhaneo adalah malaikat bagi mereka, semua anak - anak yang tinggal di yayasan tersebut selalu mendoakan Dhaneo agar ibu sekaligus ayah bagi mereka tersebut dipanjangkan umurnya, dimudahkan urusannya, dan selalu mendapat Rizky yang melimpah ruah.
azka bagaimana keadaan istri dan anakmu, apakah kamu suka dengan apartemen barumu?" Dengan kaki yang menyilang, duduk santai seraya tersenyum dengan tenang.
"Baik Tuan, mereka bertiga dalam kondisi sehat, pemulihan pasca operasi Caesar dengan cepat berangsur pulih. Dan untuk hadiah apartemen yang luar biasa tersebut saya ucapkan terimakasih banyak tuan, entah dengan cara apa saya bisa membalasnya!" Tutur Azka, bahagia sekaligus bangga dengan bos yang murah hati itu.
"Cukup setia kepadaku, dan kerja dengan baik sudah cukup untukku Azka!"
"Baik Tuan, sekali lagi saya mengucapkan terimakasih," saut Azka yang kegirangan dihadiahi sebuah apartemen yang lebih besar dari tempat tinggalnya yang dulu.
"Apakah kau sudah mencari tahu tentang gadis itu?" Dhaneo teringat suatu hal yang membuat ia menanyakan hal itu kepada Azka.
"Sudah tuan, ia adalah seorang janda yang belum lama ditinggal mati suaminya, dan ia adalah anak tunggal dari orang tuanya. Namun ada permasalahan yang berat yang sedang ia dan keluarganya hadapi saat ini," jelas Azka yang membuat Dhaneo tak percaya.
"Benarkah dia sudah menjada, bukankah ia masih sangat muda?" Tanyanya lagi, membenarkan pendengarannya kembali.
"Benar tuan, namun ia masih belum memiliki keturunan."
Didalam ruangan direktur utama itu, Azka merapatkan duduknya lebih mendekat dengan meja direktur Dhaneo. Mereka berdua membicarakan perihal sosok misterius yang sedang mencuri perhatian Dhaneo.
Setelah mendengarkan permasalahanya, Dhaneo mencekik keheranan. Lalu ia memerintahkan Azka untuk mendapatkan sosok gadis yang ia inginkan itu tentu saja dengan syarat yang dibuat olehnya.
Ia sudah merencanakan maksud tujuannya dengan sungguh - sungguh.
"Bila dengan cara ini, aku bisa membalas rasa sakit hatiku sekaligus menampar dan menjatuhkan harga dirimu Vella. Aku akan lakukan!" Umpatnya, rasa sakit yang amat dalam membuat Dhaneo tak bisa berfikir normal lagi, ia akan membalas dendam untuk apa yang dilakukan istrinya tersebut.
"Atur strategi dan bawa dia untukku!" Perintah Dhaneo lagi.
"Baik Tuan, secepatnya akan ku atur agar segera membawa ia kehadapan Tuan," Balas Azka menganggukkan kepalanya.
Setelah selesai meeting dengan beberapa kliennya, Dhaneo ingin makan siang di restauran kakaknya, Felix. Ia ingin berjumpa dengan kakaknya sekaligus mengisi perutnya yang sudah mulai berbunyi menandakan alarm jika ia sedang lapar.
Segera Azka mengantarkan tuanya ketempat tujuan Dhaneo, sesampainya Dhaneo menghampiri Felix dan Kaka iparnya, Bella terlebih dahulu. Tentu saja ia juga mengajak Azka untuk mengikutinya dari belakang.
"Dhaneo!"
Dhaneo hanya membalasnya dengan senyuman lebar, lalu ia meminta makanan kepada kakak iparnya.
"Kakak ipar, beri aku makanan kak, perutku sudah keroncongan!"
"Apakah ada janji meeting disini hari ini?" Kak Bella belum menjawab permintaan Dhaneo, malah bertanya balik.
"Tidak kak, aku hanya meminta makan, aku kelaparan," jawab Dhaneo menggoda dengan wajah yang memelas.
Kak Bella menatap ke arah suaminya, Felix. Ia mengerutkan dahinya merasa seperti ada yang aneh dengan Dhaneo. Tumben sekali Dhaneo berkunjung ke restauran kakaknya hanya untuk makan. Biasnya kalau tidak ada kepentingan ia enggan kesini.
"Baiklah, aku sendiri yang akan ke dapur memerintahkan koki untuk membuatkan makanan yang special untuk Dhan!"
Dhaneo hanya menganggukkan kepala, Felix yang memperhatikan Dhaneo dari tadi pura-pura cuek. Ia tak bertanya sepatah katapun kepada adiknya.
"Kak Felix, aku ingin berterus terang denganmu tentang permasalahan rumah tanggaku."
"Ini yang aku tunggu-tunggu dari dulu Dhan, sampai kapan kamu pisah rumah dengan istrimu! Hal ini tidak baik untuk Citra mu."
Lalu Dhaneo menceritakan perihal masalah dan penghianatan yang dilakukan istrinya, Vella. Kepada kakaknya. Bukan main, kelakuan Vella sudah melampaui batas.
Felix hampir tak percaya dengan pernyataan Dhaneo tentang Vella, namun bukti-bukti yang ditunjukkan Dhaneo kepada ia membuat Felix hampir pingsan.
"Aku tak menyangka, Vella melakukan itu dibelakang mu! Lantas apa yang kurang darimu?" Ujar Felix yang geram terhadap perbuatan Vella.
"Kak, aku mohon kakak merahasiakan permasalahan ini dulu dari mama dan kak Bella."
"Kamu tenang saja Dhan, dan segera selesaikan permasalahan mu dengannya!" Balas Felix yang masih geram terhadap adik iparnya tersebut.
"Kak Felix, perutku sudah lapar aku akan menunggu makananku diluar saja," dengan lemas ia melangkahkan kakinya, membuat Felix tak tega melihat adiknya yang sedang hancur.
Azka yang dari tadi berdiri dipojokan hanya terdiam dan mengikuti setiap langkah kaki Tuannya.
"Kita makan di tempat meja makan para tamu saja Azka!"
"Baik Tuan."
Sebenarnya Dhaneo memilih makan diluar ruangan kantor kakaknya Felix, yang berada di sudut lantai atas restoran tersebut, hanya untuk mencari sosok gadis yang menjadi senjata untuk membalaskan dendamnya.
"Kamu duduklah di sampingku , kita makan bersama, pasti perutmu juga lapar bukan?" Ajak Dhaneo
"Baik Tuan!" Jawab Azka, memang perutnya juga sudah mulai keroncongan.
Sorot mata Dhaneo mengarah ke arah pelayan yang menjamu tamu, diperhatikannya ia dengan baik dari bawah hingga atas.
"Bocah masih ingusan seperti itu, apakah benar sudah menjadi janda? Gumamnya dalam hati.
"Benar tuan!" Saut Azka.
Membuat Dhaneo melongo memandang Azka dengan penasaran, ia heran Azka bisa mendengar suara hatinya.
Azka menahan tawanya, melihat tingkah laku Dhaneo.
Dhaneo tidak sadar bahwa itu bukan suara hatinya yang bertanya, namun ia mengucapkan kalimat itu dengan lirih dan sempat terdengar oleh telinga Azka yang berada didekatnya.
Tak lama kemudian Dhaneo memanggil pelayan yang dari tadi diam-diam ia perhatikan.
Menatap wajah gadis cantik didepannya, ia merasa iba namun ia masih bersikap dingin seperti biasanya.
"Bawakan aku jus buah jeruk ukuran large dua!"
Aninda hanya menganggukkan kepalanya, tanganya mencatat pesanan Dhaneo.
"Ada tambahan lagi mungkin tuan?" Aninda tidak berani menatap wajah Dhaneo, ia menunduk menatap kertas dan bolpoin yang sedang ia pegang.
"Sudah itu saja, Tidak pakai lama." Perintah Dhaneo dengan nada sedikit keras.
"Baik Tuan!" Jawab Aninda gagap.
Aninda sebenarnya sudah mengetahui, tamu yang memanggilnya ini adalah tamu yang ia jumpai beberapa waktu lalu. Mangkanya ia malu dan menundukkan kepala tanpa melihat wajah Dhaneo.
"Azka, apa ada yang salah dengan wajahku? Apakah aku sudah kelihatan menua?" Bom pertanyaan dilontarkan Dhaneo kepada Azka.
Ia mengoreksi dirinya sendiri, karena barusan Aninda tidak mau melihatnya, bahkan meliriknya pun tidak sama sekali.
Azka kembali menahan tawa, ia merasa atasannya sudah mulai tidak beres. Tidak dilirik pelayan saja sudah membuatnya gusar.
Tak lama kemudian kak Bella datang membawakan makanan special untuk Dhaneo dan Azka, ia juga menawarkan beberapa menu yang lain jikalau makanan yang ia bawa masih kurang untuk mereka berdua.
"Ini sudah cukup kak."
"Cepat makan, cacing diperut mu nanti keluar!" Goda kak Bella, lalu kembali keruangan kantor suaminya.
Aninda datang membawa minuman pesanan Dhaneo, dengan hati-hati ia memindahkan gelas yang berisi jus buah, dari nampan ke atas meja.
"Aninda."
"Iya tuan, apakah tuan mengenaliku!"
"Apakah kau sudah gila?" Dhaneo tidak menjawab pertanyaan Aninda, malah ia mengatai Aninda adalah perempuan gila yang membuat Aninda kesal.
"Maaf tuan, saya kira Tuan mengenali saya!"
"Bodoh!" Tanganya menunjuk ke arah d**a Aninda.
Aninda reflek menutupi dadanya dengan kedua tanganya, jemarinya menyelip ke belahan ketiak kanan dan kirinya.
"Apa yang sedang kamu lakukan?" Tanya Dhaneo heran.
"Tuan tidak sopan, menunjuk ke arah d**a saya!" Tutur Aninda.
"Argh…" Wajah Dhaneo memerah ia menahan rasa geramnya kepada Aninda.
"Aninda, Nama nametag di bajumu itu!"
"Oh… Maafkan saya Tuan, saya ti…"
"Diam, cepat pergi dari sini, aku tidak ingin selera makan ku hilang karena melihatmu."
"Baik Tuan," kepalanya tertunduk karena malu dan sangat kesal kepada Dhaneo.
Sebelum Aninda melangkahkan kaki, ia terhenti karena Dhaneo mengucapkan sesuatu.
"Kamu masih mempunyai hutang kepadaku," ucap Dhaneo yang membuat Aninda terperangah.
Aninda mengingat-ingat kejadian tempo hari, ia baru teringat menumpahkan sesuatu ke Jaz mahal Dhaneo.
"Mati aku! Kenapa ia masih mengingatnya, Andai aku mempunyai kantong ajaib Doraemon akan ku buat ia melupakan ingatannya," Pekik Aninda.
Lalu ia membalikkan badan menghadap Dhaneo.
"Hmm… Iya Tuan, beri saya waktu untuk menggantikannya!" Pinta Aninda tulus.
"Kamu tidak harus membayarnya, cukup menggantinya dengan yang lain!"
Aninda mengernyitkan keningnya, ia bingung akan maksut Dhaneo tersebut. Ia takut Dhaneo seperti tamu tempo hari yang ingin bermaksud melecehkannya.
Aninda ingin sekali berteriak kencang, mengapa masalah tak henti - hentinya bermunculan, ia masih dengan posisi yang sama, berdiri tegak dihadapan Dhaneo.
Pikirannya melayang kemana - mana, ingin sekali saat ini juga ia jatuh pingsan dan tak ingin sadar. Ia sangat lelah menghadapi semua ini sendiri tanpa support dari orang yang dicintainya, iya Aninda selalu teringat mendiang almarhum sang suami ketika ia sedang dalam masalah.
"Mas aku rindu kepadamu, aku bagai hidup sendirian di bumi ini, semesta tidak lagi bersahabat denganku."
"Susul aku mas, bawa aku pergi bersamamu, aku sudah tidak tahan lagi dengan semua ini," rintihannya dalam hati terus menerus tak berhenti meratapi nasibnya saat ini. Ia menahan air matanya untuk tidak jatuh dihadapan Dhaneo, ia tidak ingin terlihat lemah dihadapan orang lain meski hatinya sedang rapuh.
"Ibu ayah, bantu Aninda untuk menghilang dari sini, kenapa banyak sekali orang - orang yang senang melihat Aninda menderita, Aninda tidak pernah menyakiti siapapun, kenapa mereka ingin sekali membuat Aninda terjebak dalam masalah," tak henti - hentinya ia bergumam didalam hatinya.
Dhaneo melihat raut wajah Aninda berubah menjadi wajah orang yang terlalu banyak tekanan masalah, mendengar cerita Aninda dari Azka membuatnya terpaku menyaksikan Aninda yang masih berdiri didepannya.
"Tenanglah, aku tidak akan menyusahkan mu, aku hanya ingin menawarkan kerja sama yang saling menguntungkan untuk kita, aku akan membantumu menyelesaikan masalahmu, dan kamu juga aku butuhkan untuk membantu membalas dendam rasa sakitku" Ucap Dhaneo dalam hatinya.