Bab 5. Ujian bertubi-tubi

1655 Kata
Belum kering air matanya setelah meninggalnya sang suami, Aninda saat ini juga harus menjadi tulang punggung keluarganya. Mau tak mau ia harus memeras keringatnya untuk mencukupi keperluan dirinya sendiri beserta kedua orang tuanya, Gaji Upah minimun regional Aninda juga belum ia dapatkan, lantaran ia baru 2 Minggu bekerja. Sedangkan tabungan yang diberi almarhum suaminya kian hari kian menipis. Sebenarnya Aninda mendapat Uang asuransi kematian sang suami senilai 100 juta rupiah, akan tetapi ia merasa tidak berhak menerimanya. sebagian ia serahkan untuk orang tua suaminya dan sebagian lagi ia sumbangkan ke panti asuhan atas nama suaminya, Aninda berharap para anak yatim piatu yang tinggal di panti asuhan tersebut agar mendoakan almarhum suaminya tenang di akhirat. Saat ia merasa letih sehabis pulang dari bekerja, Aninda harus mendengar seorang rentenir mendatangi rumahnya untuk menagih hutang orang tuanya. Aninda mengusap wajah dengan kedua tanganya, bagaimana ia bisa membantu melunasi hutang ayahnya, jika gajinya saja hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan pangan. Ia hampir frustasi memikirkan masalah yang bertubi-tubi menerpanya, namun Aninda adalah perempuan yang tangguh ia kembali berfikir mencari jalan keluar untuk menyelesaikan masalah- masalahnya saat ini. "Aku tidak boleh lemah, aku harus segera mendapatkan uang itu secepatnya," ujarnya. Setiap bulan ayahnya harus membayar bunga hingga sepuluh persen, belum lagi dengan hutang pokoknya. Jadi Aninda ingin segera melunasinya agar hutang ayahnya tidak semakin membengkak. Ibu Ratna yang sedari tadi khawatir, anaknya mendengarkan percakapan antara ayah dengan renternir itu, buru- buru Bu Ratna mendatangi Aninda ke kamarnya. "Nak, apakah kamu lapar? Ibu akan segera menghangatkan makanannya, kamu pasti lapar dan lelah setelah seharian bekerja," Imbuhnya lagi. "Tidak Bu, Aninda sudah makan di restauran! Pemilik restauran sangatlah dermawan, semua karyawan mendapat jatah makan Bu," jawab Aninda. Ibu Ratna menatap wajah anaknya dengan sendu, ia sangat sedih melihat anaknya yang baru saja berduka masih harus menderita karena bekerja mencukupi kebutuhan rumah ini. Ibu Ratna tak membahas apapun soal renternir tadi, ia tak ingin menambah beban pikiran anak semata wayangnya tersebut. Bu Ratna mendekat lalu mengusap kepala Aninda, ia menahan tangisnya. Tak ingin memperlihatkan kesedihannya didepan Aninda, Bu Ratna ingin sekali mengakhiri penderitaan ini namun tidak banyak yang bisa ia lakukan lantaran ia tak berdaya. "Apakah ayah dan ibu sudah makan? Tanya perempuan cantik yang sedang membaringkan kepalanya dipangkuan ibu Ratna. "Mana bisa ayah dan ibu makan tanpa menunggumu nak, Ayuk kita makan malam bersama!" Pintanya. "Ya ampun Bu, kenapa harus menunggu Aninda? Cepatlah makan Bu nanti ibu sakit." Ujar Aninda, ia terharu sekali mendengar orang tuanya yang menunggunya hanya sekedar ingin makan saja. "Kami tidak bisa enak-enakan makan dirumah, sedangkan putri ibu harus bekerja keras diluar sana!" Tutur ibu Ratna, matanya mulai berkaca - kaca namun sebisa mungkin ia tahan. Tanganya kembali mengusap-usap kepala Aninda dengan lembut. Ia lebih merasa hancur melihat anaknya yang masih muda sudah menjadi janda dan harus menopang kehidupannya. Tak sadar Aninda meneteskan air matanya, ia sudah berusaha menahannya namun pertahanan nya bocor. Segera tangannya menyeka air mata yang keluar membasahi pipinya. Ia tak ingin terlihat menyedihkan Dimata orang tuanya, ia selalu menunjukan bahwa dirinya memang sedang dalam keadaan baik-baik saja. Lalu ia bergegas mandi, dan menemani orang tuanya makan malam bersama. Aninda ingin sekali membahagiakan kedua orang tuanya namun ia masih belum mampu melakukannya. Setelah selesai, Aninda pamit pergi tidur terlebih dulu kepada ayah dan ibunya. Ia masih memperlihatkan ekspresi wajah riangnya. Aninda sangat pintar menyembunyikan kesedihannya. "Ayah, ibu jangan khawatir, Aninda pasti menemukan jalan keluar untuk membantu ayah dan ibu melunasi hutang kepada renternir itu." Ujar Aninda, ia tak ingin orang tuanya merasa sendirian merasakan beban deritanya. Pak Suparno dan ibu ratna terpaku, mereka terdiam tak tahu harus berkata apa. Kedua orang tua Aninda merasa bersalah lantaran menambahi beban pikiran anaknya yang masih berduka. Namun beda halnya dengan Aninda, ia tak sedikitpun merasa terbebani dengan ujian yang terus menimpanya. Ia juga berjanji akan secepatnya mendapat uang tersebut untuk segera melunasi hutang orang tuanya. Didalam kamar, ia teringat dengan almarhum suaminya. Ia sangat rindu kepada sosok laki-laki yang sangat baik yang mau menerima aninda apa adanya. "Mas kenapa kamu tega ninggalin aku, bahkan sebelum kita melewati hari menjadi pasangan suami istri!" Air matanya keluar dengan begitu deras hingga membasahi serban bantalnya, matanya lalu menatap ke atap ia membayangkan jika suaminya saat ini masih hidup, ia tak akan menderita seperti ini. Tak pernah Aninda bayangkan sebelumnya, ia akan menjadi janda di usia muda. Lalu Matanya perlahan-lahan terpejam dan masuk kedalam alam mimpi ketika ia mulai merasa letih menangis meratapi nasibnya. Bu Ratna ya sedari tadi berada di ambang pintu kamar Aninda, menatap anaknya, samar-samar ia melihat anaknya sedang menangis dari kejauhan. Menambah rasa perih dalam lubuk hatinya. "Andai ibu bisa menulis takdir, akan ibu tulis kehidupanmu dengan penuh kebahagiaan nak!" Batin ibu ratna yang tak bisa membendung lagi rasa sedihnya melihat putrinya menangis terisak-isak. Lalu ia menutup pintu kamar Aninda kembali setelah Aninda tertidur, dengan lemas ia berjalan meninggalkan kamar Aninda dan duduk di depan ruang tv. Ia tak bisa menyembunyikan air matanya lagi, ibu Ratna menangis sejadi-jadinya. Ia menyayangkan kenapa nasib putrinya tak seberuntung yang lain. Ibu Ratna juga menyalahkan dirinya sendiri dan suaminya, karena merasa tidak bisa membahagiakan anak semata wayangnya. "Bu kamu kenapa?" Tanya pak Suparno, terbangun mendengar Isak tangis seseorang, ternyata itu adalah istrinya yang berada di ruang tv bersebelahan dengan kamar tidurnya. Bu Ratna tak menjawab, tangisannya malah semakin keras, dengan kedua tangan membungkam mulutnya berusaha menutupi mulutnya agar suara tangisannya yang semakin keras tidak membangunkan Aninda. Pak Suparno mendekat, ia hanya bisa menenangkan Bu Ratna. Setelah Bu Ratna merasa tenang ayah Aninda langsung memapahnya berjalan masuk ke kamar. Malam semakin larut, ia tak ingin Aninda atau tetangga mendengar tangisan istrinya tersebut. Didalam kamar Bu Ratna menceritakan keluh kesahnya yang tak kuasa berbuat apa-apa untuk sang putri. Ia meminta agar suaminya berusaha untuk bekerja lagi agar tidak menambah beban untuk putrinya. Keesokan pagi sebelum Aninda bangun, ibu Ratna memasak makanan kesukaan putrinya, ia ingin membuat putrinya merasa senang. IBu Ratna juga sudah membersihkan semua halaman rumah serta semua sudut rumah sudah ia bersihkan, hingga saat Aninda bangun putrinya tinggal bersiap diri dan sarapan pagi. Waktu sudah menunjukkan pukul 6 pagi, hari ini aninda bangun kesiangan. Ia kelelahan bekerja belum lagi semalaman ia menangis teringat almarhum suaminya sehingga terkuras habis energinya. Ibu Ratna memang sengaja tidak membangunkan Aninda, lantaran ia kasihan melihat putri semata wayangnya kelelahan bekerja. Ibu Ratna biasanya akan membangunkan Anaknya itu satu jam sebelum aninda berangkat bekerja. Aninda yang baru saja membuka matanya, lalu menatap dengan seksama ke arah jam alarm di atas nangkas, ia masih mengumpulkan separuh nyawanya yang tak tahu melayang kemana. Setelah nyawanya terkumpul, pandangan matanya mulai jelas seketika ia terbangun dan bergegas membantu ibunya membersihkan rumah. Namun setelah ia melangkahkan kakinya ke arah halaman rumah, ia melihat halaman rumahnya yang sudah bersih, sekumpulan tanaman dan bunga pun sudah basah seperti sudah ada yang menyiraminya. Lalu ia kembali masuk kerumah, melewati kamar orangtuanya, tak sengaja ia menengok ke dalam dan mencari sosok kedua orag tuanya, namun Ayah dan ibunya tidak berasa disana. Ia melanjutkan langkahnya kembali menuju dapur, disana ia mencium aroma masakan kesukaannya. "Hmm harum sekali," batinnya, yang membuat cacing-cacing yang ada didalam perutnya berontak. "Ayah, ibu!" sapa Aninda terhadap orang tuanya. "Sayang kamu sudah bangun, mandi dulu sana, lalu kita sarapan bersama." Ibu Ratna berusaha setenang dan seceria mungkin untuk membuat Aninda bersemangat kembali. Dimeja makan terlihat ayah Aninda sudah rapi memakai Hem dan celana panjang berwarna hitam. Membuat Aninda penasaran, kenapa pagi sekali ayahnya sudah rapi, dan rumah sudah bersih. Ibunya pun sudah menyiapkan hidangan makanan yang lezat di atas meja. "Ayah dan ibu mau kemana, sudah rapi sekali?" Tanya Aninda penasaran. "Ayah hari ini akan berjuang lagi untuk mencari pekerjaan kembali nak," saut ibu Ratna dan ayahnya, pak Suparno hanya menganggukkan kepala dengan menunjukan senyuman yang hangat. Aninda pun bertambah semangat, ia bergegas mandi, suasana hatinya kembali membaik. Langkahnya semakin ringan, senyumnya kembali merekah. Pagi itu Aninda beserta ibu dan ayahnya sarapan pagi dengan suasana hati yang bahagia, mereka juga mengobrol dengan hangat mengingat kembali masa kecil Aninda, dimana ayahnya sangat bahagia memiliki putri yang sudah mandiri dari kecil. Aninda memang anak tunggal, namun ia tak pernah merasa kesepian lantaran ibu dan ayahnya sebisa mungkin selalu menemaninya saat bermain, atau saat ia sedang belajar. Lingkungan keluarga yang baik dan rukun memang sangat berpengaruh dengan pertumbuhan anak, meskipun Aninda terlahir dari keluarga yang pas - Pasan, namun Aninda berhasil tumbuh dengan baik dan menjadi kebanggaan kedua orang tuanya. Tak lama kemudian suara Sinta membuyarkan obrolan hangat keluarga Aninda, ia segera bersiap - siap untuk berangkat bekerja bersama Sinta. "Kenapa nggak masuk sin, sudah sarapan?" Tegur aninda. "Ini nih, gara - gara lihat film yang lagi viral, jadi baper aku Nin. Menikah itu menakutkan sepertinya?" Dengan mengacungkan hp nya, memperlihatkan adegan film dilayar hp Sinta kepada Aninda. "Hus, nggak boleh berkata begitu! Namanya juga hidup Sinta pasti banyak ujiannya, kalau banyak cucian itu loundry!" Jawab Aninda bercanda, membuat kedua sahabat ini tertawa terbahak - bahak. "Baiklah Bu ustadzah, baiklah saya mengerti," saut Sinta lagi. "Mari kita mencari Rizky, untuk menyewa dekor pengantin nanti," ucapan sinta membuat Aninda kaget, mereka berdua saling bertatapan. "Jum!" Suara lantang yang kompak dari Aninda dan Sinta, keduanya saling merangkul erat dan pergi meninggalkan rumah Aninda dengan langkah kaki yang ringan dan penuh semangat. Ditengah pertengahan jalan hingga sampai di tempat kerja, mereka masih saja bercanda gurau membahas soal pernikahan. Sinta memprediksi jika ia akan didahului lagi oleh Aninda, dengan sangat yakin Aninda akan menikah lagi terlebih dahulu dari pada Sinta. Hal itu membuat Aninda semakin tertawa melihat sahabatnya Sinta yang berbicara tidak ada hentinya. Aninda bersyukur sekali memiliki sahabat seperti Sinta yang selalu membuatnya tersenyum dengan tingkah polah Sinta yang sedikit culun namun sangat lucu. Sinta adalah sosok sahabat yang baik dan sangat menyayangi Aninda. mereka berdua tidak pernah bertengkar, meskipun ada pertikaian kecil penyebabnya pasti soal berebut makanan seperti anak kecil. Gurauan mereka terhenti ketika sudah waktunya bekerja, mereka tampak sibuk dengan tugas masing - masing, begitupun dengan teman yang lain.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN