2 Minggu sebelumnya , Dengan mengangkat koper seorang wanita turun dari dalam taksi, Berjalan menuju arah gang rumahnya.
"Aninda," panggil sang ibu yang selesai membersihkan halaman rumah sederhananya.
"Ibu," dengan mata berkaca - kaca menahan air mata, lalu memeluk ibunya dengan begitu erat.
"Masuk dulu nak," papah ibu Ratna, ibunya aninda.
Aninda adalah anak satu - satunya dari orang tuanya, ia baru saja dinikahi seorang manager sebuah perusahaan.
Lalu diboyong oleh sang suami ke kota kelahirannya, belum genap 1 bulan meninggalkan rumah kedua orang tuanya, Aninda pulang dengan wajah sendu dan muram.
"Bu hiks hiks hiks!" tangisan Aninda pecah dipangkuan sang ibu.
"Kenapa nak, Apakah kamu disakiti suamimu?" Tanya ibu Ratna.
"Tidak Bu hiks hiks hiks," balas Aninda dengan terbata bata, ia belum bisa berbicara, air matanya tidak bisa berhenti menetes hingga membasahi celana ibu Ratna.
"Lalu kenapa kamu menangis, Apakah kamu kangen ayah ibumu? Tanya Bu Ratna lagi.
Butuh beberapa waktu untuk mengambil nafas lalu Aninda menceritakan semua hal yang menimpanya kepada ibu Ratna, seketika suasana rumah begitu hening, Kabut duka menyelimuti Rumah kedua orang tuanya tersebut.
Ia tidak dapat menghubungi orang tuanya karena keterbatasan ekonomi, ponsel ayahnya dijual untuk menyambung hidup.
Setelah menikahkan putri semata wayangnya, Perusahaan tempat ayahnya bekerja mengalami masalah, dan mengurangi beberapa karyawan. salah satunya adalah ayah aninda yang tidak beruntung mendapat PHK tanpa pesangon.
"Istirahatlah nak, ibu akan siapkan makanan untukmu," ujar ibu Ratna mengelus lembut kepala Aninda.
"Tidak ibu, Aninda akan mandi dulu baru beristirahat, dan Aninda juga belum lapar!" saut Aninda.
"Nak kamu masih sangat muda, masa depanmu masih panjang Jangan berlarut dalam kesedihan," nasehat ibu Ratna terhadap anaknya.
"Iya Bu, Aninda hanya butuh waktu sendiri saja untuk sementara waktu dan menenangkan diri!" kedua tangannya menyeka linangan air mata yang keluar dari kedua matanya, tidak bisa dipungkiri ujian yang di alaminya sangatlah berat, wajar jika Aninda tidak bisa berhenti menangis.
"Baiklah setelah mandi jangan lupa sarapan dulu ya!" Ibu Ratna dengan lembut memeluk tubuh putrinya yang semakin kelihatan kurus itu.
Aninda tidak bisa menjawab, hanya menganggukkan kepala lalu menjatuhkan badan dan semua beban yang ia pikul kedalam pelukan ibunya.
Setelah beberapa hari keadaan Aninda semakin membaik, tak seperti saat pertama kali aninda pulang kerumahnya, ia berusaha bangkit kembali untuk menata masa depannya lagi.
"Aninda!"
"Sinta!"
Sinta melangkahkan kakinya menghampiri Aninda, sahabat karib yang sudah lama tidak berjumpa, kedua sahabat itu berpelukan cukup lama, untuk mengobati rasa rindu mereka.
"sahabat kecilku," ujar Aninda.
Aninda dan Sinta dulunya bagai pinang dibelah dua, kemanapun Aninda dan Sinta selalu pergi bersama, bermain, sekolah, bahkan sering sekali Sinta menginap dirumah Aninda begitupun sebaliknya.
"Kangen sin!" ucap Aninda manja.
"Sama sayang, mm," Sinta semakin mempererat pelukannya.
Mereka lalu bergegas masuk rumah, mengobrol dan bercanda di ruang tamu. Ibu Ratna mendengar suara Sinta langsung membawakan minuman dan cemilan untuk mereka berdua.
"Bibi jangan repot - repot," ucap Sinta malu - malu.
"Kalau tidak ada Aninda, kamu juga jarang jenguk bibi sin, sedih bibi Ratna jadinya!" ibunya Aninda meledek Sinta dan akhirnya mereka bercanda sebentar dengan ibu Ratna sebelum ibu Ratna pergi kebelakang meninggalkan mereka berdua untuk mengobrol bersama.
Setelah mereka berdua menghabiskan waktunya untuk melampiaskan rasa rindunya, Aninda menceritakan semua yang di alaminya kepada sahabat kentalnya itu. Sinta yang mendengar cerita Aninda hanya bisa memberikan support dan pelukan hangat untuk sedikit menghibur Aninda.
sebagai seorang sahabat ia tak bisa melakukan banyak hal, selain mendoakan semoga Aninda diberi ketabahan dan kesabaran serta keikhlasan untuk ujian yang sedang dihadapinya.
"Rencana mu kedepan apa Nin? tanya sinta.
"Aku ingin mencari pekerjaan sin! kalau ada info lowongan kerja, kabar - kabar yach!" Saut Aninda bersemangat, ia sudah merasa lega karena banyak orang - orang baik yang mengelilinginya.
"Kamu sekarang kerja dimana sin? Tanya balik Aninda.
"Aku kerja di restauran besar , dan saat ini restauran membutuhkan banyak waiters Nin, kalau kamu mau kerja sama aku, nanti aku bantu bilang ke managerku." Tawaran kerja dari Sinta menambah semangat Aninda, ia sangat berantusias untuk bekerja kembali.
"Mau sin," jawab Aninda, senyum merekah keluar dari bibirnya.
keesokan harinya,setelah sarapan pagi Aninda dan Sinta bergegas menuju restauran tersebut.
Mereka berdua berjalan beriringan ke arah halte bis yang berada dipinggir jalan raya, Aninda dan Sinta menunggu bus di halte tersebut. benar sekali mereka berdua menaiki kendaraan umum untuk bisa sampai ke tempat tujuan mereka.
Setibanya didepan restauran, Dua wanita muda itu melangkahkan kakinya menyusuri parkiran yang begitu luas, hingga melewati pintu masuk Restauran yang Besar nan mewah tersebut.
untuk para karyawan sudah ada pintu masuk tersendiri, dibelakang.
Aninda yang memiliki daya tarik tinggi membuat para karyawan laki laki tidak mengedipkan mata mereka hanya untuk memandang perempuan cantik ini.
"Nin, disuruh masuk keruangan pak Vito!" Ujar Sinta kepada sahabatnya itu.
Aninda hanya menganggukkan kepala sebagai tanda ia mengerti.
Tok tok
"Masuk."
"Selamat pagi pak Vito," sapa Aninda dengan sopan.
"Pagi."
"Aninda Baha Prameswari, Lulusan SMAN 1 Senopati." ucap pak Vito dengan lantang.
"Iya pak," kepala Aninda mengangguk-angguk.
Dengan seksama dan sangat serius pak Vito membaca berkas Biodata Aninda yang sedang ia pegang di tangannya.
"Aninda mulai besok kamu boleh bekerja disini, patuhi semua peraturan dan SOP Restauran, kamu mengerti!"
Seketika senyum manis terpancar dari wajah cantik aninda, dengan lega ia membuang nafas panjangnya.
"Alhamdulillah, baik pak Vito, saya akan bekerja dengan baik dan mengikuti SOP Restauran dan terimakasih," sembari mengulurkan tangannya untuk berjabatan tangan dengan manager Restauran yang akan menjadi tempatnya bekerja esok hari.
Aninda keluar ruangan dengan wajah riang, akhirnya dia bisa bekerja dan membantu perekonomian ke dua orang tuanya lagi.
"Gimana nin? Tanya Sinta penasaran
"Besok aku sudah mulai bekerja sama kamu disini sin!" jawabnya bersemangat.
"Alhamdulillah," mereka berdua saling berpelukan dengan erat.
Sinta juga sangat bahagia bisa bekerja satu tempat dengan sahabat kecilnya.
Para karyawan laki-laki disitu ikut bersorak gembira atas diterimanya Aninda menjadi team baru mereka.
"Alhamdulillah, semangat bekerja sama bidadari!" ucap salah satu karyawan disana, sontak membuat semua karyawan yang mendengarnya menghujat dan menertawainya.
"Dasar kamu buaya darat."
"Kadal!"
"Garangan!" Saut beberapa karyawan lainya.
Lalu Aninda bergegas pulang, setelah sampai dihalaman rumah Aninda buru - buru masuk mencari ibunya, ia ingin segera memberi tahu ibu Ratna bahwa besok ia sudah bisa mulai bekerja.
Alarm berbunyi menunjukan waktu pukul jam 5 pagi, Aninda segera bangun dan membantu ibunya bersih-bersih dan menyiapkan sarapan pagi untuk mereka bertiga.
"Ibu, Aninda maafkan ayah ya! ayah sudah mendatangi beberapa perusahaan untuk melamar pekerjaan, namun tidak ada satu pun yang mau menampung ayah menjadi salah satu karyawannya," ujar ayah Aninda lirih, dengan tatapan sendu.
"Tidak mengapa yah, semoga Aninda bisa sedikit membantu beban ayah sama ibu!" ucap Aninda meyakinkan keluarganya bahwa semua akan baik - baik saja.
Setelah sarapan dan berpamitan kepada kedua orang tuanya, seperti biasa Aninda berjalan ke depan gang rumahnya, untuk mendapatkan angkutan umum yang akan membawa ia ke tempat tujuan. Hari ini adalah hari ke 10 Aninda bekerja di restauran ternama tersebut.
Aninda adalah wanita yang baik, berkharisma dan sangat humble, ia tak pernah mengeluh dengan kondisi keluarganya.
"Janda muda cantik, sexy, indah dipandang mata!" Ujar pak Vito sang manager saat diam-diam memperhatikan Aninda dari atas sampai kebawah.
"Pelayan!" terdengar seorang Tamu yang berada di meja ujung itu memanggil Aninda.
" Iya Tuan, Ada yang bisa saya bantu?" Aninda sangat ramah tamah dan selalu menebar senyum kepada setiap pengunjung restauran.
"Saya pesan Steak, hidangkan steak special di restauran ini untuk saya!"
"Baik Tuan," balas Aninda dengan ramah dan senyuman manis di pipinya.
Tak butuh waktu lama, Aninda kembali dengan membawa pesanan tamunya.
"Temani saya makan!"
Pengusaha paru baya itu memaksa Aninda untuk menemaninya makan bersama, namun Aninda menolaknya karena harus kembali bekerja melayani tamu yang lain.
"Ayolah jangan sok jual mahal!"
Sontak Aninda kaget, karena tangannya dipegang dengan sedikit diremas oleh lelaki tersebut.
"Apakah bisa Temani saya malam ini, saya akan bayar kamu mahal," tawar lelaki itu dengan lidahnya menjilati bibir bawahnya sendiri, membuat Aninda merinding geli.
"Maaf Tuan saya tidak bisa, saya akan segera kembali untuk mengantarkan pesanan Tuan yang lain" tolak lembut Aninda kepada laki-laki hidung belang tersebut.
"Dasar, wanita miskin yang sok suci!" umpat tamu restoran itu.
"Ya Tuhan, Jauhkan aku dari laki-laki hidung belang seperti itu, bahkan bapak lebih pantas menjadi bapak saya!" umpatnya dalam hati, dengan salah satu tangannya Mengelus dadanya, dan segera pergi meninggalkan meja itu.
Aninda sangat kecewa jika ada seorang laki - laki melecehkan perempuan seperti itu. Apakah dengan harta semua bisa dibeli, kenapa dengan gampangnya seseorang menghina yang lainnya dengan mudah hanya karena mereka beruang. Hal ini masih mengganggu pikiran Aninda.
"Hai, kenapa melamun!" Tegur sinta.
"Aku sangat kesal, ada tamu yang begitu tamak dan kurang ajar," jelas Aninda dengan raut wajah cemberut seperti pakaian kusut.
"Itu sudah menjadi hal yang biasa sayang, sudah jangan dipikirkan lagi, jika kita tidak menanggapinya mereka juga tidak berani mengejar lagi!" Balas Sinta menenangkan Aninda yang baru pertama mengalami hal demikian.
Aninda mulai bekerja kembali dengan semangat, ia tak menghiraukan ucapan lelaki tersebut dan memilih mengabaikannya. Ia hanya ingin bekerja dengan baik dan jujur.
Memang beberapa tamu hari ini senang sekali menguji kesabaran Aninda, kebanyakan dari mereka selalu mengganggu dan menggodanya.
Bukan hanya para tamu, bahkan teman seprofesinya juga sering memperhatikan Aninda diam - diam, namun mereka tidak berani berbuat melampaui batas. Hanya sekedar cuci mata.
Tingginya 172 cm, kulitnya bersih dan mulus , wajahnya sangat berseri - seri meskipun ia tidak pernah memakai make up tebal seperti yang lain.
Kinerja Aninda juga bagus, Aninda cekatan dalam hal apapun itu,tanpa perhitungan ia juga suka membantu pekerjaan teman yang lain, jika pekerjaannya sendiri sudah selesai.
Siapapun yang berada didekatnya pasti nyaman dan senang, Sayang sekali di usianya yang masih sangat muda Aninda sudah menyandang status menjadi janda. Namun hal itu tidak pernah membuat ia merasa rendah diri.
Dijadikan semua ujian yang menimpanya adalah sesuatu ujian yang sangat berharga baginya, setidaknya Aninda adalah janda terhormat yang ditinggal mati oleh suaminya, bukan janda hasil perceraian karena sesuatu masalah.
Kita punya keinginan, harapan, dan tujuan namun Sang kuasa yang akan menentukan bagaimana nasib seseorang kedepan itu seperti apa, tidak ada yang tahu semua itu masih menjadi rahasia ilahi.