Tyo berpikir keras, tapi ia harus cepat menjawab. Ia tak ingin membuat hati gadis yang ia cintai, kecewa. Namun soal menikah adalah perkara kesiapan. Bukan perkara mudah. Tak cukup hanya cinta saja. "Menikah bukan perkara mudah." "Ya terus--apa, yo?" desaknya. Kepalanya sudah mau meledak. "Key, bukan aku nggak mau menikah dengan kamu," katanya lirih. "Kita--jauh berbeda. Kamu pasti..., ingin pernikahan impian kamu terwujud. Pernikahan terjadi satu kali untuk seumur hidup. Kamu pasti membangun mimpi-mimpi indah di sana. Aku... nggak ingin menjadi penghancur mimpi indah itu." Tyo merasa gamang. "Apa--pernikahan impian kamu?" tanya Tyo yang sangat ingin tahu jawaban dari Key detik ini juga. "Untuk apa menanyakan--kalau kamu sendiri berat untuk menikahi aku!" Key bangkit, Tyo sampai me

