Key hanya melambaikan satu tangan kepada Hilda. Berhati-hati melewati tembok kosong, berpegangan untuk menjaga tubuhnya agar tak jatuh karena saat ini ia sedang memakai high heels dan jalan yang ia lewati cukup berbatu. Sama seperti tadi ia mengingat alamat, rumah ketiga dari tembok kosong ini. Dan langkahnya terhenti, "ini mungkin bercak darah Tyo?" ia bertanya di dalam hati sambil meraba tembok kosong yang kasar, Key berpikir wajar saja kalau Tyo sampai berteriak kesakitan ketika tersimpan tadi. "Kamu sinting! Meluapkan kekesalan dengan menyakiti diri sendiri." Gumamnya. Melanjutkan langkah hingga terhenti di pintu kontrakan nomor 03. Ia lalu mengetuk pelan pintu kontrakan yang sangat sederhana itu. Beberapa kali ia mengetuk, namun tak juga ada jawaban dari dalam sana, "Tyo ini aku Key

