Di tengah kegalauan hati Key kehilangan seseorang yang telah memenuhi seluruh hidupnya dengan cinta. Ada telepon dari Sofia, Key mengangkatnya. Hari Minggu ini ia hanya diam saja di dalam kamar, sementara Rey dan Hilda menemani kakek lari pagi. "Hallo Sof! Ada apa menelepon aku, tumben?" Key melangkah pelan menuju balkon, kemudian duduk di beanbag. "Hai, apa kabar?" ia bertanya sebelum menjawab. "Hah, selama aku nggak menemui kamu di Rumah Sakit, tentu aku baik-baik saja, dokter." "Perasaan kamu?" "Soal perasaan... cukup aku dan Tuhan saja yang tahu." "Key, aku masih ... simpan jadwal pasien aku atas nama ... Prasetyo Nugroho!" ucapnya tanpa beban. Key memejam mendengar nama itu disebutkan dengan benar. "Emm..., Sof, dia..." "Dia masih ada satu kali kunjungan. Bagaimana dengann

