bc

Love Destiny

book_age18+
19
IKUTI
1.2K
BACA
family
HE
friends to lovers
kickass heroine
heir/heiress
drama
sweet
serious
kicking
bold
city
secrets
soul-swap
superpower
like
intro-logo
Uraian

Nadia—anak adopsi yang diperlakukan seenaknya. Jessica—istri yang tidak pernah dicintai bahkan setelah melakukan begitu banyak hal untuk suaminya, Theodor.

Nadia mengalami kecelakaan parah yang membuatnya meninggal, jiwanya yang seharusnya pergi ke alam baka malah terperangkap di dalam tubuh Jessica.

Nadia harus menjalani hidupnya sebagai Jessica, yang terus menerus dibuat kesal oleh Theodor dan Salsa—wanita yang sangat dicintai oleh Theodor.

Kekesalan Nadia pada Theodor dan Salsa membuatnya menyetujui menjadi kekasih pura-pura Saka Wijaya—anak tunggal keluarga konglomerat.

Bagaimana takdir Nadia ke depannya? Apakah takdir akan memecahkan misteri mengapa jiwanya berakhir di tubuh Jessica? Apakah takdir akan perlahan mengungkapkan siapa orang tua kandungnya? Dan yang terpenting apakah takdir akan membuatnya dan Saka bersatu sebagai pasangan sesungguhnya?

chap-preview
Pratinjau gratis
Gelang Berwarna Pudar
Nadia tengah sibuk menyapu lantai koridor panjang. Itu memang tugas rutinnya sebagai petugas kebersihan di kantor besar ini. Keringat mulai membasahi dahinya, namun ia tetap tekun menjalankan pekerjaannya. Sesekali ia mengusap peluh dengan punggung tangan, lalu kembali menyapukan gagang sapu dengan irama yang nyaris mekanis. Lelah, tentu. Tapi pekerjaan ini adalah tanggung jawabnya, dan ia tak pernah setengah hati menjalaninya. Saat Nadia tengah fokus mengarah ke sisi dinding, tanpa sengaja gagang sapu di tangannya mengenai seseorang yang sedang melintas di belakangnya. Duk! Suara benturan kecil itu membuat Nadia refleks memutar badan dan menunduk dalam-dalam. “Maaf, saya tidak sengaja,” ucapnya buru-buru, nada suaranya penuh penyesalan. Perempuan yang terkena sapu itu menatapnya tajam, wajahnya tampak menahan amarah yang nyaris tumpah. “Tidak apa-apa. Tapi lain kali kau harus lebih berhati-hati saat bekerja.” Meski suara perempuan itu terdengar datar, ada nada kekesalan yang tak bisa disembunyikan. Tanpa menunggu respons, perempuan itu segera melangkah pergi dengan langkah cepat. Rok pensil dan sepatu hak tingginya berderap di atas lantai marmer, seakan ia ingin segera meninggalkan tempat itu. Nadia menghela napas lega. Ia tak bisa membayangkan jika perempuan itu memarahinya di saat tubuhnya sudah terasa nyaris remuk karena lelah. Tiba-tiba, sebuah tepukan pelan di bahu Nadia membuatnya terlonjak kecil. “Lin! Kau mengagetkanku saja!” desis Nadia sambil berdecak kesal, namun tetap melanjutkan aktivitas menyapunya. Linda—teman satu divisi kebersihan—tersenyum kecil. “Apa Nyonya Jessica memarahimu?” Pertanyaannya terdengar setengah berbisik, nyaris tak terdengar jika bukan karena lorong sedang sepi. “Tidak. Untungnya tidak. Tapi… siapa dia sebenarnya? Apa jabatannya di kantor ini?” Nadia menatap Linda dengan cemas. “Aku takut kalau yang tadi itu menjadi masalah. Kau tahu, aku masih baru di sini. Belum genap enam bulan.” Linda mengangguk pelan, mengerti. “Dia tidak punya jabatan apa pun di kantor ini. Tapi suaminya... suaminya adalah Direktur Utama kantor ini.” Mata Nadia membelalak, dan wajahnya mendadak pucat. “Astaga... kalau begitu, bagaimana kalau dia mengadukan insiden tadi pada suaminya? Aku bisa dipecat, Lin...” “Kurasa tidak akan sampai seperti itu,” jawab Linda ringan, seolah hal itu bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan. Nadia mengerutkan kening, “Lin, apa maksudmu? Kau bicara seperti tahu betul soal rumah tangga orang lain.” Linda tersenyum miris. “Itu sudah jadi rahasia umum, Nad. Hampir semua orang di kantor ini tahu. Bahkan beberapa dari luar pun tahu. Aku cerita ini bukan untuk bergosip. Aku hanya tidak ingin kau terus merasa khawatir.” Linda mendekat sedikit lalu menurunkan suaranya, “Pak Direktur... dia tidak pernah menyayangi istrinya. Bahkan, banyak yang mengatakan dia tidak menganggap keberadaan Nyonya Jessica sama sekali.” Nadia terdiam sejenak. Ada rasa tidak nyaman yang menjalar di dalam dirinya. Ia memang tidak tahu latar belakang rumah tangga pasangan itu, tapi tetap saja—mendengar kenyataan seperti itu membuatnya sedikit iba. “Sudahlah, Lin. Lebih baik kita kembali bekerja. Kita bisa benar-benar dipecat kalau ketahuan membicarakan hal seperti ini,” ujar Nadia akhirnya, mencoba mengakhiri percakapan itu. Linda mengangguk, “baiklah. Jaga dirimu, ya.” Setelah itu, Linda melangkah menuju dapur, sementara Nadia kembali menyapu lantai yang seolah tak pernah selesai dibersihkan. Namun kali ini, pikirannya melayang entah ke mana—penuh tanya yang belum tentu ingin ia temukan jawabannya. ***** Jarum jam dinding di ruangan itu sudah menunjuk pukul lima sore. Tanda bahwa jam kerja hari ini telah berakhir. Bunyi detiknya terasa lebih lambat dari biasanya, seolah ikut merasakan kelelahan para penghuni kantor itu. Namun, Nadia tidak langsung beranjak pulang. Ia memilih duduk di bangku panjang ruang istirahat karyawan kebersihan, menyelonjorkan kakinya yang terasa pegal dan berat. Ia memejamkan mata sejenak, mencoba meredakan rasa lelah yang menumpuk sejak pagi. Ruang itu sederhana—bercat putih kusam, dengan satu kipas angin tua berputar malas di langit-langit. Tapi bagi Nadia, ruang itu terasa seperti tempat paling nyaman setelah seharian berkutat dengan debu dan lantai-lantai mengkilap. Pintu terbuka perlahan, dan Linda masuk dengan langkah gontai. Wajahnya tak jauh berbeda dengan Nadia—penuh letih, peluh, dan sedikit lega. “Hari ini sangat melelahkan,” ucap Linda sambil menjatuhkan diri di samping Nadia. Ia ikut menyelonjorkan kakinya, kemudian bersandar pada sandaran bangku dengan napas berat. “Tapi aku senang karena hari ini kita gajian. Aku ingin cek apakah uangnya sudah masuk atau belum.” Senyum kecil terbit di wajah Linda saat ia mengeluarkan ponsel dari saku. Ia membuka aplikasi mobile banking, dan dalam sekejap, matanya berbinar. “Masuk!” seru Linda senang. Meski jumlahnya mungkin terlihat kecil bagi sebagian orang, tapi baginya uang itu adalah hasil keringat, bukti perjuangan—dan ia sangat bersyukur. Melihat ekspresi bahagia Linda, Nadia juga ikut membuka aplikasinya. Tak butuh waktu lama hingga wajahnya mengendur, senyumnya merekah. Gajinya pun telah masuk. Namun kebahagiaan itu tak bertahan lama. Linda melirik sekilas pada Nadia, lalu bertanya hati-hati, “apa kau akan memberikan semua uang itu padanya?” Nadia hanya mengangguk pelan. “Dia adalah mamaku, Lin,” jawabnya lirih, nyaris seperti bisikan. Linda menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Ada rasa sedih sekaligus geram yang mengendap di dadanya. “Tapi dia... dia tidak pernah menganggapmu anak, Nad,” ucap Linda, suaranya serak. Ada luka yang terasa ikut terbuka setiap kali mereka membicarakan ini. Nadia hanya tersenyum tipis. Tapi senyum itu tak mampu menyembunyikan kesedihan di balik matanya. “Dia membesarkanku.” “Apakah kau tidak merasa... dirimu hanyalah investasi untuknya?” tanya Linda lagi, entah yang keberapa kali. Pertanyaan itu selalu sama, dan jawabannya pun nyaris tak pernah berubah. Nadia tidak menjawab segera. Ia menatap kosong ke arah lantai sebelum akhirnya membuka mulut. “Setidaknya, dia sudah membesarkanku. Anggap saja yang kulakukan ini adalah bentuk terima kasih.” Linda menghela napas, lalu menepuk pelan bahu temannya itu. “Aku rasa, jawaban yang kau berikan padaku tidak akan pernah berubah. Jadi mulai sekarang, aku tidak akan menanyakannya lagi. Lagi pula, aku takut kau jadi kesal karena terus menerus ditanya.” Nadia menggeleng pelan. “Aku tidak pernah kesal, Lin. Tapi aku rasa... mungkin kaulah yang akan bosan mendengar jawabanku yang itu-itu saja.” Nadia bangkit dari duduknya, menepuk-nepuk celananya yang sedikit berdebu. “Aku duluan, ya. Aku ingin membeli makanan di kantin sebelum pulang.” Nadia lalu mengambil tas lusuhnya dari dalam loker, lalu menggantungnya di bahu. “Hati-hati di jalan,” ucap Linda sambil melambaikan tangan kecil. Nadia membalas lambaian itu dengan senyum lelah namun hangat, lalu melangkah meninggalkan ruangan itu. Di balik langkah tenangnya, ada beban yang tak terlihat namun terus ia bawa—sendiri, seperti biasanya. ***** Sesampainya di kantin kantor, Nadia langsung mengarahkan langkah ke konter makanan. Hanya satu menu yang terlintas di pikirannya—ayam bumbu balado, makanan favoritnya sejak kecil. Ia bisa membayangkan pedas gurih bumbunya, bagaimana rasa itu akan menghapus lelahnya setelah seharian bekerja keras. “Pesan nasi ayam bumbu balado satu, dibungkus,” ucap Nadia, suaranya terdengar pelan. Nadia lalu duduk di salah satu bangku kosong yang menghadap jendela. Matanya menatap kosong keluar, mencoba menghilangkan lelahnya sembari menunggu pesanannya selesai. Namun tatapan Nadia teralihkan saat sosok pria tinggi berjas rapi melintas di seberang kantin, pria itu berjalan berdampingan dengan seorang perempuan yang berpenampilan anggun. Meski hanya lewat sekilas, Nadia mengenali pria itu—Direktur Utama kantor tempatnya bekerja. Sosok yang selama ini dikenal dingin dan penuh wibawa. Yang membuat Nadia terpaku bukan karena kemunculan direktur itu, melainkan ekspresi wajah sang direktur. Berbeda jauh dari keseharian pria itu yang selalu terlihat tegas dan tak ramah, kali ini ia tampak tersenyum hangat pada perempuan di sampingnya. Senyuman tulus, yang hampir tak pernah dilihat siapa pun di lingkungan kantor. Perempuan itu... Nadia merasa pernah melihatnya beberapa kali bersama sang direktur, tapi ia tidak tahu siapa namanya. Wajah itu asing, namun tak terasa asing ketika berada di sisi pria itu. Ada sesuatu di antara mereka—Nadia bisa merasakannya, meskipun hanya sebagai pengamat. Ponselnya tiba-tiba bergetar di atas meja. Sebuah pesan masuk, memaksa Nadia untuk mengalihkan pandangan. “Kau di mana? Kenapa belum pulang juga? Apakah gajimu sudah masuk?” Nadia menghembuskan napas panjang, napasnya terdengar berat. Ia mengetik balasan singkat. “Aku masih di kantor. Gajiku sudah masuk. Aku akan segera pulang.” “Ini pesanannya.” Suara dari balik konter makanan membuat Nadia menoleh. Nadia segera bangkit, menghampiri penjual dan menerima bungkus makanannya. Setelah membayar, ia keluar dari kantin dengan langkah cepat. Hari mulai gelap, dan ia ingin segera tiba di rumah. Nadia berjalan menuju halte bus yang terletak tak jauh dari pintu gerbang kantor. Halte itu sudah dipadati oleh para pekerja lain yang juga ingin pulang. Semua tempat duduk telah terisi, dan Nadia harus berdiri di pinggiran, memeluk erat bungkusan makanannya sambil sesekali melihat ke arah jalan. Tiba-tiba, pandangan Nadia tertumbuk pada seorang nenek tua di sudut tempat sampah, tak jauh dari halte. Nenek itu sedang sibuk mengais. Tanpa pikir panjang, Nadia berjalan mendekat. “Nek…” panggil Nadia pelan. Nenek itu menoleh. Wajahnya penuh kerutan, peluh membasahi dahinya, tapi senyum hangatnya langsung merekah saat melihat Nadia. “Ada apa, Nak?” tanya nenek itu lembut. Tatapan matanya memancarkan kebaikan yang tulus, seperti seorang ibu yang menyambut anaknya pulang. Nadia menyodorkan bungkusan makanannya dengan kedua tangan. “Ini untuk Nenek. Saya baru saja membelinya di kantin,” ujarnya tulus. Nenek itu menatap bungkusan itu dengan mata berbinar sebelum menerimanya dengan kedua tangan. “Terima kasih banyak, anak cantik,” ucapnya haru. Nadia tersenyum. “Sama-sama, Nek. Kalau begitu saya kembali ke halte, ya. Takut tertinggal bus.” Nadia baru hendak berbalik ketika suara lembut itu kembali terdengar, menghentikan langkahnya. “Tunggu…” Nadia menoleh, bingung. “Kenapa, Nek?” Nenek itu mengaduk-aduk isi tas kainnya yang sudah compang-camping. Lalu, dengan penuh kehati-hatian, ia mengeluarkan sesuatu—sebuah gelang dari benang dan manik-manik kecil yang sudah tampak usang, namun terlihat masih utuh. “Nenek ada gelang untukmu,” kata Nenek pelan. Ia menggenggam tangan kanan Nadia, lalu memakaikan gelang itu di pergelangannya. “Gelang ini... akan membawamu ke jalan takdir yang tidak pernah kau duga dan bayangkan. Semoga kau selalu bahagia, anak cantik.” Nadia menunduk menatap gelang itu. Warnanya pudar, bentuknya sederhana—namun ada sesuatu yang terasa hangat menjalar dari pergelangan tangannya hingga ke dalam dirinya. “Terima kasih, Nek...” ucap Nadia tulus, walau masih diliputi rasa bingung dan heran. Nenek hanya mengangguk sebagai respons, dan Nadia melangkah kembali ke halte, sesekali ia menoleh ke arah nenek yang masih berdiri di tempatnya, tersenyum lebar seperti telah menyerahkan sesuatu yang amat berarti.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.7K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.0K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
233.9K
bc

TERNODA

read
198.9K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
63.6K
bc

My Secret Little Wife

read
132.2K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook