Nadia terbangun dengan perasaan yang sangat segar. Pagi ini berbeda—tidak ada terbangun di tengah malam seperti biasanya. Sinar matahari menembus celah tirai, menghangatkan kulitnya, membuat suasana kamar terasa lebih nyaman. Perlahan, ia mengubah posisi tubuhnya menjadi duduk. Tatapannya kemudian jatuh pada pergelangan tangan kanannya. Di sana, gelang itu… kembali melingkar manis. Padahal, seingatnya gelang tersebut terakhir kali berada di dalam tas. Anehnya, ia tidak merasa terkejut lagi. Entah mengapa, kejadian ini seperti sudah menjadi hal yang wajar baginya—meski seharusnya tidak. Ketukan pintu dari luar memecah lamunan Nadia. “Masuk,” ucapnya. Pintu terbuka, memperlihatkan sosok Rani yang masuk sambil membawa sebuah nampan berisi sarapan. “Ini, Bibi buatkan bubur untuk Nyonya,” ka

