Dua Perempuan Meledak-ledak

1730 Kata
“Apa kau merasakan itu? Keanehan pada Jessica?” tanya Lily sambil menyesap pelan jus jeruk dari gelas kristal bening di tangannya. Suaranya terdengar ringan, namun sorot matanya menyiratkan kewaspadaan. Salsa mengangguk pelan, menyandarkan punggung ke sofa empuk yang mahal. “Aku merasakannya, Ma. Waktu aku menjenguknya ke rumah sakit bersama Theodor, sikapnya sangat berbeda. Dia begitu lembut dan ramah... tidak marah-marah seperti biasanya. Bahkan, dia menerima sekeranjang buah yang kubawa tanpa ekspresi sinis sedikit pun. Dia mengatakan akan menghabiskan anggur yang ada di dalam keranjang itu.” Lily mendecih, meletakkan gelasnya di atas meja kaca bundar di depan mereka. “Aku juga mengalami hal yang sama saat datang melihatnya. Padahal, aku sengaja membawakannya sushi—makanan yang dia benci setengah mati, hanya untuk memancing emosinya. Tapi dia malah tersenyum dan mengatakan akan memakannya nanti.” Lily menggeleng tak percaya. “Itu bukan Jessica yang kita kenal. Aku yakin dia sedang merencanakan sesuatu. Sesuatu yang bisa merugikan kita.” Salsa menegakkan tubuhnya. Nada bicaranya berubah menjadi lebih tajam. “Apa dia sengaja melakukan itu untuk menarik perhatian Theodor? Atau... jangan-jangan dia sedang berusaha membuat Theodor jatuh cinta padanya?” Sorot matanya meruncing, penuh amarah yang ditahan. “Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Ternyata semakin ke sini, Jessica semakin pintar. Biasanya dia menggunakan cara gila yang mencolok, sekarang dia menggunakan cara waras.” Lily menatap putrinya dengan tatapan penuh perhitungan. “Berhati-hatilah, Sal. Jangan sampai Theodor menyukainya. Kalau bisa, desak Theodor untuk segera menceraikan Jessica. Semakin cepat, semakin baik.” Lily menarik napas panjang dan menghembuskannya keras-keras, menandakan kekesalan yang tak bisa ia sembunyikan. “Kenapa dia tidak mati saja waktu menelan pil tidur sebanyak itu?” gumamnya lirih, nyaris seperti kutukan yang dilemparkan sembarangan ke udara. Salsa mencengkeram lengan sofa, rahangnya mengeras. “Mama tenang saja. Aku tidak akan membiarkan Theodor mendekati Jessica, apalagi jatuh cinta padanya. Dia sudah memilihku dan akan selalu begitu.” ***** Theodor menggenggam tangan Salsa dengan erat, langkah mereka mantap menyusuri koridor pusat perbelanjaan mewah yang dipenuhi etalase berkilau. Di antara cahaya lampu yang memantul di lantai marmer dan aroma parfum mahal yang menguar dari tiap butik, pasangan itu tampak mencolok. Mereka sedang menuju butik mahal yang sebelumnya pernah mereka kunjungi—tempat di mana mereka memesan sebuah gaun. Gaun merah menyala yang dipilih Theodor sendiri, katanya cocok untuk Salsa, warna yang akan membuatnya jadi pusat perhatian. Salsa menoleh pelan ke arah pria di sampingnya. “Theodor, tolong pikirkan sekali lagi tentang hal itu,” ucapnya pelan, penuh pertimbangan. Theodor menoleh, lalu mengerutkan kening. “Tidak perlu dipikirkan lagi,” ujarnya tegas. “Aku sudah bulat dengan keputusanku. Yang akan menemani aku ke acara itu adalah dirimu, bukan Jessica. Selama ini kan kita juga pergi bersama.” Nada suaranya tidak memberi ruang untuk perdebatan. Tapi Salsa belum menyerah. “Tapi, Theo...” ucapnya, suaranya hampir seperti bisikan, “aku bukan istrimu. Istrimu itu—” Theodor langsung menghentikan langkahnya dan menggenggam tangan Salsa lebih erat. “Dia memang istriku,” katanya dengan datar, “tapi aku tidak pernah menganggapnya sebagai istriku. Tiga tahun kami menikah, sayang. Tapi aku bahkan tidak pernah menyentuhnya. Meskipun dia selalu bertingkah seperti perempuan murahan yang ingin disentuh, aku tidak pernah tergoda. Tidak pernah tertarik. Kami bahkan tidur di kamar yang berbeda. Dan tak lama lagi, aku akan menceraikannya.” Salsa menahan senyuman yang mengembang di wajahnya. Tapi tetap saja, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum miring yang samar. Ia senang. Senang karena kebencian Theodor terhadap Jessica yang semakin kuat. “Tapi bagaimana jika orang-orang menuduhku sebagai penyebab hancurnya rumah tangga kalian?” tanya Salsa kemudian, masih dengan nada seolah peduli, padahal hatinya sudah menari girang. Theodor hanya tertawa kecil, nada tawanya terdengar sinis. “Tidak usah mendengarkan apa yang orang lain katakan. Lagi pula, sejak awal yang salah itu Jessica. Dia selalu saja membuat masalah, drama tanpa akhir. Dan aku muak dengan semua itu. Sudah, kita tidak usah membicarakan dia lagi. Lebih baik kita masuk dan lihat gaun itu.” Tanpa menunggu respons, Theodor membawa Salsa masuk ke dalam butik. Seorang pramuniaga langsung menyambut mereka dengan senyum lebar, membawa mereka ke ruang fitting pribadi yang sudah disiapkan. Salsa melirik pantulan dirinya di cermin besar butik. Ia bisa membayangkan dirinya mengenakan gaun merah itu, berdiri di samping Theodor di tengah kerumunan, disorot cahaya dan perhatian... sementara Jessica hanya bisa menyaksikan dari jauh, terkalahkan tanpa suara. ‘Kali ini kau tidak bisa berpura-pura lembut dan ramah lagi seperti sebelumnya, Jessica,’ batin Salsa penuh kemenangan. ***** Nadia menghembuskan napas kasar untuk kesekian kalinya. Ia duduk di tepi ranjang, tangan menopang dagu, mata menatap kosong ke arah jendela yang tertutup tirai putih tipis. Sudah berjam-jam ia mencoba mengingat... mencoba mencari potongan kenangan milik Jessica. Tapi tak ada satu pun yang muncul. Semuanya gelap. Jika begini terus, ia akan kesulitan beradaptasi. Sulit untuk menjalankan hidup sebagai seseorang yang bahkan tidak ia kenali. Pelan, ia menatap gelang di pergelangan tangan kanannya. Dengan hati-hati, ia memegang gelang itu dengan tangan kirinya. “Nenek... datanglah. Datanglah, Nek,” gumamnya, suaranya dibuat dramatis, seolah ia sedang berperan dalam adegan film. Namun menit demi menit berlalu, dan tidak ada tanda-tanda kehadiran nenek misterius itu. Sunyi. Hening. Sepi. Yang terdengar hanya detak jam dinding yang terdengar sangat pelan. “Huh,” Nadia mendesah keras, melempar pandangan ke langit-langit. “Saat tidak dicari muncul, saat dipanggil tidak datang.” Ia baru hendak berdiri ketika tiba-tiba— Brak! Pintu kamar terbuka dengan cukup keras, membuat Nadia spontan menoleh cepat. Jantungnya sempat melonjak, mengira si nenek yang datang. Tapi ternyata tidak. Yang masuk adalah dua perempuan—cantik, elegan, namun penuh aura yang meledak-ledak. Dan Nadia... tidak mengenali mereka. Sebelum Nadia sempat bersuara, salah satu dari mereka langsung menghampirinya, dan meletakkan tangan di wajahnya. Wajahnya dimiringkan ke kiri, lalu ke kanan. Gerakan yang cepat dan intens. “Jes, are you crazy?!” serunya penuh emosi. “Bagaimana bisa kau melakukan tindakan bodoh seperti itu? Kenapa kau menelan begitu banyak pil tidur, hah?!” Nadia terbelalak. “Hah?” Perempuan lainnya ikut maju, wajahnya tak kalah kesal. “Jes, kami berdua sedang di Eropa! Kami sedang belanja barang-barang branded, lalu tiba-tiba ada kabar kau mencoba bunuh diri. Apa-apaan ini, hah?!” Wajahnya memerah karena emosi. “Dan jangan katakan... jangan katakan kau melakukan itu karena si b******n itu, Theodor! Astaga, Jes, betapa bodohnya kau kalau itu benar!” Nadia menggaruk kepala yang tak gatal. Kepalanya mendadak penuh tanda tanya. Siapa dua perempuan ini? Tapi anehnya, ada rasa... akrab. Nyaman. Seolah dia mengenal mereka, jauh lebih dalam dari pada apa pun yang bisa dijelaskan. Salah satu dari mereka, yang dipanggil Olivia, kini duduk di tepi ranjang. “Jes, hentikan semua ini, ya. Kau harus sadar. Kalau kau terus bertahan dalam hubungan seperti itu, yang ada kau semakin hancur. Tinggalkan saja Theodor! Dia bahkan bukan pria sejati, dia hanya pengecut memalukan!” Olivia dengan penuh amarah melanjutkan. “Kalau bukan karena dirimu dan keluargamu, dia dan keluarganya itu pasti sudah bangkrut dan jadi peminta-minta! Dan dua mertuamu itu... astaga, dasar muka tembok! Bisa-bisanya merestui hubungan perselingkuhan anak mereka dengan Salsa, si ular menjijikkan itu! Ingin rasanya aku datang ke rumah mereka dan menampar muka tak tahu diri mereka satu per satu!” Nadia terpaku. Perempuan di depannya bukan hanya bicara dengan emosi, tapi juga dengan hati. Ia... membela sepenuh hati. Yang satu lagi ikut menimpali. “Benar kata Oliv. Tinggalkan Theodor. Kau pantas dapat yang jauh lebih baik. Kau cantik, cerdas, dan—jangan lupa—kau belum disentuh oleh pria itu meskipun kalian sudah menikah tiga tahun.” Ia melipat tangan di d**a. “Tiga tahun menikah, dan hidupmu hanya diisi dengan air mata, dinginnya sikap, dan perlakuan kasar. Untuk apa bertahan, Jes?” Belum sempat Nadia membuka suara untuk merespons ucapan dua perempuan itu, pintu kamar kembali terbuka. Rani masuk sambil membawa nampan berisi dua gelas jus segar dan sepiring camilan kue kering. “Sebaiknya Nona Oliv dan Nona Nata kembali memperkenalkan diri pada Nyonya Jessica,” ucap Rani pelan, suaranya tetap sopan meski terdengar tegas. Ia berjalan mendekat, lalu meletakkan nampan itu di atas meja kecil di samping tempat tidur. “Karena Bibi yakin Nyonya Jessica tidak mengenali kalian berdua. Waktu Nyonya bangun di rumah sakit pun, Nyonya juga tidak mengenali Bibi.” Kalimat itu langsung membuat Olivia dan Adenata saling berpandangan. Keduanya terbelalak, kata-kata Rani seperti pukulan yang tak terduga. “Yang dikatakan Bi Rani tidak benar, kan Jes?” tanya Olivia dengan suara bergetar. Ia berdiri kemudian melangkah mendekat, memegang tangan Nadia. “Kau mengingatku, kan? Aku Olivia, dan dia Adenata. Kita bertiga sahabat sejak sekolah menengah atas. Tidak mungkin... tidak mungkin kau melupakan kami berdua, Jes.” Nadia menunduk pelan. Ada perasaan hangat yang menyelinap di dalam dadanya saat Olivia menyebut kata ‘sahabat.’ Tapi tidak... tidak ada satu pun gambar atau ingatan yang muncul dalam pikirannya. “Maaf,” ucap Nadia lirih, “aku tidak mengingat kalian berdua.” suaranya terdengar sedih dan tulus. Nadia tahu ini bukan salahnya, tapi melihat tatapan kecewa di mata Olivia dan Adenata, ia merasa bersalah. Sangat bersalah. Adenata menatapnya beberapa detik, kemudian memalingkan wajah, menghela napas penuh amarah. Tapi bukan kepada Nadia amarahnya tertuju. Sorot matanya mengeras. “Apakah si bodoh itu... Theodor... yang membuatmu sampai seperti ini, Jes?” tanyanya geram. Tangannya mengepal di sisi tubuhnya. Nadia menghembuskan napas kasar, tidak menjawab. Bukan karena tak ingin, tetapi karena ia sendiri masih belum memahami semuanya. Ia bahkan belum sepenuhnya tahu mengapa ia menjalani hidup orang lain. “Di mana pria b******k itu?” Olivia menimpali, matanya menyala penuh kemarahan. “Aku akan memakinya sekarang juga. Di mana Theodor, Bi?” Rani menatap mereka dengan raut cemas, lalu menggeleng pelan. “Bibi kurang tahu. Tadi dia pergi... tapi sampai sekarang belum pulang.” Baru saja kalimat itu meluncur, terdengar suara berat yang cukup keras dari lantai bawah. “Bi Rani!” Mereka saling menatap. Dari nada suaranya, mereka tahu persis siapa yang baru datang. Theodor. Olivia dan Adenata segera bergerak. Mereka berdua melangkah cepat menuju pintu, mereka hanya ingin segera bertemu dengan pria yang mereka anggap sebagai penyebab penderitaan sahabat mereka. Nadia mengikuti langkah mereka, meski dengan ragu. Rani berjalan tepat di belakangnya, wajahnya penuh kepanikan, tahu betul bahwa perdebatan besar mungkin akan terjadi. Langkah-langkah itu menuruni anak tangga dengan cepat, hingga akhirnya mereka tiba di ruang tengah, dan Theodor pun menoleh—terkejut melihat dua wajah dengan ekspresi marah yang tak bisa disembunyikan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN