Aric & Sashi
Di umur yang ke dua puluh lima, Aric telah merasakan popularitas yang meroket hebat. Merasakan pencapaiannya luar biasa. Dalam hidupnya juga, tidak pernah menyangka akan mencintai sedemikian besar, melakukan kebodohan luar biasa dan membalas kesedihannya dengan cara nista.
Aric saat ini seorang gamer profesional, pundi-pundi uangnya menumpuk drastis. Belum lagi dia adalah seorang anak bos perkebunan besar di Kalimantan. Di kota asalnya siapa yang tidak mengenal keluarga mereka? Keluarga Aric juga telah memiliki bisnis multinasional yang memproduksi minyak goreng dengan omset tinggi.
Dia menatap lagi undangan pernikahan dari cinta pertamanya, pacar pertama dan satu-satunya sampai saat ini, meyedihkan. Nasib mempermainkan dia sedemikian rupa. Dia tidak akan datang, hanya akan mengirimkan buket bunga di hari pernikahan mereka.
Beberapa cara sudah dia lakukan untuk merebut Anya, mantan kekasihnya itu, bukan tidak mau berjuang. Hanya saja memang sangat benar, jodoh itu di tangan Tuhan. Mau sekuat apapun berusaha Tuhanlah yang menentukan. Pria bernama Evan, yang saat ini menjadi calon suaminya. Awalnya dia begitu mendendam pada pria itu. Pria yang telah menjebaknya untuk bercinta dengan w*************a, hingga hubungan cinta Aric kandas secara menyedihkan, pria itu juga merebut Anya dan membuat Anya tergila-gila padanya, sangat ironis. Aric semakin merasa perih di dalam hatinya.
Aric tak mau lagi jatuh cinta, menghukum diri karena terseret nafsu. Membuat dia kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Lagipula belum ada wanita yang bisa membuatnya jatuh cinta lagi.
"Aric." Suara sangat lembut memanggilnya, seorang wanita dengan rambut keemasan seperti boneka datang dan merangkul lehernya.
"Mey. Kenapa masuk tiba-tiba?" tanya Aric dengan wajah kaget karena terinterupsi saat sedang melamun. Dia sudah cukup lama bersama Mey, seorang wanita yang memang cukup populer sebagai selebgram cosplayer. Awalnya Mey mengejar-ngejar dia, bingung, Aric mencoba bertahan untuk tidak melakukan hubungan lagi sejak terjerat pada wanita kiriman Evan dulu. Hanya saja rasa frustasi karena tak bisa memiliki Anya, ditambah kehadiran Mey yang selalu menggoda dia, membuatnya tak mampu bertahan. Benar katanya, jangan mencoba, sekali mencoba sulit untuk tidak melakukannya lagi.
Akhirnya mereka menjalin hubungan tanpa status, tanpa rasa cinta. Hanya pemuasan nafsu, Mey tidak keberatan. Semua keinginannya selalu dituruti oleh Aric. Sekalipun Mey berharap pria itu bisa jatuh cinta padanya.
"Kamu yang menyuruhku datang, kenapa tidak boleh masuk?" Mey cemberut dan memajukan bibirnya, dia beraksi membuka kancing-kancing kemeja Aric. Aric menahan tangan wanita itu.
"Mey."
Mey hanya mendesah, dia sudah tidak sabar mereguk kenikmatan bersama Aric, pria itu super sexy dan hot.
"Mey, aku ingin mengakhiri hubungan ini."
Mey tersentak, dia menatap wajah Aric. Dia seharusnya tau kalau saat itu akan tiba, toh tidak ada komitmen di antara mereka. Hanya hubungan saling menguntungkan. Tetapi, ketika saatnya tiba kenapa Mey merasakan hatinya sakit.
"Apa sudah menemukan wanita lain?" Mey berkata sinis, tampak tidak cocok dengan raut wajah bonekanya.
"Tidak. Aku hanya tak ingin lagi.
"Tak ingin apa? Melakukan dosa?" Mey terkekeh.
"Melakukan hubungan tanpa cinta."
Mey menelan ludah, kasar sekali. Aric jelas berkata kalau dia tidak mencintainya. Tapi dia berusaha menerima, mau bagaimana lagi? Sejak awal memang seperti itu. Kalau salah satu bosan silahkan berhenti dan yang lain tidak boleh sakit hati. Mey mengambil tasnya dan keluar dari apartemen Aric.
Maaf. Aric mengucap dalam hatinya, tak pernah sedikitpun dia menginginkan untuk menyakiti hati perempuan lagi. Memang sejak awal bersama, Mey tidak lagi perawan, bukan Aric yang merusaknya. Begitu juga dia sama saja. Aric menghempaskan tubuh ke atas tempat tidur, menatap langit kamarnya.
Apakah orang sebrengsek dia masih akan memiliki kesempatan untuk mendapatkan cinta yang tulus? Kalau nanti dia bertemu dengan wanita yang membuatnya jatuh cinta, dia akan mati-matian menjaganya. Setia, apapun caranya. Seperti si Evan. b******n itu! Aric masih emosi setiap mengingatnya, tapi dia bersungguh-sungguh kepada Anya, bahkan mau mengorbankan segalanya. Mungkin itu yang menyebabkan dia kalah, Aric juga pernah mengirim perempuan super cantik dan sexy kepada Evan diam-diam untuk membalasnya. Evan malah melemparnya pergi dan memandang wanita itu dengan jijik, tidak tergoda sedikit pun seakan tubuhnya hanya milik Anya. Yah. Sejak saat itu dia sadar kalau dia telah kalah.
Hari berlalu begitu cepat, Aric masih saja sendiri. Salah seorang junior di kampus yang akrab mengajak Aric kumpul-kumpul di villa di gunung untuk mengadakan acara ulang tahunnya, ada acara barbeque dan beberapa orang diundang untuk ikut bergabung. Dia mengiakan karena sedang tidak ada kegiatan juga, weekend-nya belakangan sangat garing dan membosankan.
Dengan mobil sport baru yang dia beli dari hasil pertandingan game, Aric pergi ke villa tempat juniornya mengadakan pesta. Ketika dia datang, dia segera disambut gembira. Di kampus siapa yang tidak mengidolakan dia sebagai alumni yang sukses, terutama para cewek. Aric bisa dikatakan memiliki pesona luar biasa saat ini.
"Bang. Datang juga." Redho, junior yang berulang tahun berada di klub game yang sama dengannya tersenyum lebar.
"Tentu saja, sorry nggak bawa hadiah," sahut Aric sambil tertawa.
"Alah. Ini juga acara kumpul-kumpul, malah aneh kalau abang bawa hadiah."
Mereka pergi ke tempat barbeque, tercium aroma panggang yang menggunggah selera di sana. Sekitar dua puluh orang berkumpul, saling menyalami Aric. Ada seorang gadis dengan sosok ramping dan berwajah manis menyalaminya dengan sangat gugup. Aric hanya meliriknya yang begitu malu dan tersipu.
"S-Sashi." Dia menyalami Aric. Kemudian bergabung bersama teman-temannya, saat bergabung dengan teman-temannya, dia seketika ceria, energik dan sedikit bawel. Membuat Aric tertawa.
"Ada apa bang?" tanya seseorang.
Aric menggelengkan kepala, dia pergi melihat area panggangan dan menyadari beberapa cewek melirik ke arahnya.
Sambil menikmati hasil panggang dan beberapa botol bir juga softdrink, sekelompok mahasiswa yang ternyata masih semester dua bermain permainan truth and dare. Aric tertawa, mereka membujuknya untuk ikut, tapi dia menolak.
Juniornya berbisik di sebelah, "Paling mau ngerjain Sashi."
Sashi? "Kenapa begitu?" tanya Aric.
Redho menyebutkan kalau salah satu temannya mengincar Sashi, bukan hanya satu orang ternyata. Sashi sangat aktif dan vokal di kampus. Banyak yang menyukai dia, ditambah lagi wajahnya yang manis dan senyum menawan menarik perhatian. Aric mengangguk-anggukkan kepala.
"Dia terlalu polos, bagaimana pun ini pasti akal-akalan untuk mengerjai dia. Jadi penasaran." Redho tertawa.
Ternyata benar sejak tadi botol bir yang kosong berputar ke arah Sashi, padahal ada tujuh orang yang bermain, tiga cewek dan empat cowok.
"Apa kamu pernah m********i?" Aric bahkan tertawa geli mendengar pertanyaan yang sangat vulgar itu.
"M-maksudnya?" Sashi membulatkan matanya bingung. Aric dan Redho tertawa dari kejauhan. Bodoh atau polos?
"Pertanyaan diganti, apa kamu masih perawan?"
Sashi segera berdiri dengan wajah merah berkata tentu saja. Semua yang ada di sana tertawa kencang, benar-benar dikerjain. Pertanyaan itu juga di tanyakan pada cowok di sebelahnya. Kata Redho pria itu berbohong, jelas-jelas sudah tidak mungkin masih perjaka. Aric menghela nafas, tampaknya keperjakaan dan keperawanan masih merupakan hal penting di negaranya ini.
Aric jadi memperhatikan gadis itu terus, seperti sesuatu menarik hatinya. Dia tertawa lepas, kemudian mendadak malu dan menunduk. Tidak lama kemudian dia kena lagi, tidak berani memilih dare. Sashi memilih truth lagi. Kali ini cowok yang mengincarnya, menurut Redho, yang bertanya. Aric bersemangat menunggu pertanyaan. Siapa sangka weekend-nya jadi cukup menarik.
"Hmm ... apa kamu sering memimpikan laki-laki yang kamu suka?"
Wajah Sashi sekarang merah seperti udang rebus, lampu sangat terang membuat sosoknya terlihat jelas. Dia menunduk. Teman-temannya semakin bersemangat menggodanya. Dia mengangguk. Suasana semakin riuh, bahkan yang tidak ikut permainan terlihat memberi perhatian khusus, pada gadis yang sudah mencuri perhatian sejak masih semester satu itu.
"Siapa?"
"I--itu pertanyaan yang lain." Sashi memprotes.
Tapi dia terlalu mudah dikelabui oleh teman-temannya, "Tidak bisa begitu itu masih satu rangkaian."
"Siapa--siapa--siapa?" Semua mulai bersorak, penasaran siapa yang disukai oleh gadis itu.
"I-itu ...." Sashi menunduk sampai wajahnya hilang, dia meremas kausnya. "Se-senior Alaric."
Wajah Aric terlihat kaget, tapi dia merasa hangat. Entah kenapa tidak berharap gadis itu menyebut pria yang lain. Terdengar decakan kecewa dari si cowok. Tapi yang lain bersorak-sorak dengan sangat bersemangat.
"Senior, junior sudah mengatakan. Bagaimana apa jawabannya? Tidak baik membuat seorang gadis menunggu." Redho sampai terlonjak dan tertawa begitu bersemangat. Sashi mengangkat wajah dan sangat malu, menolak kalau menginginkan jawaban. Sadar telah terjebak. Dia berkata berkali-kali tidak bermaksud begitu.
"Bukan ... bukan ..." Dia sangat malu, sikapnya yang enerjik dan ceria sejak tadi berubah drastis. Sampai mau menangis. Tapi yang lain tidak peduli bahkan semakin menyoraki dengan keras.
Aric tersenyum semakin gembira, tidak jelas apa yang membuatnya demikian. Banyak wanita melemparkan diri ke dia, tapi perasaan ini, perasaan senang saat mengetahui kalau ada yang menyukai. Kenapa ini sangat berbeda? Seperti jantungnya terasa berdebar.
"Boleh saja." Aric berkata dengan suara tenang.
Mendengar itu semua terdiam, bahkan Sashi menatap bingung. Dia menutup mulutnya.
"Bagaimana, mau jadi pacarku tidak? Seharusnya pria yang menyatakan." Aric menjawab dengan senyum simpul. Seketika tempat itu kembali pecah dengan sorak sorai, Sashi menunduk malu sekali.
"Tapi tidak boleh main-main denganku." Aric berkata dengan tegas.
Pernyataan yang terakhir membuat gadis manis itu terhuyung sampai harus ditahan oleh temannya, semua bersemangat telah menjadi saksi peristiwa jadian yang tidak direncanakan itu, kecuali beberapa wajah terlihat sedikit tidak suka, mungkin penggemar Aric dan Sashi. Aric tersenyum, kejadian yang tidak disangka-sangka malam ini mungkin saja kesempatan untuknya mendapatkan cinta yang tulus lagi. Kali ini, Aric ingin berharap.