Bab 2. Perasaan Yang Membingungkan

1098 Kata
Nadia tampak benar-benar bingung dengan semua hal yang terjadi padanya. Kay mencoba sekali lagi mendekati Nadia, tapi Nadia malah memukul berkali-kali d**a Kay untuk melampiaskan kekesalan dan kemarahannya pada pria itu karena malam yang Kay sendiri sebenarnya tidak tahu kenapa dia dan Nadia bisa melakukan malam panas itu? "Pukul saja sesuka kamu. Mungkin dengan melampiaskan kemarahanmu, kamu akan jauh lebih baik." Nadia akhirnya berhenti dan sekali lagi melihat pada Kay. "Kay, aku takut," ucapnya lirih dengan air mata yang masih terus keluar dari kelopak mata Nadia. "Takut? Takut pada siapa?" Kay mencoba bertanya lembut pada Nadia. "Aku takut pada diriku sendiri, takut pada keluargaku dan suamiku. Apa yang akan terjadi jika mereka mengetahui apa yang aku lakukan sama kamu? Mereka akan mencemooh aku dan bahkan bisa menganggap aku istri tidak tahu diri. Aku takut ayah dan ibuku tidak kuat menerima hal ini." Terdengar suara tangis Nadia yang pecah. "Kamu tidak akan mendapat hinaan seperti itu, Nad. Aku akan memastikan hal ini tidak akan terjadi, dan aku akan membuktikan siapa yang salah lebih dulu dalam rumah tangga kamu." "Apa yang mau kamu buktikan, sudah jelas aku yang salah dalam hal ini, Kay." Kay menghapus lagi air mata Nadia. "Sudah aku katakan jika Razel 'lah, yang sudah mengkhianati kamu lebih dulu, malah jauh sebelum kalian menikah." "Cukup, Kay! Aku sudah pernah membuktikan kesetiaan Mas Razel dan dia tidak pernah mengkhianati aku." "Kamu salah, Nad. Sekarang di mana Razel? Kenapa dia belum kembali ke kamarnya? Razel belum pulang, dia lagi-lagi meninggalkan kamu dan memilih berlama-lama dengan Gizel di kamarnya," ucap Kay yakin. "Jangan menghasut dengan hal yang belum tentu kebenarannya. Kay, sekarang kamu pergi saja dari sini dan biarkan aku sendiri," usir Nadia ketus. "Aku akan pergi dari sini dan membuktikannya. Jika apa yang aku buktikan sama kamu benar dan nyata adanya, kamu harus bersiap-siap menjadi milikku selamanya dan meninggalkan Razel." Kay memunguti bajunya dan masuk ke dalam kamar mandi. Nadia terduduk lemas memikirkan tentang apa setelah ini yang harus dia lakukan? Bisakan dia menjalani rumah tangganya tanpa mengingat malam pengkhianatannya? Setelah keluar dari kamar mandi dengan baju rapinya Kay berjalan menuju Nadia yang masih duduk terdiam dengan selimut yang membalut tubuhnya. Kay duduk di bawah kaki Nadia dan dia menggenggam erat tangan wanita itu, dia mencoba menguatkan Nadia, walaupun dia tahu jika dia yang membuat Nadia seperti itu. "Aku tidak akan meminta maaf atas apa yang aku lakukan. Hal ini tidak membuatku menyesal melakukannya, tapi aku akan mencari siapa yang membuat kita berdua sampai begini." Nadia hanya terdiam dan Kay bangkit dari sana, dia pergi menuju pintu kamar hotel. Kay sekali lagi melihat pada Nadia yang masih menangis pelan. Saat membuka pintu, Kay bahkan tidak takut jika ada orang ataupun bahkan Razel yang melihatnya. Jika Razel yang melihatnya malah akan lebih baik baginya karena dia berharap Razel akan meniggalkan Nadia nantinya. Kay berjalan dengan santai masuk ke dalam kamarnya dan melempar suitnya sembarangan. Dia juga merebahkan tubuhnya di atas sofa yang ada di depannya. "Aku melakukan hal pertama kali itu dengan Nadia. Kenapa rasanya begitu nikmat? Apa karena aku melakukannya dengan wanita yang aku cintai?" Kay masih dapat mengingat sedikit demi sedikit malam indah itu dengan Nadia. Tersungging senyum pada bibir Kay. "Sebaiknya Razel bersiap saja untuk melepaskan Nadia," ucapnya serius. ** Siang itu Nadia sudah berganti baju dengan pakaian santai dan dia berjalan pergi ke tempat club malam untuk mencari di mana Razel—suaminya, setelah tadi menghubungi Razel, tetapi tidak mendapat jawaban. "Tidak ada orang." Nadia mengedarkan pandangannya melihat tempat itu yang hanya ada beberapa orang, Nadia melihat ke meja di mana semalam dia dan Razel duduk di sana juga sudah kosong. Nadia bertanya menggunakan bahasa inggris pada salah satu pelayan di sana dan pelayan itu mengatakan tidak melihat orang yang duduk di meja itu. Nadia kembali berjalan menuju kamar hotelnya karena tidak menemukan suaminya. Nadia yang berjalan dengan menundukkan kepalanya tidak sengaja malah menabrak tubuh seseorang. Saat dia mengangkat kepalanya dia melihat Kay yang hanya memakai celana renang pendek dan tubuh yang basah karena masih ada sisa tetesan air. Kay memandang Nadia dengan heran. "Kamu dari mana?" tanya Kay. Nadia tidak menjawab dan dia mau pergi saja dari hadapan Kay, tapi Kay dengan cepat menahan tangan Nadia. "Nad, aku sedang bertanya sama kamu." "Lepaskan, Kay! Aku mau mencari keberadaan suamiku. Dia belum kembali ke kamar hotel sampai siang ini. Aku khawatir dengannya." Kay malah memberikan senyum miringnya. "Kamu tidak perlu khawatir padanya karena dia pasti baik-baik saja atau bahkan malah lebih baik karena dia sedang berada di dalam kamar Gizel," ucap Kay dengan berbisik. "Jaga mulut kamu, Kay! Mas Razel tidak seperti itu, dan aku bilang mulai sekarang jauhi aku dan anggap semua yang pernah terjadi itu tidak pernah terjadi" "Aku tidak mudah melupakan hal indah saat bersama kamu, apalagi malam itu, di mana bahkan kamu menyebut namaku," bisik Kay lembut. Sontak saja kedua mata Nadia membulat sempurna. "Hai, Pak Kay! Hay, Nad. Kalian bangun jam berapa? Kalian kok sudah ada di sini?" suara Gizel tiba-tiba terdengar di sana. Gizel yang memakai baju renang two piece berdiri dengan cantiknya di sana. "Gizel, kamu mau berenang?" tanya Nadia sedikit kaget. "Iya, Nad, memangnya kamu tidak lihat aku memakai baju apa?" ucap Gizel malas. "Gizel, apa semalam kamu pulang dengan Mas Razel?" "Kamu mencari Razel? Tadi saat aku keluar dari dalam kamar untuk berenang, aku melihat Razel ada di depan pintu kamar kalian. Kita semalam tidak pulang bersama. Aku pulang lebih dulu setelah Pak Kay pergi karena kepalaku pusing dan aku meninggalkan kakakku—Razel di sana sendirian," terang Gizel "Kalau begitu aku akan kembali ke kamar menemui Mas Razel." Nadia berlalu dari sana. "Kebohongan yang sempurna," ucap Kay pada Gizel sembari Kay berjalan pergi dari sana. Gizel yang bingung dengan apa yang dikatakan oleh Kay barusan, dia kemudian mengejar Kay yang berjalan menuju arah kolam renang. Gizel ikut masuk ke dalam kolam dan perlahan-lahan mendekat ke arah Kay. Kay tampak diam berdiri pada tepi kolam sambil menikmati cahaya matahari pagi. "Pak Kay, kemarin malam Anda di mana? Kenapa saat saya mengetuk pintu kamar Pak Kay, tapi Pak Kay tidak menjawabnya? Apa Anda semalam sudah tidur?" tanya Gizel ingin tahu. "Iya, aku kemarin malam tertidur dengan nyenyak karena kelelahan. Memangnya ada apa kamu semalam ke kamarku?" tanya Kay tanpa melihat ke arah Gizel "Aku mau memberi Pak Kay sebuah hadiah kejutan, tapi ternyata Bapak sudah tertidur." Kay terdiam tidak menanggapi ucapan Gizel. Gizel memperhatikan Kayrav yang tampak baik-baik saja. Kayrav juga tampak lebih segar pagi ini. "Pak Kay, apa semalam Anda baik-baik saja?" Kayrav melihat pada Gizel. Kayrav pun langsung menatap curiga pada Gizel. "Kenapa kamu tanyakan hal itu?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN