Evan memijat kepalanya yang terasa berat. Pusing dengan pekerjaan yang tidak ada habisnya. Pusing memikirkan Bianca yang lenyap dari hidupnya setelah pertemuan terakhir mereka. Meski tiga bulan sudah berlalu tapi Evan masih bertanya-tanya dengan alasan Bianca yang terdengar tidak masuk akal baginya. Bahkan Retha pun tidak memiliki clue sama sekali, malah lebih parah karena Retha merasa ditinggalkan begitu saja oleh Bianca dengan selembar surat yang berisi ucapan terima kasih, permintaan maaf dan selamat tinggal! Sebenarnya Evan masih menaruh curiga pada Liam, tapi dirinya sebagai orang biasa tidak memiliki bukti. Tidak mungkin mengkonfrontasi Liam dengan dugaannya belaka kan? Evan tidak sebodoh itu. “Pak, meeting selanjutnya akan dimulai sebentar lagi,” ucap Indah, sekretarisnya. “Saya

