Five Years Later

836 Kata
Lima tahun kemudian….. Bianca mengetuk jari jemarinya dengan gelisah diatas meja, sesekali kembali melirik jam tangan yang terpasang manis di di tangan kirinya. Sudah 30 menit berlalu dari janji awal, ingin rasanya Bianca pergi meninggalkan klien yang tidak bisa tepat waktu seperti ini. Tidak taukah mereka kalau waktunya sangat berharga? Sebagai seorang introvert, Bianca tidak suka menunggu di luar kantornya seperti ini. Biasanya ia selalu bertemu dengan klien di ruang kantornya yang nyaman, namun karena cukup sulit mengatur waktu yang sesuai dengan klien baru ini jadilah Bianca terpaksa mengikuti kemauan sang klien! Karena bukankah klien adalah raja? Jadi ya beginilah nasibnya sekarang. Pasrah menunggu kedatangan sang raja yang sudah membuang waktunya! Tapi nyatanya setelah menunggu selama 30 menit, klien tersebut malah masih belum menampakkan batang hidungnya, membuat Bianca semakin gusar! Bianca baru saja mengambil tasnya saat pintu café terbuka dan muncul satu sosok pria melangkah mantap kearahnya. Refleks, Bianca mengurungkan niatnya. “Selamat siang, dengan Ibu Bianca?” tanya sang pria dengan nada suara yang terdengar begitu tegas. “Betul, saya dengan Bianca. Anda sendiri dengan bapak Ervin?” “Iya betul. Saya dengan Ervin. Maaf karena sudah datang terlambat, awalnya atasan saya berencana hadir namun ada sedikit kendala yang menyebabkan beliau tidak bisa datang.” “Maaf sebelumnya, tapi bukankah seharusnya saya bertemu langsung dengan beliau? Karena menurut yang saya dengar, tugas saya adalah menjadi konsultan keuangan pribadi untuk beliau,” tanya Bianca mengutarakan keheranannya. Meski awalnya Bianca tau kalau semua rencana pertemuannya diatur oleh pria di hadapannya ini, tapi bukankah berbeda halnya jika menyangkut dengan masalah keuangan secara langsung? Bianca tidak ingin membuat kesalahan, apalagi dengan klien yang sepenting ini! Bianca sudah sempat mendengar selentingan kabar kalau klien yang ditanganinya kali ini tidak main-main, bukan berarti klien yang sebelumnya tidak penting. Bukan. Namun tetap saja levelnya berbeda, jadi Bianca tidak ingin gegabah. “Betul, tapi anda tenang saja karena bapak Liam sudah menyerahkan semua informasinya kepada saya,” jawab Ervin sambil menyerahkan beberapa berkas yang sudah disediakan untuk dapat dipelajari lebih lanjut oleh Bianca. “Baiklah, saya mengerti. Kalau begitu langsung kita bahas saja mengenai masalah pekerjaan karena saya masih ada janji meeting setelah ini.” “Baik.” Bianca menanyakan beberapa pertanyaan yang berhubungan dengan transaksi yang umumnya dilakukan oleh kliennya, Liam, kepada Ervin selaku asistennya. Jujur saja Bianca tidak menyangka kalau Ervin benar-benar mengerti mengenai masalah keuangan atasannya sedalam ini. Apakah memang tugas asisten pribadi seperti itu? Harus dapat mengetahui semua informasi mengenai atasannya? Entahlah! Dan Bianca juga tidak ingin berpikir terlalu jauh. Bukan urusannya! “Saya sudah mengerti garis besarnya. Intinya adalah bapak Liam tidak memiliki masalah keuangan, hanya saja beliau memerlukan konsultan yang dapat memberinya masukan mengenai pengeluarannya yang bisa dibilang tidak terencana sama sekali. Apa betul seperti itu?” “Betul. Bapak Liam tidak akan pernah kekurangan uang, hanya saja beliau ingin lebih terorganisir karena banyak uang yang dihamburkan untuk hal yang bisa dibilang tidak jelas,” jawab Ervin sambil mengangkat bahu. “Saya paham, kalau begitu saya akan buat perencanaan keuangannya terlebih dahulu dengan berpatokan dari berkas dan informasi yang bapak sampaikan sebelumnya. Beri saya waktu kurang lebih selama seminggu untuk menyelesaikannya,” jawab Bianca yang langsung dijawab oleh anggukan Ervin. “Baik, tidak masalah. Saya akan memberitahu kepada bapak Liam juga.” “Apa ada hal lain yang ingin anda tambahkan?” tanya Bianca, hanya sekedar formalitas. “Rasanya tidak ada, cukup itu saja. Dan karena masih ada hal lain yang harus saya kerjakan, maka saya ijin pamit lebih awal. Terima kasih atas waktunya. Maafkan atas keterlambatan saya tadi,” ucap Ervin tulus. “It’s okay.” Bianca menatap kepergian Ervin dan kembali mengecek berkas di hadapannya. Liam Alexander Linford berusia 32 tahun, status pekerjaan sebagai Direktur Operasional di perusahaan keluarga. “Hmm… pria yang terlahir dalam sendok emas,” gumam Bianca. Dirinya masih asyik meneliti dokumen saat ponselnya berdering dari dalam tasnya. Bianca bergegas meraihnya dan senyum otomatis terukir di wajahnya begitu saja tanpa dapat dicegah. Seolah si penelepon dapat membuat otot-otot wajahnya tertarik hingga menampilkan senyuman yang begitu menawan. “Halo?” Entah apa yang mereka bicarakan namun senyuman tidak pernah lepas dari wajah Bianca hingga akhirnya pembicaraan berakhir. Wajahnya yang tadi tampak kusut berubah menjadi secerah matahari dalam sekejap. Ya, Evan selalu bisa membuat hari-harinya cerah. Entah bagaimana caranya tapi yang pasti Bianca selalu merasa nyaman dengan kehadiran pria itu. Jangan salah sangka, mereka hanya bersahabat meski jujur saja jauh di dalam hati kecilnya, Bianca menginginkan hal yang lebih daripada itu. Tapi dirinya tidak ingin serakah. Lebih baik mereka tetap bersahabat seperti sekarang daripada hubungan mereka renggang karena Bianca mengungkapkan perasaannya kan? Karena meski sudah bersahabat selama bertahun-tahun, Bianca tidak pernah tau bagaimana perasaan Evan padanya. Bianca menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan, berharap kegalauannya mengenai Evan hilang. Sekarang Bianca harus fokus bekerja! Dengan pemikiran itu, Bianca merapikan berkas di hadapannya, memastikan tidak ada yang tertinggal dan pergi meninggalkan café untuk kembali ke kantornya. Lebih baik mendekam di dalam ruangan kantornya yang bisa membuat Bianca merasa lebih nyaman daripada berada di café seperti ini!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN