Meggie masih memikirkan hubungan mereka saat Bram kembali bergerak di atas tubuhnya, saat ia kembali merasakan kekerasan yang mengganjal di bagian bawah tubuhnya semakin bergerak liar tetapi terkendali hingga Meggie berulang-ulang menyebut nama Bram dalam gairahnya. Bram memperlakukan dirinya seolah-olah dirinya adalah satu-satunya wanita di dalam kehidupannya. Permainan cinta mereka kali ini begitu perlahan dan manis, tidak terburu-buru seperti sebelumnya dengan kejutan-kejutan yang membuat Meggie semakin tidak berdaya. Meggie tidak tahu seberapa lama dirinya mampu menerima tubuh Bram yang bergerak dengan cepat sementara dirinya sudah berkali-kali mencapai kepuasan tertinggi hingga ia mendengar suara Bram mendesah begitu kuat dibarengi saat ia mendorongnya hingga tubuh Meggi

