Bram menatap Meggie yang menunggunya berbicara. Di dalam mata Meggie hanya ada kemarahan, Bram tidak tahu apakah sinar mata Meggie akan berubah atau tidak setelah ia memberikan penjelasan. “Waktu terus berjalan Bram. Aku tidak bisa terus menunggumu berpikir apa yang harus kau katakan,” ujar Meggie dingin. “Bisa kita cari tempat untuk bicara?” tanya Bram pelan. Meggie terlihat menimbang apakah ia akan memenuhi permintaan Bram atau tidak, tetapi ia juga ingin tahu apa yang akan dikatakan oleh pria yang kini berdiri di depannya. “Baiklah. Tapi aku tidak mau keluar dari kawasan bandara ini,” sahut Meggie. “Baik. Kita akan bicara di coffee shop yang berada di wilayah bandara,” Bersama mereka menuju salah satu tempat minum kopi yang tempatnya cukup nyaman. Me

