Mahar dari Meja Judi

1248 Kata
Cahaya matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden yang tersingkap tipis, menyapa indra penglihatan Amora dengan paksa. Amora mengerang parau, mencoba menghalau rasa silau yang menusuk matanya, namun gerakan kecil itu justru memicu rasa pening yang hebat di kepalanya. Sebuah simfoni rasa sakit yang berdentum seirama dengan detak jantungnya yang kian tak keruan. ​Ia mencoba bangkit, namun tubuhnya terasa seperti baru saja dihantam beban berat. Remuk redam. Setiap persendiannya seolah memprotes, mengirimkan sinyal nyeri yang membuat napasnya tertahan di tenggorokan. ​Saat jemarinya tanpa sengaja menyentuh bahunya, rasa perih yang tajam menyengat kesadarannya. Amora menyibak selimut satin yang membungkus tubuhnya, dan seketika itu juga napasnya tercekat. Di kulitnya yang pucat, sebuah memar keunguan terlihat jelas—kontras dan mengerikan. Bekas tekanan yang kuat, bukti bisu dari amukan suaminya semalam. ​Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling. Kamar itu luas, mewah, dan tertata dengan kesempurnaan yang dingin, namun terasa mencekam karena sunyi yang merayap. Tidak ada derap langkah, tidak ada deru napas selain miliknya sendiri. Ruangan itu hampa, hanya menyisakan aroma parfum maskulin yang masih tertinggal samar di bantal—aroma yang kini menjelma menjadi melodi ketakutan bagi Amora. ​Amora menatap sisi tempat tidur yang sudah rapi, tanpa ada bekas kehangatan yang tersisa. ​"Sepertinya dia sudah pergi," bisiknya parau, suaranya nyaris hilang ditelan sunyi. ​Kalimat itu meluncur dengan nada lega yang begitu masif, mengalahkan rasa sakit di tubuhnya. Amora memeluk lututnya sendiri, membiarkan bulir-bulir bening menetes membasahi pipi. Keheningan kamar itu seolah memberikan jeda singkat baginya untuk bernapas, sebuah momen langka di mana ia tak perlu mengantisipasi ledakan emosi dari pria yang seharusnya menjadi pelindungnya. ​Namun, Amora sadar sepenuhnya. Meski suaminya telah pergi secara fisik, ia belum benar-benar lepas. Memar di bahunya adalah stempel kekuasaan yang ditinggalkan pria itu; sebuah peringatan tanpa kata bahwa mimpi buruk ini belum berakhir. Dengan sisa tenaga yang tersisa, Amora menyeret langkah menuju kamar mandi. Bunyi gesekan telapak kakinya di atas lantai marmer yang dingin terasa menyayat di tengah kesunyian. Begitu pintu kaca tertutup, ia dihadapkan pada sosok yang hampir tak ia kenali di balik cermin besar berbingkai emas. ​Amora terpaku. Di bawah siraman lampu yang terang benderang, segala borok kehidupan rumah tangganya terpampang tanpa sensor. Ia perlahan menurunkan kerah pakaian tidurnya, menyingkap hamparan kulit pucat yang kini menjadi kanvas bagi kekejaman suaminya. ​Bukan hanya memar keunguan di bahu yang ia rasakan tadi pagi. Di balik pantulan kaca, terlihat bekas-bekas luka yang tumpang tindih. Ada yang sudah menguning hampir sembuh, namun lebih banyak yang masih memerah segar. Tubuhnya yang dahulu dipuja sebagai lambang kecantikan, kini tak lebih dari sekadar saksi bisu amarah yang tak terkendali. ​Amora menyentuh permukaan kaca yang dingin, jemarinya bergetar saat menelusuri pantulan luka di leher dan tulang selangkanya. ​"Sampai kapan?" bisiknya parau. Suaranya memantul di dinding porselen, terdengar asing dan penuh keputusasaan. ​Ia menunduk, membiarkan rambut hitamnya menutupi wajah yang kian kuyu. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya luruh, jatuh perlahan ke dalam wastafel putih yang bersih. ​"Aku lelah dengan semua ini," rintihnya dalam hati, dadanya terasa sesak seolah pasokan oksigen di ruangan itu mendadak menguap. "Aku lelah menjadi sasaran kemarahan yang tidak pernah aku mengerti. Aku lelah menyembunyikan memar ini di balik pakaian tertutup dan senyum palsu." ​Ia meremas pinggiran wastafel hingga buku-uku jarinya memutih, seolah sedang mencari pegangan di tengah hidupnya yang kian hancur. ​"Aku ingin lepas, Tuhan... Aku ingin lari sejauh mungkin dari neraka yang mereka sebut pernikahan ini. Aku hanya ingin bernapas tanpa rasa takut bahwa setiap langkahku akan berakhir dengan rasa sakit." ​Pikiran Amora melayang kembali ke lima tahun yang lalu. Sore itu di koridor kampus. Alasan jujur yang ia lemparkan ke wajah Devan bahwa ia tidak mencintai pria itu—hanyalah sebuah tameng yang ia ciptakan dari keputusasaan. Kebenaran yang sesungguhnya jauh lebih pahit, ia harus menjauh karena ayahnya telah menjualnya. Ia telah dijodohkan dengan pria beringas ini demi melunasi tumpukan hutang judi ayahnya yang tak masuk akal. ​"Maaf... Maafkan aku, Dev," isaknya tertahan, menyebut nama yang selama ini ia kunci rapat di dasar sanubari. "Aku telah membohongimu dan diriku sendiri. Aku bilang aku tidak punya perasaan padamu agar kamu membenciku, agar kamu pergi dan mencari kebahagiaanmu sendiri tanpa terikat pada wanita sampah sepertiku." ​Amora merasa sesak, bukan karena pukulan suaminya, melainkan karena rindu dan rasa bersalah yang telah ia pendam setengah dekade. ​"Andai aku punya keberanian untuk jujur hari itu... apakah takdirku akan berbeda? Ataukah aku hanya akan menyeretmu masuk ke dalam kegelapan ini bersamaku? ​Keberanian adalah kemewahan yang tak mampu kubeli saat itu. Aku harus menghancurkanmu, menghancurkan kita—hanya agar kau tidak ikut terseret ke dasar jurang yang digali ayahku. Lebih baik kau membenciku sebagai pengkhianat, daripada kau hancur bersamaku." ​Ia menatap pantulan matanya yang kini kehilangan cahaya. ​"Sekarang, setelah lima tahun berlalu, aku bahkan tidak sanggup mengenali diriku sendiri. Aku bukan lagi Amora yang dulu kamu puja. Aku hanyalah raga kosong yang menanti kapan nyawa ini benar-benar terenggut." ​Amora menyalakan keran, membiarkan air dingin membasuh wajahnya, mencoba mematikan rasa sakit yang kian menjalar dari luka fisik menuju jiwanya yang hampir mati. Brak! ​Suara pintu kamar mandi menghantam dinding dengan begitu keras di tengah keheningan. Amora tersentak hebat, tangannya yang masih basah gemetar saat ia menoleh ke ambang pintu. Di sana, sosok pria itu berdiri tegak, memenuhi bingkai pintu dengan bayangan yang gelap dan mengintimidasi. ​Napasnya memburu, matanya merah karena amarah yang tak terkendali. Pria itu adalah Kevin Atmadja 31 tahun, pria yang telah menikahinya selama lima tahun terakhir. Lima tahun yang Amora jalani bukan sebagai seorang istri, melainkan sebagai samsak tinju yang terkurung di dalam rumah mewah yang megah namun berdarah. ​"Kau tidak mendengarkan panggilanku, hah?!" bentaknya, suaranya menggelegar memenuhi ruangan sempit itu. "Sudah tuli, atau kau sengaja ingin memancing emosiku pagi-pagi begini? b******k!" ​Belum sempat Amora membuka mulut untuk membela diri, pria itu melangkah mendekat. Dengan kasar, ia menjambak rambut Amora dengan sentakan yang begitu keras hingga kepala Amora terdongak paksa ke belakang. ​"A-ampun... sakit..." rintih Amora, air matanya seketika tumpah menahan perih yang seolah merobek kulit kepalanya. Pria itu tidak mempedulikan rintihan Amora. Ia justru semakin mengencangkan cengkeramannya, memaksa Amora menatap pantulan dirinya sendiri di cermin yang kini berembun. ​"Lihat dirimu," bisik pria itu tepat di telinga Amora, suaranya kini merendah, dingin, dan penuh racun. "Kau pikir siapa kau? Tanpa margaku di belakang namamu, kau itu bukan siapa-siapa! Hanya anak dari pecundang yang mempertaruhkan anak gadisnya sendiri di atas meja judi. Kau tidak lebih dari sekadar p*****r legal yang aku beli dengan harga mahal!" ​Kevin tertawa sinis melihat tubuh Amora yang gemetar hebat. Ia mendekatkan bibirnya ke telinga Amora, membisikkan kata-kata yang lebih tajam dari sembilu. ​"Jangan pernah berani menatapku dengan mata penuh benci itu. Aku pemilikmu. Jiwamu, ragamu, bahkan napasmu adalah milikku karena aku sudah membayar lunas setiap inci dari dirimu kepada ayahmu yang b******n itu. Jika sekali lagi kau mengabaikan panggilanku, aku akan pastikan luka di bahumu itu merambat ke wajah cantikmu ini agar tidak ada lagi pria yang sudi melirikmu!" Ucapan itu jatuh bagai palu godam, menghantam keras sisa-sisa harga diri yang masih berusaha bertahan di dalam diri Amora. Namun anehnya tidak ada lagi isak yang pecah. Tidak ada lagi suara memohon yang lirih dan putus asa. Segalanya seolah luruh, tenggelam dalam sunyi yang menyesakkan. Yang tersisa hanyalah tarikan napas yang bergetar halus, nyaris tak terdengar, dan sepasang mata kosong yang menatap balik dari balik cermin, asing, hampa, seolah jiwa di dalamnya telah perlahan memudar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN