Petrichor dan Puing Hati

1171 Kata
Sore itu, cakrawala menjelma menjadi kanvas yang ternoda; ungu pekat berkelindan dengan kelabu mendung, sisa hujan yang baru saja mereda namun masih menyisakan aroma petrichor yang tajam menghujam indra penciuman. Di koridor lantai dua Fakultas Ekonomi yang mulai lengang, Devan berdiri mematung, seolah-olah waktu telah berhenti berputar hanya untuknya. ​Di saku jaketnya, sebuah kotak beludru kecil terasa seberat bongkahan batu. Ia telah melatih rentetan kalimat pernyataan cinta itu di depan cermin hingga ribuan kali, namun saat sosok yang dinantinya muncul, lidahnya mendadak kelu, terpasung oleh rasa gugup yang luar biasa. ​"Amora!" ​Suara Devan memecah kesunyian. Gadis itu berhenti, lalu berbalik. Amora berdiri di bawah temaram lampu koridor, rambutnya yang sedikit lembap karena percikan air hujan tampak berkilau, membingkai wajahnya yang selalu berhasil membuat Devan kehilangan napas. ​"Devan? Belum pulang?" Amora bertanya dengan nada ramah, nada yang selama tiga tahun ini telah disalahartikan Devan sebagai lampu hijau untuk hatinya. ​Devan melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka hingga ia mampu menangkap aroma vanila yang lembut dari tubuh gadis itu. "Aku nunggu kamu. Ada sesuatu yang harus aku katakan sekarang. Aku nggak bisa nunggu lebih lama lagi." ​Amora menghentikan gerakannya yang tengah merapikan tali tas. Sepasang matanya menatap Devan dengan saksama, ada gurat kewaspadaan yang tiba-tiba muncul di sana. "Soal apa, Dev? Aku harus buru-buru ke halte, jemputan ayahku sudah lewat." ​"Ra, dengar..." Devan menarik napas panjang, mencoba menekan debar jantung yang tidak keruan. Ia mengeluarkan kotak beludru itu dan membukanya, memperlihatkan seuntai kalung perak yang berkilau di bawah lampu yang temaram. "Aku sayang sama kamu, Ra. Bukan sebagai teman. Aku mau kita lebih dari ini. Aku mau kamu jadi pacarku." ​Keheningan mendadak merayap di antara mereka. Suara tetesan air dari atap terdengar seperti denting jam yang menghitung mundur kehancuran ego Devan. Amora tidak meraih kotak itu. Ia justru mundur satu langkah, wajahnya berubah kaku seolah baru saja mendengar sesuatu yang tak menyenangkan. ​"Dev... kenapa tiba-tiba?" bisik Amora pelan. ​"Ini nggak tiba-tiba, Ra. Selama tiga tahun ini, apa kamu nggak ngerasa? Aku yang selalu ada di samping kamu, aku yang selalu prioritasin kamu di atas segalanya. Aku melakukan semua itu karena aku cinta sama kamu." ​Amora menghela napas panjang, tatapannya beralih ke lantai koridor yang basah. "Aku menghargai semua kebaikanmu, Dev. Benar-benar sangat menghargai. Tapi untuk menjadi pasangan... aku nggak bisa." ​"Kenapa?" Suara Devan mulai meninggi, ada nada tidak terima yang terselip di sana. "Apa aku kurang buat kamu? Apa ada orang lain yang sedang kamu tunggu?" ​"Nggak ada orang lain, Devan. Tolong, jangan berpikiran seperti itu," potong Amora tegas. ​"Terus kenapa, Ra? Kasih aku satu alasan yang jelas! Aku bisa berubah kalau ada sifatku yang nggak kamu suka. Aku bisa jadi apa pun yang kamu mau!" Devan mencoba meraih tangan Amora, namun gadis itu dengan cepat menarik tangannya menjauh. ​Amora menatap Devan, sorot matanya yang biasanya hangat kini terasa sedingin es. "Masalahnya bukan pada kamu yang harus berubah, Dev. Masalahnya ada di aku. Jujur saja... aku memang tidak punya perasaan apa-apa untukmu. Aku hanya tidak suka denganmu dalam konteks hubungan romantis. Selamanya, aku hanya melihatmu sebagai seorang teman." ​Kata-kata itu menghujam d**a Devan lebih keras daripada tamparan fisik mana pun. "Tidak suka? Sesederhana itu kamu menolak semua pengorbananku selama ini?" ​"Cinta itu bukan transaksi, Devan. Kamu nggak bisa beli perasaanku dengan semua bantuanmu itu," ucap Amora dengan nada yang kini terdengar jengah. "Maaf, aku harus pergi sekarang. Tolong jangan ikuti aku." Amora memberikan anggukan singkat yang terasa sangat formal—sebuah jarak yang ia ciptakan dalam sekejap lalu berbalik dan berjalan cepat menyusuri koridor yang gelap, meninggalkan Devan yang mematung dengan hati yang hancur berkeping-keping. ​"Tuan... Tuan Devan?" ​Panggilan itu terdengar pelan, namun cukup tajam untuk merobek kabut masa lalu yang menyesakkan. ​"Tuan?" Kali ini suara Aldo, asisten pribadinya, terdengar lebih tegas tepat di samping telinganya. ​Devan terperanjat. Jantungnya berpacu dengan kencang, seolah ia baru saja ditarik paksa dari jurang waktu lima tahun yang lalu. Ia mengerjapkan mata, mendapati dirinya tidak lagi berada di koridor kampus yang lembap, melainkan di kursi kebesarannya di ruang rapat lantai teratas Mahendra Group. Pria itu adalah Devan Rafael Mahendra, CEO dari Mahendra Group. Di usia 28 tahun, ia telah menjelma menjadi pebisnis di industri berlian internasional. Dari tambang Afrika hingga butik-butik Paris, Mahendra Group berada di bawah cengkeraman tangannya yang dingin. Dunia mengenalnya sebagai jenius tak berperasaan, namun tak ada yang tahu bahwa kejayaan itu dibangun di atas puing penolakan sebuah kalung perak di masa lalu. ​Suasana hening seketika. Sepuluh pasang mata jajaran direksi menatapnya dengan raut bingung yang bercampur cemas. Pena mahal di jemarinya sempat terlepas ke atas meja marmer, menimbulkan bunyi denting yang memalukan bagi pria sedingin dirinya. Ternyata, aroma hujan yang merembes dari jendela besar ruang rapat tadi telah menyeretnya kembali ke memori terkutuk itu. ​Semua itu hanyalah kenangan buruk, puing-puing masa lalu yang seharusnya sudah ia kubur dalam-dalam. ​"Rapat selesai," ucap Devan dingin, suaranya berat dan mutlak. Ia memotong presentasi manajer operasional tanpa perasaan. "Kirimkan sisa laporannya ke meja saya besok pagi." ​Tanpa menunggu jawaban, Devan berdiri dengan gerakan menyentak. Ia meninggalkan ruang rapat itu dengan langkah lebar, menyisakan aura ketegangan yang membeku di udara. ​Devan melangkah masuk ke ruang pribadinya yang sunyi, membanting pintu kayu jati itu hingga berdentum keras. Ia berjalan menuju dinding kaca yang menjulang dari lantai hingga langit-langit, menampilkan panorama kota yang mulai basah oleh hujan sore. ​Di balik kaca jendela yang dingin, Devan berdiri tegak dengan tangan tersembunyi di saku celana kainnya yang mahal. Rahangnya mengeras saat ia menatap rintik air yang mengalir turun di permukaan kaca, persis seperti air mata yang tak pernah ia izinkan jatuh sejak hari itu. ​"Kenapa kamu tidak suka aku, Ra?" monolognya dalam hati, suaranya parau oleh luka yang tak kunjung sembuh. "Apa aku memang benar-benar tidak berarti untukmu? Setelah semua yang aku berikan, setelah bertahun-tahun aku menjadikanmu pusat duniaku... apa sedikit pun aku tidak punya tempat di sana?" ​Tatapan Devan menajam, seolah menembus kabut hujan yang menyelimuti gedung-gedung pencakar langit di hadapannya. ​"Dulu aku mungkin tidak punya apa-apa untuk membuatmu menatapku. Aku hanyalah mahasiswa biasa yang bisa kamu abaikan begitu saja," batinnya lagi, kini dengan nada yang lebih gelap. "Tapi lihat aku sekarang, Amora. Aku punya segalanya untuk membuatmu berlutut. Jika cinta tidak bisa membuatmu tinggal, maka biarlah dendam ini yang mengikatmu selamanya." ​Ia menyentuh permukaan kaca yang dingin dengan ujung jemarinya, meninggalkan jejak uap yang samar. Penolakan itu memang sudah berlalu lima tahun, namun obsesi yang ia rawat dengan dendam justru baru saja akan mencapai puncaknya. ​“Aku akan menghancurkanmu sampai kau tidak punya pilihan lain selain bersimpuh di kakiku, Amora. Sama seperti saat aku memohon di hadapanmu lima tahun lalu.” ​Sore itu, Devan berjanji pada bayangannya sendiri. Ia tidak akan lagi menjadi pria yang memohon di bawah lampu koridor. Saat takdir mempertemukan mereka kembali, ia akan memastikan Amora tidak akan memalingkan wajah darinya, dipaksa untuk mengakui kekuasaannya hingga wanita itu bertekuk lutut di hadapannya. ​
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN