SEMINGGU KEMUDIAN
seperti biasa,Rania segera menyelesaikan pekerjaannya sebelum akhirnya pekerjaan itu diprint out lalu diletakkan di buku album sebagai bahan referensi.
sungguh hari Rania akhir akhir ini merasa sangat menyenangkan .karena Eros menepati janjinya,tidak lagi mengurusi Rania seperti sebelumnya.
meski ada satu hal yang mengganggu pikirannya ketika kehadiran Aruna ditempat tinggal mereka,bermesraan disana membuat Rania muak dengan itu
namun ,biarlah selagi tidak mengganggu privasinya maka Eros bebas melakukan apapun.
diluar, hujan sangat lebat suara gemuruh bersahut sahutan.
"Ran,pulang bareng yuk!"ajak Salwa karna tidak ingin melihat sahabatnya itu pulang menaiki motornya ditengah hujan seperti ini.
Rania menganggukkan kepala nya,lalu beranjak dari kursi mengekori Salwa.
"Sal.."kedatangan Firdaus yang tiba tiba membuat kedua gadis itu terkejut.
nafasnya tersenggal seperti habis lari maraton
"abang?ngapain disini?"tanya Salwa mengerutkan kening.
"kita harus kerumah sakit sekarang!"Firdaus menarik tangan Salwa.
"bang. bang...tunggu!Rania gimana?"Firdaus menoleh kearah gadis yang berdiri sejak tadi disamping Salwa sambil menautkan kedua telunjuknya.
"maaf Ran,abang nggak lihat kamu dari tadi"
"nggak apa apa bang,kalau memang buru buru kerumah sakit,Rania bisa pulang sendiri"ucap Rania.
"kamu yakin nggak apa apa?"tanya Salwa khawatir,pasalnya hujan sangat deras dengan disertai kilat yang menyambar .
"aku nggak apa apa Salwa,beneran deh"jawan Rania penuh keyakinan
"gimana?udah bisa berangkat sekarang?"suara lain berasal dari seseorang yang baru saja menghampiri mereka bertiga.
ketiganya menoleh bersamaan kearah suara itu
"ah kebetulan ada mas Razan,mas Razan bisa tolong antar Rania dulu?"tanpa bertanya pada Rania Salwa sudah terlebih dahulu memerintah Razan mengantar Rania pulang.
"Fir?"Razan menoleh kearah Firdaus meminta persetujuan.
"nggak apa apa,kamu antar dulu Rania.Aku bisa semobil sama Salwa"jawab Firdaus yang kemudian diangguki oleh Razan.
"yuk!" Ajak Razan kepada Rania ,gadis itupun mengikuti langkah lebar Razan menuju parkiran.
****
"aku nggak nyangka kamu bisa berbuat semenjijikkan itu sama Razan"suara bariton itu terdengar sangat keras membuat Rania takut
setelah beberapa hari hidupnya tenang,apakah dia akan kembali merasakan siksaan lagi?
"apa maksud kamu?saya nggak paham"
"kamu memang srigala berbulu domba Rania,kamu pintar sekali menutupi kebusukan dibalik kepolosan kamu"Jawab Eros,ucapan yang mampu membuat hati Rania ngilu seperti ditusuk sembilu.
salah apa dia sehingga Eros sampai hati mengatakan hal demikian kepadanya.
"saya benar benar tidak mengerti maksud kamu,Eros!"
"kamu berciuman dengan Razan?"
"bahkan kamu menikmatinya?"sambungnya
"astagfirullah,kamu memfitnah saya?"
"fitnah?saya lihat dengan mata kepala saya sendiri saat di mobil"
setelah mengantar Rania sampai di basement,Razan mematikan mesin mobilnya,Rania pun segera melepas seatbelt nya namun sungguh kali ini dia kesulitan melepas itu.
"butuh bantuan?"tawar Razan ,Rania pun mengangguk.
Razan mencondongkan tubuhnya melepas kan sabuk pengaman itu dari tubuh Rania.
agak lama memang,namun akhirnya bisa terlepas.
sejenak Razan menoleh kearah Rania,seraya tersenyum tentu saja hal itu membuat Rania menundukkan wajahnya.dia tidak ingin berdosa karna menatap wajah lawan jenis yang bukan muhrimnya.
peristiwa itu tak luput dari tatapan mata elang Eros,tangannya mengepal menggenggam setir dengan erat mengira bahwa Rania berciuman dengan Razan.
"sayang,are you okay?" tepukan bahu yang mendarat lembut membuat Eros segera sadar dan langsung melajukan mesin mobilnya
meninggalkan basement mengantar Aruna kembali kerumahnya.
Riana menggeleng pelan "kamu salah paham Eros,kami tidak berciuman ,dia hanya membantu saya melepaskan sabuk pengaman"Rania berusaha menjelaskan
Eros tertawa kencang ,suara itu terdengar mengerikan ditelinga Rania "itu akal akalan kamu aja kan,biar Razan mendekat sama kamu"
"ya Allah,Eros bisa nggak kamu berpikir positif sama saya?"
"engga bisa,karna kamu nggak lebih dari w************n"
"apa maksud kamu bilang saya seperti itu?atas dasar apa ?"lagi Rania merasa direndahkan harkat dan martabatnya oleh Eros
Eros tersenyum sinis "buktinya,kamu memilih bercinta dengan saya malam itu,demi mendapat sebuah kebebasan.Terjawab sudah kebebasan apa yang kamu maksud"Eros menyeringai lalu mendekatkan bibirnya ditelinga Rania yang terbungkus hijab.
"kebebasan berselingkuh"sambungnya
plak...
satu tamparan sukses mendarat dipipi mulus pria itu,
"kamu benar benar keterlaluan Eros"air mata nya tumpah dihadapan pria bengis itu,dia tak sanggup lagi menahan apa yang telah dipendamnya selama ini
"ceraikan saya!"satu kalimat yang membuat Eros terhenyak.
"sudah cukup kamu menindas saya,saya tidak tahan!"
Rania meninggalkan Eros menuju kamarnya,hatinya serasa remuk seperti diremas oleh mesin penggiling profesional
.
.
.
.
"assalamualaikum"Rania yang baru saja menyelesaikan makan malam menjawab panggilan salam tersebut.
"waalaikumsalam"jawab Rania seraya membukakan pintu.
"ibu"Rania memeluk erat mertuanya,
"masuk bu!" Widya membawa beberapa makanan juga ditangannya
"malam minggu gini kamu nggak kemana mana ,Ran?"tanya ibunya yang direspon gelengan oleh Rania.
"enggak bu,Rania dirumah saja,istirahat!"jawabnya seraya tersenyum meski dipaksakan,bagaimana dia bisa me time?pergi bekerja saja sudah dituduh yang tidak tidak oleh Eros.
"Eros mana?"
"hum..mas Eros itu anu..."Rania kelabakan mencari alasan,Eros tentu saja pergi bersama Aruna kemana lagi memangnya?.
Dalam hatinya berdoa agar Aruna tidak dibawa kesini seperti biasanya.
"anu apa?"tanya Widya heran
"Eros baru datang dari ganti ban mobil,bu"suara dari ambang pintu membuat Rania bernafas lega.
Eros menghampiri ibunya lalu memeluknya erat "ayah kemana ?"tanya Eros kemudian.
"itu dia masalahnya ibu datang kesini ,Ros"Widya menatap Rania dan Eros bergantian lalu menghembuskan nafas membuat dua orang itu berpikir yang tidak tidak
"ayah dinas keluar kota untuk dua hari kedepan,jadi untuk itu ibu minta ijin menginap disini"Rania yang sejak tadi bergumul dengan pikirannya pun terbelalak tak jauh berbeda dengan Eros
"kalian nggak keberatan kan?"tanya Widya.
"kami nggak keberatan kok,ya kan sayang"kata sayang yang terdengar merdu membuat Rania gugup seperti baru mendapat hadiah besar.
yaampun Rania..sadarlah ini hanya kamuflase.batinnya
"i-iya bu,ibu Bisa tidur dikamar sama Rania"jawabnya polos
"tidur dikamar sama Rania maksudnya apa?"Widya tidak mengerti atas ucapan menantunya.
"oh .itu Rania dan mas Eros sebenarnya kita tidur nggak sekamar"jawab Rania lagi
"APA?nggak sekamar?"Widya terkejut
"bukan..bukan gitu maksudnya, barang barang Rania disimpan dikamar satunya,tapi Rania tidur dikamar mas Eros gitu"Rania bingung meralat kalimatnya,dia begitu kelabakan karna dia tidak pandai berbohong pada dasarnya
"kenapa bisa begitu?"Widya mulai menaruh curiga
"jadi bu,barang barang Rania kan banyak,dan dia kadang butuh privasi juga Jadi Rania memilih kamar lain untuk meletakkan barangnya "
"iyakan sayang?"Eros menoleh kearah Rania seraya mengedipkan sebelah matanya,sepersekian detik Rania terpaku oleh kedipan mata itu,
"ah .iya ibu begitu maksudnya"jawabnya gugup
"oh ..begitu?hah .hampir saja ibu mikir yang enggak enggak sama kalian"
"ya udah..ibu istirahat dulu ya"Widya bangkit lalu menuju kamar yang Rania tempati
sementara Rania dan Eros saling memandang lalu menelan saliva masing masing
"ya Allah ...apakah aku harus tidur dengan suamiku"
Rania memejamkan mata.
.
.
.
.
"selamat pagi,apa tidur kalian nyenyak?"tanya Widya yang sudah menyiapkan makanannya diatas meja.
"ibu hari ini masak makanan khusus kalian"sambungnya
Rania hanya tersenyum kikuk menanggapi tatapan jahil mertuanya,apa arti tatapan itu dia sendiri tidak mengerti.
"cah toge,bakwan dan Alpukat manis?"Rania mendongak kearah Widya.
"iya,untuk meningkatkan kesuburan bagi pasangan yang baru menikah,apalagi masa pembuahan."
Rania hanya mampu mengusap tengkuknya,bagaimana bisa berbuah,tidur saja terpisah batinnya.
dan lagi,Rania tidak berminat memiliki momongan mengingat rumah tangga mereka yang bagaikan minyak dan air seperti ini.
"Rania udah sholat?"tanya Widya bukan itu sebenranya maksud pertanyaan Widya.
namun menjurus ke hal intim.
"Rania lagi halangan,bu"jawaban yang membuat Widya mendesah kecewa,tentu saja Rania tidak mengerti arti desahan itu.
"Eros belum bangun?"Rania menggeleng,mana berani dia bangunin Eros.
"kenapa nggak dibangunin sayang,ayo!kamu bangunin dia!"titah Widya mendorong pelan punggung Rania.
Rania menghela nafas kasar,bagaimana harus dia bersikap.