brakk....
Eros mendorong paksa pintu kamar Rania yang tidak terkunci.
Rania terkesiap saat Eros menghampirinya lalu merebut paksa ponselnya dan melempar asal kearah lain,mata gadis itu terbelalak memperhatikan benda pipih yang kini teronggok dilantai.
"apa yang kamu lakukan?"Rania bangkit dari ranjangnya tak terima oleh sikap Eros yang sering semena mena terhadapnya.
"justru saya yang harusnya nanya sama kamu,mau kamu apa hah?"Rania mengernyitkan dahinya tak mengerti maksud arah pembicaraan Eros yang tidak jelas.
"saya tidak mengerti"Eros mengangkat buket bunga yang berada dalam genggamannya keudara.
"ini apa?"matanya melotot kearah Rania membuat gadis itu menunduk takut
"saya belum mengerti"benar benar Rania tak mengerti apa hubungan dirinya dengan buket bunga yang berada dalam genggaman Eros.
"jangan pura pura bodoh,kamu selingkuh?lihat ada kiriman bunga untuk kamu dan ini dari Razan?pacar kamu?"emosi pria itu meletup letup,membuat Rania bertanya tanya mengapa Eros semarah ini padanya hanya karna sebuah buket bunga yang dikirim untuk Rania
"dia hanya rekan kerja saya"
"kenapa dia sampai tahu alamat apartemen ini?"
"karna tadi saat pulang kerja,dia mengantar saya sampai pintu lift"jawab Rania jujur
"oh...sejauh itu hubungan kalian sebagai rekan kerja?"Eros menghimpit tubuh Rania di dinding seraya menjepit dagunya dengan tangan kekarnya.
karna merasa kesakitan,Rania menangkis tangan pria itu kasar
"terus kenapa?kenapa saya selalu salah dimata kamu?mau sejauh apapun hubungan saya dengan pria manapun itu tidak ada urusannya sama kamu.Tolong tetap profesional dengan perjanjian kita,untuk tidak ikut campur urusan masing masing"
Ucapan Rania menyadarkan Eros akan satu hal,pria itu lupa cara mengendalikan emosinya ketika mengetahui bahwa diam diam ada pria yang berusaha menarik perhatian istrinya.
lalu ,mengapa dia harus marah?ini tidaklah benar?
Eros melempar buket bunga itu kelantai kemudian meninggalkan Rania sendirian ,langkah lebarnya keluar dari kamar itu membawa nya dalam keadaan emosi yang masih belum mereda.
gadis itu tiba tiba menangis,karna merasakan sesak teramat dalam karna perlakuan Eros.
mau apa sebenarnya pria itu?tidak cukupkan dia bertindak semena mena ,apa sekarang dia juga akan menyakiti nya?
pria macam apa yang menjadi suaminya ini,kenapa dia sangat buruk lebih dari dugaannya.
Rania memungut benda pipih yang kini mati total dengan layarnya yang pecah,gadis itu bersedih meratapi nasib ponselnya yang kini tak bernyawa itu
padahal ponsel itu dia beli dengan susah payah,tapi kenapa dengan mudahnya Eros menghancurkannya begitu saja.
kemudian meraih buket bunga yang kini bentuknya telah rusak.
"selamat tidur,mimpi indah Rania"begitu pesan dikertas yang ditulis oleh pria bernama Razan.
lalu salahnya dimana?batin Rania.
****
jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam,Aruna beranjak dari sofa itu lalu merapihkan pakaiannya yang kusut akibat ulah nakal Eros.
"aku pulang dulu ya,sayang"Aruna mencium pipi kiri kanan Eros sebagai tanda perpisahan seperti biasa.
pria itu mengangguk lalu mengantar Aruna sampai depan pintu,masih memperhatikan wanitanya yang setia menunggu Lift terbuka.Letak pintu apartemen miliknya kebetulan tak jauh berada dari pintu Lift,Aruna menoleh kepada Eros lalu tersenyum,melambaikan tangannya masuk kedalam sana.
pria itu segera menutup pintu,saat dirinya akan segera masuk kamar,bel berdenting .
tingtong
Eros terkekeh,ini pasti ulah Aruna,mungkin saja barang kekasihnya ada yang tertinggal disini?
'hmm... dasar kebiasaan'batin pria itu
"ada apa say_"mulutnya tertutup seketika saat seorang kurir berdiri dengan memegang buket bunga edelweis ditangannya,bukan Aruna seperti dugaannya
"benar ini unit apartemen Rania Malika?"tanya kurir tersebut.
Eros mengangguk "iya benar!"
kurir tersebut tersenyum lalu menyerahkan buket bunga itu ke tangan pria didepannya,lalu meraih sebuah kertas dan mengambil pena dalam saku nya.
"tanda tangan disini ya pak,sebagai tanda terimanya"kurir itu menyodorkan kertas dan pena kepada Eros,
setelah kurir itu pergi,Eros mendorong pintu kasar agar tertutup kembali.Lalu memperhatikan dalam dalam buket bunga yang dirangkai sedemikian rupa agar terlihat rapi dan cantik.
perpaduan warna yang indah antar cream dan ungu
"siapa yang ngirim bunga ini?"Eros membaca tulisan yang tersemat di kertas itu
selamat tidur,mimpi indah Rania.
dari:Razan.
Eros mengernyitkan dahi "Razan?"berbagai spekulasi muncul dalam pikirannya tentang siapa Razan?
"berani beraninya kamu, Rania"dengan setengah berlari dia menghampiri kamar Rania yang tertutup rapat lalu mendorongnya kasar.
Brakk...
pintu itu terbuka lebar hingga membentur dinding,melihat Rania yang duduk ditepian ranjang sambil memegang ponsel lalu tersenyum dengan ponselnya membuat kemarahan Eros meningkat.
tidak perduli bagaimana reaksi Rania saat Eros merebut paksa ponsel itu lalu melemparnya
dadanya naik turun tak beraturan,tak kuasa menahan emosi yang kini berapi api.
"apa yang kamu lakukan?"gadis itu bangkit dari duduknya kemudian menatap tak percaya kearah eros setelah sebelumnya memperhatikan benda pipih miliknya melayang.
"Justru saya yang harusnya nanya sama kamu,mau kamu apa hah?"Eros menarik lengan Rania seraya menggoyang tubuhnya,gadis itu tampak menunduk ketakutan oleh suara bentakan pria di depannya
"saya tidak mengerti"
"ini apa?"
"saya belum mengerti"jawab gadis itu polos,semakin membuat Eros tidak suka.
"jangan pura pura bodoh,kamu selingkuh?lihat ada kiriman bunga untuk kamu dan ini dari Razan?pacar kamu?"
"dia hanya rekan kerja saya"
"kenapa dia sampai tahu alamat apartemen ini?"
"karna tadi saat pulang kerja,dia mengantar saya sampai pintu lift"jawab Rania jujur,meski awalnya dia ragu mengatakannya ,lebih baik mengatakannya daripada nanti semakin salah
"oh...sejauh itu hubungan kalian sebagai rekan kerja?"Eros menarik tubuh Rania menghempaskan kedinding,lalu menghimpit tubuh kecil itu di dinding seraya menjepit dagunya dengan tangan kekarnya.
"terus kenapa?kenapa saya selalu salah dimata kamu?mau sejauh apapun hubungan saya dengan pria manapun itu tidak ada urusannya sama kamu.Tolong tetap profesional dengan perjanjian kita,untuk tidak ikut campur urusan masing masing"
suara serak gadis itu menunjukkan betapa dia sakit diperlakukan seperti itu oleh Eros,pria itu mundur beberapa langkah lalu membuang buket bunga itu tepat didepan Rania
sebelum akhirnya pergi meninggalkan Rania yang menangis
***
Eros membuang muka saat matanya tak sengaja bertatap dengan Rania,begitupun dengan gadis itu,dia hanya mampu menundukkan kepala.
"lihat!berpakaian layaknya orang suci berperilaku seperti orang suci tapi sebenarnya sangat binal"sarkas Eros ,tak peduli perkataannya akan melukai Rania atau tidak.
Rania bergeming,tidak ingin tersulut emosi yang menyebabkan dosanya semakin bertambah,dia memilih beristigfar agar emosinya dapat dikendalikan.
jujur,hatinya dangat teriris saat dirinya disebut binal oleh suaminya sendiri.
"saya pergi dulu,assalamualaikum"meninggalkan Eros yang masih mematung menatap punggung gadis dengan banyak kebencian.
.
.
.
.
"selamat pagi ,Rania cantik!"Razan melayangkan pujian kepada Rania yang baru saja duduk dimeja kerjanya.
Razan adalah sahabat Firdaus kakak Salwa sekaligus pemilik saham di butik ini,butik yang dibangun Salwa sangat besar hingga memiliki beberapa anak cabang yang tersebar dibeberapa kota.Razan hanya beberapa kali datang untuk memeriksa situasi butik ini.
"selamat pagi Razan"jawab Rania seraya tersenyum tipis
"bunga semalam sudah kamu terima?"tanya Razan kemudian.
Rania mengangguk ragu"tapi lain kali tidak usah,karna saya tidak suka bunga"Rania beralasan,dia hanya takut pertengkaran semalam dengan Eros akan terjadi lagi jika Razan terus menerus mengirim buket bunga untuk Rania.
"maaf ya,saya nggak tahu kalau kamu nggak menyukai bunga"Razan menggaruk tengkuknya.
"nggak apa apa"jawab Rania lembut.
netranya kembali fokus menatap layar segiempat yang baru menyala,mengabaikan Razan yang masih didepannya.
mata Razan membulat sempurna saat mengetahui ada cincin dijari manis Rania.
"Rania,maaf apa kamu sudah menikah?"tanya Razan ,Rania mendongak kearah pria didepannya.
bingung akan menjawab apa karna pernikahan ini memang tidak diharapkan.
"i-iya,saya sudah menikah"jawab Rania ragu,membuat Razan mengernyitkan kening.
ada yang aneh dari raut wajah gadis didepannya.
"maaf,saya nggak tahu kalau kamu sudah bersuami,apa kita masih bisa berteman?"
Rania mengangguk "tidak ada larangan berteman dengan wanita bersuami"jawabnya kemudian membuat Razan tersenyum dengan jawaban wanita didepannya.