15.Galau

1035 Kata
Mata gadis itu berbinar saat dirinya berdiri tepat dihalaman rumah yang dia rindukan keberadaannya sejak berumah tangga sebulan lalu,Rania belum sama sekali mengunjungi ibu dan adiknya. bukan karna tidak ada waktu,namun Eros lah pemicu utamanya. "mau berapa lama lagi berdiri disini,kamu nggak mau masuk?"Rania tersadar sejak tadi hanya diam memandangi rumahnya dari mobil Razan gadis itu tersenyum tipis,lalu membimbing pria disampingnya ikut serta mendekat ke pintu rumahnya. "assalamualaikum,bu"tidak menunggu waktu lama,sahutan salam terdengar dari dalam "waalaikumsalam" "Rania"Tuti terkejut sekaligus gembira atas kedatangan Rania yang tiba tiba,memeluk putrinya sangat erat menumpahkan kerinduannya selama sebulan yang tertahan. meski demikian,Tuti tak pernah mengatakan jika dirinya rindu,jika hal itu terjadi maka itu akan membuat Rania cemas dan tentu saja nekat pulang demi mengobati rindu sang ibu. Tuti tidak ingin itu terjadi,karna mengingat Rania dan Eros masih baru saja membina rumah tangga yang masih seumur jagung. "Rania,ini siapa?"Tuti menoleh kearah pria yang berdiri tegap disamping Rania. "saya Razan,tante"jawabnya seraya menyalami Tuti. "mas Razan ini,pemilik saham di butik nya Salwa bu"sambung Rania. Ibunya mengangguk lalu tersenyum,mempersilahkan keduanya masuk ,sementara Tuti menyiapkan minuman. . . . . Rania meluruskan kakinya diatas ranjang,punggungnya bersandar di ranjang yang sudah sebulan tidak dia gunakan. "Rania,sayang"Tuti menghampiri Rania lalu duduk disisi ranjang. "ada apa ibu?"tanya Rania "apa yang sebenarnya bikin kamu datang kesini?apa rumah tangga kalian baik baik aja?"tanya Tuti dengan menyiratkan wajah cemas. "kami baik baik aja ibu,Rania kesini karna rindu sama ibu,kangen masakan ibu"Jawaban Rania tidak sepenuhnya berbohong,memang itulah salah satu alasannya. "sudah pamit sama Eros?"Rania mengangguk lalu tersenyum. "ibu nggak usah khawatir,Rania kesini udah pamit sama suami Rania kok,cuma karna beliau sibuk jadi nggak bisa ikut antar kesini" sibuk?sibuk apanya?sibuk sama Aruna ,iya! "iya ibu paham.Kamu harus sabar,begitu memang sensasinya punya suami CEO" "oh ya,denger denger hubungan rumah tangga kalian sangat harmonis ya?"Tuti tersenyum jahil kearah Rania. "ibu tau dari siapa?"Rania menautkan kedua alisnya. "waktu itu ibu mertua kamu berkunjung kesini,beliau menceritakan keromantisan kalian.Ibu sangat bersyukur dan senang mendengarnya" "ibu doakan ya,semoga rumah tangga kalian bertahan hingga maut memisahkan"Rania mengangguk,tak mampu lagi membendung tangisnya.Bukan bentuk keharuan atas doa yang dipanjatkan oleh ibunya melainkan rasa bersalah yang besar karna telah berbohong sedalam ini tidak bisa dibayangkan jika kebohongan ini terungkap,bagaimana dia akan mengobati luka hati ibunya. "udah hapus air matanya,istirahat!kamu pasti cape"Tuti bangkit dan bergerak menjauhi Rania lalu menutup pintu kamar Rania pelan. . . . . Waktu terus bergulir,seminggu tanpa Rania ,membuat Eros rindu,rindu wajahnya yang teduh ,rindu dengan suaranya yang lembut mendayu Ada rasa bersalah saat sadar, bahwa dia sangat keterlaluan bersikap pada Rania. Tak dapat dipungkiri,ketiadaan Rania mampu membuat Eros merasa kesepian ,meski berkali kali mencoba menepis kalau dia merindukan Rania,berkali kali pula dia gagal melakukan nya. "Eros,ngelamun aja kamu!"suara Fachri membuyarkan lamunan pria yang sedang duduk dikursi kebesarannya Eros yang sedari tadi menopang kedua tangannya di pelipisnya pun tersadar dari lamunan itu. "Maaf,aku cuma lagi banyak pikiran" Eros mengambil sebuah map biru yang di berikan oleh Fachri,seraya membolak balik setiap halamannya. "Mikirin istri kamu ,ya?" gerakan itu seraya berhenti,saat sahabatnya berhasil menebak isi pikirannya. "Bukan urusan kamu!"kini atensinya kembali ke helai demi helai kertas di tangannya itu. "Erosi..Eros..,kalau aku jadi kamu,aku tidak akan menyia nyiakan bidadari surga macam, Rania" Fachri seperti tidak tahu saja ucapan itu bisa saja membangun kan sisi buruk Eros. "Bilang apa kamu tadi?jangan bikin orang naik darah ,ya"Fachri menangkap kecemburuan di mata nya ketika orang lain memuji keistimewaan Rania. "Sepertinya,kamu mulai jatuh cinta sama istrimu?benar?"Fachri menelisik setiap inci wajah Eros,mencari celah kebenaran yang dia ucapkan tadi bahwa benar ,Eros mulai menginginkan istrinya. "Jangan ngasal!,aku tidak mungkin jatuh cinta sama dia,aku masih waras untuk menjilat ludahku sendiri" "Hmm,baiklah kalau begitu,sepertinya aku tidak jadi memberi informasi apa apa tentang Rania kepadamu,hari ini." "Memangnya informasi apa yang kamu tahu dari Rania?nggak usah berlagak sok kenal dengan wanita itu,dia tipe orang introvert yang nggak mudah bergaul,hanya beberapa aja yang dekat sama dia tidak termasuk orang baru"Eros mengoceh panjang lebar tanpa dia sadar bahwa dia mulai mengenal sifat istrinya "Ternyata kamu tau banyak ya,soal Rania?"goda Fachri "Ck,berhenti memancing aku Fachri,kalau urusanmu sudah selesai disini,mending pergi sana!"Eros mulai tersulut emosi,tidak ingin semakin memuncak lebih baik dia mengusir halus sahabatnya yang tidak tahu malu itu "Ya..ya..aku akan pergi,tapi ada hal penting yang ingin aku sampaikan sama kamu" "Apa lagi?"tanya nya gusar. "Kelihatan nya Rania bahagia,setelah bebas dari rumahmu." Eros terus saja sengaja memancing emosi Eros "Siapa yang perduli,aku bahkan tidak ingin tahu kabar apapun tentangnya" Eros berbohong,bahwa sebenarnya dari dalam lubuk hati terdalam,dia ingin sekali menjemput Rania untuk pulang ke apartemennya. "Ayo,makan siang!"ajak Fachri "Aku tidak bisa,sibuk!"tolak Eros "Ayolah!sebentar aja,sibuk mu memikirkan Rania bisa kamu lanjutkan setelah makan siang!"Fachri tersenyum mengejek ke arahnya. Jika saja Eros tidak ingat Fachri adalah sahabat nya,mungkin mulut itu sudah tidak berbentuk kali ini. **** Mereka telah berada di restoran yang lokasinya dekat kantor Eros. "Bro,kamu lihat itu!" telunjuk Fachri menunjuk meja yang berada di ujung sudut ruangan,ekor mata Eros mengikuti arah telunjuk sahabatnya. Di meja itu tampak dua wanita dan dua pria,dadanya bergemuruh ,raut wajah kesal bercampur cemburu itu tampak jelas dari wajah tampannya. " Apa,kamu butuh bantuan ku ,untuk mengatasi pria itu?"tanya Fachri terus saja menggoda Eros,tampaknya menggoda Eros menyenangkan baginya. "Kamu ini,sudah kubilang apapun tentang Rania aku nggak perduli"Eros tidak ingin melakukan hal bodoh dan mengingkari janji pada Rania,bukankah dia telah memberi kebebasan terhadap Rania. "Ya..karna ketidak pedulian mu sampai wajah kusut mu itu,memberi tahu keadaan yang sebaliknya" "Sudah lah,lebih baik cepat habiskan makananmu aku banyak kerjaan,"pada kenyataannya,Eros tidak tahan melihat keakraban yang terjalin antara Rania dengan Razan. mereka tampak sangat akrab dan...serasi. Eros merasa pilu,disaat Rania dapat tersenyum hangat bersama pria lain,kenapa dia merasa tidak suka saat mengingat air mata yang Rania tumpahkan saat di hadapannya? Benar yang Fachri katakan,Rania terlalu berharga untuk di sia sia kan. Jika saja, Eros benar benar bercerai dari Rania,dirinya yakin,akan banyak ratusan pria yang mengantri untuk meminang janda kembang itu. untuk itu,dia masih bersikap waras untuk mengatur emosinya,meski dadanya bergemuruh saat ini tak tahan melihat apa yang terjadi dihadapannya. dia sadar,selama ini,dia terlalu naif akan perasaannya,bahwa sesungguh nya dia menyukai wanita itu. Keegoisannya terlalu besar untuk membuatnya mengakui,bahwa Rania adalah yang terbaik untuk dirinya. lalu Aruna?entah rasa itu mulai terkikis bersamaan dengan berjalannya waktu. sepertinya sebentar lagi dia akan melupakan janji nya pada Aruna,dan pergi mengejar cinta Rania.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN