Rania pergi bekerja menggunakan taksi,meski harus menempuh jarak satu jam itu tidak menjadi persoalan
mau bagaimana lagi?karna sejak dirumah ibunya,dia sadar tidak membawa kendaraan pribadi saat pulang waktu itu.Meski Razan telah menawarkan diri,Rania menolak halus itikad baik itu karna walau bagaimanapun dia wanita bersuami
sesampainya dibutik,Rania disambut oleh Razan,Salwa dan Firdaus diruang kerja Salwa.
tentu saja mungkin kehadiran mereka bertiga disini ada hubungannya mengenai butik.
tak lama Rania bergabung duduk diantara mereka.
setelah berdiskusi cukup lama,mereka pun membubarkan diri.
poin terakhir yang perlu diingat,setelah jam makan siang tiba Rania harus bertemu dengan model busana yang akan tampil nanti,memamerkan rancangan busana milik Rania diatas catwalk .
.
.
.
.
setelah Rania mematikan layar monitornya,Rania bergerak menuju pintu ruangan milik Salwa.Mendorong pelan pintu ruangan itu.
"Sal,bagaimana?"Rania menghampiri Salwa yang masih berkutat dengan laptopnya.
"sepertinya aku nggak bisa ikut,bisa kamu handle sendiri kan?"
"tapi_"
"tenang,diantar sama mas Razan kok"Rania tersenyum kikuk,dia merasa tidak enak selalu merepotkan Razan seperti ini.
Rania pun bangkit lalu menghampiri Razan yang tengah duduk di Sofa tunggu sebelah ruang ganti.
ternyata pria itu memang sudah tahu mengenai ini dan sengaja menunggu Rania.
mereka pun berjalan beriringan ke arah parkir mobil.
****
Rania Pov
sesekali kami melempar candaan kepada relasi kami,dua orang model pria dan wanita yang sedang naik daun bersedia menjadi Brand ambasador merk busana yang akan diluncurkan oleh Butik milik Salwa.
tentu saja ini kebanggaan tersendiri bagi kami dapat bekerja sama dengan para model tersebut.
Mas Razan yang sejak tadi menemani ku berbincang dengan dua orang model tersebut pun ikut menimpali kami candaan.
jujur,aku merasa nyaman didekat mas Razan tapi bukan berarti aku menyukai nya dalam bentuk menjurus ke sebuah perasaan yang melibatkan hati.
namun,aku merasa terlindungi jika bersamanya.
kami tertawa lepas begitu kalimat kalimat konyol diucapkan oleh mas Razan,dia pandai sekali membawa suasana,jadi meeting kami terasa lancar dan menyenangkan.
hal yang tidak kudapatkan pada suamiku,dia berbeda,pria itu sangat dingin dan datar.
membahas tentang Eros,tiba tiba aku mengingat dia,sungguh aku rindu tapi disisi lain aku membencinya.
ah ..bukan benci,tapi kesal saja kepadanya.
apa kabar dia selama seminggu tanpa aku? apa dia baik baik saja?apa dia sehat?yaampun..aku lupa sudah pasti dia baik baik saja ,dia kan selalu terus bersama Aruna.
memikirkan suamiku dengan Aruna hatiku mendadak nyeri,mengapa kejadian waktu mereka sekamar teringat terus dalam benakku.
berusaha berpikir positif tapi nyatanya sia sia,pikiran negatif selalu dominan lebih besar presentase nya dan mempengaruhi kinerja otakku
tak sengaja,ekor mataku menangkap sosok yang familiar. Aku melihat ada Eros bersama dengan mas Fachri sedang makan siang,kebetulan sekali kan?
ya aku kenal dengan mas Fachri,mereka bersahabat sangat baik,dan aku dengar mas Fachri adalah pemilik perusahaan yang pernah menjadi posisi teratas di masanya kalau tidak salah namanya F.A corp.
aku mengalihkan pandanganku saat beberapa kali ketahuan mencuri pandang kearah Eros.
jujur,hatiku menghangat melihatnya disini,seakan rinduku terobati begitu saja hanya dengan menatapnya.
apa pria yang jauh ku pandangi juga merasakan hal yang sama?
Rania,berhentilah berharap hanya pada kekosongan!aku bergumam dalam hati
.
.
.
.
aku berjalan gontai masuk kedalam rumah,setelah mengucap salam ibu menyambut kepulangan ku.
ibu membawakan ku segelas minuman segar,yang setelah ku teguk memberikan sensasi menyejukkan di kerongkonganku
"ibu,hari ini Rania harus pulang"aku ragu mengatakan ini.
ingin lebih lama namun aku telah berjanji disini hanya untuk seminggu saja.
mau menghubungi Eros aku tidak punya handphone,tapi tidak apalah aku bisa naik taksi.
"ya sudah,kamu hati hati ya pulangnya?kenapa Eros tidak menjemput?"
"mas Eros ada urusan bu diluar kota,dan baru kembali besok,jadi Rania harus ada diapartemen sebelum mas Eros pulang"
ya Allah...ampuni aku yang telah berbohong pada ibu.
"kamu emang istri yang berbakti ,nak.Ya udah segera siap siap ya"aku pun mengangguk pada ibu.
dua puluh lima menit berlalu,aku keluar kamar dengan menjinjing tas ku.
"makasih ya bu,sudah mau memberi tumpangan sama Rania selama seminggu ini"
"iya sama sama,padahal ibu masih ingin lebih lama.Kapan kapan berkunjung lagi ya!, tapi ibu mau kamu ajak Eros sekalian"pinta ibu penuh harap,aku hanya mengangguk,bagaimana mungkin itu terjadi,rasanya sangat mustahil.
****
"Assalamualaikum"ucapku seraya mengetuk pintu.
aku sudah yakin siapa yang membukakan pintu untukku,karna terlihat dari bentuk kakinya.
Aruna
"hah .kamu ganggu aktivitas kami tau nggak"ucapnya ketus ke arahku,matanya berputar jengah dengan melipat kedua tangannya didada.
"maaf,bisa kalian lanjutkan!saya permisi"aku melangkah masuk melewatinya.hatiku mendadak nyeri ketika melihat bekas kissmark dileher terbuka Aruna.
aku yakin itu ulah Eros,siapa lagi memangnya?
"Rania?"mata Eros membuat sempurna setelah menyadari aku berada disana.
"iya,ini saya.Saya menepati janji saya,hanya pergi untuk seminggu"jawabku ketus.Entah mengapa emosiku tidak stabil sejak berumah tangga dengan Eros,yang selalu membuatku sering mengurut d**a.
Eros tampak salah tingkah mendengar ucapanku,kemudian dia mendekat kearah Aruna ,mengatakan sesuatu entah itu apa.Aku tidak peduli meski aku penasaran.
sejurus kemudian,Aruna meninggalkan apartemen sebelumnya dia melayangkan tatapan sinis kepadaku.
aku hanya mengedikkan bahu.
"maaf,saya tidak tahu kalau kamu akan kembali hari ini" ucap Eros kepadaku.
"nggak masalah,saya tidak persoalkan tentang itu"jawabku
"Eros,bisa saya meminta sesuatu sama kamu?"tanyaku
"apa?"
"bisa kah kita bercerai saja?saya bukan wanita yang kuat Eros"
"tapi Ran,bagaimana dengan ibu?"
aku tersenyum lesu,entah mengapa kali ini aku tidak menitikkan air mata.Apa karna air mataku telah lelah untuk terjun bebas begitu saja.
"harusnya kalau kamu memang menjaga perasaan ibu,tidak seharusnya membawa Aruna kesini"
"kamu tidak tahu kapan dan jam berapa ibu akan datang mengunjungi kita,bagaimana jika dia tahu kebenarannya?"sambungku.
Eros tampak diam mencerna kalimatku,permintaanku sangat sederhana bukan?tapi kenapa serasa aku memerintah dia meraih bulan
"saya tidak ingin berbuat dosa Eros dengan terus menerus seperti ini"
"maaf,kalau saya banyak bicara,saya hanya_"melihat Eros tak merespon aku segera mengucapkan kata maaf
"tidak apa apa kalau kamu memang keberatan,boleh saya tanya satu hal?"dia berbalik bertanya padaku
"apa?"
"apa permintaan mu barusan ada hubungannya dengan kecemburuan"
aku menghela nafas"nggak ada,saya sama sekali enggak"
ya Allah ..maafkan aku!
Eros mengangguk "Rania,saya dan Aruna _"
aku memejamkan mata,berusaha menerima apa ucapan Eros selanjutnya "akan akhiri hubungan kami"ucapnya tentu aku terkejut,bagaimana mungkin?
"kenapa?"tanyaku penasaran
"bisa kah kita memperbaiki hubungan kita"katanya,membuatku shock ke kedua kalinya,
apa katanya barusan?memperbaiki hubungan?hubungan yang mana?
"kita nggak punya hubungan apa apa"sergahku.
"baiklah,kalau memang kamu tidak merasa punya hubungan sama saya.Bagaimana kalau
kita memulainya dengan berteman?"aku tidak tahu apa yang membuat Eros berubah seperti ini,apa dia sedang mengalami gegar otak ?
"baiklah,kita berteman,boleh aku memberi saran sebagai seorang teman?"Eros mengangguk
"saran saya ,jangan memutuskan hubungan semudah itu dengan Aruna,apalagi kalian_"
"apa?"
"kami tidak sejauh itu Rania,hubungan kami hanya sekedar berciuman dan berpelukan tidak lebih"jelasnya yang membuat hatiku merasa lega.
"tapi barusan_"
"dia sedang alergi"sambungnya yang membuatku terdiam.apakah bisa ku pertimbangkan ucapannya?sedangkan dia senang sekali berbohong sebelumnya.
"kamu nggak percaya ya?"
aku tetap bergeming,kepala ku mendadak kaku hanya untuk sekedar menggeleng ataupun mengangguk.
"nggak apa apa,mungkin untuk belajar percaya sama saya butuh waktu yang lama"Eros meraih tas yang sejak tadi masih kuangkat.Membawanya kedalam kamar tapi tunggu_
itu bukan kamarku.