BROKEN
*
Senja telah menyapa, meninggalkan warna jingga di sisi langit. Andra baru saja ingin kembali ke rumahnya. Setelah keluar dari ruangan, ia menuruni lift dan sampai di lobi. Lalu, menuju pintu keluar untuk segera naik ke mobilnya di parkiran. Hari ini rasanya terlalu melelahkan untuk dilalui. Banyak sekali pekerjaan di kantor yang membuat wajahnya benar-benar terlihat lelah.
Mobil Andra keluar dari pekarangan kantor. Sore, mungkin juga akan terkena macet di jalanan. Seperti biasanya, kota yang padat penduduk, pagi macet, sore juga macet. Tak mengapa, meskipun sedikit menyebalkan, tapi Andra sudah terbiasa dengan keadaan ini.
*
Andra memarkirkan mobilnya saat sampai di rumah. Setelah membuka sepatunya ia masuk ke dalam rumah. Namun, ia dikagetkan oleh suara Iyan yang tiba-tiba keluar dari belakang pintu. Bukan kaget sebenarnya, tapi pura-pura kaget agar anak itu terlihat senang. Padahal saat Andra membuka sepatu, ia bisa mendengar Iyan dan Andini yang bersepakat untuk mengerjainya.
“Cilukba,” kaget Iyan.
“Jagoan papa!” Andra mengangkat tubuh kecil itu ke udara, hingga membuat Iyan tertawa lepas saking girangnya.
“Udah mandi?” tanya Andra pada Iyan.
“Udah, dong.”
“Udah ganteng ya anak papa.”
“Iya.” Iyan menjawab dengan aksen cadelnya.
Lalu bocah itu menutup sebagian hidungnya. “Papa oyok.” Iyan protes karena Andra belum mandi. Membuat Andra dan Andini tertawa bersamaan. Setiap hari selalu ada kosa kata baru dari Iyan, dan hari ini Iyan mengatakan papanya jorok karena belum mandi.
Andra mengecup pipi anak itu dengan gemas. Lalu menurunkannya dari gendongan.
“Oke, papa mandi ya. Biar gak kalah ganteng dari Iyan.” Andra tertawa saat mengatakan itu. Ia bahagia, karena semakin hari Iyan semakin tumbuh menjadi anak yang pintar.
“Pa?” panggil Iyan.
“Apa, Jagoan?” tanya Andra pada Iyan, meskipun ia tahu apa maksud anak itu.
“Donat Iyan mana, Pa?” tanya Iyan kembali. Matanya berbinar mengingat donat cokelat kesukaannya.
Andra menepuk jidatnya. Berjongkok untuk mengajarkan posisinya dengan Iyan.
“Lupa. Papa lupa.”
“Papa lupa, Ma.” Mata Iyan berubah menjadi redup, lalu ia berlari ke arah mamanya. Seolah sedang mengadu betapa saat ini ia ingin menggigit donat kesukaannya.
“Nanti papa beli, Sayang. Atau kita ajak papa keluar sekalian malam ini. Mau?” bujuk Andini agar anak itu tidak menangis.
Iyan mengangguk. Redup yang sempat terlihat di matanya, kini kembali bersinar seperti kelereng bening mata bulat bersih itu. Ia memegang janji dari mamanya.
Andini sibuk menenangkan Iyan yang wajahnya cemberut seolah akan menangis saat itu juga. Namun, saat ia kembali melihat ke depan, Andra tiba-tiba muncul di balik pintu dengan satu kantong kresek yang ia pegang.
“Ih, Mas. Nggak lucu tau.” Kali ini Andini yang malah mengerucutkan bibirnya. Ia tak suka Andra becanda kelewatan dengan Iyan. Apalagi membohonginya demi menyenangkan hati anak itu.
“Lucu tau,” ucap Andra. Ia mendekat pada Andini dan Iyan yang duduk di kursi tamu. Andra mengecup pelan kening Andini, lalu mengecup seluruh wajah Iyan yang terlihat bahagia saat kantong kresek itu berpindah tangan padanya.
Iyan membuka kotak donat yang terlihat menggoda. Ia ambil satu dan menggigitnya dengan nikmat.
“Hmmm ... enak,” serunya seorang diri. Ia menunjukkan wajah bahagianya pada mama dan papanya.
“Papa mandi dulu ya, Jagoan.”
Iyan hanya mengangguk pada papanya. Ia masih sibuk menikmati donat yang telah habis satu dimakan. Andini hanya mengamati anaknya, tak terkira bahagia yang membuncah dalam hatinya. Dalam diam, ia berdoa dalam hatinya. Semoga Andra tetap mencintainya, seperti yang ia janjikan. Semoga keluarga kecilnya itu bahagia selamanya.
*
Setelah menikmati makan malam, Andra dan Andini menikmati waktu bersama dengan menonton televisi. Juga Iyan yang duduk di tengah keduanya. Sesekali Andini tertawa melihat adegan-adegan di televisi. Sedangkan Iyan lebih asik dengan mainannya.
“Keluar yuk!” ajak Andra pada Andini.
Perempuan itu menoleh pada suaminya, mengalihkan fokus dari tayangan televisi yang sedang ia tonton.
Andini merasa begitu lelah seharian, sehingga rasanya ia tak ingin keluar dan ingin di rumah saja bersama Iyan.
“Mau ke mana, kan udah malem?” tanya Andini.
“Ya jalan-jalan aja. Kan udah lama kita nggak jalan malam.”
Andini tampak berpikir sejenak. Ia melihat wajah Andra yang merasa terlalu bosan saat ini.
“Nggak deh, Mas. Entar lagi juga Iyan udah ngantuk. Ribet nanti.” Andini memberikan alasan yang nyata. Memang sedikit ribet jika Iyan mengantuk dalam perjalanan. Mungkin jika sudah seperti itu, mereka hanya sempat jalan-jalan saja, sisanya harus mengurus Iyan. Padahal Andra ingin makan-makan bersama mereka.
Sesaat setelah membicarakan itu, terlihat Iyan menguap beberapa kali. Lalu, anak itu menyosor ke pangkuan Andini, merebahkan kepalanya dan tidur di sana.
“Nah, kan.” Andini menunjuk Iyan yang saat ini telah nyaman di pangkuannya.
Andra tertawa. Ia menggendong Iyan untuk tidur ke kamar.
Setelah menidurkan Iyan, Andra pamit pada Andini untuk keluar mencari angin malam di luar sana. Andra keluar menggunakan motor Nmax karena ia hanya sendirian. Beberapa menit memutar jalanan kota hingga tiba di tepi trotoar yang membuat ia memicingkan mata.
Sorot lampu kekuningan membuat rambut seseorang yang berjalan di atas trotoar itu berkilau sempurna. Seorang gadis yang dari lekuk tubuhnya bisa ia kenali. Andra terus mengendarai motornya. Hingga berada dalam jarak dekat dengan seorang gadis yang saat ini memakai tas besar di punggungnya.
“Laura!” panggil Andra masih di atas motornya. Ia membuka kaca helm agar gadis itu bisa mengenalnya.
Laura yang merasa dipanggil namanya menoleh. Ia melihat sesosok lelaki yang selama ini membuatnya begitu nyaman berada di dekatnya. Langkah kaki itu terhenti, ia menatap Andra dengan mata yang basah. Namun, dengan cepat ia mengusap sudut matanya, juga pipinya dari bekas genangan air mata.
Andra turun dari motor. Mendekat pada Laura yang berdiri mematung sambil wajahnya dipalingkan ke arah lain. Ia sudah terlalu sering memperlihatkan air matanya di depan Andra, bahkan dari saat mereka pertama bertemu hingga saat ini.
“Naik!” perintah Andra pada Laura. Sejenak gadis itu tetap berdiam di tempatnya berdiri. Seolah menatap di situ akan membuat perubahan suasana hatinya.
“Ayo!” Kembali Andra mengajaknya. Kali ini, lelaki itu bahkan menarik salah satu tangan Laura. Menuntun gadis itu untuk naik di belakang jok motornya.
“Ke mana?” tanya Laura setelah naik di belakang Andra. Kembali gadis itu menyeka sudut mata dari air yang masih tersisa. Perlahan kesedihan dalam hatinya menguap entah ke mana, tergantikan dengan sebuah kenyamanan yang selama ini ia cari tahu apa sebenarnya.
Keduanya melaju di atas motor yang dikendarai oleh Andra. Lelaki itu sendiri tak tahu harus ke mana, intinya ia harus mengubah suasana hati Laura agar kembali ceria. Entah apa yang telah terjadi di rumah gadis itu, Andra biarkan diri dihinggapi rasa penasaran hanya sementara, karena saat kondisi hatinya membaik, Laura akan bercerita dengan sendirinya.
“Udah makan?” tanya Andra dalam keheningan malam.
Laura menggeleng. Andra bisa merasakan gerakan kepala gadis itu di belakang pundaknya. Gelengan yang membuat Andra tahu tujuannya saat ini. Ia terus melajukan motornya menuju restoran terdekat.
Andra merasakan desiran halus dalam darahnya, debaran yang mengencang kala sepasang tangan memeluk pinggangnya. Tak bisa dipungkiri, naluri kelelakiannya bekerja dengan normal.
“Abang,” panggil Laura.
“Hmmm,” Andra menyahut sekadar bisa ditanggapi oleh Laura. Karena angin malam membelai wajah keduanya, menelan suara mereka hingga terdengar rendah.
“Tolong bawa aku pergi dari sini. Mau nggak kabur sama aku?”