Andra mematikan mesin motornya, dan turun dari sana setelah memarkirkannya dengan rapi. Ia dan Laura masuk ke sebuah restoran yang cukup terkenal di daerah itu.
Andra memang sudah makan di rumah tadi, tapi ia merasa lapar lagi. Selain itu, ia juga ingin menemani Laura yang mungkin belum makan sejak siang tadi. Seperti kebiasaannya, ia akan mengurung diri di kamar jika kedua orangtuanya sedang bertengkar di rumah.
Tak lama kemudian, pesanan mereka datang. Sejenak Laura menatap lelaki yang kini duduk di depannya. Ia mengagumi betapa baiknya Andra untuk dirinya.
“Jangan natap abang, nggak bikin kenyang.” Andra menarik sepiring nasi goreng spesial agar lebih dekat dengannya.
“Tapi bikin nyaman.” Laura membalas ucapan Andra. Gadis itu tersenyum simpul, kembali menatap Andra yang kini juga menatapnya.
Lalu, keduanya makan dengan lahap. Terlihat sekali Laura yang lapar dan begitu menikmati makanannya.
Suasana lumayan ramai malam itu. Ada pasangan suami istri bersama anak-anaknya yang sedang menikmati waktu keluarga. Juga ada sekumpulan remaja bersama teman-temannya. Ada juga pasangan muda seperti Laura dan Andra. Entah mereka berstatus suami istri, pacar atau hubungan seperti Andra dan Laura.
Laura menggeserkan piring ke samping, yang isinya sudah habis dimakan. Kemudian ia mengambil jus jeruk untuk diminumnya. Sejenak ia merasa beban di pikirannya hilang entah ke mana, padahal beberapa waktu lalu, ia seolah menggenggam bara api yang bisa membakar siapa saja. Namun, berada di samping Andra, ia merasa lelaki itu menjadi airnya. Air yang bisa memadamkan bara api itu.
“Kamu tadi mau ke mana?” tanya Andra setelah ia lihat Laura sudah membaik. Ia hanya khawatir, gadis secantik Laura bisa saja terluka jika berjalan sendiri di malam seperti ini.
Sejenak Laura menghela napas dalam. Pertanyaan itu sungguh ia sendiri tak tahu jawabannya. Semua yang ia tahu adalah menghindar dan pergi jauh dari orangtuanya. Atau jika bisa, ia ingin orangtuanya kembali seperti dulu, hangat dan mesra. Namun, sepertinya itu sulit terjadi. Masalah ekonomi menjadi salah satu yang membuat orangtuanya selalu ribut di rumah.
“Aku juga bingung. Entah mauku ke mana, Bang. Aku nggak ngerti. Nggak tau arah tujuan.”
Laura tersenyum sinis untuk dirinya sendiri.
“Rasanya aku pengen kabur. Tapi nggak punya apa-apa. Nggak punya siapa-siapa.” Senyum Laura terlihat miris. Ada beban yang mengimpit pikiran dan pundaknya.
Andra seolah bisa melihat beban itu semua. Gadis ceria seperti Laura terenggut sisi cerianya hanya karena pertengkaran orangtua dan semua dramanya. Lelaki itu mengerti bahwa gadis itu lelah dengan hidupnya.
Andra tak perlu bertanya apa dan bagaimana yang terjadi. Hal yang dialami orangtua Laura memang hal yang lumrah terjadi ketika pasangan sudah tak lagi saling cinta dan sayang.
“Yaudah. Sekarang kita pulang.”
Andra bangkit dari duduknya, ingin melangkah ke pintu keluar. Namun, ia menoleh karena melihat Laura yang belum beranjak dari kursi duduknya.
Lelaki itu menyipitkan mata, karena perlahan tetesan air mata Laura mengalir di pipi. Andra kembali mendekat, ia tak ingin para pengunjung melihat Laura menangis saat sedang bersamanya. Ia tak ingin mereka mengira bahwa Andra yang membuat Laura menangis.
“Hei,” ucap Andra mencondongkan badannya lebih dekat dengan Laura.
“Aku nggak mau pulang, Abang.” Laura menyeka sudut matanya. Ia sadar sedang berada di mana saat ini, dan tahu persis raut khawatir di wajah Andra.
“Terus?” tanya Andra. Ia bertanya apa yang diinginkan gadis itu.
“Aku nggak tau!” Laura menatap Andra yang semakin bingung. Perempuan itu terkadang memang membingungkan.
Andra menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia melirik ke kiri dan kanan. Beberapa pengunjung memang mulai menatap mereka, tapi lebih banyak yang fokus pada aktivitas makan.
“Yaudah, kita pergi dari sini dulu.” Andra menarik lengan Laura yang mengenakan kemeja biru lengan panjang itu.
Keduanya keluar dari restoran. Andra menyuruh Laura untuk naik kembali ke atas motornya. Setelah itu keduanya pergi ditemani angin malam yang terasa dingin di atas motor.
.
Andra melirik jam yang melingkar di tangan. Pukul sepuluh malam angka yang ditunjukkan jarum jam. Suasana malam di kota Jakarta masih terlihat ramai, tak jauh berbeda dari siang hari. Lelaki itu memarkirkan motornya dan turun dari sana. Ia memasuki sebuah hotel yang diikuti oleh Laura.
Setelah check in, Andra mengantar Laura hingga sampai di kamar yang telah ia pesan.
“Kamu nginap aja di sini malam ini. Janji besok harus pulang ya. Orangtua kamu pasti nyariin,” kata Angga sedikit panjang lebar.
Laura tersenyum sinis. Ia kembali merasa perih dalam hatinya ketika seseorang menyebut tentang orangtua. Ia merasa kehidupannya bersama orangtua sangat tidak layak, tidak seperti kebanyakan teman-teman lainnya. Ah, Laura lupa. Di sudut dunia lainnya, tentu ada anak-anak yang bernasib sama sepertinya.
“Peduli apa mereka?” tanya Laura dengan raut wajah yang tersenyum, tapi menyimpan kemarahan yang mendalam. Kemarahan atas segalanya. Nasibnya, kehidupannya, terutama orangtuanya yang seharusnya melindungi, tapi malah menusuk duri.
Andra duduk di sebuah sofa yang menghadap jendela. Pemandangan malam dan jalanan yang ramai bisa ia lihat lewat jendela itu.
“Dari mana kamu tau mereka nggak peduli?” tanya Andra menantang gadis cantik itu.
“Dari banyak hal, Bang. Dari semua yang mereka perlihatkan di depanku. Makian, pukulan, semua itu jelas.”
Mata Laura tak berkedip menatap Andra yang kini berdiri di depannya. Menatap nya lang seolah lelaki itu sedang melakukan pembelaan terhadap orangtuanya, dan Laura benci mendengar itu semua.
Andra sejenak menatapnya, lalu menghela napas panjang.
“Yaudah, istirahat!”
Andra ingin melangkah keluar, tapi ada sesuatu yang seolah menahannya. Sementara Laura berdiri mematung melihat Andra yang kembali memutar mendekat padanya.
“Abang pulang dulu,” ucap Andra akhirnya. Ia takut pikirannya tak bisa dikendalikan jika terus menerus bersama Laura. Gadis itu tak hanya cantik, tapi juga menarik.
“Abang!” panggil Laura.
“Besok aku dijemput, kan?” tanya Laura pada lelaki yang baru saja ingin melangkah pergi.
“Besok Minggu. Kemungkinan abang ngajak Andini sama Iyan jalan-jalan.” Andra tampak berpikir sejenak, memikirkan waktu yang ia punya, juga aktivitas yang akan ia lakukan di akhir pekan.
Mendengar kalimat itu, ada yang terasa teriris dalam hati Laura. Namun, gadis itu sadar diri bahwa ia bukanlah prioritas. Entah, sejak mendengar kalimat itu, ia merasa cemburu dan ingin sekali bersaing dengan istri sah Andra.
“Nggak mungkin aku jalan kaki, Abang!” Laura tampak menggerutu. “Mau naik angkot, nggak punya duit.” Gadis itu menunduk antara pasrah dan malu.
“Makanya jangan sok-sokan kabur malam-malam buta. Da sar bocah!”
Laura mengerucutkan bibirnya mendengar Andra yang mengomel seperti ibu-ibu.
“Besok Abang telfon kalau udah mau jemput, biar bisa beres-beres.” Andra berkata.
Secepat kilat senyum Laura merekah sempurna, diikuti dengan mata yang berbinar. “Thanks, Abang!” ucapnya.
Andra hanya mengangguk, lalu keluar dari kamar itu. Sementara Laura merebahkan diri di ranjangnya sebelum menutup pintu. Sedetik kemudian ia dikagetkan oleh suara Andra lagi.
“Oiya, kamarnya baru aku bayar setengah. Kalau besok nggak jemput, kamu bayar setengah lagi ya. Entah dengan cuci piring di restoran hotel, atau bersih-bersih kamar. Apa aja deh, yak!” Andra menyisipkan dua tangannya di kantong celana. Berkata panjang lebar di depan pintu sambil menahan tawanya.
“Abang!” Laura memekik kesal, bersamaan dengan bantal tidur yang melayang ke arah pintu.